MARXISME PASCA KOMUNISME



Oleh : DINASTYSME

"Kalangan Marxis di abad 21, di hadapkan pada Pertanyaan mendasar ! Apakah ingin tetap mempertahankan Watak Ortodoksi-Marxis, ataukah ingin memperbaharui Marxisme sesuai dengan Konteks Jaman ?!"
 @Celoteh Dinasty



     Di Penghujung abad ke 20, telah terjadi serabgkaian peristiwa  Sosial-Politik yang mewarnai dan memberi tinta pada catatan Sejarah. Diantara peristiwa tersebut yakni Krisis Moneter di Asia, Balkanisasi Yugoslavia dan yang terpenting dan paling utama yaitu Runtuhnya Imperium Raksasa Uni Soviet.

     Runtuhnya Uni Soviet menjadi Pertanda bagi berakhirnya Perang Dingin. Perang Dingin yang merupakan pertarungan Dua Negara Adidaya Dunia, yaitu Antara Amarika Serikat dan Uni Soviet selama Pertengahan abad 20. Harus di akhiri dengan kemenangan Amerika Serikat dengan Blog Baratnya. 

     Atas hal ini, muncullah kecenderungan Pemikiran bahwa Gerakan Kiri pun turut mengalami Kekalahan termasuk salah satunya Marxisme sebagai suatu cara pandang dalam menafsirkan dan mengubah dunia. Maka dari itu amat penting bagi kita untuk memahami Marxisme Soviet menengok Marxisme Soviet yang menjadi Sasaran Legitimasi dari para Intelektual-Bergouis dalam mencibir Gerakan Kiri. 

     Perlu di Pahami bahwa Watak Sosialisme alias Marxisme ala Soviet, yang di mulai benih-benihnya pada Gerakan Kaum Bolsevik di Rusia dan Mencapai Puncak Kegemilangan pada Revolusi Oktober 1917, adalah suatu bentuk cara pandang Marxis yang di Kembangkan oleh Vladmir Lenin. Oleh karenanya Marxisme Soviet juga kerap di istilahkan sebagai Marxisme-Leninisme atau Komunisme.

     Lenin di dalam upaya menafsirkan sekaligus mengembangkan Pemikiran Karl Marx, memandang Revolusi Sosialis memerlukan landasan Filosofis yang Matang dan Stategi yang Jelas. Di dalam salah satu karya utamanya yakni State and Revolution (Negara dan Revolusi), yang ditulis beberapa Bulan sebelum Revolusi Oktober merupakan Rumusan Lenin dalam upaya memahami langkah-langkah Fundamen, guna mencapai tahapan Masyarakat Tanpa Kelas atau dalam hal ini Masyarakat Komunis. 

     Lenin dalam Merumuskan pandangannya, menekankan kepemilikan alat-alat Produksi agar kiranya berada di bawah penguasaan Kaum Proletar. Cara yang paling utama dan sekaligus dapat menjamin agar penguasaan aset tersebut dapat berada di bawah kekuasaan Kaum Buruh (Proletariat), adalah dengan adanya suatu Politik Power yang dipimpin oleh seorang Diktator Proletariat. Lembaga Politik yang menjadi Representasi dari Politik Power tersebut adalah Negara Proletariat. Dalam hal ini Uni Soviet yang menjadi Buah Revolusi Oktober menjadi Representatatif dari Negara Proletariat dan Lenin sebagai Diktator Proletariatnya. 

     Negara Proletariat ini yang kemudian akan menjadi Negasi bagi Negara Bergouis. Negara Bergouis menjadi Simbol dan Alat bagi kekuasaan kelas Para Pemodal. Sedang Negara Proletariat menjadi Simbol bagi Kekuasaan Kaum Buruh dan menjadi langkah awal transisi menuju Masyarakat Komunis. 

     Di dalam Karyanya, Lenin yang merujuk pada Marx membagi Dua tahapan Sosialisme. Sosialisme Tahap (1) Pertama, di artikan sebagai Proses transisi yang dipelopori dan diwadahi oleh Negara Proletariat. Tahapan Pertama dianggap penting, sebab Transformasi ke arah Social-Comunism tidak dengan sendirinya terjadi. Perlu proses dan langkah-langkah yang tepat, yang oleh Lenin, Stalin, Trotsky dan Kalangan Bolsevik pada saat itu, telah dirintis dalam Negara Uni Soviet yang mereka bangun. Walau pada akhirnya baik itu Lenin, Stalin maupun Trotsky memiliki kecenderungan perbedaan langkah taktiks. Tahap (II) Kedua, merupakan fase matangnya Social-Comunism dengan lenyapnya Negara Proletariat yang di gantikan oleh suatu Tatanan Masyarakat Tanpa Kelas dan Tanpa Negara.

     Tentu masih ada banyak Ciri dan Karakteristik Pemikiran Marxis-Leninis yang hendak saya jelaskan. Namun dikarenakan keterbatasan Ruang, maka saya mengambil suatu Suatu Kesimpulan yang kiranya dapat menjadi gambaran sederhana atas Lenin. Yakni bahwasanya Lenin telah membakukan pemikiran Marx menjadi suatu Pemahaman / Epistemologi Gerakan Sosial, Kurang Lebihnya Seperti itu ! Oleh beberapa Orang seperti Misalnya Jun Bramantyo, Lenin dianggap telah melalukan tindakan Revisionisme terhadap Pemikiran Marx,  dengan beberapa Reduksi-Reduksinya. 

     Dengan seiring perkembangan Marxisme-Leninisme baik itu di dalam Ruang Sosial Politik Uni Soviet ataupun yang ada di beberapa Negara Komunis telah mengalami serangkaian Mutasi Genetik sesuai dengan Kondisi Lingkungan di Mana Gagasan Marxisme-Leninisme tersebut hidup. Pasca Kematian Lenin, Joseph Stalin mengembangkan Laku Politik yang nantinya di Kenal dengan Istilah Stalinisme. Di Tiongkok atau Cina, Mao memadukan Gagasan ini dengab Cultur Agraris Masyarakat Cina,  maka lahirlah Pemikiran Maoisme. Puncaknya Kesatuan Ideologis dan Aksiologis (Gerakan)  ini harus menelan Pil Pahit ketika Kiblat Utamanya yakni Uni Soviet pada awal dekade 90-an harus mengalami Keruntuhan. Atas hal ini, seluruh Publik Marxis menjadi Geger sedang Publik Bergouis Menjadi Riang Gembira. 

     Yang Menjadi Pertanyaan Selanjutnya, Apakah dengan Keruntuhan Kiblat Utama Marxisme tersebut turut menjadikan Tesis-Tesis Karl Marx menjadi Mutlak Keliru ?! Tentu perlu untuk kembali dicermati keruntuhan Uni Soviet merupakan Kegagalan Aksiologis bagi suatu gerakan yang bernama Komunisme / Marxisme-Leninisme. Tidak sepenuhnya menjadi kekeliruan bagi Tesis Marx tentang Masyarakat. Dan Mengingat Pula bahwa Marxisme-Leninisme hanyalah salah satu aliran dari Begitu banyak Variasi (Varietas) Marxisme. Justru sebaliknya Pemikiran-Pemikiran Marx, beberapa masih tetap Konteks dengan Situasi Sosial yang terjadi Belakangan ini, dan amat penting penggunaanya dalam membedah Realitas Sosial yang amat begitu timpang ! 

Statemen yang menganggap bahwa Marxisme ataupun Pemikiran Kiri mengalami Kematian pasca Keruntuhan Uni Soviet adalah Asumsi yang terlalu berlebihan, Over Generalisir, Begitu Simplifikatif dab Terlalu Ke Kanak-kanakan !


     Tantangan Selanjutnya bagi Kalangan Marxis adalah Upaya untuk memperbaharui Pemikiran dan Pergerakan Marxisme di abad 21. Marxis mesti bersifat terbuka dengab mengakui kenyataan bahwa Realitas Kapitalisme di era Millenial telah mengalami Mutasi Genetik dalam bentuknya KAPITALISME POST-FORDIME. Kapitalisme di Hari ini menjelma dalam bentuk yang lebih Persuasif, lunak dan samar. Di samping itu kalangan Marxis juga mesti membuka kemungkinan Kolaboratif dengan aliran Pemikiran lainnya. Mengingat Marx hanyalah seorang Manusia, yang Pemikirannya bersifat Relativ dan di Pengaruhi Kondisi Intelektual termasuk Sosial Politik pada Masanya. 

     Salah satu Filsuf Marxis abad 21 asal Slovenia, yakni Slavoj Zizek telah merintis upaya Pembaharuan ini. Zizek berupaya memadukan Ekonomi-Politik Marxisme dengan Psikoanalisis Radikal ala Lacanian, termasuk pula Elaborasi Pemikiran Marxis denga Aliran Strukturalisme Bahasa. Hal inilah yang memungkinkan Zizek menghadirkan Pembacaan baru yang melihat Kapitalisme Kontemporer membelenggu manusia pada tatarab Ideologis di samping juga pada tataran Ekonomi. Zizek pula memberi Kontribusi bagi Subjek Revolusioner di abad 21, yakni Subjek Zizekian. 

     Di samping upaya Zizek,  Proyek Pembaharuan Marxisme mesti di Kembangkan Oleh kalangab Marxis guna menghindarkan Kekolotan Gaya Berpikir yang selama ini di anut, tanpa mengurangi Spirit Emansipasi Sosial yang selama ini menjadi bagian utama dalam Tradisi Marxisme. 

Untuk menutup tulisan singkat ini, Penulis bersepakat dengan Pendapat Martin Suryajaya bahwa
"Proyek Marxisme di abad 21 mesti di perbaharui".

                                             Sekian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa