BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN



    Oleh : DINASTYSME

  Jadi Kali ini, saya Menyatukan Pokok-Pokok Pembahasan dari Seri Marxisme vs Weberian. Walau perlu untuk di akui bahwa tulisan ini masih memiliki banyak kekuarangan,  namun saya banyak berharap kepada Para Pembaca sekalian untuk memberi Kritikan & Saran yang membangun,  untuk perbaikan tulisan kedepannya.

"Mogah dengan Tulisan ini dapat menjadi Tambahan Referensi bagi Peminat Studi Marxisme & Weberian"





(l) MUKADDIMAH & PRA WACANA



  Di dalam ranah Pemikiran Sosial, tentu kita semua sudah pasti mengenal beragam Varietas Teori Sosial, Ideologi & Isme-Isme. Mulai dari Gagasan Aufklarung di Eropa pada abad 17 M sampai Aliran Pemikiran Post-Modernisme yang marak menjelang awal abad ke 21.

     Beberapa Arus Pemikiran tersebut, terutama yang Marak dan Mainstream di anut oleh Gerakan Sosial Kiri yakni Marxisme. Menyusul Kelompok Intelektual kanan dengan paham Weberian.

     Pada umumnya mungkin sebagian besar dari kita Memahami Marxisme sebagai suatu Prodak Pemikiran dan Sekaligus Gerakan, yang menghendaki Revolusi ! Suatu cara pandang yang melihat dunia sebagai suatu Proses Kontradiksi Kelas, yakni antara Kelas Berjouis dengan Kelas Proletariat. Dan singkatnya Marxisme sebagai suatu Metodologi terangkum dalam Paradigma Materialisme Dialektika Historis atau di Singkat MDH.

     Sedang dilain Sisi Weberian merupakan cara pandan khas, yang melihat Masyarakat sebagai suatu Proses Perkembangan Rasionalitas. Oleh Weberian, Rasionalitas merupakan konsekuensi logis dari Perkembangan Masyarakat Moderen.

     Jadi dapat dipahami dari rangkaian asumsi-asumsi di dalam Marxisme seperti Mengenai Makna Kerja, Pertentangan Kelas, Teori Nilai Lebih, dari asumsi mengenai Over Produksi sampai Cita-cita lahirnya suatu Masyarakat Komunis Internasional, tak lain dan tak bukan merupakan upaya Kritik Marxisme atas Kapitalisme . Oleh Marxisme Kapitalisme dianggap sebagai suatu penyakit yang menggerogoti Masyarakat Moderen. Modernitas setidaknya dapat tetap terus Hidup tanpa adanya Kapitalisme.

     Hal ini tentu berbeda dengan Weberian, dengan Tesis-Tesis dasarnya, seperti pada Tindakan Rasionalitas Instrumental dan Birokrasi termasuk Teknik Administrasi. Justru oleh kalangan Weberian, Rasionalitas dilihat sebagai suatu yang tak terelakan dalam Masyarakat Moderen. Atau secara singkatnya Rasionalitas adalah  Roh Bagi Modernitas.

     Perbedaan mendasar dalam melihat Pokok persoalan tersebut, menjadikan baik itu Marxisme maupun Weberian memiliki  Watak/Sikap Khas dalam menyikapi Realitas Sosial.

     Seorang Marxis kemungkinan besar akan menyikapi Realitas Sosial secara Opitimis. Hal ini didasarkan atas Pandangan Mereka atas Kapitalisme sebagai suatu gejala sosial yang bersifat Konstrukan. Oleh kalangan Marxis, Kapitalisme dianggap sebagai gejala yang sifatnya Non-Alami, yang telah melanggar Prinsip Harmonis (Sunnatullah) dari Alam Semesta.

     Karl Marx yang Pemikirannya menjadi titik tolak bagi Marxisme, meyakini bahwa di dalam sistem Kapitalisme terjadi Proses Alienasi. Alienasi berarti Keterasingan sedeorang dari Prodak yang telah di Produksinya. Di dalam mekanisme Kerja Kapitalisme suatu Produk tidak dapat langsung dinikmati nilai gunahnya oleh sang Produsen, namun harus melewati serangkaian Proses Transaksi atau jual beli di Pasar.

     Atas dasar itu pulalah yang menjadikan kalangan Marxis begitu Optimis menatap perubahan tatanan atau sistem Kapitalisme. Sebab mereka telah memahami bahwa Kapitalisme tidak terberikan, bukan sesuatu yang sifatnya alami atau ketetapan Ilahi. Yang sewaktu-waktu saja dapat di ubah melalui Revolusi !

     Tentu hal ini amat jauh berbeda dengan Kalangan Weberian, yang justru menaruh sikap Psimis atas Realitas Sosial. Hal yang mendasari sikap ini yaitu Pemahaman Mereka atas Rasionalitas sebagai suatu Keniscayaan. Rasionalitas Moderen dengan model utamanya berupa Birokrasi serta mekanisme Formal-Administratif menjadi ciri utama Masyarakat Moderen.

     Oleh mereka kalangan Weberian, Rasionalitas merupakan sesuatu yang tak terelakan ! Dan hal ini di Afirmasi sendiri oleh Max Weber dengan Istilah  "Sangkar Besi Rasionalitas.





(ll) KONSEKUENSI METODOLOGIS


Pada Pembahasan sebelumnya,  Yakni "MARXISME VS WEBERIAN (1) : Mukaddimah & Prawacana", saya sudah mengantarkan Pembaca pada Problematika dasar dalam Marxisme maupun Weberian. Di samping itu, perlu untuk dipertanyakan kembali, apakah Marxisme merupakan ajaran dan Ideologi pergerakan bagi Kaum Proletar saja, sedang Weberian akan melulu dikaitkan dengan Intelektual Berjuasi ?!

     Tentu Mainstream Pemikiran yang berkembang akan mengatakan demikian adanya ! Namun bukankah anggapan yg demikian dapat menjadi Over Generalisasi dan Simplifikasi, menginga beberapa Pemikir Marxis terutama kalanan Neo-Marxian,  seperti Herbert Marcuse misalnya, juga menggunakan cara berpikir Weberian di dalan upaya menjelaskan Masyarakat Moderen. Oleh karenanya, terasa amat penting bagi kita, untuk kembali membedah akar Filosofis dan Metodologi dari Marxisme dan Weberian. Hal ini amat penting, guna menghindarkan kita pada Kecenderungan Over Genaralisir termasuk mengantisipasi Sikap Fanatisme-Ortodoksian pada salah satu arus Pemikiran tersebut.

     Maka dari itu, Fokus Pembahasan kali ini akan menguraikan Landasan Filosofis atau Premis-Premis awal, baik itu pada Marxisme maupun Weberian. Termasuk nantinya akan dipaparkan Metodologi dari Masing-Masing alur Pemikiran.


MARXISME

     Marxisme merujuk pada pemikiran-pemikiran Karl Heinrich Marx, terutama mengenai pandangan Ekonomi-Politik Marx.

Sebagai seorang Filsuf asal Jerman (Prusia) yang berdarah Yahudi, ssbagian besar Publik kita menganggap Pemikiran Marx sarat akan Pertumpahan Darah dan Penuh nuansa Kekerasan. Hal ini demikian dapat dibenarkan, mengibgat fakta sejarah dari Uni Soviet sendiri tela menorehkan tinta hitam dalam catatan sejarah. Namun sekaligis pandangan ini juga dapat keliru,  mengingat penafsiran atas pemikiran Marx juga ada begitu banyak varian. Jangan sampai Fakta sejarah yang selama ini kita jadikan sebagai landasan untuk menstigmatisasi  Pemikiran Marx, justru hanya salah satu dari sekian banyak Gerakan / Kelompok yang mengatas namakan diri sebagau Marxis.

     Marx sendiri di dalam bangunan Filosofis awalnya, dapat digambarkan sebagai seorang Pemikir yang Humanis. Hal ini dapat kita lihat dari Premis awal Marx mengenai Manusia, yang menurutna Esensi Sejati dari Manusia ialah Kerja. Oleh Marx, kerja menjadi Ekspresi Kemanusiaan dari Manusia. Melalui kerja Manusia dapat Meng-Aktualisasikan diri mereka, dan menjadikan kehidupan seseorang menjadi lebih bermakna. Sebab kerja dipandang sebagai proses Pengekspresian Ide & Gagasan di dalam diri, untuk kemudian teraktualkan menjadi suatu Prodak kebudayaan Material.

     Singkatnya Perkembangan pemikiran Marx, dari Marx Muda yang berwatak Humanis, Radikal dan Liberal ke Marx Tua yang bercirikan Ekonomisme, Sinstifik dan Objektif, adalah suatu Perkembangan Intelektualitas dari Marx itu sendiri.

     Kalangan Marxis yang kemudian mengadopsi pemikiran Marx, untuk kemudian dijadikan sebagai Ideologi Gerakan Kelas Proletariat yang dibarengi dengan semangat dan Visi Politik Kaum Buruh. Pada abad 19 M di Eropa Kaum Buruh (Proletariat) mengalami Penindasan yang amat begitu keji dibawah sistem Kapitalisme-Indusrial. Premis bahwa kerja menjadi Esensi dan Penciri utama dari Manusia dan Kemanusiaan, menjadikan kalangan Marxis memiliki kecenderungan Determinis pada Ekonomi (Ekonomisme). Adalah Frederick Engels (Sahabat Marx) & Karl Kautsky (Murid Marx) yang kemudian mengembangkan Metodologi Khas bagi Kaum Marxis, pasca kematian Marx. Benih-benih Meteodologis ini dapat diperoleh dari Pemikiran Marx, walau Marx semasa hidupnya tak pernah menyebutkan istilah tersebut secara Eksplisit.

     Sebagaimana sebelumnya, Premis tentang Kerja sebagai Landasan Filosofis paling utama dalam Marxisme, kemudian dikembangkan oleh Engels dan Kautsky dengan hadirnya Metode MATERIALISME DIALEKTIKA HISTORIS. Sederhananya MDH memberi cara pandang atas Dunia, yang dimana Masyarakat amat dipengaruhi oleh Bangunan  Basic Struktur alias Tatanan Sistem Ekonomi. Perubahan pada Basic Struktur tersebut, akan mempengaruhi perubahan pada Bangunan atas Masyarakat atau yang kerap disebut 'Supra Struktur'. Elemen-Elemen Supra Struktur dapat berupa Hukum, Seni, Budaya, Pendidikan,  Etika/Moralitas termasuk Agama. Perubahan pada Basic Struktur  memungkinkan suatu Entitas Masyarakat mengalami Perpindahan Fase Ekonomi. Oleh Marxisme Perubahan atau Revolusi dapat dimungkinkan terjadi, melaui Proses perubahan dari Kuantitas yang akan mempengaruhi Kualitas. Dengannya Preses Negasi ke Negasi akan terjadi. Hal ini dapat kita lihat pada Prediksi Marx akan Keruntuhan Kapitalisme sebagai akibat Gejala  Over Production yang terjadi di dalam tubuh Kapitalisme.

     Dalam upaya menafsirkan Realitas Moderen, Marxisme memandang Kapitalisme akan mengalami Kematian dan akan tergantikan oleh Tatanan Dunia Baru yang lebih Harmonis (Masyarakat Komunis). Kapitalisme dianggap mengandung Kontradiksi di dalam tubuhnya sendiri, yang pada akhirnya akan memicu Revolusi Sosial.

     Demikianlah Ulasan singkat mengenai Marxisme, baik itu dari Segi Landasan Filosofis dalam Melihat Manusia dan Metodologi dalam Menafsirkan dan Merubah Dunia, denga semangat Revolusi-Optimistik.



WEBERIAN

     Pemikiran dari Arus Weberian tidak akan Luput dari Sosok tersohor Sosiolog yang juga merupakan Orang Jerman (Sama dengan Marx) dan Pemikirannya dijadikan sebagai Rujukan utama dalam Weberian,  sebut saja ia Max Weber. Sebagai seorang yang berlatar belakang Keluarga Protestan-Calvinis, Weber tentunya banyak dipengaruhi oleh hal ini.

     Dalam membangun Pemikiran Sosiologisnya, Weber mendasarkan Pemikirannya pada Konsep Manusia yang Aktiv dan Kreatif (Interpretatif-Humanis). Melalui  Tindakan  Mengekspresikan daya Kreatifitas yang dimilikinya. Oleh dari itu pula, Weber mengembangkan Metode yang di istilahkannya dengan nama VERSTEHEN. Metode Verstehen dapat dianggap sebagai bagian dari Tradisisi Hermeneutik, bedanya Heremeneutika fokus dalam upaya menafsirkan Teks, sedang Verstehen fokua pada upaya menafsirkan Realitas / Gejala Sosial. Oleh karena itu Verstehen dapat diartikan sebagai 'Hermeneutika-Sosial'. Lahirnya Verstehen sebagai suatu Metodologi tidak lepas dari Pertarungan Intelektual semasa Weber hidup, yakni antara Arus Nominalis yang melihat Peran Aktor atau Individu dominan dalam Sejarah & Arus Positivis yang melihat Struktur yang banyak mempengaruhi jalannya Sejarah. Max Weber dengan Menghadirkan Verstehen, dapat dianggap sebagai Upaya untuk menengahi dua arus yang saling berkontradiksi tersebut.

     Paradoks di dalam Pemikiran Max Weber ialah dalam upaya memahami Perkembangan dari Masyarakat Tradisional ke Masyarakat Moderen, ole Weber dilihat sebagai proses Matinya Daya Kreativitas Individu (De-Humanisasi). Yang menjadi Fokus Weber pada bagian ini, berbeda dengan Marx maupun Kalangan Marxisme pada umumnya. Weber Nampaknya jauh melampaui Aspek Ekonomisme (Kapitalisme) sebagai Pokok Persoalan Utama, sebagaimana Kalangan Marxis menganggal hal ini sebagai yang paling utama. Weber justru melihat Rasionalitas sebagai keniscayaan yang tak terelakan dalam Masyarakat Moderen. Olehnya Rasionalitas telah Menjadi Sangkar Besi, yang mengurung Manusia Moderen dalan Pola Hidup yang serba Formal namun dalam bentuk yang amat Radikal (Radikalisme-Formalitas). Kristalisasi Rasio-Instrumentalis dalam Masyarakat Moderen,  menjadikan Daya Kreativitas, Jiwa Seni, Cinta maupun Asmara turun mengalami Kepunahan.

     Kalangan Weberian kemudian mengadopsi Pemimiran,  Premis-Premis dasar, termasuk Metodologi yang dikembangkan oleh Weber. Oleh karena ini, Kalangan Weberian memandang Fokus Persoalan mendasar pada Masyarakat Moderen bukan sekedar terletak pada Kapitalisme sebagai suatu Tatanan yang Eksploitatif, namun jauh melampaui hal itu, Persoalan utama terletak pada Kristalisasi Rasionalitas yang telah menjadi  Roh & Jiwa yang menggerakkan Masyarakat Moderen. Weberian memandang Solusi Alternatif yang ditawarkan oleh Kalangan Marxis,  yakni Revolusi untuk Mewujudkan tatanan Masyarakat yang Sosialis ataupun Komunis hanya akan sama saja dengan Fenomen Kapitalisme. Sebab Perangkap Rasionalitas akan menjarah siapapun,  baik itu Kapitalisme maupun Komunisme. Justru sebaliknya tatanan Sosialis / Komunis yang berada dalan pengaruh atau sangkar Besi Rasionalitas, hanya akan memperparah Keadaan. Hal ini terbukti dengan beberapa Fakta di Mana Negara Komunis seperti Uni Soviet dan Korea Utara yang boleh dikata memiliki cita-cita 'Kemanusiaan' justru harus jatuh pada Sistem yang tidak Manusiawi. Gulaq-Gulaq atau Kamp Kerja Paksa semasa Joseph Stalin dapat menjadi salah satu contoh kegagalan Proyek Komunisasi ini.

Atas beberapa hal tersebut, menjadikan kalangan Weberian jauh lebih Pesimis dalam memandang Perubahan ataupun Revolusi !





(lll) KEMUNGKINAN SINTESIS


Tulisan kali ini merupakan penutup dari rangkaian Seri  MARXISME VS WEBERIAN. Pada Seri Pertama MARXISME VS WEBERIAN (1) : Mukaddimah & Pra Wacana  saya telah mengajak pembaca sekalian pada Kontradiksi dan sejumlah Persoalan mendasar pada Marxisme dan Weberian. Tulisan tersebut dimaksudkan guna memberi Stimulus (Rangsangan) dan Pemantik bagi para Pembaca agar kembali mendalami Problematikan Filosofis di dal Arus Pemikiran Marxisme maupun Weberiabhn. Sedang pada Seri Kedua yakni MARXISME VS WEBERIAN (2): Konsekuensi Metodologis saya mengajak kepada para Pembaca untuk meninjau Akar Filosofis dan Metode Khas dari masing-masing Arus Pemikiran (Marxisme & Weberian), yang berkonsekuensi Logis bagi lahirnya perbedaan cara pandang dalam melihat Masyarakat,  serta Muatan Teoritis yang di hasilkan sebagai akibat cara pandang tersebut.


     Pada bagian kali ini saya ingin menguraikan secara singkat mengenai  Kemungkinan Titik Temub(Sintesis) antara Marxisme dengan Weberian. Mengingat pula tidak selamanya ke dua Arus Pemikiran ini akan selalu Berseberangan ataupun Berkontradiksi. Pada sisi tertentu memiliki Potensi Sintesa diantara keduanya. Namun dikarenakan keterbatasan Waktu dan Situasi di tengah Aktivitas Saya yang padat, maka pada tulisan kali ini saya akan langsung memfokuskan pembahasan pada pokok-pokok persoalan utama yang di hadapi dari masing-masing arus pemikiran. Terutama pada kecenderungan Berpikir Ortodok (Fundamentalisme) pada beberapa kalangan. Kemudian Pembahasan akan dilanjutkan menguraikan Fenomena Kapitalisme-Fordisme yang memungkinkan Kedua Pemikiran ini saling berelaborasi dan menemukan titik sintesis. Pada bagian Akhir akan dibajas secara singkat Proyek Sintesis kedepannya.



POKOK PERSOALAN UTAMA


     Sebagai suatu Prodak Pemikiran yang sudah tentu memiliki Sisi Relativ (Relativitas), baik itu Marxisme maupun Weberian tidak akan luput dari Kecenderungan ini. Untuk itu mari kita mulai Pembahasan pada Arus Marxisme.


     Upaya penafsiran atas Pemikiran Marx yang telah melahirkan Prodak Pemikiran Marxisme, di dalam perkembangan awalnya cenderung mengalami Gejala Ortodoksian. Gejala Ortodoksian merupakan suatu Kecenderungan dalam Memahami Pemikiran Seorang Tokoh / Pemikir secara Fundamentalis, Kaku dan di sertai dengan Distorsi-Distorsi. Gejala Ortodoksian pada arus pemikiran (Isme) juga biasanya di sertai Distorsi yang menjadikan Pemikiran tersebut menjadi seperangkat Dogama yang Anti akan Kritik !


     Hal ini misalnya dapat kita Jumpai pada Frederick Engels. Engels banyak di kritik oleh berbagai Kalangan, karena dinilai telah menjadikan Pemikiran Marx hampir sama dengan Gaya berpikir Positivisme. Engels yang pada saat itu meng-Ideologisasikan Pemikiran Marx Kedalam bentuk Marxisme, guna tetap Menjaga Kaum Buruh dari Pengaruh Ideologi Kaum Bergouasi. Namun Upaya Penafisran Engels terhadap Pemikiran Marx  justru menjadi titik awal Distorsi  Pemikiran Marx. Karl Kautsky yang hidup Sejaman dengan Mars dan Engels, juga turut memberi Sumbangsi Distorsi yang jauh lebih Radikal bagi Marxisme. Istilah Marxisme Ortodoks yang memandang Perubahan Sosial alias Revolusi Proletarian secara Passiv, harus menunggu menunggu situasi yang tepat dengan Kondisi-kondisi Material yang memungkinkan, adalah Konsekuensi Bias Positivisme dari Kautsky. Positivisme yang memandang Gejala Sosial sebagai suatu Gejala yang dapat di Reduksi pada setiap Fenomena (Watak A-Hisrotis), dan Kecenderungannya dalam menggunakan Metode Ilmu Alam (Sains) di dalam melihat Masyarakat, menjadikan Marxisme Ortodoks ala Karl Kautsky bernuansa Passiv, dan amat seolah-olah Ilmu Fisika ataupun Kimia. Perlu untuk kembali dicermati bahwa sanya Kautsky secara berlebihan begitu mendeterminasi Aspek Ekonomi di dalam bangunan Filsafat Marxisnya. Akibatnya Marxisme Seolah-olah kehilangan Roh Humanismenya, menjadi sekedar Pemahaman atas Realitas Sosial (Masyarakat) yang serba Mekanik.


     Distorsi selanjutnya datang dari sosok terkemukan Revolusi Bolsevik, yakni Vladmir Lenin. Distorsi Lenin terletak pada upayanya dalam memberi Gambaran Aksiologis bagi Revolusi Sosialis. Lenin menekankan pentingnya Partai Komunis sebagai Representasi Para Intelektual Proletar dalam membimbing Transformasi sosial ke arah Komunisme. Kecenderungan ini kemudian dikembangkan lebih jauh Oleh Joseph Stalin yang Mengetuai Partai Komunis Uni Soviet (Partai Bolsevik) pasca kematian Lenin. Akibatnya cita-cita Negara Proletariat (Negar Komunis : Uni Soviet, china, dan lain-lain) seolah menjadi satu satunya juru selamat, yang akan mengantarkan masyarakat ke era Komunis. Yang Justru malah menjadi Monster dengan Momok yang amat menakutkan, Bukan hanya bagi para kaum Bergouis dengan Sekutunya Amerika Serikat melainkan juga Bagi Kalangan Kaum Kiri dengan Sekutunya Rakyat yang tertindas.


     Distorsi pada Arus Pemikiran Marxisme terletak pada pada Dogamtisme Ekonomi sebagai satu satunya Aspek penentu Perubahan Sosial. Perlu untuk kita pahami di dalam bangunan Filsafat Marx Ekonomi memang memiliki Posisi yang amat Penting, dalam Istilahnya Basic Struktur yang akan mempengaruhi Supra Struktur atau bangunan atas di dalam suatu Masyarakat, seperti Hukum, Budaya, Pendidikan, Etika & Moralitas. Namun yang menjadi kelemahan bagi kalangan Marxis kelasik seperti Engels,Kautsky maupun Lenin yang begitu Menderteminasi Ekonomi di dalam bangunan Filsafatnya, justru malah menghasilkan Arus Pemikiran Marxis dengan Kecenderungan Dogmatisme dalam melihat Realitas Sosial (Masyarakat). Hal ini justru mematikan unsur terpenting di dalam pemikiran Marx lainnya, yakni Dialektika.

Engels dan Kautksy terperangkap Pada 'Positivisme Marxis' yang Serba Passiv,  sedangkan Lenin justru terkurung dalam 'Gerakan Komunisme' yang amat Bringas.


   

     Sedang di dalam Arus Pemikiran Weberian Distorsi Terletak pada Max Weber sendiri yang mengabaikan aspek Ekonomi-Politik dalam melihat Realitas Sosial. Weber seraya terlalu menekankan secara berlebih pada perkembangan Intelektual dari Masyarakat Moderen yang mengarah pada Kristalisasi Rasio Instrumentalis Max Weber Nampaknya mengabaikan Variabel Ekonomi-Politik yang menjadi salah satu Faktor Pembentuk Realitas Dunia Kontemporer, sehingga di dalam pandangan Weber Kapitalisme yang telah menghasilkan Pola Eksploitasi, memiliki Sedikit Ruang dalam minat weber mengkaji Masyarakat. Konsekuensi Logos dari hal ini yaitu Kecenderungan Teleleogis dari Pemikiran Weber yang terlalu menekankan aspek 'Rasionalitas' dan mengabaikan Fenomena 'Konflik Kelas' yang nyata-nyatanya juga terjadi di Masyarakat Moderen. Weber Nampaknya lebih asyk melihat Kapitalisme sebagai perkembangan Etika Protestan atau Moralitas Kerja dari Kaum Puritan Calvinis, dari pada berupaya jauh memandangnya sebagai suatu Gejala Ekonomi-Politik / Struktural.


     Untuk sejauh ini dapat kita pahami bersama bahwa baik itu Marxisme ataupun  Weberian juga memiliki serangkaian Distorsi di dalam arus Pemikirannya. Dengan menghindari kecenderungan Distorsi tersebut kita temtunya dapat melacak titik temu di antara keduanya.




FENOMENA KAPITALISME-FORDISME


     Perkembangan Sosial-Kemasyarakatan abad 20, telah menghadirkan berbagai gejala baru di tengah Masyarakat,  salah satunya dengan munculnya Fenomena Kapitalisme-Fordisme. Berbeda dengan Kapitalisme  di abad 19, yang masih dalam bentuk Kapitalisme Industri Primitiv (Awal)  denganya Corak atau Teknik kerja yang bel Efektif, Mamadai dan Efesien. Kapitalisme di abad 20 justru telah bertransformasi dalam bentuk Kapitalisme-Fordisme.


     Kapitalisme-Fordisme merujuk pada Perusahaan 'Mobil Ford', suatu Industri Mobil terkemuka yang memiliki mekanisme dan teknis yang serba Rasional, Efesien, Efektif dan tentunya Terprediksi (Fordisme) . Oleh David Harvey gejala Fordisme ditandai dengan Keseragaman atau Homogenitas Kerja. Pada Masyarakat Moderen Sistem Teknis Industri telah berkembang Pesat dan telah melahirkan Spesialiasai-Spesialisasi kerja yang lebih terukur, terkuantitaskan, dan Rigid pada Pabrik-Pabrik Industri. Pada akhirnya para Kaum Buruh Pabrik terpetak-petakan secara Radikal, di dalam suatu Mekanisme Rasio-Intrumentalis dan Rasio Teknokratis. Ciri lain dari Kapitalisme-Fordisme ilaha Determinasi Teknologi yang amat tinggi. Jika Kapitalisme di Era Marx ataupun Weber tetap Memiliki kesamaan pada aspek "Kerja" yang di lalukan oleh "Manusia". Namun pada Kapitalisme-Fordisme justru menjadikan Kerja Manusia mulai berkurang dengan adanya Mesin-mesin berteknologi canggih. Akibat selanjutnya dari situasi demikian, maka Kesadaran Kelas Pekerja (Cosiocones Class) sebagai suatu bentuk kesadaran yang lahir dari Represifitas Mekanisme Kerja dari Sistem Kapitalisme yang Eksploitatif, justru kurang memiliki peluang di Era Kapitalisme-Fordisme. Justri yang sebalikmya terjadi,  di kalangan Kelas Pemerja muncul suatu Kesadaran Teknokratis yang makin membuat Kaum Pekerja kehilangan Semangat Revolusioner.


     Pada titik ini kita dapat menemukan tali penghubung antara Marxisme dengan Weberian. Marxisme yang melihat Eksploitasi yang selamanini berpatokan pada Mekanisme Represif dari Kapitalisme Klasik, harus menggeser cara pandanga mereka dengab mengadopsi cara pandang Rasionalitas ala Weberian yang menfominasi Pola Kapitalisme di abad 20. Sedang dari sisi Weberian dia harus membuka pandangan Ekonomi-Politik ala Marxian, mengingat Konflik Kelas belum sepenuhnya berakhir di Era Moderen atau pada abad 20. Justru Kontradiksi Kelas menjelma dalam mekanisme Rasio-Instrumental dalam Sistem Kerja Fordisme di Pabrik-Pabrik Industri. Dengan itu Sintesis antara Marxisme dengan Weberian pada tataran Fenomena Sosial dapat terjadi, di dalam upaya membedah Realitas Kapitalisme-Fordisme.



PENUTUP : PROYEK SINTESIS TERUS BERLANJUT !


     memasuki era Postmoderen atau yang lebih dikenal Pos-Industri, tantangan baru muncuk bagi Kalangan Weberian maupun Marxian. Upaya untuk menghindari kecenderungan  Ortodoksi dan Dogmatisme yang banyak menjangkiti Kalangan Pemikir Klasik serta Sikap terbuka terhadap arus pemikiran lainnya menjadi suatu hal yang tak terhindarkan untuk di miliki. Apalagi sekarang ini, mengingat Kapitalisme-Fordime telah mengalami Mutasi Genetikbdalam bentuk Kapitalisme Pos-Fordisme telah menjadi tantangan Tersendiri bagi Keberlanjutan 'Proyek Sintesis Marxis-Weberian'. Kapitalisme Pos-Fordime memiliki Pola dalam bentuk yang lebi unik, Plural, Heterogenaitas dan Fleksibilitas. Ada beberapa upaya dalam memahami Kapitalisme Pos-Fordis, selain David Harvey juga terdapat Pemikiran Sosiologis yang di Kemangkan Oleh saya Pribadi dalam Bentuk Gojeknisasi . Tentu pada tulisan ini,  tidak akan fokua Menguraikan Fenomena Gojeknisasi secara terpirinci di karenakan terbatasnya Ruang. Namun dengan berbagai rintisan tersebut dapat menjadi upaya Pengembangangan Proyek Sintsesis Marxis-Weberian yang juga melibatkan arus Pemikiran Sosial lainnya, seperti Islamisme, Fenomenologi, Eksistensialisme, Strukturalisme Bahasa, Pos Strukturalisme, Pos Modernisme,  dan lain-lain.


Maka dari itu besar harapan saya sebagai Penulis,  agar kiranya tulisan ini menjadi Pemantik bagi para pembaca Budiman sekalian terutama bagi Masyarakat Sosiologi, untuk bersama-sama merintis Proyek Sintesa tersebut.


Dengan meminjam Istilah Buzz Lightyear

Menuju Tak Terbatas & Melampauinya.





TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa