ANARKISME DAN ETIKA LINGKUNGAN





Oleh : DINASTYSME (Sang Pejalan Anarki) 

'' SEKEDAR REFLEKSI"

     Ummat Manusia mengalami serangkaian Dinamika dan Perkembangan, yang pada akhirnya mengantarkan mereka pada era "Peradaban". Peradaban atau Civilitation menjadi Simbol yang diklaim oleh Manusia sebagau suatu Kemajuan / Proggress.

     Telah kita saksikan secara saksama, bagaimana perkembangan  Peradaban Ummat Manusia dari Masa ke Masa. Tidak hanya memberi warna Emas berupa Glory, Imperium dan Kejayaan, namun juga penaklukan, pembunuhan, darah dan air mata. Berbagai peristiwa inilah yang mengiringi Sejarah Peradaban Ummat Manusia. 

Mulai dari era Sumeria Kuno sampai abad Pertengahan, Pola yang demikian senantiasa terjadi. 

     kini peradaban Manusia telah memasuki fase baru, yakni fase yang tidak hanya membawa mereka pada kemajuan. Namun juga menjadikan manusia sebagai mahluk yang Superordinat bagi lingkungan. Fase baru ini bermula sekitar abad 16 di Eropa, yakni ketika semangat Pembaharuan dan Reformasi Gereja di iringi oleh Antusiasme untuk menggunakan daya "Rasio" sebesar-besarnya. Era ini kerap di istilahkan sebagai Masa Kelahiran kembali atau Renaissance. Singkat cerita masa ini kemudian terus berlanjut sampai memasuki Era Aufklarung (Pencerahan) pada abad 17. Serta mencapai puncak-puncak Orgasme ketika Revolusi Prancis dan Revolusi Industri meledak. 

     Akibatnya, muncullah suatu tatanan dunia baru, suatu tatanan yang menggantikan tatanan sebelumnya yang bersifat Tradisional, Teologis dan penuh mitos. Sebut saja tatanan tersebut sebagai MODERNITAS.

     Modernitas bukan hanya memberi peluang besar bagi ummat Manusia untuk tetap Eksis. Namun lebih dari itu, Modernitas yang dalam bentuk Radikalnya (Post-Modernitas) telah menjadikan Manusia tak lagi menjadi Manusia !

Hmm Maksudnya Gimana ?!!!

     Modernitas telah menegasikan Kemanusiaan di dalam diri sang Manusia, dan telah memberi mereka suatu bentuk Evolusi dan Mutasi Genetikal pada Jiwa, yakni dala Bentuk "Post-Human" alias Dewa-Dewa yang tak berperasaan. Bermunculannya Mahluk Post-Human bukan hanya berdampak pada Kamatian Kehidupan Sosial (De-Sosial) namun lebih dari itu, Entitas Lingkungan turut mengalami Genosida atau Pembantaian Massal ! Jika sebelumnya Manusia amat bergantung pada alam,  kini alam lah yang harus memohob pada Manusia. 
     Mahluk-Mahluk Post-Human yang berjalan tanpa perasaan tersebut, akhirna menciptakan Industri-Industri besar di tengah Hutan Belantara. Mereka mulai menebang Pepohonan, Menggerup tanah di lereng-lereng bukit dan Meledakkan Bom di Pegunungan berbatu. Lewat mekanisme kerja dan Teknik yang amat Rasional, Efesien, Efektiv dan Terukur (Terprediksi), perlahan mereka meluaskan Imperialisme atas Alam. Mengubah yang sebelumnya Hijau, menjadi lautan Beton. Memusnahkan Keanekaragaman Hayati yang ada di dalamnya,  sambil berbangga atas Kerusakan yang telah di perbuat. 

Demikianlah alam yang mengalami Degradasi, penjajahan oleh pada mahluk yang tamak !

     Namun Nampaknya di Sudut-Sudut Kota Metropolitan yang dipenuhi oleh Beton, di Pelosok pedesaan, di emper-emper pasar, muncul orang-orang yang memiliki kesadaran atas Situasi yang terjadi. Ya ! Mungkin saja mereka bukan orang yang nampak begitu Alim dalam Beragama, bukan pula orang yang begitu memilili IQ di atas Rata-Rata,  serta Tampang yang mungkin juga kurang Estetis. Namun saru kelebihan mereka, yaitu Jiwa yang anti Penindasan, Jiwa yang sadar akan Kemanusiaan dan Semangat Etika Lingkungan.

     Jika boleh dikata, mereka adalah kaum Anarkis. Namun janganlah memanggil mereka dengan penyebutan itu, sebab bagi mereka Identitas hanyalah Konstrukan Sosial. 

     Mereka kembali mendendangkan semangat dan spirit Lingkungan, di tengah-tengah Polusi dari Angkuh cerobong asap Pabrik, yang kini menyelimuti Lingkungan. Walau mungkin nampak Kurus dan terlihat kekurangan Gizi, namun jiwa mereka berseri-seri. 

     Mereka memahami bahwa sumber malapetakan yang terjadi saat ini,  ialah akibat dari Pola yang serba Formal namun penuh atas Kemunafikan. Pola tersebut menjelma dalam bentuk Kapitalisme dan di Kokohkan oleh Bangunan Negara. Dan memang benar juga, bahwa Entitas Negara hari ini justru menjadi Penyumbang Ekspoitasi, kekerasan termasuk menjadi Parasit bagi Lingkungan. 

     Etika lingkungan bersumber dari sikap Universal, yang oleh Kapitalisme justru di gilas menjadi sekedar Etika Parsial. Dan pada akhirnya mengundang kerusakan dan malapetaka. 

     Para kaum Anarkis, teruslah menakuti para Eksploitator Lingkungan. Buktikan pada mereka bahwa Alam (Lingkungan) juga Eksis sebagaimana adanya Manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa