Radikalisme dibalik Segarnya Es Teler : Suatu Tinjauan Psikoanalisis
oleh Dinasty Dinra Pratama
Para penikmat
kuliner khas Indonesia, pasti sudah tidak asing lagi dengan makan sekaligus
minuman yang satu ini. Ya, inilah Es Teler santapan nikmat penyegar tenggorokan
yang banyak berjejer di pinggir jalan raya. Suatu santapan yang berisikan
berbagai bahan penikmat dan pemanja lidah, mulai dari manisnya gulah merah yang
bercampur dengan dinginnya es batu, hitamnya cincau yang berduel dengan larutan
buah-buahan yang ada dalam segelas Es Teler telah membentuk sautu dialektika
dan orgasme kelezatan yang dirasakan oleh setiap lidah yang mencicipinya.
Terlepas dari
nikmatnya rasa yang terkandung didalam Es Teler, penulis dalam hal ini ingin
melihat realitas dari Es Esteler dari sudut pandang yang berbeda. Suatu sudut
pandang yang berusaha menyibak makna lain dari Es Teler yang sebelumnya mungkin
tidak pernah disadari oleh kebanyakan orang. Menarik kiranya fenomena berupa kesegaran
tenggorokan yang diperoleh melalui proses menyantap Es Teler dilihat dengan
menggunakan kaca mata Psikoanalisis. Sebagai mana yang kita ketahui bahwa
Psikoanlisis merupakan suatu aliran dalam Teori Psikologi yang pada awalnya
digagas oleh seorang psikiatri asal Austria yakni, Sigmund Freud.
Freud dalam
pandangannya mengenai manusia melihat bahwa kebanyakan tindakan kita sangat
dipengaruhi oleh unsur alam bawah sadar. Freud mengistilahkan sumber kekuatan
vital bagi manusia yakni libido yang merupakan hasrat seksual yang menjadi
penggerak utama kehidupan. Libido bersumber dari dalam diri manusia dan hidup
dalam hutan-hutan belantara ketidak sadaran (ID), prinsip kerjanya yakni pada
kenikmatan. Namun, dalam perkembangannya hasrat hewaniah dari libido terbendung
oleh ego yang menjadi unsur psikis serta aparat keamanan. Ego senantiasa
berpatroli untuk memantau libido agar tak bergejolak masuk merusak jalannya
dunia kehidupan, disamping ego lewat akumulasi kebiasaan-kebiasaan dalam
kehidupan (dunia real) maka secara perlahan terbentuk pula SuperEgo sebagai
aspek sosiologis. SuperEgo sebagai suatu realitas eksternal diluar diri yang
menekan ego, sama pula halnya dengan libido (id) sebagai realitas internal yang
memberi dorongan-dorongan dan juga menekan ego. Dalam keadaan demikian ego pula
harus memiliki mekanisme pertahanan agar mampu membendung segala bentuks
stimulus yang diberikan oleh Libido dan SuperEgo, seperti itulah kiranya secara
singkat relasi struktur kepribadian dalam rana Psikoanalisis-Freudian.
Kembali pada
fokus pembahasan di awal, dimana terdapatnya suatu kenikmatan ketika mencicipi
kuliner Es Teler sejatinya merupakan gambaran gejala psikis seorang pencicip.
Dorongan atau impul ID/Libido di tuangkan dalam bentuk tindakan sublimasi yakni
konsumsi Es Teler, jika kita kaitkan dengan realitas makroskopik yang saat ini
melanda dunia abad 21 yakni maraknya perangkap-perangkap kapitalisme global
yang berupa imperium Mobile legend dan lalapan FastFood yang senantiasa akan
memancing segenap insan kedalam perangkap-perangkap orgasme mata, tak berlaku
dengan seorang pecandu Es Teler. Di sini pecandu Es Teler dapat dilihat sebagai
seorang agen revolusioner yang mampu melampaui sistem semiotik dari reproduksi
tanda yang di gemborkan oleh pihak FastFood di Iklan seperti McDoanld dan KFC.
Mereka yang mengalami kenikmatan dengan melahap kuliner lokal yang berada
dipinggir jalan, sejatinya telah muak akan kehampaan rasa yang diperoleh dari
makanan-makanan mekanik yang di produksi oleh McDonald. Mereka telah kembali
pada ketidak sadaran, karena sudah tak percaya lagi akan kesadaran yang
sejatinya menipu. Ini merupakan aksi nyata untuk keluar dari perangkap
hedonitas dengan mencari jalan pemuasan nafsu libido akan makanan melalui
sublimasi atau tindakan konsumsi Es Teler, yang dimana mungkin sekarang ini
sudah dianggap sebagai santapan yang ketinggalan jaman atau kuno.
Dengan itu
Radikalisme juga terdapat pada konsumsi kuliner khas yang di produksi oleh
usaha-usaha kecil di pinggir jalan. Para pecandu Es Teler sejatinya para
budayawan yang masih tetap mempertahankan unsur kearifan lokal dan berjiwa
kemanuisaan (huamnism) ditengah dunia yang kini sedang dilanda oleh jahilnya
modernitas, dimana makanan produksi McDonald di ibaratkan makanan dewa sedang
kuliner khas malah dianggap makanan yang tidak Higienis !!!!
*Salam PeCinta Kuliner Indonesia*

Komentar
Posting Komentar