*"MANIFESTO PARTAI KOMUNIS" Marx & Engels, Masih Relevankah ?!*


Oleh : Dinasty Dindra Pratama
  
     *KAUM PROLETAR SEMUA NEGERI, BERSATULAH !* Demikianlah Kalimat Pembuka dalam salah satu karya utama Marx & Engels yang terbit tahun 1848, yakni _"Manifesto Partai Komunis"_. Manifesto ini dapat dilihat sebagai titik balik Marx tua dalam membangun Gagasan Sosialisme, serta sebagai Landasan Praktek untuk mencapai cita-cita tersebut.

     Gagasan-gagasan Marx & Engels di dalam Karya Manifesto-nya nampaknya banyak terinspirasi oleh situasi Sosial-Perkotaan terutama Perubahan-Perubahan Siginifikan yang dibawah oleh Kapitalisme, serta perubahan pada Kondisi kaum Buruh (Proletar). Perpindahan Penduduk dari Desa ke wilayah Perkotaan yang disebabkan oleh Industrialisasi di daerah tersebut,  telah menimbulkan lahirnya kelas Proletariat dan Pemukiman sub-marginal.

     Disamping pengaruh dari Konteks Kapitalisme yang pada saat itu sedang mengalami perkembangan Pesat,  terutama di negara-negara Eropa Timur  seperti Inggris, Prancis dan Jerman. Karya Manifesto Marx & Engels juga didorong oleh tuntutan Liga Komunis yang pada saat itu menjadi Perhimpunan utama kaum buruh. Dan pada Kongres pada tahun  1847 telah menugaskan Marx & Engels untuk mengerjakan suatu karya Manifesto yang kelak akan memotivasi Gerakan Komunisme yang ada di dunia.

     Namun kiranya amat penting memahami Watak Khas Kapitalisme yang berkembang pada saat itu yakni pada abad 19 M. Kapitalisme abad 19 atau yang dikenal dengan istilahkan _"Kapitalisme-Industrial"_  ditandai oleh Revolusi Industri dan telah menghadirkan pola Produksi baru yang menggantikan Pola Produksi lama sebelumnya yang berwatak Feodalistik. Jika sebelumnya Sistem Produksi ala Feodalisme telah menciptakan dua kelas utama di dalam masyarakat antara Kelas Pemilik Tanah (Bangsawan)  dengan kelas Penggarap, yang memiliki pola Penindasan (Eksploitasi) Taradional.
Maka pada Kapitalisme Industrial telah menciptakan pola hubungan yang terbilang baru, yang dimana terjadi ketimpangan pembagian hasil yang diperoleh antara kaum buruh dengan kaum majikan yang dalam hal ini Berjouis. Di dalan beberapa catatan menunjukkan kondisi kaum buruh pada abad 19 yang amat menyedihkan dan menyengserakan.

     Manifesto yang dituliskan oleh Marx dengan Rekan sejawatnya Engels dapat dilihat sebagai upaya pembebasan kaum Buruh  dari Mekanisme Penindasan Kapitalisme yang begitu membelenggu dan menindas kaum Buruh. Oleh Hal tersebut yang ketika Marx mengklaim _"Kaum buruh tidak memiliki Negara"_ , dilatar belakangi oleh ketertindasan yang dialami oleh para kaum buruh akibat dari Kapitalisme yang sejatinya sudah eksploitatif dan tidak mengenal batas negara baik itu di Inggris maupun di Prancis.

     Oleh sebab itu Subtansi pembahasan di dalam karya Manifesto berfokus kepada Upaya menguraikan Pola Relasi Antara kaum buruh dan kaum berjouis, Hubungan antara Gagasan Sosialisme-Komunis dengan Kaum Proletar Pada umumnya,  sampai kepada Sikap kaum Buruh terhadap gerakan oposisi. Disamping itu pula,  Marx & Engels juga menguraikan Jenis-Jenis Sosialisme yang berkembang,  yang diantaranya banyak mengandung Watas Reaksionisme karena bersumber pada asumsi Aristokrasi maupun Berjouis.

     Namun perlu untuk dipahami gagasan-gagasan yang dikandung dalam Karya Manifesto mesti tetal disinkronkan dengan Realitas (Konteks) yang terjadi pada Masyarakat di abad 21 M. Kapitalisme yang berkembang belakangan ini begitu dipengaruhi oleh Revolusi 4.0 yang enyebabkan Digitalisasi disegala bidang. Bukan hanya pada Digitalisasi Pada Rana Komunikasi, akan tetapi juga Digitalisasi Rasa dan Cinta. Tak bisa dipungkiri lagi,  bahwa Kapitalisme di abad 21 atau yang biasa dikenal dengan Istilah _"Kapitalisme-Digital / Postcapitalism"_ telah mengubah wajah eksploitasi yang sebelumnya terbilang Keras, Koersif dan Nampak nyata,  menjadi suatu bentuk penindasan yang terselubung, halus dan boleh dikata Persuasif. Kapitalisme Digital tidak hanya menyerang Kelas Proletar,  namun juga Kelas dan Golongan Masyarakat lainnya seperti Kaum Muda (Remaja), Mahasiswa, Ibu-Ibu rumah tangga sampai Kaum berjouis itu sendiri. Pola Eksploitatif yang dihasilkan bukan hanya pada tataran Ekonomi seperti pada pembagian pendapatan (Laba/Upa), akan tetapi juga pada tataran Eksistensi dan Esensi Kemanusiaan. Kemanusiaan sebagai aspek utama dan menjadi Penciri Manusia dari Entitas Hidup lainnya seperti Hewan dan Tumbuhan, harus mengalami degradasi Makna. Pada akhirnya orang-orang tidak lagi melihat Rasa Kemanusiaan dari tindakan nyata,  akan tetapi lewat simbol "Like & Comment" di social media.
Pada bagian ini, Manifesto karya Marx & Engels yang hanya melihat Pola Eksploitatif pada rana Ekonomi tentu akan gagal melihat pola Ekspoitatif baru yang diciptakan oleh Kapitalisme-Digital di abad 21.

     Di samping itu, Perkembangan Kapitalisme terutama pada Industri Besar yang memasuki wilayah-wilayah Rural (Desa) , tidak lagi mesti selalu harus berada pada wilayah Urban atau Perkotaan, menimbulkan tuntutan baru dalam mengahdirkan analisis baru terhadap pola-pola tersebut,  sebagai akibat dari pengembangan tersebut. Kapitalisme boleh dikatakan cukup berhasil menekan laju serikat buruh dengan pemolaan ruang yang semakin terdesentralisasi baik itu pada wilayah perkotaan dan pedesaan. Pabrik-Pabrik Industri telah memasuki wilayah Pedalaman,  dan menciptakan Komunitas Proletar atau Kaum buruh didalam wilayah tersebut. Tentunya serikat buruh akan kewalahan dalam menghadapi Strategi dengan Pola keruangan yang demikian,  belum lagi Serikat-serikat buruh banyak yang berkedudukan di wilayah perkotaan. Beberapa teoritisi Marxian Macam David Harvey dan Henry Levebre banyak mengulas aspek keruangan Oleh Kapitalisme Mutakhir yang memiliki kontribusi besar dalam memahami watak dan strategi Kapitalisme akhir-akhir ini.

     Manifesto sekiranya telah memberi kita seperangkat pemahaman atas watak kapitalisme terutama sekali Kapitalisme-Industrial yang berkembang pada abad 19, namun dalam beberapa aspek dengan melihat pada Kondisi atau Realita yang ada sekarang Manifesto mesti Rekonstruksi kembali. Hal in ni terutama agar Manifesto Karya Marx & Engels tidak sekedar menjadi Dogma usang yang siap disantap oleh para kaum kiri / Marxis,  serta dapat menjawab tantangan zaman yang makin kompleks.

     Pada beberapa aspek seperti subjek Revolusioner, meminjam istilah yang diperkenalkan oleh Michael Hard dan Antonio Negri yakni _"Multitude"_ ataupun dari Ali Syariati _"Rausyn Fiqr"_ dapat dikatakan sebagai Subjek Revolusioner baru yang menggantikan kecebderungan Dogmatis pada Kelas Proletar-tok sebagai pendorong perubahan. Kapitalisme Mutakhir ataupun Kapitalisme-Digital tidak sekedar menyerang Kaum Proletar/Buruh, namun juga telah menginvasi masyarakat adat, kaum perempuan, kalangan muda mudi sampai kepada ibu-ibu Rumah Tangga. Akhirnya ahanay menyisahkan dunia yang penuh kepalsuan dan Simulacra, sebagai mana yang istilahkan oleh Jean Baudrillard.

Oleh dari itu, untuk menjawab pertanyaan "MANIFESTO PARTAI KOMUNIS" karya Marx & Engels masih Relevankah atau tidak ?! Maka jawabannya tetap masih relevan sampai saat ini,  akan tetapi ada beberapa aspek (bagian)  yang mesti diperbaharui baik itu dari analisis terhadap Digitalisasi oleh Media, Analisis Keruangan dan Rekonstruksi Subjek Revolusioner yang baru.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa