METAMORFOSIS PARADOKS “REFLEKSI MENJADI SEORANG PEREMPUAN”


Perjalan hidup yang penuh dinamika bila direnungkan sangatlah drastis!
Perempuan dikenal sebagai manusia yang lembut, baik dan penurut. Di era kolonial hanya segelintir perempuan yang mampu bersekolah, hanya perempuan dari keturunan priayi. Karena biaya pendidikan yang mahal, bahkan tak jarang perempuan harus mengalah dengan saudara laki laki, dalam hal ini laki laki diperuntuhkan untuk menempuh pendidikan dibanding seorang perempuan. Ketidaksetaraan dan ketidakadilan dirasakan perempuan bukan hanya dibidang pendidikan bahkan disemua bidang. Dibidang politik, perempuan seharusnya tidak ikut terlibat dalam organisasi politik maupun dunia politik. Karena pada dasarnya Profesi untuk perempuan hanyalah menjadi guru dan ibu rumah tangga.
Beberapa Organisasi Perempuan dan Kelompok Masyarakat pada Masa Penjajahan ialah Rukun Wanita, Pengurus Besar Persatuan Marhaeni Indonesia ( PMI ) 1935, Barisan Buruh Wanita 1946, Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) Dan Lain Lain. Organisasi Perempuan dan Kelompok Masyarakat perempuan tidak lain mempunyai visi memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia, keterlibatan perempuan dalam dunia politik baik kalangan perempuan pedesaan, priayi bahkan bangsawan dan memperjuangkan upah buruh. Adapun program kerja yang dirintis Organisasi perempuan ialah mengajarkan kepada anak anak dan perempuan yang buta huruf, keterampilan seperti menjahit, dan memasak.
Pasca Kemerdekaan Indonesia, Di Era Kepemimpinan Soekarno atau biasa disebut dengan Orde Lama. Perempuan dan laki laki memiliki hak yang setara, bahkan baik perempuan dan laki laki memiliki jiwa solidaritas mekanik. Tidak adalagi justifikasi bahwa perempuan itu lemah, penurut dan tidak mampu terjun di dunia politik. Bisa dilihat beberapa perempuan terlibat dalam Partai Politik bahkan masuk dalam Kabinet pada masa Kepemimpinan Soekarno. Tidak hanya masuk dalam kabinet tetapi menduduki posisi strategis. S.K Trimurti sebagai Menteri Perburuhan berhasil membuat Undang Undang Perburuhan. Isi dari Undang Undang tersebut lebih banyak memperhatikan kondisi perempuan yang kuadratnya memiliki rahim sehingga munculah aturan cuti haid, cuti hamil bahkan jam kerja perempuan tidak sampai larut malam. Alasan S.K Trimurti membuat aturan tentang jam kerja perempuan tidak lain untuk perempuan juga mampu mengurus anak setelah pulang kerja. Walauapun perempuan memiliki hak setara,  perempuan juga memiliki peran ganda. Di Sahkannya Undang Undang Perburuhan bukannya berdampak positif tetapi sebaliknya. Pabrik lebih banyak mempekerjakan kaum laki laki dibanding kaum perempuan, dengan alasan ketika perempuan hamil dan cuti selama 3 bulan siapa yang akan menggantikan pekerjaannya? Ketika lebih banyak perempuan yang dipekerjakan pabrik akan lebih cepat gulung tikar.
Tepat tanggal 30 September 1965 terjadi Disentegrasi. Partai Komunis Indonesia dan Gerakan Wanita Indonesia dianggap memiliki kedekatan dan ideologi yang sama. Untuk meruntuhkan Kepemimpinan Soekarno, Soeharto harus menjatuh PKI dan Gerwani. Propaganda terhadap Organisasi Perempuan, Gerwani yang dianggap membunuh Jendral di lubang buaya. Tragisnya Gerwani difitnah menari nari dihadapan jendral tanpa menggunakan busana (telanjang bulat) bahkan sampai membunuh jendral dengan cara memotong jenis kelaminnya dan membuangnya di sumur yang disebut dengan lubang buaya. Kampanye propaganda fitnah seksual terhadap Organisasi Perempuan (Gerwani) terletak pada manipulasi Soeharto untuk membangun jalan menuju kekuasaan. Peran Media massa sangat mendukung propaganda fitnah tersebut, masyarakatpun terkonstruk dengan isu tersebut. Pada saat itu semua anggota Gerwani maupun PKI di penjarakan. Tidak hanya dipenjarakan, bahkan kaum laki laki banyak yang terbunuh dan kaum perempuan di siksa, di perkosa bahkan di bunuh jikalau tidak menurut perintah tentara militer.  
Orang yang dianggap berbeda pandangan dengannya akan dibunuh. Perempuan di Rezim Soeharto, bukan hanya diperkosa tiap saat bahkan banyak dari mereka yang dijadikan pembantu dan pelacur. Perempuan Ekstapol atau Perempuan Komunis tidak hanya menderita didalam tahanan bahkan sampai keluar dari penjara mereka tetap dikucilkan. Disni awal mulanya Ideologi Patriarki Otoriter, Kaum Perempuan seharunya menjadi istri yang nurut dengan suami dan menjadi ibu yang baik bagi anak anaknya. Tidak hanya di konstruk sedemikian idealnya menurut paham penguasa bahkan perempuan dilarang untuk terlibat dalam Dunia Politik. Hegemoni Rezim Soeharto mengakibatkan feminitas yang sejalan dengan model pemikiran yang membawa akibat kembali pada kodrat wanita yang konservatif, Kaum perempuan yang nurut dan patuh. Kepedihan yang dirasakan pada saat itu juga berdampak pada lesbian, banyaknya perempuan yang empati dalam kehidupan yang di rasakan dan tidak percaya terhadap kaum laki laki membuatnya mencintai sesasama jenis. Betapa kejinya di Rezim Soeharto, Sakit dan penderitaan yang di rasakan perempuan, Walaupun memilih antara mati dan diperlakukan begini, Dia akan harus tetap bertahan hidup dengan mengikuti perintah tentara militer agar dapat mengklarifikasi sejarah kekejaman ini. Bukan karena dendam , tetapi kekerasan yang pernah di alalmi oleh kaum perempuan tidak terulang kembali pada masa yang akan datang.
Runtuhnya rezim soeharto, kaum perempuan kembali mendapat hak yang setara dengan laki laki. Hanya saja kuatnya stigma dimasyarakat, partisipasi kaum perempuan sangatlah kurang. Ideologi patriarki membunuh potensi perempuan. Bukan hanya potensi tetapi atensi perempuan sekarang lebih senang jikalau bergantung dengan laki laki. Surplus bahwa perempuan dihargai, dimanjakan dan apa yang dia rasakan dianggap hal yang biasa saja. Perempuan teralinasi bahkan dianggap subordinasi.
Ketidakadilan semuanya terdapat pada tubuh perempuan. Segala bentuk opresei tersebut engarah pada fisik perempuan, intelektualitas perempuan kultur perempuan dan segala macam lebeling yang menempatkan perempuan sebagai sumber kelemahan. Bayangkan saja mulai dari ujung rambut hingga kaki semunya punya penilaianyang seragam. Perempuan di nilai dari selangkangannya, dijustifikasi bahwa perempuan cantik harus berkulit putih, body langsing, rambut lurus dan banyak lainnya. Kapitalisme dengan menggunakan media massa melebel dan mengakibatkan sadar atau tidak sadar perempuan dideskriminasi.
Ya karena aku perempuan, yang di lebel sedemikian rupanya dan dianggap lemah dan terbelakang. Aku sadar bahwa dunia ini merupakan sebuah konstrukan. Paadoks yang dibangun seabad abad lamanya nebgakibatkan saya harus banyak belajar. Tidak mudah berada di titik ini, titik dimana kupikir lebih baik dari sebelumnya, titik dimana saya harus menjadi manusia yang merdeka. Menjadi tuan atas tubuh dan pikiran ini!

Penulis : Vivi Alfahira
(Sosiologi unm)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa