Susu Beruang Masuk Kampus




oleh Dinasty Dindra Pratama

Kampus merupakan suatu ruang tempat berlangsungnya pendidikan. Di dalamnya berlangsung serangkaian proses pendidikan yang sifatnya formal dan memiliki tujuan yakni dalam rangka memanusiakan manusia.

Sebagai salah satu ruang bagi pendidikan, kampus sudah semestinya lebih banyak menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang proses pendidikan, seperti perpustakaan, laboratorium serta gazebo-gazebo tempat untuk diskusi. Namun bagaimana jika kampus ternyata hanya diisi oleh stand-stand prodak komsumsi ?

Kemarin pada tanggal 5 Desember 2018, ketika saya memasuki kampus tercinta yakni UNM Gunung Sari, seketika pandanganku beralih perhatian, dari indahnya rimbunan pepohonan ke suatu stand yang berdirih kokoh ditengah parkiran.

Sebelumnya saya tak pernah habis pikir, tempat parkiran dapat diisi oleh stand produk. Dan kalau tidak salah tulisannya "Susu Beruang", produk minuman yang sering aku cicipi tak kala aku lemah gundah.

Yang lebih menarik perhatianku lagi, ialah bidadari-bidadari yang ada didalam stand tersebut. Saya pun berpikir, mungkin inilah yang dinamakan konspirasi kapitalis. ketika prodak konsumsi dipadukan dengan daya sexual yang memikat mata.

Mataku seakan mengalami orgasme, sebab pemandangan begitu amat indah aku lihat. Dan tak tahunya pandangan para mahasiswa pria juga sedabg tertuju ke stand itu! Entah itu karena susu beruang ataukah bidadari yang ada di dalamnya.

Jika saya renungkan mengenai keadaan yang demikian, tentu sudah menyimpang dari esensi pendidikan itu sendiri. Kampus yang pada awalnya sebagai tempat memanusiakan manusia, kini menjadi tempat pameran produk konsumsi.

Apakah kita akan diarahkan menjadi konsumer sejati ? Ataukah kita akan dibentuk untuk bermental konsumtif?

Inilah fenomena kampus dihari ini. Ketika susu beruang telah memasuki kampus, mungkin saja ia akan memanggil naga konsumerisme. Dan akibatnya setiap mata tidak mampu lagi melihat secara jernih. Hati tidak mampu lagi merasakan serta akal yang tak mampu lagi untuk bernalar.

Mungkin kenyataan ini dapat diibaratkan dengan pernyataan Marx yang menyebut agama itu adalah candu dan susu beruang pun hari ini telah menjadi candu bagi kalangan mahasiswa.

Para mahasiwa yang dilanda candu sehibgga tidak mampu lagi berpikir berpikir secara radikal. Karena radikalisme menghilang, maka budaya kritispun juga ikut punah.

Punah karena susu beruang telah menumpahkan kelezatan dan nikmat tiada kira, bagi segenap mahasiswa di kampus.

Fenomena ini amat jenaka bagi saya, begitu lucunya tampilan stand susu beruang yang diisi oleh para bidadari-bidadari cantik nan jelita. Bidadari itupun kemudian memanjakan mata segenap mahasiswa jomblo yang gemar sabun.

Budaya kritisisme tenggelam dalam larutan susu beruang! hasrat membaca dan berpikir teralihkan, ke hasrat memandang bidadari di stand susu beruang.

Tak kala kampus telah di isi oleh berbagai stand-stand prodak, tak kala ruang-ruang diskusi di tambal oleh beton, maka dimana lagi nalar kritis? Di mana lagi budaya ilmiah? Dimana lagi cinta dan romantika?

Yang ada hari ini hanyalah kumpulan mahasiswa konsumer. Suatu populasi yang siap melahap segala bentuk prodak yang ditawarkan, termasuk susu beruang.

Akhirnya kita tinggal menjadi benalu-benalu di kampus dan juga di masyarakat. Kita menjadi budak-budak konsumsi, yang hanya patuh pada imperium iklan. Keadaan yang begitu menyedihkan ini, telah menjadi ciri kebanyakan mahasiswa.

Saya pun pada akhirnya bertanya pada diri sendiri, mengenai apa solusi atas problematika ini ?!

Apakah kampus dibubarkan saja agar candu susu beruang yang menjangkiti kalangan mahasiswa berakhir ataukah kita akan tetap diam, sujud dan nunduk pada kebodohan yang memperbudak ini.

Tentu kita mesti kembali ke sumber masalah yakni adanya peraturan hukum yang meliberalisasi dunia pendidikan. Sebab tidak mungkin stand-stand prodak akan masuk kekampus jika tidak melalui perizinan dan hari ini lembaga pendidikan seperti universitas mengizinkan masuknya prodak-prodak ke dalam kampus hingga budaya konsumer telah menjadi ciri khas bagi kalangan mahasiswa.

Dengan itu maka jawaban yang menjadi Solusi yaitu "Cabut Peraturan yang Meliberalisasi Pendidikan"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa