Episode 1, KITA MENYATU DALAM CERITA
KITA MENYATU DALAM CERITA
Oleh : Arisnawawi
“Tepat tanggal 11 April 2018, aku pulang ke kampung halaman-Nya. Sebagian besar yang menyaksikan kepulanganku, menangis tersedu. Sejumlah laki-laki yang pernah mempersaksikan keperkasaan, kesombongan dan kebiadaban terhadapku, tergeletak bersama air matanya. Aku pulang di pangkuan-Nya”
....
Dulu, Ajun mahasiswa dari salah satu universitas terkemuka di Sulawesi Selatan. Lahir dari keluarga sederhana namun memperihatinkan secara ekonomi, memaksanya bertekad merubah nasib di tanah rantau.
Sebagai seorang petani dan selaku tulang punggung keluarga, penghasilan Ayahnya sebenarnya cukup untuk sekedar benyambung napas. Meski kadang mereka mengalami sesak napas ketika musim panen gagal. Kondisi ekonomi keluarganya sangat dipengaruhi dari kemurahan alam.
Sebagian besar tanah yang mereka kelola, adalah milik orang lain. Pembagian hasilnya sangat sederhana. Semua hasil panen dibagi tiga, dua untuk penggaraap tanah (Ayahnya) dan satu untuk pemilik tanah. Keistimewaan memiliki tanah di kampungnya salahsatunya dapat hidup walau tidak bekerja.
Sebaliknya, bekerja bukan jaminan untuk hidup di sana.
Ayah Ajun dan sebagian masyarakat yang lain hidup dan bergantung dari pengelolahan tanah orang lain. Modal untuk bibit, pupuk, racun dan tenaga merupakan tanggungan dari pihak pekerja, bukan pemilik tanah.
Dengan kondisi seperti ini, kadang keluarga dan masyarakat yang bernasib sama dengan keluarga Ajun, mengalami kebuntuan ekonomi ketika tiba masa alam pacekik.
Oiya, Ajun tumbuh dalam asuhan seorang Ibu yang hebat. Ia pemegang kendali penuh urusan dapur.
Semenjak ayahnya sakit disertai batuk-batuk dan sesak nafas mengakibatkan kekuatan fisiknya mulai melemah. Sekarang Ibunya memiliki profesi baru, yakni sebagai teman kerja ayah mengelolah tanah. Alasannya, tentu sudah bisa ditebak.
Untuk sementara dan tidak tahu sampai kapan, dapur diambil alih oleh adik perempuan Ajun. Sebenarnya sejak usia dini, Ajun dan kedua saudaranya sudah terlatih dengan ragam pekerjaan. Kalau tidak bersama ayah dengan membajak tanah, pasti mereka akan didapati bersama dengan kesibukan ibu di dapur. Kondisi hidup seperti ini lumrah di kampungnya, yaitu kampung pedalaman, dengan beribu kesederhanaan serta sejuta pengalaman.
Tibalah musim yang ditunggu-tunggu. Apalagi kalau bukan musim panen, tepatnya panen jagung. Masyarakat menyambut dengan bahagia dan rasa haru. Setelah mengalami gagal panen 4 bulan yang lalu, kini kondisi perekonomian masyarakat kampung perlahan memulih. Utamanya para pekerja yang mengelola tanah orang lain.
Keluarga Ajun tidak lagi dililit bayangan hutang pupuk dan racun yang tempo hari digunakan dalam merawat jagung. Kebiasaan orang borjuis di kampungnya, berbaik hati meminjamkan pupuk dan racun kepada petani untuk perawatan tanamanya. Pembayarannya setelah masa panen tiba, tentu harganya tidak lagi sama. Bantuan ini menjadi aroma segar bagi sebagian petani yang optimis, namun sekaligus menjadi tombak beracun bagi petani yang pesimis yang dihantui kegagalan panen.
“Ma, apa lagi mau dibantukanki setelah ini?” gumam Ajun disela istirahat memanen jagung. Matahari mulai menciut, merapatkan sinarnya dipenghujung Timur. Secara geografis, Ajun tinggal di daerah pedalaman. Butuh 30-50 menit perjalanan dari jalan poros ke kampung. Rumahnya bersebelahan dungan sungai, tempat segala permenungannya mengalir.
“Kumpulkan batang jagung ini Nak, untuk labolong dan labalo (sebutan khusus untuk sapi yang berwarna berbeda/unik)” pinta ibunya. Pandangannya lurus, menyorot tetesan-tetesan keringat Ajun yang duduk dalam pangkuan baronjong sungai (beton pinggiran sungai/taluk sungai) sambil bertelanjang dada. Ia perhatikan detail perubahan bentuk fisik anak tertuanya ini.
“Ajun, kau nampak makin kurusan Nak. Jarang makan di Makassar yah?” tanya ibunya tiba-tiba menerobos lamunan Ajun yang sedang menyusuri sungai dengan potret indrawinya. Ia khidmat melihat bungkusan mie, plastik kerupuk, sandal dan botol minuman beradu kecepatan menuju ujung muara sungai. “Seringji Ma’ tapi kadang lupa makan karena jadwal kuliah yang padat.
Gorenganji biasanya saya beli di kantin kampus yang menjadi penjanggal perut kalau laparka” jawanya gugup.
Ajun sebenarnya tidak betul-betul memiliki jadwal makan yang mapan. Jika merasa belum lapar sekali, yah tentu menghindari makan. Tujuannya, untuk hidup hemat sekaligus berkualitas, menurutnya. Karena ia alihkan uang jajan sebagian untuk membeli buku bacaan.
Bungkusan plastik mie instan tidak lagi Ajun dapatkan dalam sorotan mata. Dengan begitu, dialah pemenangnya dalam lomba lari marathon dari kelas sampah rumah tangga disungai ini.
Kakek Ajun dari jalur ibu pernah menceritakan peran sungai ini yang begitu dahsyat mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat. Jika ia hidup sesaman dengan kakeknya, jelas bukan lagi sampah yang akan Ajun pelototi beradu cepat menyusuri sungai. Melainkan baskom-baskom besar yang berisikan sokko (sebutan warga lokal) atau nasi dari beras ketan, ayam, pisang, telur, dan seambruk bahan-bahan dapur diatasnya.
Tidak ketinggalan kamenyan dengan kepulan asapnya, akan membelah sungai. Mirip-mirip kendaraan UFO dalam berbagai film. Kakek Ajun sering kedapatan menarik sesajen itu ketika seumuran dengannya menggunakan sebilah bambu yang diambil tergantung di pohon kelapa. Persis bersebelahan dengan pohon beringin yang dulu juga dikeramatkan oleh masyarakat lokal.
Jika kedapatan mengambil sesajen, kakeknya sering di pukul dan kecipratan nasehat dari keluarga-keluarganya. Katanya, akan membuat marah penghuni gaib di sungai atau panganroang salo sebutan warga lokal lantaran makanannya tidak datang. Kalaupun sesajennya datang porsinya sudah berkurang.
Panganroang salo atau penghuni gaib di sungai pada zaman kakeknya ini dipercaya sebagai Dewa yang memiliki kekuasaan penuh terhadap sungai itu.
Keberhasilan atau kegagalan panen jagung dan tanaman lainnya di pinggiran sungai tersebut dipercaya oleh masyarakat bersumber dari kebaikan dan kemurkaan Dewa ini.
Dari pengetahuan turun temurun, hampir seluruh masyarakat setempat memahami hal demikian.
Sehingga mereka hanya butuh membahagiakan sang Dewa agar tidak mengganggunya. Kakek Ajun sering bertanya kepada ayahnya dan tokoh-tokoh masyarakat di masanya. Kurang lebih seperti ini “kenapa bisa Dewa dikirimkan makanan dari kampung, bukankah sungai tempatnya makanan? kalau Dewa tidak suka makanan dari sungai, untuk apa ia tinggal disana?”
Ajun diceritakan oleh kakeknya bahwa awal mula keraguannya terhadap Panganroang Salo atau Dewa sungai ketika keluarganya tidak satupun mampu menjawab pertanyaannya itu dengan lugas. “Kau masih kecil dan kamu belum paham ini Nak. Kalau besar kamu akan paham dengan sendirinya” tutur keluarga-keluarganya yang berulang-ulang. Seakan tidak punya pilihan jawaban lain. Hingga tua, kakek Ajun masih tetap gagal paham dengan pemberian sesajen ini. Ia menganggap, kebiasaan ini sebagai suatu penyimpangan.
…
Semenjak Ajun belajar sejarah di SMA, ia mulai perlahan mencintai tempat tinggalknya yang berdekatan dengan sungai. Jika ditanya oleh teman-temannya mengapa keluarganya tidak pindah dari sungai, Ajun akan menjawab saja sesuai hasil bacaannya bahwa sungai itu menempati posisi mulia dalam peradaban manusia. Selain itu, alasan besarnya tentu persoalan biaya, memakan biaya yang tidak sedikit.
“Sungai itu sangat berarti bagi peradaban manusia. Tempat manusia pertamakali mengelola alam dengan rapi melalui teknik bertani. Orang tua dulu kan mengelola tanaman membutuhkan air, ternak-ternak mereka juga butuh minum. Sehingga mereka bermukim di pinggiran sungai untuk mengelola ini semua” timpal Ajun.
“Aku pernah membaca buku, bahwa sungai Eufrat dan sungai Tigris yang terletak di Mesopotamia dan sungai Nil di Mesir merupakan basis kemajuan peradaban dunia. Di situ masyarakat mengelola gandum, anggur, jagung dan tanaman-tanaman lainnya. Intiya, aktifitas masyarakat adalah bercocok tanam. Untuk itu mereka tidak jauh-jauh dari sungai kan. Ini adalah bukti nyata bahwa sungai adalah awal kemunculan kehidupan yang begitu maju ini” sambungnya meyakinkan.
Kalau Ajun sudah mengutip dengan buku, teman-temannys langsung kejang-kejang. Seperti kemasukan setan gitu. Tak membantah, namun memeperlihatkan eksperesi kesal.
Ajun masih termenung dalam singgasana baronjong, keringatnya mulai mengering. Ia spontan berpikir dan berucap dalam hati, “kalau dulu sungai menjadi awal peradaban dunia, lalu mengapa sungai yang kakek temui malahan sebaliknya?”
Sekilas jawaban itu seakan Ia raba ditengah sungai. Ia kembali bergumam dalam hati “Masyarakat dulu kan belum paham proses kinerja alam. Jika musim hujan dan air sungai ini naik menggenang tanaman atau pemukimannya, mereka selalu kaitkan dengan pengaruh makhluk gaib. Karena itu, orang-orang mulai mencoba berbagai cara untuk menenangkan amukan makhluk gaib ini. Barangkali, pada saat itu ada masyarakat yang berpikir bahwa Dewa mengamuk karena sedang lapar.
Logika ini kan berhubungan dengan sebagaimana anak yang kelaparan, pasti mengamuk”
“Singkatnya, mungkin masing-masing keluarga kemudian mengalirkan makanan kesukaannya di sungai. Ada yang kirim Ayam, sokko, pisang dan lain-lain. Selang beberapa bulan, banjir itu kemudian tidak kembali lagi. Sangat memungkinkan disini awal mula penegasan dan kepercayaan tehadap keberadaan mahkluk gaib ini” sambungnya dalam hati dengan penuh kehati-hatian.
“Padahal dalam bacaanku di buku Ilmu Pengatahuan Alam (IPA), mengatakan fenomena ini hanyalah siklus alam. Dan siklus ini akan berjalan tiap tahun. Banjir akan selalu ada di pinggiran sungai, khusunya sungai di kampungku ketika musim hujan datang. Selain sungai ini menjadi tempat muara sungai-sungai kecil dari kampung sebelah, sungai ini juga dulu (zaman kakek) tidak terlalu dalam sehingga akan meluap jika air kiriman melimpah. Banjir akan menghilang jika musim berganti. Jadi meski tidak menyodorkan sesajen kan banjir juga akan surut dengan sendirinya” Simpulnya singkat.
“Itulah mengapa sungai ini sekarang sudah di kerup dan dibuatkan dinding beton agar air tidak masuk di lahan pertanian dan pemukiman warga. Sekarang sungai ini tidak lagi menjadi momok menakutkan sebagaimana dahulu. Aku telah menemukan penjelasan yang dibutuhkan kakek. Namun ajal telah menjemputnya sebelum pengatahuanku ada” kecamuk pengatahuan dalam diri Ajun kian meronta-ronta.
“Juun, Nak. Jagung ini nanti kau simpan di teras (rumah) nah.. Besok mama mau jemur” perintah ibunya tegas membuyarkan perenungan Ajun. “Iye Ma” pungkasnya singkat.
BERSAMBUNG…
Komentar
Posting Komentar