MARXISME VS WEBERIAN (3) : kemungkinan Sintesis
Oleh : DINASTYSME (Penjelajah Alam Semesta)
Tulisan kali ini merupakan penutup dari rangkaian Seri MARXISME VS WEBERIAN. Pada Seri Pertama MARXISME VS WEBERIAN (1) : Mukaddimah & Pra Wacana saya telah mengajak pembaca sekalian pada Kontradiksi dan sejumlah Persoalan mendasar pada Marxisme dan Weberian. Tulisan tersebut dimaksudkan guna memberi Stimulus (Rangsangan) dan Pemantik bagi para Pembaca agar kembali mendalami Problematikan Filosofis di dal Arus Pemikiran Marxisme maupun Weberiabhn. Sedang pada Seri Kedua yakni MARXISME VS WEBERIAN (2): Konsekuensi Metodologis saya mengajak kepada para Pembaca untuk meninjau Akar Filosofis dan Metode Khas dari masing-masing Arus Pemikiran (Marxisme & Weberian), yang berkonsekuensi Logis bagi lahirnya perbedaan cara pandang dalam melihat Masyarakat, serta Muatan Teoritis yang di hasilkan sebagai akibat cara pandang tersebut.
Pada bagian kali ini saya ingin menguraikan secara singkat mengenai Kemungkinan Titik Temub(Sintesis) antara Marxisme dengan Weberian. Mengingat pula tidak selamanya ke dua Arus Pemikiran ini akan selalu Berseberangan ataupun Berkontradiksi. Pada sisi tertentu memiliki Potensi Sintesa diantara keduanya. Namun dikarenakan keterbatasan Waktu dan Situasi di tengah Aktivitas Saya yang padat, maka pada tulisan kali ini saya akan langsung memfokuskan pembahasan pada pokok-pokok persoalan utama yang di hadapi dari masing-masing arus pemikiran. Terutama pada kecenderungan Berpikir Ortodok (Fundamentalisme) pada beberapa kalangan. Kemudian Pembahasan akan dilanjutkan menguraikan Fenomena Kapitalisme-Fordisme yang memungkinkan Kedua Pemikiran ini saling berelaborasi dan menemukan titik sintesis. Pada bagian Akhir akan dibajas secara singkat Proyek Sintesis kedepannya.
*POKOK PERSOALAN UTAMA
Sebagai suatu Prodak Pemikiran yang sudah tentu memiliki Sisi Relativ (Relativitas), baik itu Marxisme maupun Weberian tidak akan luput dari Kecenderungan ini. Untuk itu mari kita mulai Pembahasan pada Arus Marxisme.
Upaya penafsiran atas Pemikiran Marx yang telah melahirkan Prodak Pemikiran Marxisme, di dalam perkembangan awalnya cenderung mengalami Gejala Ortodoksian. Gejala Ortodoksian merupakan suatu Kecenderungan dalam Memahami Pemikiran Seorang Tokoh / Pemikir secara Fundamentalis, Kaku dan di sertai dengan Distorsi-Distorsi. Gejala Ortodoksian pada arus pemikiran (Isme) juga biasanya di sertai Distorsi yang menjadikan Pemikiran tersebut menjadi seperangkat Dogama yang Anti akan Kritik !
Hal ini misalnya dapat kita Jumpai pada Frederick Engels. Engels banyak di kritik oleh berbagai Kalangan, karena dinilai telah menjadikan Pemikiran Marx hampir sama dengan Gaya berpikir Positivisme. Engels yang pada saat itu meng-Ideologisasikan Pemikiran Marx Kedalam bentuk Marxisme, guna tetap Menjaga Kaum Buruh dari Pengaruh Ideologi Kaum Bergouasi. Namun Upaya Penafisran Engels terhadap Pemikiran Marx justru menjadi titik awal Distorsi Pemikiran Marx. Karl Kautsky yang hidup Sejaman dengan Mars dan Engels, juga turut memberi Sumbangsi Distorsi yang jauh lebih Radikal bagi Marxisme. Istilah Marxisme Ortodoks yang memandang Perubahan Sosial alias Revolusi Proletarian secara Passiv, harus menunggu menunggu situasi yang tepat dengan Kondisi-kondisi Material yang memungkinkan, adalah Konsekuensi Bias Positivisme dari Kautsky. Positivisme yang memandang Gejala Sosial sebagai suatu Gejala yang dapat di Reduksi pada setiap Fenomena (Watak A-Hisrotis), dan Kecenderungannya dalam menggunakan Metode Ilmu Alam (Sains) di dalam melihat Masyarakat, menjadikan Marxisme Ortodoks ala Karl Kautsky bernuansa Passiv, dan amat seolah-olah Ilmu Fisika ataupun Kimia. Perlu untuk kembali dicermati bahwa sanya Kautsky secara berlebihan begitu mendeterminasi Aspek Ekonomi di dalam bangunan Filsafat Marxisnya. Akibatnya Marxisme Seolah-olah kehilangan Roh Humanismenya, menjadi sekedar Pemahaman atas Realitas Sosial (Masyarakat) yang serba Mekanik.
Distorsi selanjutnya datang dari sosok terkemukan Revolusi Bolsevik, yakni Vladmir Lenin. Distorsi Lenin terletak pada upayanya dalam memberi Gambaran Aksiologis bagi Revolusi Sosialis. Lenin menekankan pentingnya Partai Komunis sebagai Representasi Para Intelektual Proletar dalam membimbing Transformasi sosial ke arah Komunisme. Kecenderungan ini kemudian dikembangkan lebih jauh Oleh Joseph Stalin yang Mengetuai Partai Komunis Uni Soviet (Partai Bolsevik) pasca kematian Lenin. Akibatnya cita-cita Negara Proletariat (Negar Komunis : Uni Soviet, china, dan lain-lain) seolah menjadi satu satunya juru selamat, yang akan mengantarkan masyarakat ke era Komunis. Yang Justru malah menjadi Monster dengan Momok yang amat menakutkan, Bukan hanya bagi para kaum Bergouis dengan Sekutunya Amerika Serikat melainkan juga Bagi Kalangan Kaum Kiri dengan Sekutunya Rakyat yang tertindas.
Distorsi pada Arus Pemikiran Marxisme terletak pada pada Dogamtisme Ekonomi sebagai satu satunya Aspek penentu Perubahan Sosial. Perlu untuk kita pahami di dalam bangunan Filsafat Marx Ekonomi memang memiliki Posisi yang amat Penting, dalam Istilahnya Basic Struktur yang akan mempengaruhi Supra Struktur atau bangunan atas di dalam suatu Masyarakat, seperti Hukum, Budaya, Pendidikan, Etika & Moralitas. Namun yang menjadi kelemahan bagi kalangan Marxis kelasik seperti Engels,Kautsky maupun Lenin yang begitu Menderteminasi Ekonomi di dalam bangunan Filsafatnya, justru malah menghasilkan Arus Pemikiran Marxis dengan Kecenderungan Dogmatisme dalam melihat Realitas Sosial (Masyarakat). Hal ini justru mematikan unsur terpenting di dalam pemikiran Marx lainnya, yakni Dialektika.
Engels dan Kautksy terperangkap Pada 'Positivisme Marxis' yang Serba Passiv, sedangkan Lenin justru terkurung dalam 'Gerakan Komunisme' yang amat Bringas.
Sedang di dalam Arus Pemikiran Weberian Distorsi Terletak pada Max Weber sendiri yang mengabaikan aspek Ekonomi-Politik dalam melihat Realitas Sosial. Weber seraya terlalu menekankan secara berlebih pada perkembangan Intelektual dari Masyarakat Moderen yang mengarah pada Kristalisasi Rasio Instrumentalis Max Weber Nampaknya mengabaikan Variabel Ekonomi-Politik yang menjadi salah satu Faktor Pembentuk Realitas Dunia Kontemporer, sehingga di dalam pandangan Weber Kapitalisme yang telah menghasilkan Pola Eksploitasi, memiliki Sedikit Ruang dalam minat weber mengkaji Masyarakat. Konsekuensi Logos dari hal ini yaitu Kecenderungan Teleleogis dari Pemikiran Weber yang terlalu menekankan aspek 'Rasionalitas' dan mengabaikan Fenomena 'Konflik Kelas' yang nyata-nyatanya juga terjadi di Masyarakat Moderen. Weber Nampaknya lebih asyk melihat Kapitalisme sebagai perkembangan Etika Protestan atau Moralitas Kerja dari Kaum Puritan Calvinis, dari pada berupaya jauh memandangnya sebagai suatu Gejala Ekonomi-Politik / Struktural.
Untuk sejauh ini dapat kita pahami bersama bahwa baik itu Marxisme ataupun Weberian juga memiliki serangkaian Distorsi di dalam arus Pemikirannya. Dengan menghindari kecenderungan Distorsi tersebut kita temtunya dapat melacak titik temu di antara keduanya.
FENOMENA KAPITALISME-FORDISME
Perkembangan Sosial-Kemasyarakatan abad 20, telah menghadirkan berbagai gejala baru di tengah Masyarakat, salah satunya dengan munculnya Fenomena Kapitalisme-Fordisme. Berbeda dengan Kapitalisme di abad 19, yang masih dalam bentuk Kapitalisme Industri Primitiv (Awal) denganya Corak atau Teknik kerja yang bel Efektif, Mamadai dan Efesien. Kapitalisme di abad 20 justru telah bertransformasi dalam bentuk Kapitalisme-Fordisme.
Kapitalisme-Fordisme merujuk pada Perusahaan 'Mobil Ford', suatu Industri Mobil terkemuka yang memiliki mekanisme dan teknis yang serba Rasional, Efesien, Efektif dan tentunya Terprediksi (Fordisme) . Oleh David Harvey gejala Fordisme ditandai dengan Keseragaman atau Homogenitas Kerja. Pada Masyarakat Moderen Sistem Teknis Industri telah berkembang Pesat dan telah melahirkan Spesialiasai-Spesialisasi kerja yang lebih terukur, terkuantitaskan, dan Rigid pada Pabrik-Pabrik Industri. Pada akhirnya para Kaum Buruh Pabrik terpetak-petakan secara Radikal, di dalam suatu Mekanisme Rasio-Intrumentalis dan Rasio Teknokratis. Ciri lain dari Kapitalisme-Fordisme ilaha Determinasi Teknologi yang amat tinggi. Jika Kapitalisme di Era Marx ataupun Weber tetap Memiliki kesamaan pada aspek "Kerja" yang di lalukan oleh "Manusia". Namun pada Kapitalisme-Fordisme justru menjadikan Kerja Manusia mulai berkurang dengan adanya Mesin-mesin berteknologi canggih. Akibat selanjutnya dari situasi demikian, maka Kesadaran Kelas Pekerja (Cosiocones Class) sebagai suatu bentuk kesadaran yang lahir dari Represifitas Mekanisme Kerja dari Sistem Kapitalisme yang Eksploitatif, justru kurang memiliki peluang di Era Kapitalisme-Fordisme. Justri yang sebalikmya terjadi, di kalangan Kelas Pemerja muncul suatu Kesadaran Teknokratis yang makin membuat Kaum Pekerja kehilangan Semangat Revolusioner.
Pada titik ini kita dapat menemukan tali penghubung antara Marxisme dengan Weberian. Marxisme yang melihat Eksploitasi yang selamanini berpatokan pada Mekanisme Represif dari Kapitalisme Klasik, harus menggeser cara pandanga mereka dengab mengadopsi cara pandang Rasionalitas ala Weberian yang menfominasi Pola Kapitalisme di abad 20. Sedang dari sisi Weberian dia harus membuka pandangan Ekonomi-Politik ala Marxian, mengingat Konflik Kelas belum sepenuhnya berakhir di Era Moderen atau pada abad 20. Justru Kontradiksi Kelas menjelma dalam mekanisme Rasio-Instrumental dalam Sistem Kerja Fordisme di Pabrik-Pabrik Industri. Dengan itu Sintesis antara Marxisme dengan Weberian pada tataran Fenomena Sosial dapat terjadi, di dalam upaya membedah Realitas Kapitalisme-Fordisme.
PENUTUP : PROYEK SINTESIS TERUS BERLANJUT !
memasuki era Postmoderen atau yang lebih dikenal Pos-Industri, tantangan baru muncuk bagi Kalangan Weberian maupun Marxian. Upaya untuk menghindari kecenderungan Ortodoksi dan Dogmatisme yang banyak menjangkiti Kalangan Pemikir Klasik serta Sikap terbuka terhadap arus pemikiran lainnya menjadi suatu hal yang tak terhindarkan untuk di miliki. Apalagi sekarang ini, mengingat Kapitalisme-Fordime telah mengalami Mutasi Genetikbdalam bentuk Kapitalisme Pos-Fordisme telah menjadi tantangan Tersendiri bagi Keberlanjutan 'Proyek Sintesis Marxis-Weberian'. Kapitalisme Pos-Fordime memiliki Pola dalam bentuk yang lebi unik, Plural, Heterogenaitas dan Fleksibilitas. Ada beberapa upaya dalam memahami Kapitalisme Pos-Fordis, selain David Harvey juga terdapat Pemikiran Sosiologis yang di Kemangkan Oleh saya Pribadi dalam Bentuk Gojeknisasi . Tentu pada tulisan ini, tidak akan fokua Menguraikan Fenomena Gojeknisasi secara terpirinci di karenakan terbatasnya Ruang. Namun dengan berbagai rintisan tersebut dapat menjadi upaya Pengembangangan Proyek Sintsesis Marxis-Weberian yang juga melibatkan arus Pemikiran Sosial lainnya, seperti Islamisme, Fenomenologi, Eksistensialisme, Strukturalisme Bahasa, Pos Strukturalisme, Pos Modernisme, dan lain-lain.
Maka dari itu besar harapan saya sebagai Penulis, agar kiranya tulisan ini menjadi Pemantik bagi para pembaca Budiman sekalian terutama bagi Masyarakat Sosiologi, untuk bersama-sama merintis Proyek Sintesa tersebut.
Dengan meminjam Istilah Buzz Lightyear
Menuju Tak Terbatas & Melampauinya.
Sekian

Komentar
Posting Komentar