SPIRITUALITAS-TAMAN KOTA

Oleh : DINASTYSME (Pecandu Kopi)

     Tulisan ini hanya sekedar Coretan singkat dari saya dan Kali ini saya akan mengulas mengenai Taman Kota. Sebab kebetulan di Pagi yang sangat Cerah dan berbahagia ini saya menyempatkan diri untuk mengobservasi salah satu Taman yang ada di Kota Makassar.

     Masyarakat kota yang begitu di sibukkan oleh Aktivitas rutin mereka sehari-hari,  seperti Pekerjaan di Kantor ataupun pada sektor Publik lainnya, tentu akan merasakan kejenuhan di tengah aktivitas rutin yang di laksanakan tersebut. Apalagi jika dilakukan selama hampir satu minggu, justru akan menimbulkan kelelahan dan kebosanan yang berlebih. Sebab yang mungkin ada di pikiran mereka (Masarakat Kota), "Aktivitasnya Hanya itu-itu saja".

Kita semua rasa hal ini sudah tentu wajar dan Manusiawi,  sebab sifat manusia yaitu cepat bosan.

     Nah ! di tengah kejenuhan dan kelelahan yang melanda masyarakat kota sebagai sebab dari Aktivitas harian yang melelahkan, kebutuhan akan wahana waktu luang menjadi menibgkat dan tak terhindarkan.
Dan salah satu yang paling banyak menjadi wadah penampung Hasrat waktu luang Masyarakat kota pada umumnya yaitu Taman Kota.

    Taman Kota oleh Masyarakat  Kota Nampaknya tidak sekedar dijadikan sebagai tempat untuk Jooging, Olahraga, Berekreasi, dan sebagainya. Namun lebi dari itu, Taman Kota menjadi wadah Spiritualitas bagi Masyarakat Kota.

     Mengapa bisa demikian  ?

     Tentunya, Kota dengan Polarisasi Gaya hidup dan Budaya yang di kembangkannya,  telah menjadikan Penduduk Perkotaan yang dalam hal ini Masyarakat Kota mengalami kekeringan Spiritual.
Spiritualitas di sini dapat diartikan sebagai Sumber Motivasi atau Daya dorong Emosi yang sifatnya Intim (dalam), terutama menyangkut relasi antara Seseorang dengan Penciptanya.

Walau memang Spiritualitas akan selalu di kaitkan dengan Religiusme atau Paham Ke-Agamaan Tertentu, namun di tengah Kondisi Perkotaan yang di bangun dari Watak dasar "Kapitalisme-Industrial", justru menjadikan Religuisme (Keberagamaan) penduduknya serasa Hampa akan Makna dan Spiritualitas begitu kering.
Dan Pada Akhirnya Agama tidak lagi menjadi Wadah yang dapat membendung Hasrat Spiritual yang begitu menggebuh-gebuh dari Masyarakat Kota.

     Dan pada titik inilah  Taman Kota dengan Segala Prasarana dan Sarana yang di milikinya, dapat menjawab kebutuhan Spiritual Masyarakat Kota. Wahana Bermain Anak, Sarana Olah Raga, Aktivitas Senam Rutin,  bahkan sampai pada Pepohonan dan Rerumputan yang ada di Taman Kota,  sekiranya menjadi Pemuas Dahaga bagi Masyarakat kota yang memang sudah selama ini  ter-Alineasi oleh Beton-beton Metropolis.

     Di samping itu di dalam Ruang yang bernama Taman kota juga terjadi Permainan  Semiotis  yang memungkinkan Setiap orang yang berkunjung untuk merasakan kesenangan, saling bersenda gurau atau paling tidak tertawa. Setidaknya dari hal ini, taman kota mengembalikan senyum yang selama ini hilang atau terlupakan,sebagai akibat kesibukan dan Rutinitas masyarakatnya.

     Namun kehadiran Taman Kota bukannya tanpa kritik ! Walau secara Subtansial Taman Kota bermanfaat bagi Kamanusiaan terutama Pada Masyarakat Kota yang defisit akan rasa Kemanusiaan (mati Rasa),  sebab dibelenggu ole Sistem Administratif-Birokratis yang begitu kaku.
Akan tetapi Taman kota juga dapat menjadi instrumen kuasa itu sendiri, yang justru mempertahankan Status Quo yang ada.

     Tentu hal demikian dapat di pahami bahwa Kesadarab Revolusioner untuk mengahancurkan pola Hegemonial yang diciptakan oleh Kapitalisme-Industial di daerah Perkotaan, kembali lenggeng dengan adanya taman kota. Taman kota menjadi Pengalihan dari Kejenuhan setelah sekian lama seseorang melakukan Aktivitas yang penuh sesak dan Drama, namun kembali Taman Kota pulah-lah yang menyediakan tenaga baru yang kembali siap menjalankan polarisasi tersebut.

Paradoksnya bagi saya Pribadi sebagai Penulis,  Taman Kota di satu sisi dapat bermakna Positiv bagI Kemanusiaan dan di sisi yang lain juga dapat menjadi alat Pelenggeng sistem atau Kekuasaan Kelas.

Maka dari itu sudah siap kah kita merekonstruksi Taman Kota guna menghadirkan Taman-Taman Radikal macam Taman Filsafat Epicurus di Era Yunani Kuno ? Atau Taman-Taman Proletariat yang berisikan Propaganda Marxis guna membangkitkan Kesadaran Kelas ?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa