AQUAMAN DALAM TINJAUAN SOSIOLOGI MARITIM


Oleh : DINASTYSME  (Warga Atlantik) 

"Dan bukankan satu ciri manusia modern adalah juga kemenangan individu atas lingkungannya dengan prestasi individual? Individu-individu kuat sepatutnya bergabung mengangkat sebangsanya yang lemah, memberinya lampu pada yang kegelapan dan memberi mata pada yang buta"
                 @Pramoedya Ananta Toer


    Aquaman merupakan Film hasil Adaptasi Comic DC, yang menceritakan petualangan Super Hero di bawah laut dengan Karakter Utamanya Arthur, yang di Perankan oleh Artis Kenamaan Hollywood  Jason Mamoa.

     Film ini Sukses menarik perhatian Publik dan Media pada awal tahun 2019. Film yang mendasarkan Karakternya pada DC komik ini, menjadi tandingan balik dari Hegemoni Serial Marvel yang beberapa tahun belakangan menjadi Penguasa Sementara dari Film-Film Super Hero.

     Keunikan dari Alur cerita Aquaman, yakni terutama pada latar tempat dalam Film tersebut. Sebagaimana yang telah kita Saksikan di dalam Serial Film tersebut, Aquaman mempertontonkan berbagai Aksi Heroik berupa Pertarungan, Konflik dan Kisah Kasih Asmara antara Arthur dan Mera yang berada di dasar Samudera, yakni tepatnya di Negeri Atlantik yang konon di kata telah Hilang dari Sejarah. Arthur di dalam Cerita Film ini, digambarkan sebagai sosok Manusia Super yang memiliki Seper-dua darah Manusia (Dari Garis Darah Sang Ayah) dan Seper-dua darah Mahluk Atlantik (Dari Garis Darah Sang Ibu). Sekali lagi Aquaman menjadi salah satu Primadona Publik Pecinta Film Super hero, pada awal tahun 2019.


     Namun Nampaknya, Film Aquaman tidak hanya sekedar serial yang menampilkan Fantasi Bawah laut saja. Akan tetapi, Film yang satu ini juga menjadi Ekspresi Budaya Maritim yang menampilkan aspek Sosial, Bahari, Kemaritiman bahkan Logika Oceanologis di dalam Alur Ceritanya.

     Sebagaimana yang kita ketahui, latar utama dari Film ini ialah Dasar Samudra yakni tepatnya Kota "Atlantik."  Atlantik yang selama ini di anggap sebagai Mitos dari Cerita Rakyat Eropa, di dalam Film ini ditampilkan suatu tempat yang dimana Masyarakatnya memiliki Sistem Teknologi yang amat begitu Canggih,  serta kemampuan bernafas di dalam Air (Dia atas Kemampuan Manusia Rata-Rata).

     Jika kita telusuri lebih lanjut, Pola Sosial yang terbentuk di Negeri Atlantik, memperlihatkan bahwa diantara Masyarakat Atlantik dan Lautan, sudah teramat sulit untuk di Pisahkan. Ibarat dua sisi mata koin, Masarakat Atlantik telah mengembangkan Kebudayaan (Teknologi) yang berkesesuaian dengan Lingkungan Ekologis di mana mereka bertempat tinggal, yakni di Lautan.

     Pada beberapa adegan di dalam Film ini, terutama yang menampilkan Aksi Arthur yang berusahan kabur dari kejaran Tentara Atlantik, menampilkan Adegan Ketika arthur menggunakan kendaraan Bawah laut Atlantik, yang teramat Canggih. Jika kita pahami secara mendalam, Teknologi tersebut tak lain dan tak bukan adalah Hasil Prodak Budaya Masyarakat Atlantik, guna dapat Eksis di Pedalaman Samudra.

     Dilain Sisi, jika kita membandingkan antara Masyarakat Atlantik dengan Masyarakat Pesisir, maka akan ditemukan sejumlah persamaan dalam aspek  Polarisasi Budaya Maritim  Dalam hal Teknologi yang di Hasilkan, antara Masyarakat Atlantik dengan Masyarakat Pesisir telah mengembangkan suatu Sistem Teknologi material yang di Pengaruhi oleh Faktor Lingkungan. Misalnya saja pada Masyarakat Bugis-Makassar yang tinggal di Pesisir Pantai Sulawesi, telah menghasilkan Prodak Budaya Maritim yang amat menakjubkan yakni Perahu Pinisi,  yang sekaligus menjadi Ciri Khas masyarakat Bugis-Makassar.

     Di dalam Kajian Sosiologi Maritim, Masyarakat Pesisir di pahami sebagai hasil Relasi antara 'Penduduk Setempat dengan Alam Lingkungannya yakni Laut'. Hal ini berujung pada Determinasi Laut pada Masyarakat Setempat, yang berbuah Teknologi dan salah satunya pada Kasus Masyarakat Bugis-Makassar yaitu Kapal Phinisi. Di samping itu masih banyak pula Produksi Kebudayaan Maritim yang ditimbulkan oleh Relasi Manusia dengan Alam yang berupa Laut, misalnya saja Sistem Navigasi, Kebudayaan Inmaterial berupa Petuah, Mitos tentang asal usul kejadian dan sebagainya. Hal ini sekaligus mendukung pendapat bahwa Lautan atau dalam hal ini Lingkungan, turut mengkonstruk Manusia.

     Jika kita telaah lebih lanjut mengenai unsur-unsur yang mempengaruhi Perkembangan Masyarakat Maritim berdasarkan Perspektif Mahan maka dapat diperoleh beberapa Unsur seperti Faktor Kedudukan Geografi, Bentuk Tanah dan Pantainya, Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Karakter pantuk & Sifat Pemerintahannya termasuk lembaga-lembaga Nasional. Dalam. Hal ini perlu untuk kembali kita tinjau  Potensi Besar Indonesia untuk kembali membangun Peradaban Maritim yang kuat di tengah arus Globalisasi.

     Sebagaimana yang dapat kita cermati dari Pidato Kebangsaan yang dibawahkan oleh Hilman Farid, dengan mendasarkan Asumsi dari Novel  Arus Balik  kara Sastrawan Terkemuka, Pramoediya Ananta Toer. Di dalam Pidatonya Hilman Farid mengulas Penyebab Kemunduran Budaya Maritim di Nusantara,  lebih disebabkan oleh Kolonialisme dan Imperialisme Hindia-Belanda yang pada saat itu memaksakan Cultur Agraris secara Radikal kepada Masyarakat. Melalui kebijakan Tanam Paksa, Pihak Kolonial menanamkan secara Paksa Jiwa dan Mentalitas Budak dengan pada Masyarakat, yang berakibat pada terjadinya Degradasi Cultur dan Semangat Maritim. Hampir senada dengan Mahbub Djunaidi (Ketua Umum Pertama PMII) yang kala itu mengritisi Asumsi Soekarno, menurutnya (Mahbub), masyarakat Indonesia diikat oleh tradisi Maritim, dan bukan sekedar bertumpuh pada aspek ekonomi Agraris.

Namun di karenakan faktor Kolonialisme tersebut,  mentalitas yang bercirikan Kebebasan dan kemerdekaan yang termuat dalam budaya Maritim harus mengalami Degradasi Massal. Dan pada Akhirnya istilah yang kerap kita dengar  Nenek Moyangku seorang Pelaut hanya sekedar menjadi Kiasan dan Hiasan, tanpa di iringi oleh Realitas Cultural yang demikian adanya.

Jika dahulu Indonesia dikenal sebagai Negeri Atlantik, pusat peradaban Maritim (Bahari), namun kini hanya menjadi kenangan.

ARTHUR SANG AQUAMAN SEBAGAI SUBJEK REVOLUSIONER

     Pergeseran watak yang dialami oleh sebagian besar Masyarakat Moderen, dari Watak Teologis ke Watak Antroposentris mulai berlangsung semenjak Era Revolusi Industri sampai di Era Revolusi Digital di abad 21. Hal ini yang kemudian menjadikan mereka sebagai Mahluk-mahluk yang teralienasi dari Alam (Lingkungan).

     Lingkungan dalam hal ini di anggap sebagai Liyan atau sebagai manifestasi dari  yang-Lain. Lingkungan oleh Manusia Moderen yang berwatak Antroposentris-Capitalistik, hanya sekedar di lihat sebagai Objek pelampiasan Hasrat. Dari akumulasi watas yang demikian, peradaban Moderen sebagaj manifestasi kehendak Manusia Moderen,  justru juga menjadi Instrumen yang amat memberi kerusakan besar bagi Lingkungan.

     Pada kasus Pengrusakan Oleh Modernitas di Lautan dapat di lihat dari Pencemaran-Pencemaran Limbah Industri di wilayah Perairan, Sampah Pelastik yang mengotori Lautan, Teknik Pukat Harimau yang menurunkan Jumlah Spesies sampai Pengeboman yang mengakibatkan kerusakan Terumbu karang dan Ekosistem Laut.

Lewat Film Aquaman, sosok Arthus sang Pahlawan Super menjadi Antitesa bagi watas Antroposentris-Radikal yang dimiliki oleh Masyarakat Moderen. Secara Semiotik, Athur menjadi simbol dari mahluk Hibrida yang dapat hidup di dua, yakni di alam bawah laut dan di daratan. Arthur dalam hal ini menjadi titik temu antara dua peradaban dan dua realitas yakni Perdaban Masyarakat Moderen yang Berada Di Daratan & Peradaban Post-Moderen dari Masyarakat Atlantik yang berada di dasar Laut.

      Dengannya Sosok Arthur telah melampaui sistem penanda yang selama ini  menjadi Pembatas dan sekaligus menghegemoni alam bawah sadar Manusia,  bahwa Alam dan Lingkungan merupakan dua entitas yang berbeda secara keseluruhan. Menjadikan Alam sekedar sebagai objek peradaban,  hanya akan menjadikan peradaban tersebut juga akan mengalami kematian. Hal ini terutama disebabkan oleh Situasi yang non-Harmonis antara alam dan Manusia, dimana alam dikerup sedemikian rupa,  tanpa memahamo bahwa alam adalah sumber dan energi dari kehidupan termasuk peradaban.

     Oleh sebab itu Arthur dapat diibaratkan sebagai sosok yang Revolusioner, sebagai Subjek Antropo-Kosmos yang berupaya menyeimbangkan antara Tuntutan Peradaban dan Kesejahteraan Lingkungan.


     Sejauh ini Aquaman tidak hanya menjadi pemuas hasrat akan Fantasy bawah laut, namun lebih dari itu Film ini mengajak kita untuk bersikap kritis atas peradaban Moderen yang tela banyak memberi kerusakan pada Alam (Lingkungan), terutama di Lautan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa