Feodalisme Intelektual Dikalangan Mahasiswa



Oleh : Dinasty Dindra Pratama



"Jika kita masih melabelkan seseorang sebagai penteori, maka seolah-olah kita telah mengafirmasi diri sebagai sang praktikus pencari data, bukankah itu adalah wujud kesombongan yang amat tinggi. Jika demikian, maka kita sendiri telah menciptakan Feodalisme Intelektual ". @celoteh_Dinasty

Mahasiswa merupakan suatu identitas yang dilekatkan kepada mereka yang sedang menempuh pendidikan diperguruan tinggi. Mereka umumnya dikaitkan dengan ciri RAKUS yakni Rasional, Analitis, Kritis dan jargon-jargon lainnya yang dekat dengan daya intelektualitas yang tinggi.

Dengan pengetahuan yang lebih dari pada masyarakat umumnya, kalangan mahasiswa dinobatkan sebagai agent of change. Mereka akan senantiasa reaktif pada segala bentuk penindasan dan tirani yang terjadi di muka bumi. Segala bentuk kekuasaan yang membelunggu baik itu fasisme, tirani, otoritarianisme dan termasuk feodalisme itu sendiri.

Mereka mungkin mengaggap feodalisme sebagai lembaga kuno tradisi kerajaan. Feodalisme dianggapnya adalah instrumen kekuasaan yang dapat mengeksploitasi kemanusiaan. Oleh sebab itu, kalangan mahasiswa berlomba-lomba didepan kampus masing-masing, untuk berorasi dan meneriakkan tolak kapitalisme! Tolak feodalisme! Hidup mahasiswa!

Tentu hal ini amat jenaka bagi saya pribadi. Mana mungkin segolongan kaum yang menamakan dirinya sebagai mahasiswa begitu anti dengan hal-hal yang berbau feodalisme, tetapi sejatinya mereka sendiri yang menjalankan budaya tersebut dalam kehidupan kampus.

Mungkin sering kita dengar pernyataan-pernyataan yang terlontar dari oral berbusa teman diskusi yang tiba-tiba saja ditengah diskusi berlangsung mengatakan "Kamu itu teori ji mutau" atau "Teori terus, mana data dan mana bukti praktekmu". Seperti itulah kebanyakan suara sumbang di dalam proses diskusi. Yang menjadi pertanyaan saya mengapa mahasiswa tersebut seolah-olah anti akan teori ? Apakah mereka sudah bosan berpikir dan beretorika sehingga rindu untuk turun kejalan! Ataukah mereka memang tidak mampu untuk berteori sehingga berupaya mencari kambing hitam, dengan menjatuhkan orang lain yang mampu berteori! Kalau memang benar seperti itu adanya, alangkah busuknya hati para mahasiswa.

Apa gunanya jika mereka senantiasa meneriakkan anti eksploitasi, anti tirani dan anti-anti gores lainnya, sedang mereka sendiri menjalankan bentuk feodalisme yang serupa namun berbeda bentuk. Tatkala para mahasiswa hanya mengkultuskan praktek dan data lapangan, kemudian menghardik mereka yang berteori, maka inilah yang dinamakan sebagai feodalisme Intelektual. Suatu bentuk feodalisme baru yang mengkambing hitamkan proses berpikir dan sekaligus mendewakan kedangkalan.

Seperti Inilah fenomena mahasiswa hari ini! Bergulat dengan kebodohan dan kedunguan, serta bangga pada ketidak mampuan.

Mana mungkin praktek di lapangan akan tercapai secara optimal jika tidak dilandasi oleh penggunaan teori yang tepat. Analisis teori sangat diperlukan, sehingga alternatif solusi dan tindakan ketika dilapangan dapat di ketahui dengan jelas. Seorang mahasiswa yang begitu candu akan praktek misalnya, secara logis pasti akan memunafikkan teori secara mendalam (analisis mendalam), kemudian melakukan praktek lapangan dengan membabi buta. Misalnya saja ia baru mengenal teori Marxis yang mengatakan "agama itu adalah candu". Karena malas berpikir dan malas menganalisis, akibatnya sang Mahasiswa ini berkoar di jalan "Agama candu, agama candu, agama candu" tanpa sedikitpun menengok konteks kelahiran asumsi tersebut.

Hal inilah yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, tatkala melihat segerombolan sampah masyarakat yang menamakan diri mereka sebagai mahasiswa bangga akan kebodohan yang mereka anut!

Jenaka sekaligus munafik, mahasiwa yang melebelkan diri mereka sebagai praktikus dan pelacur data selalu menyombongkan diri mereka dan mengangkat tinggi kepala ketika berada didalam ruang kelas. Diskusipun mandeg seketika karena mereka! Hanya dapat mencela tanpa memberikan analisis, mereka kemudian menyebarkan wacana kebodohan tersebut dalam hegemoni pemikiran. Akibatnya diskusipun mandeg dan dialektika seketika mati. Eksistensi mereka ibarat benalu yang menghambat perkembangan pemikiran dikampus, maka jangan heran fenomena di kampus hari ini hanya memproduksi jiwa-jiwa pragmatis dan sangat minim memproduksi pemikir filosofis.

Kenyataan tersebut membawa kita pada kesimpulan bahwa nalar kritisisme dikampus telah tenggelam. Tenggelam karena begitu besarnya pengaruh dari wacana kedangkalan, yakni ketakutan mahasiswa untuk berteori dan lebih memilih pelarian dengan wacana praktek.

Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah bentuk solusi bagi wacana dangkal yang menghegemoni tersebut. Tentunya dengan filsafat. Melalui proses berpikir kritis seseorang atau dalam hal ini mahasiswa tidak akan cepat terayu oleh wacana yang dilemparkan didalam lingkungan kampus. Segala bentuk pengetahuan akan ditelaah dan dianalisis secara mendalam lewat semangat berpikir filosofis. Dengan itu wacana yang dangkal seperti "lebih baik paraktik daripada teori", akan difilter terlebih dahulu sebelum diterima begitu saja. Melalui pembelajaran filsafat dan cara berpikir ilmiah, diharapkan realitas mahasiswa kembali pada rana kritisisme dan radikalisme.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa