KRITIK ATAS KRITIK "Arfan Rahman terhadap Tulisan ORGANDA & PERBUDAKAN"
Oleh : Dinastisme (Pecandu Kopi)
Pada tulisan kali ini, saya hendak memberikan tanggapan balik terhadap Kritikan yang sebelumnya di berikan oleh Kanda Arfan Rahman (Appang), terhadap tulisan saya yang berjudul "ORGANDA & PERBUDAKAN", yang terbit dilaman HIMA Sosiologi UNM pada Selasa, 11 Oktober 2019.
Alangkah lebih baiknya, sebelum jauh melanjutkan pembacaan terhadap tulisan saya yang kali ini, pembaca budiman saya sarankan untuk kembali menegok tulisan saya sebelumnya
https://himasosiologifisunmakassar.blogspot.com/2019/09/organda-dan-perbudakan.html?m=1
Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih kepada Kak Appang, lewat kritikan yang sangat membangun terhadap Tulisan Saya. Kritikan tersebut dapat bernilai Positif sekaligus Pertanda bahwa literasi di tengah masyarakat Sosiologi Belum juga Padam. Di tengah Hegemoni pubg dan Mobile Legend yang tengah melanda sebagian besar masyarakatnya "Jahilia Sosiologi"
Kritik dapat menjadi Simbol Penghargaan atas Suatu Karya Tulisan, yang berarti Tulisan tersebit tidak sekedar di baca kemudian di lupakan begitu saja, Apalagi kalau memang tidak sama sekali dibaca. Melalui kritik sekiranya Dialektika Pemikira dan Gagasan dapat terjadi. Dan menjadi suatu Pertarungan serta Perkelahian yang berkualitas, sebab berada pada tataran Literasi.
Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini Izinkan saya memberikan Kritikan Balik atas Kritik yang sebelumnya di Berikan oleh kak Appang atas tulisan "ORGANDAN & PERBUDAKAN", guna semangat dan daya Dialektika tetap ada di tengah kita semua.
Sebagaimana yang diketahui, kritik yang sebelumnya diberikan Oleh Kak Appang, nampaknya lebih tertuju pada Over Generalisasi dari Penulis, yakni saya Pribadi dalam Menyamaratakan Seluruh Lembaga Mahasiswa Daerah (Organda). Sedang dari Kak Appang sendiri mampu memberi Contoh Organda lainnya yang justru memilki Pola kaderisasi yang turut mengajarkan "Filsafat & Wacana Kritis".
Saya Pribadi mengakui Kecenderungan ini dalam Tulisan. Namun kiranya di samping kelemahan itu, ada hal lain yang hendak saya Hadirkan pada tulisan tersebut. Yang mungkin pada segi ini Kak Appang kurang menangkap, sehingga lebih cenderung menyerang pada Segi Over Generalitas yang ada.
Pesan utama (Gagasan Pokok) yang hendak saya hadirkan dalam tulisan "ORGANDA & PERBUDAKAN", sejatinya ialah Munculnya Suatu Kecenderungan pada lembaga Mahasiswa Daerah atau yang dalam Hal ini Organda dalam membentuk Polarisasi De-Humanis.
Kecenderungan "Polarisasi De-Humanis" tersebut berangkat dari Upaya tinjauan Teoritis yang saya lakukan dalam melihat Perkembangan Masyarakat Moderen yang Cenderung mengarah pada Irasionalitas. Terutama Sumber-Sumber Literatur dan Pemikiran para Tokok seperti Max Weber (Sangkar Besi Rasionalitas), Max Horkheimer & Adorno (Dialektika Pencerahan) termasuk Herbert Marcue (One Dimensional Society).
Tak ayal dasar Paradigmatik dan Teoritis tersebut membentuk serangkaian gagasan yang tertuang dalam ORGANDA & PERBUDAKAN. Dan menurut pengamatan saya, sejauh kritikan yang diberikan oleh Kak Appang, upaya untuk menggali dan menangkap kecenderungan tersebut nampaknya agak minim dilakukan dibanding upaya beliau dalam memfokuskan pada contoh-contoh kasus lembaga Mahasiswa Daerah lain yang menjalankan Corak Kaderisasi yang Positiv.
Selain itu Polarisasi yang De-Humanis pada Lembaga Mahasiswa Daerah yang kini terlembagakan dalam bentuk BIROKRASI, berkonsekuensi logis bagi lahirnya Kesadaran TEKNOKRATIS dikalangan Kader Lembaga. Kesadaran Teknokraris menjadikan Pola Hubungan (Interaksi Sosial) dalam kehidupan berlembaga menjadi mati secara sosial (De-Sosial), hal ini didasarkan atas pendewaan atas nilai-niali FORMALISTIK-ADMINISTRATIF.
Akhirnya Lembaga Mahasiswa Daerah yang bernama ORGANDA tak lebih dari Pabrik-Pabrik yang ber isi kan Robot-Robot yang berjalan tanya nyawa, tanpa jiwa, tanpa Rasa dan TANPA CINTA. dan lebih parahna lagi, sejau Pengamatan saya pribadi, pola dan watak ini juga sedang melanda lembaga Kemahasiswaan Internal Kampus sekelas HMJ, MAPERWA ataupun BEM. Akhirnya kegiatan kegiatan yang di laksanakan tak lebih dari Formalitas belaka tanpa di isi dengan Cinta.
Hal ini tentu menjadi tantangan bagi kita semua, bagaimana cara kita menghadirkan lembaga kemahasiswaan baik itu pada tataran Eksternal Kampus seperti Organda, maupun Internal Kampus seperti HMJ/MAPERWA/BEM, untuk menghadirkan kegiatan yang bernuansa Kritisisme dan Romantisme.
Dengah Akhir kata dari Saya
"Mari Kembali Tumbuhkan Mawar Cinta dalam kehidupan Berlembaga"
Hidup Mahasiswa !!!

Komentar
Posting Komentar