MARXISME VS WEBERIAN (2) : Konsekuensi Metodologis
Oleh : DINASTYSME (Penjelajah Ruang & Waktu)
Pada Pembahasan sebelumnya, Yakni "MARXISME VS WEBERIAN (1) : Mukaddimah & Prawacana", saya sudah mengantarkan Pembaca pada Problematika dasar dalam Marxisme maupun Weberian. Di samping itu, perlu untuk dipertanyakan kembali, apakah Marxisme merupakan ajaran dan Ideologi pergerakan bagi Kaum Proletar saja, sedang Weberian akan melulu dikaitkan dengan Intelektual Berjuasi ?!
Tentu Mainstream Pemikiran yang berkembang akan mengatakan demikian adanya ! Namun bukankah anggapan yg demikian dapat menjadi Over Generalisasi dan Simplifikasi, menginga beberapa Pemikir Marxis terutama kalanan Neo-Marxian, seperti Herbert Marcuse misalnya, juga menggunakan cara berpikir Weberian di dalan upaya menjelaskan Masyarakat Moderen. Oleh karenanya, terasa amat penting bagi kita, untuk kembali membedah akar Filosofis dan Metodologi dari Marxisme dan Weberian. Hal ini amat penting, guna menghindarkan kita pada Kecenderungan Over Genaralisir termasuk mengantisipasi Sikap Fanatisme-Ortodoksian pada salah satu arus Pemikiran tersebut.
Maka dari itu, Fokus Pembahasan kali ini akan menguraikan Landasan Filosofis atau Premis-Premis awal, baik itu pada Marxisme maupun Weberian. Termasuk nantinya akan dipaparkan Metodologi dari Masing-Masing alur Pemikiran.
MARXISME
Marxisme merujuk pada pemikiran-pemikiran Karl Heinrich Marx, terutama mengenai pandangan Ekonomi-Politik Marx.
Sebagai seorang Filsuf asal Jerman (Prusia) yang berdarah Yahudi, ssbagian besar Publik kita menganggap Pemikiran Marx sarat akan Pertumpahan Darah dan Penuh nuansa Kekerasan. Hal ini demikian dapat dibenarkan, mengibgat fakta sejarah dari Uni Soviet sendiri tela menorehkan tinta hitam dalam catatan sejarah. Namun sekaligis pandangan ini juga dapat keliru, mengingat penafsiran atas pemikiran Marx juga ada begitu banyak varian. Jangan sampai Fakta sejarah yang selama ini kita jadikan sebagai landasan untuk menstigmatisasi Pemikiran Marx, justru hanya salah satu dari sekian banyak Gerakan / Kelompok yang mengatas namakan diri sebagau Marxis.
Marx sendiri di dalam bangunan Filosofis awalnya, dapat digambarkan sebagai seorang Pemikir yang Humanis. Hal ini dapat kita lihat dari Premis awal Marx mengenai Manusia, yang menurutna Esensi Sejati dari Manusia ialah "Kerja". Oleh Marx, kerja menjadi Ekspresi Kemanusiaan dari Manusia. Melalui kerja Manusia dapat Meng-Aktualisasikan diri mereka, dan menjadikan kehidupan seseorang menjadi lebih bermakna. Sebab kerja dipandang sebagai proses Pengekspresian Ide & Gagasan di dalam diri, untuk kemudian teraktualkan menjadi suatu Prodak kebudayaan Material.
Singkatnya Perkembangan pemikiran Marx, dari Marx Muda yang berwatak Humanis, Radikal dan Liberal ke Marx Tua yang bercirikan Ekonomisme, Sinstifik dan Objektif, adalah suatu Perkembangan Intelektualitas dari Marx itu sendiri.
Kalangan Marxis yang kemudian mengadopsi pemikiran Marx, untuk kemudian dijadikan sebagai Ideologi Gerakan Kelas Proletariat yang dibarengi dengan semangat dan Visi Politik Kaum Buruh. Pada abad 19 M di Eropa Kaum Buruh (Proletariat) mengalami Penindasan yang amat begitu keji dibawah sistem Kapitalisme-Indusrial. Premis bahwa kerja menjadi Esensi dan Penciri utama dari Manusia dan Kemanusiaan, menjadikan kalangan Marxis memiliki kecenderungan Determinis pada Ekonomi (Ekonomisme). Adalah Frederick Engels (Sahabat Marx) & Karl Kautsky (Murid Marx) yang kemudian mengembangkan Metodologi Khas bagi Kaum Marxis, pasca kematian Marx. Benih-benih Meteodologis ini dapat diperoleh dari Pemikiran Marx, walau Marx semasa hidupnya tak pernah menyebutkan istilah tersebut secara Eksplisit.
Sebagaimana sebelumnya, Premis tentang Kerja sebagai Landasan Filosofis paling utama dalam Marxisme, kemudian dikembangkan oleh Engels dan Kautsky dengan hadirnya Metode MATERIALISME DIALEKTIKA HISTORIS. Sederhananya MDH memberi cara pandang atas Dunia, yang dimana Masyarakat amat dipengaruhi oleh Bangunan Basic Struktur alias Tatanan Sistem Ekonomi. Perubahan pada Basic Struktur tersebut, akan mempengaruhi perubahan pada Bangunan atas Masyarakat atau yang kerap disebut 'Supra Struktur'. Elemen-Elemen Supra Struktur dapat berupa Hukum, Seni, Budaya, Pendidikan, Etika/Moralitas termasuk Agama. Perubahan pada Basic Struktur memungkinkan suatu Entitas Masyarakat mengalami Perpindahan Fase Ekonomi. Oleh Marxisme Perubahan atau Revolusi dapat dimungkinkan terjadi, melaui Proses perubahan dari Kuantitas yang akan mempengaruhi Kualitas. Dengannya Preses Negasi ke Negasi akan terjadi. Hal ini dapat kita lihat pada Prediksi Marx akan Keruntuhan Kapitalisme sebagai akibat Gejala Over Production yang terjadi di dalam tubuh Kapitalisme.
Dalam upaya menafsirkan Realitas Moderen, Marxisme memandang Kapitalisme akan mengalami Kematian dan akan tergantikan oleh Tatanan Dunia Baru yang lebih Harmonis (Masyarakat Komunis). Kapitalisme dianggap mengandung Kontradiksi di dalam tubuhnya sendiri, yang pada akhirnya akan memicu Revolusi Sosial.
Demikianlah Ulasan singkat mengenai Marxisme, baik itu dari Segi Landasan Filosofis dalam Melihat Manusia dan Metodologi dalam Menafsirkan dan Merubah Dunia, denga semangat Revolusi-Optimistik.
WEBERIAN
Pemikiran dari Arus Weberian tidak akan Luput dari Sosok tersohor Sosiolog yang juga merupakan Orang Jerman (Sama dengan Marx) dan Pemikirannya dijadikan sebagai Rujukan utama dalam Weberian, sebut saja ia Max Weber. Sebagai seorang yang berlatar belakang Keluarga Protestan-Calvinis, Weber tentunya banyak dipengaruhi oleh hal ini.
Dalam membangun Pemikiran Sosiologisnya, Weber mendasarkan Pemikirannya pada Konsep Manusia yang Aktiv dan Kreatif (Interpretatif-Humanis). Melalui Tindakan Mengekspresikan daya Kreatifitas yang dimilikinya. Oleh dari itu pula, Weber mengembangkan Metode yang di istilahkannya dengan nama VERSTEHEN. Metode Verstehen dapat dianggap sebagai bagian dari Tradisisi Hermeneutik, bedanya Heremeneutika fokus dalam upaya menafsirkan Teks, sedang Verstehen fokua pada upaya menafsirkan Realitas / Gejala Sosial. Oleh karena itu Verstehen dapat diartikan sebagai 'Hermeneutika-Sosial'. Lahirnya Verstehen sebagai suatu Metodologi tidak lepas dari Pertarungan Intelektual semasa Weber hidup, yakni antara Arus Nominalis yang melihat Peran Aktor atau Individu dominan dalam Sejarah & Arus Positivis yang melihat Struktur yang banyak mempengaruhi jalannya Sejarah. Max Weber dengan Menghadirkan Verstehen, dapat dianggap sebagai Upaya untuk menengahi dua arus yang saling berkontradiksi tersebut.
Paradoks di dalam Pemikiran Max Weber ialah dalam upaya memahami Perkembangan dari Masyarakat Tradisional ke Masyarakat Moderen, ole Weber dilihat sebagai proses Matinya Daya Kreativitas Individu (De-Humanisasi). Yang menjadi Fokus Weber pada bagian ini, berbeda dengan Marx maupun Kalangan Marxisme pada umumnya. Weber Nampaknya jauh melampaui Aspek Ekonomisme (Kapitalisme) sebagai Pokok Persoalan Utama, sebagaimana Kalangan Marxis menganggal hal ini sebagai yang paling utama. Weber justru melihat Rasionalitas sebagai keniscayaan yang tak terelakan dalam Masyarakat Moderen. Olehnya Rasionalitas telah Menjadi Sangkar Besi, yang mengurung Manusia Moderen dalan Pola Hidup yang serba Formal namun dalam bentuk yang amat Radikal (Radikalisme-Formalitas). Kristalisasi Rasio-Instrumentalis dalam Masyarakat Moderen, menjadikan Daya Kreativitas, Jiwa Seni, Cinta maupun Asmara turun mengalami Kepunahan.
Kalangan Weberian kemudian mengadopsi Pemimiran, Premis-Premis dasar, termasuk Metodologi yang dikembangkan oleh Weber. Oleh karena ini, Kalangan Weberian memandang Fokus Persoalan mendasar pada Masyarakat Moderen bukan sekedar terletak pada Kapitalisme sebagai suatu Tatanan yang Eksploitatif, namun jauh melampaui hal itu, Persoalan utama terletak pada Kristalisasi Rasionalitas yang telah menjadi Roh & Jiwa yang menggerakkan Masyarakat Moderen. Weberian memandang Solusi Alternatif yang ditawarkan oleh Kalangan Marxis, yakni Revolusi untuk Mewujudkan tatanan Masyarakat yang Sosialis ataupun Komunis hanya akan sama saja dengan Fenomen Kapitalisme. Sebab Perangkap Rasionalitas akan menjarah siapapun, baik itu Kapitalisme maupun Komunisme. Justru sebaliknya tatanan Sosialis / Komunis yang berada dalan pengaruh atau sangkar Besi Rasionalitas, hanya akan memperparah Keadaan. Hal ini terbukti dengan beberapa Fakta di Mana Negara Komunis seperti Uni Soviet dan Korea Utara yang boleh dikata memiliki cita-cita 'Kemanusiaan' justru harus jatuh pada Sistem yang tidak Manusiawi. Gulaq-Gulaq atau Kamp Kerja Paksa semasa Joseph Stalin dapat menjadi salah satu contoh kegagalan Proyek Komunisasi ini.
Atas beberapa hal tersebut, menjadikan kalangan Weberian jauh lebih Pesimis dalam memandang Perubahan ataupun Revolusi !
((Berlanjut))

Komentar
Posting Komentar