BEDAH BUKU: "Orang Lain Adalah Neraka"


Pada Malam Ahad, 29 September 2018, BEM FIS UNM bekerja sama dengan HIMA SOSIOLOGI FIS UNM dalam menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku yang berjudul “Orang Lain Adalah Neraka”. Kegiatan bedah buku ini dilaksanakan di Taman FIS dan diisi oleh dua pembicara, yaitu Kak Muhajir MA (Relawan Pojok Bunker & Paradigma Institute) dan Kak Dinasty Dindra Pratama (Rahim Sosiologi), serta Makmur sebagai Moderator.

ORANG LAIN ADALAH NERAKA
Sosiologi Eksistensialisme Jean Paul Sartre




Eksistensialisme merupakan salah satu cabang besasr filsafat Barat yang saat ini hampir terlupakan oleh para filsuf dan kamu akademisi kontemporer. Perkembangan teori-teori sejak marxisme, neomarxisme, bahkan posmarxisme, sama sekali tak menyinggung konsep interaksi sosial filsafat eksistensionalisme. Padahal Sartre sebagai salah satu filsuf  penting eksistensialisme sebenarnya memiliki perspektif ontologis yang radikal mengenai konsep interaksi sosial. Konsep-konsep tentang etre en soi dan etre pour soi meradikalkan perspektif mikrososiologi klasik, modern, kritis, dan posmodern, buku ini berupaya memaparkan bagaimana ‘perkawinan” antara disiplin sosiologi dengan filsafat eksistensialisme tersebut terjadi. Di sini dibahas simpil-simpul penting  pemikiran Sartre, salah satunya adalah pernyataannya yang kemudian menjadi sangat terkenal: “Orang Lain Adalah “Neraka”!

Imajinasikan anda berada pada suatu tempat yang begitu indah, paripurna kecantikan. Di mana mata anda tertuju, di situ mata anda termanjakan. Suasana hati begitu tenang, riuh piuh belaian angin begitu lembut menampar kulit, kedua ujung bibir perlahan naik memuncak.
Tapi, seketika itu ada orang lain lewat menatap anda dengan tatapan heran, sinis dan anda terintimidasi. Serasa anda terlihat aneh, seketika itu suasana hati anda berubah total. Keindahan dan ketenangan tiba-tiba menghilang, lenyap dan tak kembali. Maka, orang lain itulah yang menjadi neraka anda.
Ringkas cerita, eksistensi anda dijadikan objek oleh orang lain, subjek itu hilang dari diri anda. Eksistensialisme sangat menuhankan kebebasan (mewujudkan eksistensinya) karena Ia manusia yang berkesadaran maka, eksistensinya berubah-ubah. Lain halnya dengan benda, benda tidak berkesadaran maka, eksistensinya tetap/penuh.
Manusia tidak pernah selesai dengan dirinya, selalu ingin menjadi dan memanifestasikan dirinya ke yang lain. Lewat pilihan yang ditentukan maka, ia telah menentukan eksistensinya. Anda tidak pernah menjadi eksistensialis ketika potensi kemanusiaan (berpikir) tidak anda dayagunakan.

Sartre: “Ketika manusia memilih eksistensialis, maka ia harus menjadi subjek yang bebas”.

Kebebasan manusia selalu menciptakan kecemasan. Bahkan tak tanggung menolak secara jijik. Pilihannya simpel, menerima norma umum atau menolak norma umum dan menciptakan norma baru.
Aliran filsafata ini biasa dikatakan aliran yang individualis (mengutamakan ego dari yang lain) karena eksis itu. Aku eksis dan kalian jangan eksis. Ketika kalian eksis, eksisku tertutup. Maka, izinkan aku memburuh eksistensimu. “Orang Lain Adalah Neraka”.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa