BANJIR SPERMA HOAX DI ERA DIGITAL


Banjir Sperma Hoax di Era Digital 
Oleh Dinasty


"Hoax menyebar Ibarat Sperma yang membasahi tiap ruang yang dilaluinya dan melumatkan tiap Insan dalam kebutaan dan kebasahan semu"

Teknologi sebagaimana istilahnya di artikan sebagai suatu objek atau hasil cipta manusia (kebudayaan) yang berperan dalam membantu manusia baik itu dari kerja fisik ataupun peranannya dalam membangun solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Dalam berbagai rana kajian sosial sejumlah ahli memahami kebudayaan sebagai Instrumen manusia dalam pengembangan kemanusiaan yang dimilikinya, misalnya saja Filsuf dan Ekonom asal Jerman, Karl Marx yang melihat potensi dasar manusia yakni kerja, dengan kerja manusia mampu mengobjektifkan gagasan atau idea yang tersimpan dalam pemikirannya untuk di aktualisasikan. Dan dari hasil dari objektivikasi tersebut yang berupa kebudayaan akan berguna untuk kemanusiaan dan Sosial kemasyarakatan.
Namun perlu di ketahui bahwa laju perkembangan teknologi tidak sedemikian lurus dan murninya (linearitas), hanya sekedar hadir hanya sebagai penunjang kehidupan manusia, akan tetapi teknologi dalam perkembangannya juga mengalami serangkaian pengaruh dari kuasa-kuasa yang ada didalam masyarakat, dimana sekelompok kuasa tersebut memiliki peranan dalam menentukan orientasi dan makna dari suatu teknologi. Misalnya saja bagaimana andil Pemerintah sebagai kelompok penguasa dalam mendefenisiskan fungsi dari suatu handphone atau laptop bagi para Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di dalam instansi-instansi pemerintahan atau bagaimana fungsi suatu gadget menurut pihak perusahaan terkait, entah Itu Oppo, Samsung dan kawan-kawan.
Memasuki abad 21 dimana terjadi kecenderungan pada batas ruang lingkup baik itu regional ataupun kultural kian menipis berkat kemajuan teknologi di bidang Transportasi dan Komunikasi. Manusia telah dimudahkan bahkan dimanjakan oleh akses teknologi untuk memungkinkannya melintasi halangan berupa ruang dan waktu. Kemajuan transportasi seperti pengembangan kereta api cepat mempermudah seseorang dalam mobilitas geografis serta sistem digitalisasi yang semakin maju juga memudahkan setiap orang untuk mengakses informasi baik itu melalui televisi ataupun sosial media yang bertaburan di smartphone para generasi milenial entah itu Fecebook, WhatsApp, Line atupun Instagram. Dengan kemajuan-kemajuan yang telah di gapai tersebut, manusia telah merekonstruksi dunia ataupun pandangannya mengenai dunia yang semakin tersimplifikasikan dalam Istilah Global Village (Desa dunia) sebagaimana yang di istilahkan oleh McLuhan.
Desa Global ibarat suatu komunitas yang hidup dengan derajat interaksi yang begitu tinggi dan kedekatan yang begitu empuk, semuanya tak lain dan tak bukan berkat kemajuan teknologi Transportasi dan Komunikasi. Segala Informasi kian menyebar dan tersampaikan dengan begitu cepatnya melalui social media. Kita dapat saja menjadi agen informasi tanpa harus melalui pendaftaran sebagai pembawa berita atau wartawan di salah satu TV Nasional. Dengan kemudahan akses dan menyebarkan informasi ini juga ternyata membawa perubahan yang tidak disadari dan tidak direncanakan sebelumnya di tengah masyarakat!
Perubahan yang dimaksudkan, yakni munculnya gejala atau Fenomena Hoaxnisasi di tengah masyarakat digital. Akibat kesempatan akses, keterbukaan dan netralitas dari perangkat teknologi seperti smartphone beserta aplikasi sosial media yang ada di dalamnya, telah memungkinkan penyebaran hoax, apa alasan utamanya? Sebab di dalam ruang-ruang digital yang memiliki Netralitas-Rapuh (NH), para agen social media baik itu dalam bentuk mikroskopik seperti Individu ataupun dalam bentuk maroskopik atau Kelompok seperti Golongan Politik tertentu yang memainkan peran di sosial media sama-sama memiliki kemampuan kreatif dalam bentuk atau yang diistilahkan sebagai Potensi Manipulasi.
Potensi manipulasi ini sangat beragam variannya mulai dari manipulasi wajah dan kecantikan melalui Kamera 360" , manipulasi asmara, manipulasi identitas bahkan manipulasi pada manipulasi itu sendiri. Salah satu manipulasi yang lagi tren sekarang ini apalagi bersamaan dengan tahun-tahun politik ialah manipulasi Informasi.
Sering dan terkadang ketika kita membuka media sosial yang kita miliki entah itu Facebook atau Instagram beragam informasi tampil di laman depan sosmed dan menampilkan sejumlah Informasi, ada informasi yang sifatnya baik namun ada pula informasi yamg sifatnya menghina dan menjatuhkan karakter seorang tokoh masyarakat. Biasanya disertai dengan meme paling minimal foto serta di bumbui oleh taburan kata-kata yang menghina tanpa di iringi fakta atau data yang jelas.
Berbagai hamburan dan muntahan serta ujaran kebencian yang bertebaran di sosial media muncul sedemikian rupa ibarat banjir sperma yang membasahi sejumlah dinding dalam ruang-ruang digital. Ia menyebar ibarat sperma yang membasahi tiap ruas dalam zona digital atau sosial media dan melumatkan tiap insan pembaca dalam simulacra-simulacra informasi.
Pada akhirnya apa yang timbul ketika banjir sperma hoax telah mencapai sel telur ? Tentu ialah kelahiran kebencian dan rasa permusuhan akibat stimulus-stimulus yang berupa berita bohong pada naluri Xenophobik manusia. Kontradiksi dan benih-benih permusuhan di munculkan melalui transformasi dan aliran informasi hoax pada tiap insan pengguna sosial media.
Hoax seakan muncul dan hadir sebagai pemenang utama, ibarat kebenaran palsu yang dipilih oleh suara mayoritas dengan kudeta tak berdarah pada kebenaran. Hoaxisasi yang semakin massif di masyarakat digital telah menghilangkan kemurnian dan netralitas yang seharusnya menjadi ciri dari ruang-ruang di gital semacam Media sosial. Massifnya pergerakan hoax telah membunuh eksistensi dan kesadaran manusia pada umumnya dan menggiringnya pada penguasaan diri yang begitu radikalnya, seperti kekuasaan pada biopower. Ketika kebenaran dimanipulasi, kebohongan di benarkan dan identitas di tiadakan, maka kemana lagi arah dunia.
Masyarakat Kontemporer yang dikaitkan dengan Konsumsi berlebih dan Fraktalisasi keadaan sebagaimana yang di konsepkan oleh Jean Paul Baudrillard, sejatinya suatu komunitas yang telah kehilangan dirinya sendiri. Tercerabut dari akar realitas asali dan larut dalam pencaharian dan pengejaran tiada akhir (fatamorganis). Masyarakat yang sedang mengalami simulasi juga sedang mengalami kanker yang kian menyebar pada organ-organ tubuh lainnya, hilang dalam kenyataan dan muncul dalam ketiadaan.
Mekanisme kuasa yang menyebar untuk memainkan serta menentukan wacana apa yang hendak di konsumsi oleh masyarakat digital kini telah berbuah pada lahirnya keadaan anomali di tengah masyarakat. Masyarakat kehilangan orientasi akan fakta dan kebenaran, hamburan sperma hoax kian menjadi-jadi ketika kedua kubuh politik mencari starategi catur digital. Kerinduan akan fakta dan realitas lapangan kini kian terlupakan dan di iringi oleh candu pada berita bohong. Dan pada akhirnya kita tinggal menunggu kiamat pada kemanusiaan meskipun manusia tetap utuh!!!!!!!

# AKANKAH ADA JALAN KELUAR ?
Jika memahami realitas dunia abad 21 yang sebagian besar di penuhi oleh polutan-polutan baik itu dalam bentuk Simulacrum, Fatamorgana ataupun Ekstacy akibat Banjir Sperma Hoax yang mendominasi dan mengubah paradigma akan kebenaran, maka mungkinkah ada jalan keluar dari segala problematika tersebut?
Akankah kita menuruti secara buta konsepsi Baudrillard yang putus asa dengan tatanan Fraktal, dimana masyarakat telah di hinggapi oleh kanker sehingga tidak ada jalan keluar lagi selain kematian atau bunuh diri?
Mestikah kita menunggu kematian sang pengidap kanker tanpa harus mencari pengobatan alternatif baik itu melalui olah Spiritualitas atau ramuan mujarab dari mbah dukun yang terkenal ampuhnya?!
 Tentunya semua kembali pada pengguna media sosial (subjek milenial) dalam menanggapi segala badai topan informasi yang seakan membuat kita muak akan hilangnya fakta dan kebenaran. Hendaklah pengguna media sosial bijak dalam menerima segala informasi yang diterima sebab subjek pengguna sosial memiliki peranan utama dalam penyaringan informasi.
Tabayyunisitas hendaklah di jadikan propaganda dalam melawan Hoax, dengan mengampanyekan dan menjadikan pola kebiasaan (tindakan) cross check informasi yang diterima sebelum disampaikan atau disebarkan kembali tentu menjadi kebutuhan utama. Dengan mencari sumber pijakan serta benar atau tidaknya suatu berita dapat menjadi ramuan ampuh bagi kanker yang menyerang masyarakat digital.
 Disamping itu penegakan aturan (regulasi) yang tegas dan cepat pada tiap pelaku penyebar hoax juga menjadi salah satu faktor yang menunjang terhambatnya Penyebaran kanker dan membantu mensterilkan tubuh yang dikotori oleh hoax-hoax. Optimalisasi badan Cyber Crime yang netral dan aktiv oleh pihak keamanan sangat diharapkan untuk menekan laju hoax yang disebabkan oleh oknum-oknum dehumans.
Maka dari itu dengan tindakan yang bijak dan arif dalam menyaring informasi yang diterima di dunia digital oleh para pengguna media sosial serta ditunjang oleh regulasi yang tegas dalam menindak segala pelaku penyebar hoax, maka diharapkan ruang-ruang digital kembali pulih dan kembali pada fungsi awalnya, yakni sebagai rana penyampaian Informasi yang benar dan berdasarkan fakta.

Salam Pencerahan (Manifesto Kenabian).

Komentar

  1. Menurut saya dengan menelusuri ulang validitas informasi itu tidak cukup. Karena menempatkan mahasiswa hanya sebagai konsumen informasi.. Tetapi ada baiknya jika mahasiswa lebih progresif dalam melakukan emansipasi ditengah masyarakat. Masih terlalu banyak mahasiswa yang kupu-kupu-kampung. (Kuliah pulang kos- pulang kampung) dan juga sampah lemabaga kemahasiswaan yang candu terhadap suasana kenyamanan (mementingkan diri sendiri) sibuk berwacana teoritik. Pada Akhirnya.. Kita harus menyatakan perang. Perang melawan diri sendiri dari kebatilan (mensucikan diri) menjadi Arif. dan juga memperjuangkan hal-hal mulai yg terdekat hingga yg terjauh.
    Bukan kah Karl Marx pernah berkata Filsuf Sibuk Menafsirkan dunia, tetapi ia lupa mengubahnya (itu di zamannya). Mari belajar teori tapi jangan lupa berpijak pada realitas yg sesungguhnya berpihak pada kebenaran.

    BalasHapus
  2. Syukron masukannya kak, selain kroscek berita mahasisy juga mesti memiliki semangat idealisme agar tak larut dalam berita politik praktis

    Salam hormantku

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa