GERAK JIWA: (1) Potensi Kemanusiaan

                   GERAK JIWA:  Potensi Kemanusiaan
‘’ Sesungguhnya kualitas seseorang dapat diukur dari sejauh mana ia mendaya gunakan fungsi Hati (Rasa), Akal (Rasio) & Tubuh (Raga) yang dimilikinya ‘’


                                 Oleh : DINASTY


       Pada bagian kali ini kita akan lebih fokus membahas aspek-aspek yang terkait dengan konsep gerak jiwa. Sebagaimana yang kita ketahui gerak jiwa sebagai suatu aktifitas gerak tentu memiliki aspek atau komponen pendukung. Tanpa aspek-aspek tersebut, maka sangat sulit sekiranya mencapai peningkatan pada level kualitas hidup.



       Sebelum lebih jauh menguraikan aspek-aspek (Komponen) dari konsep gerak jiwa, penulis terlebih dahulu akan menyampaikan suatu ungkapan yang sangat masyhur di kalangan praktisi Tasawuf muslim (Sufi) yakni ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه ( man arafa nafsahu arafa rabbahu ) yang artinya ’’ Barang siapa yang mengenal dirinya, sesungguh ia telah mengenal Tuhannya ’’. Kemudian apa hikmah yang bisa kita petik dari ungkapan tersebut ? Tentunya tak lain dan tak bukan yakni adanya suatu tuntunan kepada kita semua (Manusia) untuk kembali melihat ke dalam diri kita sendiri, guna mengetahui apa-apa saja yang terkandung di dalam diri kita termasuk fungsi atau kegunaan dari hal-hal yang terkandung tersebut. Maka dari itu ungkapan tersebut berupaya mengajak kita untuk mengenal berbagai potensi yang kita miliki.



        Potensi dapat diartikan sebagai segala hal yang terkandung di dalam suatu benda atau tubuh manusia, namun belum teraktualkan. Oleh sebab itu potensi merupakan sesuatu hal yang memang “Ada’’atau diakui keberadaanya, hanya saja ia belum berwujud secara nyata. Kapan kemudian potensi tersebut bisa dikatakan berwujud ? Yakni ketika potensi tersebut diekspresikan melalui tindakan atau perbuatan (Amalia).



       Kembali pada fokus pembahasan di awal, bahwa aspek-aspek yang menjadi komponen bagi gerak jiwa, itulah yang nantinya disebut sebagai potensi kemanusiaan. Mengapa ? Sebab gerak jiwa akan sangat mengandalkan berbagai potensi yang dimiliki oleh manusia itu sendiri (Subjek yang bergerak). Sekiranya sangat perlu untuk menguraikan secara singkat mengenai potensi apa saja yang dimiliki oleh manusia dan bagaimana hubungan potensi-potensi tersebut dengan konsep gerak jiwa.


         Pembaca yang budiman, mari kita sejenak merenungkan dan melihat ke dalam diri kita kembali. Kira-kira apa saja yang terkandung dalam diri kita, yang keberadaanya sudah ada sejak kita lahir (Alami). Pernahkah kita melihat sanak saudara kita yang terkena musiba atau bencana ? Apa yang kemudian yang kita rasakan ? Jika kita merasakan kesedihan yang mereka alami berarti dalam hal ini kita masih memiliki hati. Maka dari itu potensi yang pertama kita miliki yaitu Hati dengan kemampuan untuk merasakan suatu hal / situasi. 



        Kemudian selanjutnya apakah kita pernah berpikir ? Kira-kira apa saja yang kita pikirkan ? Dan apa alat yang kita gunakan untuk berpikir ? Ya, tentu kita menggunakan Akal sebagai alat untuk memikirkan sesuatu hal. Maka dari itu potensi kedua yang kita miliki yaitu Akal yang berfungsi sebagai alat berpikir. Pertanyaan berikutnya, ketika kita mampu merasakan sesuatu hal dan ketika kita mampu memikirkan sesuatu hal, apa selanjutnya yang akan kita lakukan ? Apakah kita akan diam saja ? Tentu tidak, bagi orang normal ! Kita tentu akan menyampaikan gagasan hasil pikiran (Idea) tersebut, kita tentu akan mengungkapkan perasaan tersebut. Lantas apa alat untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan tersebut ? Bisa diungkapkan lewat mulut, tubuh dan lain sebagainya. Maka dari itu potensi ketiga yang kita miliki adalah Tubuh yang berfungsi untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Tubuh terdiri atas beberapa bagian seperti mulut, hidung, telingan dan seterusnya. Dari itu maka telah terjawab sudah pertanyaan tentang potensi-potensi apa saja yang kita (Manusia) miliki, yakni diantaranya ada potensi Hati untuk merasa, Akal untuk berpikir dan Tubuh untuk bertindak. 



      Untuk lebih jelasnya, mari kita uraikan secara singkat mengenai fungsi dari masing-masing potensi yang ada pada diri manusia mulai dari Hati, Akal dan Tubuh. Kemudian pengetahuan kita mengenai fungsi dari masing-masing potensi tersebut nantinya akan membantu kita untuk mengetahui batas-batas wilayah dan letak keterhubungan antara satu potensi dengan potensi yang lain.


HATI (Rasa) 
 Sebagai salah satu intrumen yang dimiliki oleh manusia, hati memiliki peran sebagai alat untuk merasakan berbagai situasi. Terkadang manusia merasakan situasi sedih, senang, marah ataupun bosan, dan untuk menangkap berbagai situasi tersebut manusia memerlukan alat / instrumen yang dinamakan sebagai hati. Kemampuan hati untuk menangkap berbagai situasi yang terjadi disekitarnya membantu manusia untuk mengembangkan berbagai sikap seperti Empati, Simpati dan AntiPati. Empati berkaitan dengan kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan oleh orang lain, sedangkan Simpati merupakan situasi hati dimana seseorang memiliki ketertarikan pada orang lain. 


    Terakhir antipati lebih merupakan sikap ketidak senangan pada orang lain. Selain itu Hati juga bisa menjadi sumber semangat yang memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu pekerjaan. Kepekaan hati (Daya Intuitif) memungkinkan seseorang untuk dapat membedakan suatu hal yang sifatnya baik dan buruk, bahkan untuk merasakan kehadiran sesuatu hal yang bersifat metafisik (Gaib).

• AKAL (Rasio)
 Sebagai salah satu intrumen yang dimiliki oleh manusia, akal memiliki peran sebagai alat untuk memahami sesuatu hal. Terkadang manusia dihadapkan pada berbagai hal baik itu yang sifatnya fisik maupun metafisik. Untuk mengetahui berbagai hal tersebut akal memiliki peranan untuk menjabarkan, menguraikan, menganalisis lalu kemudian mengembangkan hal tersebut menjadi suatu konsep yang dapat dipahami. Dengan kata lain akal membantu kita untuk memahami sesuatu hal. Akal juga memungkinkan kita untuk mengatur suatu rencana (Planning-Reason) dan mengelolah suatu hal (Organisatoring-Reason). Lewat akal pula kita bisa menghadirkan defenisi dan argumentasi atas sesuatu hal, termasuk untuk mengetahui keterhubungan pada tiap hal yang dipikirkan (Kausalitas). Namun akal juga memiliki keterbatasan untuk mengetahui lebih jauh dan mendalam mengenai hal-hal yang bersifat metafisik. Akal hanya bisa menyentuh bagian luar dari fenomena metafisik, namun lebih dari itu akal sudah tidak sampai. Demikian kurang lebih mengenai fungsi akal.  


• TUBUH (Raga)
Sebagai salah satu intrumen yang dimiliki oleh manusia,  Tubuh terdiri atas beberapa bagian mulai dari Mulut (Indera Pengecap), Mata (Indera Penglihatan), Hidung (Indera Penciuman), dan berbagai alat indera lainnya. Tubuh dalam hal ini memiliki peran sebagai alat untuk menyampaikan pesan, baik pesan yang bentuknya berupa perasaan maupun pesan yang bentuknya berupa gagasan. Dengan kata lain, tubuh menjadi semacam alat pengekspresian berbagai hal yang bersifat non materil (Gagasan dan Perasaan) menjadi suatu hal yang bersifat materil (Bahasa). Bahasa bisa dalam bentuk verbal (Kata-kata) maupun non verbal (gerak tubuh). Maka dari itu dengan berbagai alat indera yang dimilikinya, Tubuh mempunyai peran penting bagi lahirnya suatu tindakan. Tindakan merupakan bentuk pengespresian dari Rasa dan rasio yang dimiliki oleh manusia. Melalui penyampaian pesan atau tindakan pengekspresian, memungkinkan diantara manusia agar dapat saling memahami satu sama lain. Demikian fungsi dari tubuh.


     Setelah mengetahui fungsi yang dimiliki dari masing-masing potensi yang ada pada Manusia, maka kemudian kita akan mencoba mencari letak keterhubungan dari tiap Instrumen atau alat potensi tersebut. Karena pada prinsipnya hal apa saja yang diciptakan oleh Tuhan pasti ada hikmahnya. Hikmah dalam artian keterhubungan atau relasi yang sifatnya harmonis, antara satu bagian dengan bagian yang lain.



      Kalau kita telaah kembali hubungan (Relasi) antara Hati, Akal dan Tubuh, dapat dipahami sebagai suatu hubungan yang bersifat harmonis. Sebab setiap bagian saling melengkapi, misalnya peran atau fungsi Hati sebagai alat untuk merasakan suatu hal nantinya akan diolah lebih lanjut oleh Akal yang berperan sebagai alat analisis terhadap berbagai hal dan kemudian disalurkan pada Tubuh untuk diekspresikan dalam berbagai bentuk ungkapan-ungkapan bahasa. Hubungan diantara ketiga potensi tersebut dapat digambarkan melalui ungkapan seperti IMAN, ILMU & AMAL atau BACA, DISKUSI & AKSI. Dimana hati berperan untuk Meng-Imani dan Mem-Baca (Merasakan situasi), Akal untuk Meng-Ilmui dan Men-Diskusikan (Mengelolah data) serta Tubuh untuk Meng-Amalkan dan Meng-Aksikan (Mengekspresikan pengetahuan).


     Relasi yang sifatnya harmonis diantara potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia, menjadi pertanda tersendiri betapa adilnya Tuhan pada ciptaanya termasuk dalam hal ini manusia itu sendiri.


      Kemudian apa hubungan potensi-potensi kemanusiaan seperti Hati (Rasa), Akal (Rasio) dan Tubuh (Raga) dengan gerak jiwa ? Hubungannya tak lain dan tak bukan yaitu ada pada hakikat / makna dari gerak jiwa itu sendiri, yang dimana gerak jiwa sebagai gerak peyempurnaan bagi kehidupan manusia akan terjadi jika manusia mau mendaya gunakan berbagai potensi-potensi yang dimilikinya.



       Melalui pendaya gunaan fungsi Hati, fungsi Akal dan fungsi Tubuh maka manusia dapat meningkatkan level kualitas hidupnya. Kehidupan yang baik yakni ketika setiap orang mampu merasakan perasaan orang lain alias memiliki kepekaan (Hati). Kehidupan yang baik yakni ketika tiap orang memiliki kemampuan untuk berpikir secara baik dan benar (Akal). Kehidupan yang baik yakni ketika tiap orang mampu menggunakan raganya untuk melakukan suatu perbuatan yang baik (Tubuh).



       Manusia yang baik adalah mereka yang mampu  mendaya gunakan potensi-potensi yang dimilikinya, mulai dari potensi untuk merasakan, potensi untuk berpikir sampai pada potensi untuk bertindak. Dari hal tersebut maka kemudian lahirlah seorang KHALIFAH atau WALIULLAH atau WAKIL TUHAN DI MUKA BUMI yang disetiap langkah dan disetiap nafasnya merupakan bentuk pengekspresian akan Ke-Esaan Tuhan. Seorang Khalifah senantiasa melakukan amal kebaikan dimuka bumi, sebab ia sadar kalau bumi beserta isinya merupakan ciptaan dari Dzat yang maha Agung. Tak layak seorang hamba (Ciptaan) kemudian mengotori bumi ini dengan berbagai tindakan dzalim yang tidak sesuai dengan prinsip penciptaan (Sunnatullah). 


       Kesadaran seorang Khalifah bukan sekedar dilandasi oleh rasa takut semata, namun juga disertasi dengan rasa cinta dan kesadaran akan prinsip-prinsip Sunnatullah yang berlaku pada semesta ciptaan Tuhan.
 Maka dari itu, seorang Khalifah kemudian mengembangkan berbagai hubungan yang sifatnya harmonis, baik itu kepada Tuhan (Hablum minallah) kepada sesama manusia (Hablum minannas) bahkan terhadap lingkungan (Hablum minalalam). Melalui hal tersebut diharapkan dapat hadir suatu peradaban yang dimana masyarakatnya memiliki kesadaran penuh atas prinsip atau hakikat dirinya sendiri.
          BERLANJUT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa