AMALGAMASI FEMINISME & MARXISME


@Dinastysme

        "Saya tetap dengan karakter seorang wanita, bukan di mana cinta dimulai, tetapi di mana hal itu berakhir
     @Rosa Luxemburg 

     Tulisan Kali ini sekedar menjadi Coretan singkat,  yang berupaya memaparkan secara sederhana kemungkinan Amalgamasi antara Feminisme dengan Marxisme.

     Amalgamasi itu sendiri merupakan Term atau Istilah yang kerap di gunakan dalam ranah Studi Kebudayaan. Amalgamasi berarti Perpaduan Dua Kebudayaan yang masing-masing berbeda,  lewat Jalan Perkawinan (Pernikahan). Namun Penggunaan Kata Amalgamasi pada Tulisan ini lebih menekankan pada Perkawinan antara dua Arus Pemikiran,  yakni anatara Marxisme & Feminisme.

     Perlu untuk kembali ditinjau, bahwa dalam perkembangannya dan Pertemuannya antara Marxisme dengan Feminisme sering mengalami Ketegangan. Tingginya Tensi ini di sebabkan Oleh Streotipe dari Masing-masing pihak.

     Oleh kalangan Feminis, terkadang Marx maupun Marxisme dianggap telah mengabaikan Aspek Gender dan Penindasan terhadap kaum Perempuan. Demikian pula sebaliknya Kalangan Marxis menganggap Feminisme sebagai cara pandang yang lemah dalam memahami Problematika Sosial. Hal ini dikarenakn asumsi mereka bahwa Feminisme mengabaikan Aspek Ekonomi-Politik yang terjadi.

     Di Tengah perbedaan tersebut, tentu hanya akan akan menambah Tensi dan Cekcok yang makin Panas serta tak berkesudahan. Dan sudah pasti hal ini amat tidak Produktif, maka lebih baik kita kembali mencoba memahami Potensi Titik Temu kedua Pandangan ini.

     Ada kecenderungan yang menganggap bahwa Marxisme sebagai Suatu Cara Pandang untuk menafsirkan Dunia dan mengubah Dunia, telah mengabaikan Perempuan dalam bangunan Filsafatnya. Fenomena Gender cenderung di Nomor dua kan pada Tradisi Marxis, seraya begitu mendewakan Ekonomi sebagai Penentu segalanya. Namun perlu untuk bersikap bijak, mengingat Kritik Utama Marx ataupun Marxisme memang ditujukan pada aspek Ekonomi, yakni terutama pada Sistem Kapitalisme yang Eksploitatif.
   
    Jika kita kembali Menengok Karya Frederick Engels "The Origin Of Family : Privat Properti and  The State" (Asal Usul Keluarga : Kepemilikan Pribadi dan Negara), kita akan menemukan ketertindasan Gender yang di kaitkan dengan Faktor Ekonomi. Yakni Terutama lahirnya Kelas Bergouasi lewat  Privatisasi Kepemilikan. Engels kiranya menjadi Rujukan bagi sebagian Kalangan Marxis, dalam melihat Fenomena Gender di Masyarakat. Akibatnya Kecenderungan untuk menjadikan Fenomena Gender sebagai Hal Sekunder juga terjadi pada beberapa Kalangan Marxis.

     Namun disatu sisi, kita perlu kembali memahami Marx sebagai Rujukan pertama bagi Marxisme. Heater A. Brown dalam Salah satu Karyanya yang berjudul  Marx on Gender and The Family A Critical Study memberi gambaran akan adanya indikasi Analisis Gender dan Perhatian Marx dalam Tulisan-Tulisan Awalnya seperti Manuscrip 1884, The Holy Family, German Ideologi & Puchet tentang Bunuh Diri.

     Dengannya Studi lebih lanjut akan Pengembangan gagasan Marxisme yang menaruh Perhatian pada Feminisme (Fenomena Gender) dapat dikembangakan secara Optimis.

     Selain itu Perkembangan Kapitalisme Global belakangan ini, juga menuntut serangkaian Analisa-Analisa mendalam teradap Eksploitasi yang terjadi. Sebab Eksploitasi Kapitalisme Global tidak hanya Menyasar Kelas Proletariat, Golongan Ras tertentu,  Masyarakat Adat, Negara Dunia ke Tiga. Namun lebih dari itu, Kapitalisme Global menjadikan Perempuan sebagai Objek Eksploitasi utama,  olehnya Kaum Perempuam menjadi Budak dari para Budak (Kelas Pariah).

     Gagasan Neo-Feminisme Marxis kiranya dapat menjadi suatu Proyek Pemikiran dan Gerakan yang dapat mengantarakan Kaum Perempuan pada Emansipasi yang nyata (Riil). Demikian Pula bagi Marxisme yang sebelumnya berwatak Patriarki,  dengannya perlahan akan memiliki Jiwa Feminis.

     Saya pun teringat perkataan Rosa Luxemburg,  sang Pedang Revolusi.
"Kebebasan hanya untuk para pendukung Pemerintah, hanya untuk anggota partai, betapapun banyaknya mereka, bukanlah kebebasan. Kebebasan hanya selalu hanya bentuk kebebasan dari pemikiran lain"

Maka dari itu amat Penting mewujudkan Keadilan Gender dalam kehidupan nyata !

  Sekian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa