Kelas Filsafat
Rangkuman
Materi Kelas Filsafat
Oleh :
Dinasty
#Materi 1 :
BUNGA RAMPAI FILSAFAT POSTMODERNISME
Dalam perkembangannya filsafat mengalami puncak klimaks
dengan lahirnya filsafat Post-Modernisme sebagai puncak dan sekaligus menjadi
kritik bagi Filsafat Modern. Filsafat Post-Modernisme yang berasal dari kata
Post yang artinya pasca atau setelah dan Modernisme yang berkaitan dengan
pemikiran atau mainstream aliran yang berkembang di eropa pada abad 17 M dengan
kembalinya akal sebagai instrumen epistemologi utama dalam memperoleh
pengetahuan. Dengan itu dapat disimpulkan bahwa Post-Modernisme merupakan
aliran filsafat yang keluar dari mainstream cara berpikir Modernisme.
Dalam perkembangannya Post-Modernisme mengalami sejumlah
dinamika dan dialektika, meliputi akumulasi perspektif dan negasi perspektif.
Post-Modernisme yang bermula dari gerakan Seni sekitar tahun 20-an terutama
sekali kritik sastra dan kemudian memasuki rana ilmu sosial tepatnya ketika LYOTARD
mendiktum kematian narasi besar sekitar tahun 1960-an.
Perkembangan Pemikiran Postmodernisme juga banyak dipengaruhi
oleh pemikiran Strukturalisme dan Post-Strukturalisme dimana aliran ini fokus
kepada aspek Linguistik (Bahasa) yang menentukan dan memiliki peranan besar
dalam kehidupan manusia.
Strukturalisme merupakan reaksi atas pemikiran
Eksistensialisme Jean Paul Sartre dan Fenomenologi Husserl yang pada saat itu
mendominasi pemikiran eropa (terhitung dua dekade lamanya mendominasi pemikiran
intelektual eropa mulai dari tahun 40-an sampai 60-an). Strukturalisme terutama
berkembang di Prancis dengan tokoh-tokohnya seperti Louis Althusses dan Claudiu
Levis Straus, meskipun titik awal gerakan pemikiran ini bermula di Swiss dengan
tokoh termahsyurnya Ferdinand DeSaussure.
Strukturalisme mengkritik cara pandang Eksistensialisme
Sartre yang saat itu mendominasi dunia intelektual eropa, dimana sartre
mengasumsikan kebebasan manusia sebebas-bebasnya tanpa perlu terikat oleh suatu
struktur yang membelenggu (Being and
Nothingness).
Sedang Poststrukturalisme sendiri merupakan reaksi lanjut
atas strukturalisme yang tak terlalu mem phonologisentrisme kan Kata atas
Teks/Tulisan, buahnya pada lahirnya metodologi Dekonstruksi oleh Jacques
Derrida guna membuka intrepertasi baru bagi tiap teks.
Disamping itu pengaruh pemikiran Nietzchea dan Sigmund Freud
juga tidak bisa dilepas dalam perkembangan Pemikiran
Poststrukturalisme/Postmodernisme.
Disini dapat dilihat bagaimana begitu besarnya
percikan-percikan pemikiran Nietzchea pada tokoh-tokoh yang beraliran
postmodernisme terutama Michael Foucault. Ibarat kaum sofis di yunani para
Intelektual Postmodernis meengaggap kebenaran universal tak mungkin ada ataupun
dicapai, yang ada hanyala relativitas tiap segi. Ini semua tentu diperoleh
melalui pengadopsian asumsi Nietzchea mengenai Kematian Tuhan, dimana pristiwa
Kematian Tuhan pada diri manusia telah menimbulkan hancurnya segala tatanan
yang ada, entah itu langit ataupun neraka. Yang ada hanyalah Nihilisme yang
dimana manusia hendaklah menjadi Ubermanch yang mampu tuk menentukan sendiri
arah kehidupannya.
Pengaruh lainnya dari Psikologi yakni tepatnya aliran
Psikoanalisis ala Freudian yang melihat prilaku manusia banyak di gerakkan oleh
alam bawah sadarnya. Dorongan impuls biologis dan naluriah seperti ID merupakan
penggerak utama kehidupan (Irasional) dan senantiasa mengalami benturan dengan
tatanan sosiologis yang telah mapan yang di Istilahkan sebagai SuperEgo. Dalam
Term Freudian ID sebagai dorongan primer dan Realitas Eksternal berupa SuperEgo
jika tak selaras akan menimbulkan gejala kekacauan dan kegilaan pada manusia.
Oleh sebab itu Ego sebagai aspek psikologis yang berada ditengah-tengah antara
ID dan SuperEgo harua kiranya melakukan mekanisme pertahanan Ego untuk
menyelaraskan impuls-impuls dari dalam dan intervensi dari luar diri. Oleh sebab
itu dalam ranah Psikoanalisis akan dikenal nantinya istilah-istilah berupa
Sublimasi,Proyeksi, Denial(penolakan), dll.
Disamping pengaruh Intelektualitas sebagaimana yang telah
dipaparkan di atas, pengaruh sosial atau aspek sosial-politik yang terjadi di dunia
pada saat itu juga turut andil dalam mempengaruhi perkembangan Teori
Postmodernisme. Gerakan mahasiswa atau yang lebih dikenal generasi 68 yang pada
saat itu sedang marak-maraknya melakukan aksi demonstrasi di eropa dan AS telah
mengalami kegagalan. Kegagalan ini pula telah menjadi puncak klimaks modernitas
yang sebagian orang anggap sebagai proyek dengan selogan pencerahan yang selalu
gagal. Sebut saja buah dari modernitas yang sangat membanggakan pencerahan
dapat dilihat bukti nyatanya berupa kerusakan lingkungan hidup, demoralisasi,
eculturalisasi, Perang Dunia Kedua yang begitu menakutkan, Perang dingin dua
narasi besar yakni antara Blok Timur dengan komunismenya dan Blok Barat dengan
kapitalismenya, serta puncaknya ketakutan dan merindingnya bulu kuduk umat
manusia menantikan perang nuklir. Berbagai gejala tersebut telah menimbulkan
keputus asaan pada narasi modernitas dan berujung pada lahirnya pemimiran
postmodernisme yang berusaha membangkitkan narasi-narasi marginal yang
sebelumnya jarang diangkat di era moderen meliputi Lingkungan Hidul,
Homoseksual, Queer dan Feminisme sampai pada Multikulturalisme.
Berbagai perkembangan tersebut telah membentuk gaya khas,
style berpikir dari aliran Postmodernisme yang cenderung nihil, acak dan tak
berstruktur dilengkapi dengan ketajamannya dalan membongkar wacana.
Adapun tokoh-tokoh yang termasuk dalam aliran ini meskipun
mereka tak pernah mengklaim ikut bagian didalamnya, namun secafa pemikiran
dapat dikategorikan terutama banyak dari kalngan ilmuan dan filsuf dari negara
Prancis seperti Jacques Derrida, Michael Foucault, Lyotard, Jean Baudrillard,
Lacan, Deleuze & Felix Guattari, Julia Kristeva, Irigaray dan yang berasal
dari luar Eropa berupa Frederick Jamerson dari kalangan Neo Marxian.
#Materi 2 :
FILSAFAT PENCIPTAAN LAKI-PEREMPUAN SEBAGAI ANTITESIS WACANA GENDER
Pernahkah kita mendengar kata Gender? Ya, tentu sebagaian
besar dari kita telah akrab dengan kata yang satu ini entah itu diperoleh dari
dosen ataupun koran dan ocehan para aktivis kaum perempuan yang senantiasa
menolak budaya patriarki sebagai musuh terbesar penindasan dalam pola relasi
jenis kelamin. Kata ini sering dikaitkan pula dengan analisis feminisme yang
mengkaitkannya dengan suatu defenisi umum dan maisntream berupa relasi laki dan
perempuan yang di bentuk oleh sosial dan budaya. Tidak ada unsur kesakralan
dalam defenisi tersebut, dan polanya senantiasa dapat berupa sesuai dengan
perkembangan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Namun perlu diketahui bahwa
asumsi Gender tersebut kian dangkalnya jika hanya digeneralisasikan tanpa upaya
menyibak aspek maknawi keberadaan entitas laki-laki dan perempuan didunia ini.
Mengabsolutkan defenisi tersebut akan berbuah pada kedangkalan
intelektualitas dan filosofis yang menghalangi kita sang pencari kebenaran pada
jalan hidup harmonis. Efek paling parahnya juga memungkinkan anomali nilai (value anomali) sebab kesakralan pola
relasi yang telah mapan antara laki-laki dan perempuan di hancurkan oleh
asusmsi genderian dengan akumulasi (normal
science) terus menerus.
Perlu kiranya defenisi tersebut kita dekonstruksikan sampai
hancur lebur dengan melihat kekurangan asumsinya yang berupa aspek nurture yang
hanya melihat profanitas dalam relasi antar kelamin.
Jika memang demekian makan apa makna kehadiran dari laki-perempuan
diduania ini?
Apakah eksistensi dua enritas jenis kelamin teesebut
tak memiliki makna? Apakah kita lebih dapat memilih pola lesbianisme sebab
laki-laki senantiasa meng objektifkan perempuan?
Dengan beberapa pertanyaan tersebut tentunya sudah dapat
menggetarkan asumsi filososfis genderian yang nurture Setelah Kita mampu untuk
mendekonstuksikan asumsi Genderian sudah saatnya kita membangun makna baru
antara relasi laki dengan peremouan dengan menggunakan instrumen filsafat harmonisasi.
Filsafat harmonisasi mengajak kita untuk melihat hakikat keberadaan, apa esensi
dari kehidupan.
Dengan pencaharian hakikat kita dapat menemukan makna
keberadaab laki-laki dan perempuan didunia yang hakikatnya saling melengkapi,
ibarat kasih dan sayang serta ibarat Yin dan Yang. Kesemimbangan kosmik dapat
kembali tercapai dengan pengenalan diri dan esensi keberadaan.
Bukankah hidup itu memiliki makna?
Maka sudah seharusnya kita tak terpaku oleh ketakjuban dan
kedangkalan asumsi gender dan berusaha mencari kedalaman makna guna hidup yang
lebih Harmonis.
Komentar
Posting Komentar