Antara Gender, Feminisme serta Esensi Laki-laki dan Perempuan


Antara Gender, Feminisme serta Esensi Laki-laki dan perempuan
(Suatu tamparan keras pada kaum Feminis-Lesbian)

Oleh Dinasty Dindra Pratama

Terkadang ketika kita mendengar kata Gender cenderung muncul sejumlah asumsi-asumsi yang hadir di kepala kita
Entah itu Konstrukan Sosial-Budaya, budaya patriarki dan lain-lain.

Gender sebagai salah satu konsep sosial umumnya dalam analisis Ilmu sosial secara umum ataupun Sosiologi secara khusus sering di asumsikan sebagai suatu hasil konstrukan sosial dan budaya masyarakat (paradigma naturtur)!
Dan secara otomatis Maskulinitas serta Feminitas juga dianggap sebagai hal yang bersifat sosial tidak dibawah secara lahir atau melalui prinsip determinisme biologis dimana suatu Gen atau kromosom mempengaruhi perilaku dan sifat apakah seseorang tersebut menjadi Maskulin atau Feminim.

Terlepas dari asumsi Mainstream tersebut bahwa analisis Sosiologis dalam melihat fenomena Gender memang begitu adanya, melihat sosiologi sendiri lebih menekankan aspek Empiris atau realita dilapangan

Namun bagaimana jika konsep Gender yang selama ini kita pahami sebagai sesuatu hasil konstrukan sosial kita Dekonstruksikan kembali, kita redefenisi kembali dan kita konstruksikan kembali melalui Intrument Filsafat Harmonisasi

Filsafat tidak hanya berhenti pada tataran Sosioligis dengan mentaklid butakan asumsi bahwa Gender itu hanya konstrukan sosial,
Filsafat lebih dari pada itu, filsafat berupaya mengkaji secara mendalam perihal apa makna dari kehidupan serta apa hakikat dan esensi hidup.
Berkaitan dengan prihal Gender Filsafat Harmonisasi berupaya memahami makna kemunculan Entitas laki-laki dan perempuan di dunia.
Apakah salah satu entitas muncul untuk mendominasi dan mengeksploitasi entitas-entitas lainnya atau eksistensi suatu entitas memiliki relasi harmonis dengan entitas lainnya!????

Jika kita mendaya gunakan potensi akal budi kita dalan melihat eksistensi entitas perempuan dan Laki-laki di dunia ini apakah, kehadiran dua jenis kelamin tersebut antara PENIS dan VAGINA muncul dengan sendirinya tanpa makna apapun (seperti pandangan umum filsafat Eksistensialisme) ataukah memiliki makna tersendiri???

Filsafat Harmonisasi berusaha menyibak Tirai fatamorganis (aksidental-material) yang selama ini menutup kita dari kebenaran esensial dan tersesat dalam rimba raya simulacrum, begitu halnya dalam konsepsi atau pemahaman kita mengenai Gender.

Moendogmatisasikan secara taklid buta asumsi bahwa Gender hanyalah hasil konstrukan sosial budaya adalah kekejaman pada diri sendiri!!!!
Mengapa? Sebab asumsi tersebut sedemikian relatifnya dan menutup diri dari penggalian maknawi yang lebih luas mengenai apa makna kemunculan Laki-laki dan perempuan di dunia ini????

Apakah kita akan ikut-ikutan dengan sejumlah kaum Feminisme Ekstream seperti para Aktivis Feminisme-Lesbian yang menegasika Eksistensi Pria/Laki-laki dan menolak pola relasi Hetero dengan Asumsi pola tersebut dapat memicu Ekploitasi dan Objektivikasi pada Perempuan dan Eksistensianya????

Tentu asumsi tersebut merupakan kebohongan besar yang dibungkus dalam indahnya Retorika yang melumatkan tiap pendengar

Hendaklah kita berupaya memahami dan mendalami esensi kehadiran dua jenis kelamin, entitas dan eksistensi laki-laki dan perempuan didunia ini tentu memiliki makna tersendiri.
Coba saja kita bayangkan jika di dunia ini hanya Laki-laki saja yang menjadi penduduk bumi, sungguh ketimpanganlah yang akan terjadi.
Dengan kehadiran dua jenis kelamin makan reproduksi kehidupan di muka bumi akan berlangsung dengan lahirnya entitas-entitas hidup lainnya yang akan mengisi bumi.
Itu adalah salah satu makna perbedaan kelamin dan kehadiran entitas pria dan wanita di dunia.

Ada juga sebahagian pandangan Filosofis yang berasumsi bahwa secara Kosmologis (KOSMOLOGI SEX) laki dan perempuan awalnya satu dengan memakai konsep emanasi (platonisme) namun menawarkan suatu konklusi dan solusi yang amat kelirunya yakni membenarkan Homoseksual atau LGBT sebagai jalan untuk kembalai ke penyatuan!
Kita mungkin akan sepakat jikalau laki dan perempuan itu sama dan satu namun logika akan menolak jika tawaran etis dan aksiologis untuk sampai pada penyatuan kembali yakni dengan membangun pola relasi Homoseksualitas.

Homoseksualitas itu sendiri malah menjadi bencana bukannya solusi yang makin menjauhkan entitas atau manusia dari penyatuan, sebab secara nalar tidak mungkin dua Eksistensi yg berbeda secara kelamin mampu menghasilkan Eksistensi/entitas hidup yg baru (reproduksi), meskipun beberapa kalangan mengambil dasar pijakan pada data homoseksual dikalangan hewan seperi singan, namun toh ujung-ujungnya juga tidak memungkinkan terjadinya reproduksi.

Filsafat harmonisasi berusaha menggali esensi apa yang sebenarnya terkandung pada tiap entitas dalam hal gender dan sex apa makna perbedaan jenis kelamin dan pola relasi apa yang hendak dibangun dari pemahaman esensial tersebut

Jika kita memahami esensi laki-perempuan bagaikan Pola Yin dan Yang maka hendaklah kita merekonstruksi tatanan sosial yang meng eksploitasi salah satu jenis kelamin, bukan dengan menegasikan eksistensi pria seperti asumsi kaum feminis-lesbian atau mencari upaya penyatuan melalui Homoseksual seperti asumsi kaum kosmopolitan

Dengan mengenali esensi keberadaan secara otomatis kita akan terdorong untuk bertindak secara harmonis, membangun relasi yang harmoni baik itu pada dori sendiri,masyarakat,Alam,Tuhan serta pada tiap entitas jenis kelamin.

Bukankah hidup itu memiliki makna?

Maka dari itu asumsi yang mendangkalkan gender hanya sebatas Gejala sosial atau hasil dari konstrukan budaya tidak begitu saja kita terima, perlu pendalaman filososfis terus menerus bagi tiap insan yang mencoba menempuh jalan hidup Faylusuf agar tidak tertipu oleh asumsi-asumsi dengan Retorika cantik namun bobrok secara logika

Sebagaimana tujuan utama Filsafat, filsafat bukan hanya proses meng Ada namun juga proses Menjadi yakni menjadi manusia utuh yang mampu membangun relasi harmonis dengan entitas-entitas lainnnya
.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa