DARI SOSIALISME KELUARGA SAMPAI KRITIK ATAS MODERNITAS Dalam Film Captain Fantastic


                Oleh : Dinastysme (Pecandu Kopi) 

 Captain Fantastic merupakan Film yang berceritakan Ben Cash yang berupaya mendidik anak-anaknya yakni Bodevan, Kielyr Cash, Vespyr Cash, Rellian Cash, Zaja Cash dan Nai Cash Jauh dari segala segala Budaya Modernitas (Serba Alami).
Di dalam alur Cerita Istri Ben yakni Leslie di kabarkan meninggal Dunia, dikarenakan tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh Leslie sebagai akibat dari masalah kejiwaan yang dideritanya. Diketahui Leslie menderita Penyakit Skizofrenia Yang membuatnya memiliki kepribadian ganda dan janggal.
Cerita dalam film ini pun berlanjut ketika Ben beserta anak-anaknya berniat untuk mendatangi Pelayatan mendiang Leslie, sekaligus memenuhi pesan terakhir yang di minta oleh Istrinya, yakni jasad Leslie harus dibakar dan dikramasi, sambil di iringi dengan nyanyian dan Musik Kesukaanya, kemudian abu Leslie harus di buang ke Toilet. Demikianlah kurang lebih alur cerita Captain Fantastic, serta dinamika yang akan dilewati nantinya oleh Ben Cash beserta anak-anaknya.

     Jika dikaji secara mendalam, Captain Fantastic begitu menampilkan Gambaran Keluarga yang lain dari pada yang lainnya, Keluarga Ben Cash dapat menjadi Simbol  Anti Tesis bagi Keluarga Moderen.
Mengapa sehingga dapat dikatakan demikian ?
Tentu jika kita amati keluarga-keluarga yang terpapar Pengaruh Radikalisme (Kapitalisme) seperti pada Keluarga yang berada pada daerah Urban, boleh dikata memiliki pola hubungan yang renggang akibat kesibukan dan rutinitas yang ada. Selain itu Pola pendidikan pada anak yang kebanyakan diserahkan pada lembaga formal seperti sekolah dan tingkat ketergantungan teknologi yang cukup tinggi, menjadikan Keluarga tipe ini begitu berwafak Individualis dan Anti-Ekologis.Hal ini tentu Berbeda dengan Ben yang justru mendidik anak-anaknya secara disiplin dengan Model Pemelajaran langsung pada anak-anaknya Face to Face , telah membentuk pola hubungan Harmonis di antara mereka. Hal ini dapat ditandai dengan rasa Altruis (Kasih Sayang) yang tinggi serta jiwa solidaritas yang kuat yang di tampilkan di setiap Adegan dalam film.

     Di samping itu tempat tinggal keluarga ini yang jauh dari areal Perkotaan (Karena berada Di tengah hutan), menjadikan anak-anak Ben dekat dengan alam, sehingga membentuk sikap alias Kepribadian yang begitu menghargai alam (Watak Ekosentris).

     Dapat pula dikatakan bahwa di dalam alur cerita dari film Captain Fantastic, upaya perbandingan antara konsep Keluarga urban yang bercirikan pola hubungan diantara anggota keluarga yang boleh diKata cukup renggang dan lebih berasosiasi pada Ekonomi-Industri, dengan Konsep Keluarga Sosialis (Sosialisme Keluarga) yang bercirikan pola hubungan diantara anggotanya yang memiliki Kekuatan Emosional yang Amat tingi serta secara Ekonomi berbasiskan Produksi Komunal Primitive. Keluarga Ben Cash dapat dianggap mewakili Keluarga dengan Ciri Sosialis Sebagai mana yang dimaksudkan tadi.

     Frederick Engels seorang Filsuf Marxis Klasik, pernah mengulas Model keluarga Sosialis dalam Karyanya yang Termahsyur, yaitu The Origin Of Family : Private Property and The State"(Asal Usul Keluarga : Kepemilikan Pribadi & Negara),  Engels membagi keluarga ke dalam tiga bentuk utama yakni Keluarga Komunal, keluarga Pulunial dan Keluarga Monogami. Teruntuk keluarga Komunal sekiranya dapat disamakan dengan keluarga Sosialis, sebagaimana yang kita terangkan dimuka. Namun Bedanya Pada konsep keluarga Sosialis (Keluarga Komunal) ala Engels lebih Bersifat Deterministik pada aspek Ekonomi, terutama corak Produksi Komunal Primitive. Sedang konsepsi keluarga Sosialis (Sosialisme Keluarga) tidak selalu mesti bertumpu pada Ekonomi Komunal Primitive, namun juga Ekonomi Industrialis. Titik tekannya yakni pada upaya menciptakan hubungan Emosional yang kuat, diantara sesama anggota keluarga.

     Selain itu, film Captain Fantastic tidak hanya berupa perbandingan konsep antara keluarga Urban dengan keluarga Sosialis, namun juga turut melakukan kritik atas Masyarakat Moderen. Masyarakat Moderen membangun suatu bentuk Peradaban Yang di Sebit sebagai Modernitas. Modernitas Nampaknya tidak hanya sekedar membawa perubahan pada aspek Teknologi dan pada Pola hubungan Sosial Keluarga sebagaimana yang telah di singgung sebelumnya, akan tetapi juga pada aspek kesehatan manusia.

      Beberapa adegan di Film seperti ketika anak-anak Ben kaget dan terheran-heran ketika melihat orang-orang yang ada di Rumah Sakit, kebanyakan memiliki badan yang besar. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai suatu bentuk Cercaan sekaligus celaan terhadap Modernitas yang telah melahirkan obesitas pada Masyarakatnya. Menjamurnya Rumah Makan cepat saji seperti KFC, McDonald, Pizza Hut, dan lain-lain, telah menimbulkan Gejala Obesitas. Kelebihan lemak, Glukosa, Karbohidrat justru meningkatkan tingginya Resiko kematian pada Masyarakat moderen terutama bagi yang tinggal di daerah perkotaan.

     Di samping Gejala Obesitas, Lemak dan Kalori, Masyarakat Moderen juga mengalami rangkaian Obesitas lainnya. Salah satu dan yang Paling utama yakni Obesitas Informasi. Dengan Perkembangan Teknologi Komunikasi di abad 21, sirkulasi dan Distribusi informasi juga demikian Makin cepat. Dan Nampaknya ditengah laju kecepatan informasi tersebut,  juga menimbulkan gejala  Post-Truth yang ditandai Massivnya berita Hoax yang beredar di dunia Maya. Obesitas informasi tersebut, yang nyatanya juga banyak disusupi oleh berita Hoax, justru menjadikan masyarakat Moderen seakan menjadi komunitas yang kehilangan Rasa kepercayaan/kebenaran.

     Di sisi lain kritik atas Masyarakat Moderen dengan Budaya Modernitas yang berupaya untuk dibangunnya yaitu pada Tradisi Dramatisasi dan Pandangan Agama. Masyarakat moderen dapat di katakan sebagai Masyarakat yang di Penuhi dengan Drama dan Adegan Sandiwara. Senyum yang ditampilkan oleh Manusia Moderen tak lebih dari sekedar senyum kepalsuan yang di baliknya tersimpan hati yang gelisah dan dilanda oleh rasa kesedihan yang amat dalam. Sedang konsepsi atau cara pandang Masyarakat moderen atas Agama tak lain dan tak bukan hanya sekedar ritual semata, yang dilakukan secara formal. Akibatnya agama kehilangan Esensi sejatinya yakni sebagai perangkat/alat yang di gunakan untuk mendekatkan diri pada Tuhan, menjadi sekedar lembaga formal yang kosong secara makna dan hampa secara Spiritual.

     Keluarga Ben Cash sejatinya ingin melawan kemapanan Agama yang terorganisir dan membelenggu kebebasan Manusia. Gambaran Agama yang Anarkis menjadi Tipe Ideal Keyakinan Spiritual yang berupaya di gambarkan dalam film ini.

     Terakhir dan Mungkin dapat menjadi penutup yakni Etos lingkungan yang terkandung di dalam intisari Film Captain Fantastic. Dari Alur cerita Captain Fantastic yang di awali dengan adegan perburuan Rusa oleh keluarga Ben Cash di tengah Hutan kemudian, yamg kemudian diakhiri dengan proses pembakaran jasad Leslie ke Toilet. Hal ini dapat dipahami sebagai ajakan kepada Masyarakat Moderen agar kembali ke Alam. Manusia yang sejatinya merupakan mahluk Mikro-Kosmik, sudah hendaknya menyalurkan segala bentuk tindakan pada alam. Perbuatan yang tidak sesuai dengan prinsip alam dan hakikat penciptaan Manusia, pada akhirnya juga akan menghasilkan situasi tidak harmonis di alam. Contoh paling nyata sekarang ini telah marak berbagai tindakan pengrusakan alam, terutama yang dilakukan oleh Industri besar.

     Sekali lagi Film Captain Fantastic dapat menjadi sindiran yang tepat atas dunia Moderen dengan segala kesemrawutan yang diciptakan olehnya. serta keluarga Ben Cash dapat dipahami sebagai keluarga Sosialis, yang berupaya melawan tatanan Hegemoni yang ada. Menjadi Antitesis di tengah arus Modernisasi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa