Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dalam Pandangan Mahzab Franfurt

Penulis Taufiqur Rachman W

Banyak orang yang beranggapan kalau Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat kita lebih mudah dan lebih mampu menghadapi virus Covid-19 saat ini. Dengan ilmu pengetahuan di bidang biologi, kimia, kedokteran, dan sebagainya, kita kini dapat menciptakan vaksin yang dapat meminimalisir dampak Covid-19 jika kita terinveksi. Selain itu, sebelum ditemukannya vaksin, lagi dan lagi, dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki, kita dapat menyusun prosedur langkah pencegahan tertulas virus Covid-19, atau di sebut protokol kesehatan; seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun atau membasuhnya dengan hand sanitaiser, sampai dengan menjaga jarak atau tetap di rumah saja.

​Sekilas, dengan semua kemanfaatan dari ilmu pengetahuan dan teknologi itu, tercipta bayangan dalam benak kita, terutama jika dibandingkan dengan pandem-pandemi sebelumnya seperti flu spanyol seratus tahun lalu, kita bisa katakan kita kini lebih maju, dan zaman kita lebih canggih dari zaman sebelumnya. Angggapan ini kemudian menjadi lebih nyata dengan paparan data perbandingan jumlah korban pandemic dengan dengan pandemi Flu Spanyol seratus tahun lalu.

​Perkembangan teknologi hari ini pun, bukan hanya membuat kita dapat mencegah dan menaggulangi virus dengan baik, tetapi juga membuat kita tetap bisa beraktivitas, tetap bisa terhubung dan berinterakasi satu sama lain. Hal itu dimungkingkan karena perkembangan dunia teknogi digital saat ini, yang memungkinkan kita terhubung tanpa harus bertemu tatap muka. Teknologi ini juga telah membantu pemerintah dan perusahaan tetap melaksanakan proses kerja-kerjanya selama pandemi ini. tidak terkecuali para pelajar yang sudah tiga tahun terakhir ini terbiasa dengan belajar secara online.`

​Semua itu kemudian, semua kemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkannya, yang kita rasakan saat ini, membuat kita tanpa ragu untuk meyakini dan menegatakan bahwa: ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa pada kemajuan kemanusiaan. Ilmu pengetahuan telah menjadi pahlawan, menjadi payung keamanan bersama.

​Namun semua keyakinan, dan kesimpulan yang kita yakini di atas kemudian menjadi terbalik, jika kita berfikir sejenak, merefleksi sejarah perkembangan masyarakat, maka kita akan sadari bahwa perkembangan ilmu pengetahuan pula lah yang menciptakn virus. Ya, ilmu pengetahuan menghasilkan teknologi yang dipakai oleh perusahaan kapitalisme besar untuk mengeksploitasi alam, yang pada akhirnya memunculkan virus yang berpindah dari alam kepada manusia. Kesimpulan ini memang hanya salah satu teori tentang penyebaran virus ini, tetapi kesimpulan di dukung kuat oleh banyak peneliti yang konsen pada dampak kapitalisme terhada lingkungan. Misalnya Fred Magdoff dan John Bellamy Foster dalam bukunya Lingkungna Hidup dan Kapitalisme (2018).

​Fakta ini membuat kita jadi galau. Kepercayaan kita pada ilmu pengetahun dan teknologi kini justru membuat kita merasa terkhianati. Perasaan kita menjadi ibarat seorang kekasih yang dikhianati, diselingkuhi oleh pasangannya. Begitulah dilema kita saat ini. di satu sisi ilmu pengetahuan dengan teknologinya memberi kemanfaatan terhadap masalah yang kita hadapi saat ini, tapi di sisi yang lainnya, ilmu pengetahuan dan teknologi juga lah yang menyebabkan masalah ini terjadi. Inilah yang disebut Sindhunata dalam bukunya tentang pemikiran teori kritis Mahazab Franfurt sebagai “Dilema usaha manusia rasional”. Ketika rasionalitas berubah menjadi irasionalitas.

Relasi Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kapiltalisme

​Dalam pandangan kaum tradisionalis, atau positivis, ilmu pengetahuan itu berkembang dan berjalan dengan tanpa nilai, dan dalam artian lebih dalam; tanpa ideologi dan apolitis. Pandangan ini menjadi dominan di kalangan positivis seperti Augute Comte dan mereka yang percaya pada kemajuan sejarah seperti Herbert Spencer dan pengikutnya. Pandangan ini kemudian yang dikiritik oleh Mahzab Franfurt. Mereka mengatakan sebaliknya, bahawa ilmu pengetahuan itu tidak bebas nilai, tapi selalu dikerangkengi oleh kenginan dan subjetivitas individu, kelompok tertentu, atau kekuasaan kelas borjuasi. Ilmu pengetahuan, menurut mereka, tumbuh dan berkembang untuk melegetimasi statu quo.

​Olehnya it, menurut Mahzab Frankfurt, kita harus memandang ilmu pengetahuan secara lebih kritis, atau dalam artian yang lebih luas: semua realitas yang tercipta sebagai hasil penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus kita urai dan dekonstruksi, serta melawannya jika ada unsur yang menindas di dalamnya.

​Unsur-unsur yang menindas yang dimaksud oleh Mahzab Frafurt adalah ketika ilmu pengetahuan menghasilkan teknologi yang membuat manusia menjadi tidak bebas, membuat manusia terkungkung kreativitasnya, daya kiritisnya, sampai paling parah membunuh manusia itu sendiri. Ilmu pengetahuan adalah hasil produk manusia, maka dari itu tujuan pengguanaanya tidak boleh membuat manusia justru menjadi bukan manusia (Sholahudin, 2020).

​Seperti yang terjadi saat ini, teknologi canggih dipakai oleh kapitalisme untuk mengeksploitasi alam, yang mengakibatkan merebaknya virus. Kapitalisme telah membuat teknologi mendehumanisasi, telah membuat manusia terbatas kebebasannya karna virus ini, dan juga telah membunuh banyak manusia! Inilah konsekuensi ilmu pengetahuan dan teknologi, yang menurut Mahzab Frankfur salah digunakan; untuk kepentingan akumulasi modal.

​Dan ironisnya, dampak pandemi berbeda-beda pada setiap orang. Orang miskinlah yang berat merasakan dampakanya. sementara kelas menengah atas, tidak terlalu terkena dampaknya karna berbagai previlage yang mereka miliki. Saat ini, masyarakat miskin harus bertahan hidup ditengah situasi susah yang sebenarnya bukan salah mereka, tapi salah para konglomerat, para kapitalis besar yang menggunakan teknologi canggih untuk mengeksploitas alam, untuk akumulasi kapital. Sungguh dunia memang tidak adil!

Jika Begitu, Apa Yang Harus Dilakukan

​Melihat kondisi ini, situasi ini, tentu sangat miris bagi kita. Ketidakadilan sosial, dan ketimpangan yang sangat lebar saat ini bisa membuat kita bisa terjun di jurang keputusasaan. Namun, hidup selalu punya harapan, hidup selalu bisa untuk diperjuangkan. Pandemi ini telah banyak mengajarkan dan menyadarkan kita tentang relasi sosial yang timpang dan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang salah, yang destruktif. Olehnya itu, berikut tawaran soslusi yang harus kita tempuh terkait permasalahan ini.

​Solusi pertama. Yang penting saat ini adalah memberi jaminan sosial yang memadai dan tepat sasaran bagi seluruh masyarakat miskin. Pemerintah harus mengevaluasi program BLT yang sudah berjalan saat ini. Pemerintah yang kerap kali salah sasaran, atau tidak memberi BLT pada orang tepat dan membutuhkan harus segera diperbaiki. Belum lagi banyaknya korupsi yang harus segera diberantas di dalam banayk institsi sosial pemerintahan.

​Solusi kedua, yaitu mengubah cara, nilai, dan tujuan kita menggunakan ilmu pengeatahuan. Seperti dalam teori kritis Mahzab Franfurt, ilmu pengetahuan memiliki tujuan untuk kemanusiaan. Bukan malah sebaliknya. Penggunaan teknologi harus dialihkan fokus utamanya, bukan lagi tertuju terutama pada akumulasi modal, tetapi agar manusia bisa lebih bebas, bisa lebih mengaktuakan potensinya yang selarad dengan alam. Penelitia-penelitian yag berkembang harus lebih banyak, lebih dominan untuk mewujudkan kehidupan lebih baik, mewujudkan tatatan kehidupan yang tidak destruktif dan humanis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

BEDAH BUKU: "Orang Lain Adalah Neraka"