Bentuk Protes Mahasiswa, Foto Rektor ITB Dijual sebagai Aset NFT?
Oleh : Ade Siti Mutiara
Berkembangnya zaman, bertambah canggih otak manusia dan
semakin canggih pula teknologi yang diciptakan. Teknologi hadir untuk memenuhi
kebutuhan dan keberlangsungan hidup manusia. Bukan lagi suatu hal yang baru
bahwa teknologi disematkan istilah pisau bermata dua, satu sisi dia sangat
tajam memberikan dampak positif, tetapi di sisi lainnya juga tajam dalam
menimbulkan dampak negatif.
Teknologi hadir sebagai wujud penyelesaian masalah dalam
suatu masyarakat dan negara. Para pakar terus berinovasi untuk memunculkan
suatu hal yang dapat menjadi solusi yang solutif bagi suatu permasalahan karena
teknologi dikatakan paling ampuh dalam menangani hal tersebut.
Teknologi dewasa ini hampir atau bahkan sudah menyentuh
segala aspek kehidupan masyarakat, baik itu dari aspek ekonomi, pendidikan,
sosial-budaya, dan lain sebagainya. Setiap harinya kita selalu menggunakan
teknologi, bahkan tidak bisa terlepas dari teknologi, seperti halnya penggunaan
Handphone atau biasa disingkat hp. Hp merupakan satu bentuk teknologi
yang bertujuan untuk mempermudah arus komunikasi jarak jauh yang pada akhirnya
diperluas dengan tersedianya berbagai macam informasi dari segala penjuru dunia
serta kemampuan dalam menyebarkan sebuah informasi.
Semakin canggihnya teknologi pada hp tersebut membuat para ahli membuat berbagai
macam aplikasi. Aplikasi-aplikasi yang dikatakan cukup mampu membantu kehidupan
manusia dan mampu membantu kerja-kerja manusia. Berbagai macam kategori
aplikasi diciptakan, baik untuk keuangan, pendidikan, permainan, dan lain sebagainya.
Nah, mengenai aplikasi keuangan, pada tahun 2021 tepatnya pada bulan Mei muncul
sebuah berita yang sedang viral di media sosial di mana dalam sebuah aplikasi
perdagangannon-fungibel token(NFT)
terdapat foto Rektor dari salah satu universitas ternama di Indonesia, yaitu
Institut Teknologi Bandung (ITB). Rektor ITB yang bernama Prof. Reini
Wirahadikusumah dijual fotonya melalui platform
OpenSea.Terdapat dua foto yang diperjualkan. Foto pertama terlihat sang rektor
sedang mengenakan kaos berwarna kuning dan jas almamater ITB dengan caption Ibu Rektor Tercinta. Foto kedua
adalah foto medium close up sang
rektor dengan baju putih dan balutan jas almamater ITB yang berwarna biru
dengan caption yang sama, yaitu Ibu
Rektor Tercinta.
Dilansir dari website
bisnis.tempo, diketahui bahwa kedua foto tersebut dijual oleh akun dengan username ITB1920 pada enam bulan lalu
atau sekitaran Mei lalu dengan menggunakan tagar #ReiniOut. Diduga bahwa aksi ini merupakan sebuah bentuk
protes. Dalam deskripsinya, akun ITB1920 menggambarkan aset NFT foto Prof.
Reini sebagai sebagai sosok ibu yang meninggalkan anak-anaknya. Kalimatnya
menunjukkan bahwa apa yang dilihat nyatanya berbeda. Ibunya mengelak saat
diajak berbicara, ibunya lebih memilih tersenyum pada dunia dan berpaling dari
anaknya. Menganggap mereka tiada, menganggap mereka bukanlah manusia nyata.
Materinya diambil tanpa terasa berguana, ia merasa hampa.
Tidak lama kemudian, Rektor ITB, Prof. Reini
Wirahadikusuma mengomentasi kabar yang viral tersebut dan mengatakan bahwa pesan yang
disampaikan menurutnya tidak jelas karena tidak adanya kejelasan dari identitas
penulis, begitupun tujuan dari pesan itu akan ditujukan kepada siapa. Makan
dengan itu, Prof Reini sebagai Rektor ITB tidak dapat meresponnya.
Jika dilihat berdasar pada kalimat yang dikutip di akun
ITB1920 tersebut menunjukkan adanya kritikan terhadap pimpinan universitas
tersebut, di mana si penulis mengkritik adanya sikap tak acuh terhadap
mahasiswanya, tak acuh dengan problematika kampus dan dampaknya yang dihadapi
oleh mahasiswanya, dan tidak mendengarkan aspirasi-aspirasi dari mahasiswanya
sehingga mahasiswa lebih memilih menuangkan aspirasinya dalam bentuk demikian
agar lebih ditengok dan didengarkan. Hal tersebut sesuai dengan beberapa
pernyataan akhir-akhir ini yang beredar bahwasanya jika ingin isu-isu yang
terjadi ditengok dan didengarkan, maka lebih baik kamu menyebarluaskannya di
media sosial karena dengan kekuatan media sosial maka isu-isu tersebut akan
lebih cepat ditanggapi.
Namun, pihak Rektor ITB menampik hal tersebut di mana Prof.
Reini menegaskan bahwa pihaknya tidaklah alergi kritikan. Bahkan, ia mengklaim
sering menerima masukan dari mahasiswa dan kemudian mencari solusinya
bersama-sama.
Di samping itu, ternyata kasus yang sama sering terjadi di
luar negeri. Di mana tidak adanya kejelasan dari pihak-pihak yang
bertransaksi mengakibatkan semakin kompleksnya masalah yang terjadi. Dengan demikian, ITB sebagai institut teknologi menyadari bahwa dalam
sistem hukum teknologi digital di Indonesia itu tantangan dan celahnya
sedemikian besar.
Berdasar pada fenomena tersebut, maka Teori Kritis
mengkaji tentang hal itu. Teori Kritis merupakan sebuah teori yang bersifat
emansipatoris yang mencita-citakan adanya kesamaan hak dan pembebasan kaum
tertindas dalam kehidupan masyarakat. Tidak adanya ditindas dalam masyarakat,
melainkan sebuah pembebasan dari segala dominasi sistem, baik yang halus maupun
yang nampak di permukaan. Oleh karenanya, Max Horkheimer menyatakan bahwa masa
depan kemanusiaan tergantung dari adanya sikap kritis kita dewasa ini. Ungkapan
Horkheimer tersebut mengajarkan kita akan pentingnya sebuah kesadarn kritis di
tengah-tengah kehidupan kita sehari-hari agar tidak terjebak dalam satu
kelanggengan keadaan.
Segala
bentuk perangkap, penguasaan dan manipulasi teknologis, manusia dan masyarakat
sudah masuk di dalamnya. Teknologi saat ini
digunakan untuk menindas atau merepresi manusia, padahal teknologi pada awalnya diciptakan sebagai alat emansipasi dari
kekejaman alam. Bentuk penindasan dari sistem teknologi ini terhadap masyarakat
modern adalah bersifat halus, sehingga masyarakat menganggap keadaan demikian
tidak terjadi apa-apa, padahal mereka sedang ditindas.
Oleh karenanya, sebelum kita menyebarluaskan sebuah
informasi maka penting bagi kita untuk menggalinya lebih dalam terlebih dahulu.
Apalagi dengan adanya isu-isu yang berkemungkinan menimbulkan perpecahan, maka
kita harus teliti melihat identitas dan melihat kebenarannya. Teknologi semakin
mengerikan. Maka, berhati-hatilah dalam menggunakan teknologi.
Referensi :
Upe, A., & Wahid, A. (2019). PARADIGMA TEORI KRITIS
Suatu Pengantar Untuk Memahami Sosiologi Kritis. Kendari: Literacy
Institute.
Akbar, Caesar. 2021. Kata Rektor ITB Setelah Viral Fotonya Dijual Sebagai Aset Digital NFT. https://bisnis.tempo.co/read/1527767/kata-rektor-itb-setelah-viral-fotonya-dijual-sebagaiaset-digital-nft/full&view=ok (diakses pada tanggal 24 November 2021).
Komentar
Posting Komentar