Go Digital untuk Survive Di Tengah Pandemi

 

(Oleh : Ade Siti Mutiara (200609501009)

Pandemi Covid-19 telah melanda dunia kurang lebih 2 tahun terakhir ini dan memberikan dampak yang cukup signifikan dalam berbagai aspek. Segala aktivitas manusia harus beralih menggunakan teknologi yang canggih. Pendidikan, aktivitas ekonomi, dan lain sebagainya sangat terdampak oleh pandemi dan teknologi. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi mereka yang gagap teknologi. Mereka yang kesehariannya harus bekerja berinteraksi dengan orang lain, terpaksa harus beradaptasi dengan metode baru yang ada. Namun, tidak semua manusia akan semudah dan secepat itu dalam beradaptasi, bahkan ada dari mereka merasa tidak mampu beradaptasi dengan hal-hal baru seperti itu.

Teknologi hadir sebagai wujud penyelesaian masalah dalam suatu masyarakat. Sebisa mungkin, teknologi dapat menjadi solusi yang bersifat solutif. Seperti halnya peralihan dari transaksi tunai ke transaksi digital, walaupun belum benar-benar teralihkan. Transaksi digital hadir untuk meminimalisir penggunaan transaksi tunai. Hal ini dilakukan untuk memperkecil peningkatan kasus Covid-19 yang mana dapat menyebar hanya dengan bersentuhan, berjabattangan, dan lain sebagainya.

Transaksi digital dihadirkan dalam bentuk aplikasi atau platform, seperti halnya Ovo, Gopay, dan lain sejenisnya. Selain untuk meminimalisir peningkatan Covid-19, transaksi digital juga dikembangkan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, di mana karena adanya pandemi, orang-orang menjadi takut untuk bertransaksi secara tunai, takut untuk berbelanja, sehingga hal ini berpengaruh pada peningkatan pendapatan para pelaku UMKM. Sehingga agar pedagang UMKM ini tetap berjalan dan memperoleh pendapatan, maka mereka harus go digital, mereka harus paham teknologi, dan mereka harus mampu memanfaatkan teknologi yang ada.

Dilansir dari situs inet.detik.com bahwa terdapat 28% pedagang UMKM merasa tidak akan survive saat pandemi apabila mereka tidak mengadopsi digital. Dalam hal ini, pandemi dapat dikatakan sebagai proses pertumbuhan ekonomi digital yang dapat terjadi dengan cepat.. Hal tersebut diungkap oleh Head of Corporate Communication Ovo, Harumi Supit di sela-sela acara ‘Bincang Ovo’ dengan tema Akeselerasi Transformasi Digital keuangan Bersama Ovo. Beliau mengatakan bahwasanya terdapat sebuah survey yang menunjukkan bahwa sebanyak 28% pelaku UMKM tidak akan mampu bertahan selama pandemic jika tidak mengadopsi platform digital. Hal ini berarti pelaku UMKM tidak dapat berjalan atau bahkan terhenti pendapatannya.

 Dengan demikian, Ovo sebagai sebuah platform besar berusaha untuk terus memberikan kontribusi kepada para pelaku UMKM dan masyarakat. Kemudian menurut data Ovo, setelah bergabung dengan Ovo, terdapat 31% pelaku UMKM yang mengaku mengalami pendapatan tinggi dengan sebanyak 75 transaksi per harinya, dibandingkan dengan sebelum memanfaatkan Ovo.

Lalu, apa yang menjadi alasan orang Indonesia harus Go Digital? Ya, terlepas dari adanya pandemi Covid-19, go digital merupakan sebuah langkah yang bagus bagi Indonesia dalam menumbuhan dan memajukan perekonomian, teknologi, dan aspek-aspek lainnya. Apalagi di era globalisasi saat ini, di mana segala halnya dapat dijangkau dengan mudah walau dengan jarak yang jauh, kemudian dengan perilaku konsumsi yang semakin menjadi akibat globalisasi. Adapun survey yang menunjukkan bahwa 72% dimanfaatkan untuk jasa antar pesan layaan, 65% belanja sehari-hari dan kisaran 50% lebih memanfaatkan untuk mendengarkan musik digital.

Tambahan dari Harumi yang menyatakan bahwa “Kami bersyukur Indonesia ekosistem digitalnya sudah berkembang, terlihat dari riset dan obrolan dengan merchant¸ teknologi pemesanan dan pembayaran sangat membantu untuk bertahan”. Kemunculan dan berkembangnya masyarakat digital dalam berbagai bidang kehidupan ini menjadi sebuah bukti dari kemajuan teknologi, bukti perkembangan cara berpikir manusia.

Untuk menelisik lebih jauh dan tentunya menggunakan pendekatan sosiologis, maka masalah tersebut akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan Teori Perubahan Sosial dari William F. Ougburn. Menurut Ougburn, teknologi adalah sebuah mekanisme yang mendorong perubahan, di mana manusia selamanya berupaya memelihara dan menyesuaikan diri dengan alam yang senantiasa diperbaharui oleh teknologi.

Ougburn memusatkan perhatiannya pada perkembangan teknologi dan menjadi terkenal karena mengembangkan ide mengenai ketertinggalan budaya dan penyesuaian yang tak terelakkan dari faktor-faktor kebudayaan terhadap teknologi. Teknologi menurut Ougburn mengalami perubahan terlebih dahulu yang kemudian disusul oleh perubahan kebudayaan pada akhirnya. Dengan kata lain, kita senantiasa berusaha mengejar teknologi yang terus menerus berubah dengan mengadaptasi adat dan cara hidup kita untuk memenuhi kebutuhan teknologi. Dunia yang sedang mengalami perubahan sosial yang terjadi dengan cepat disebabkan oleh teknologi.

Seperti halnya pada perubahan metode transaksi pembayaran dan interaksi yang dilakukan saat ini. Dahulu, kita sangat senang berinteraksi dengan banyak orang, berjumpa dengan banyak orang, bertemu di pasar dan berbelanja bersama. Namun, adanya pandemi mengakibatkan terjadinya perubahan sosial budaya dan teknologi. Manusia menjadi lebih sering berinteraksi dengan menggunakan teknologinya, manusia menjadi lebih senang berinteraksi jarak jauh, manusia mulai meninggalkan model transaksi tunai dan beralih pada transaksi digital yang kadangkala tidak memerlukan adanya interaksi secara langsung. Manusia semakin jauh dari lingkungan masyarakatnya, manusia semakin melupakan bahwa dirinya merupakan makhluk sosial yang tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

BEDAH BUKU: "Orang Lain Adalah Neraka"