WARKOP : WARnet, KOpi, dan Pengetahuan (Ruang Alternatif Pendidikan Literasi)
SOPIAN TAMRIN, S.Pd.,M.Pd
Staff Pengajar Sosiologi UNM
Directur Eksekutif Corner Education
WARKOP : WARnet, KOpi, dan Pengetahuan
(Ruang
Alternatif Pendidikan Literasi)
Di sudut kota makassar
di salah-satu kafe menikmati minuman dingin maksud hati untuk meredahkan rasa
haus dahaga. akhir-akhir ini kita
merasakan bagaimana panasnya makassar, dari beberapa orang-orang disekitarku
terdengar semacam keluhan dan keresahan saat beraktivitas mungkin cuaca baginya
kurang bersahabat. Bagi saya itu wajar saja, setiap manusia punya reaksi atas dirinya
terhadap alam.
Pada
dasar dasarnya semua manusia memiliki kegelisahan. Reaksi merekapun adalah
fitrah atas hubungann eksistensial antar dirinya (self) dengan yang lain diluar
dirinya(the other). jika telisik lebih jauh lagi toh memang bahwa kegelisahan
adalah penanda esensial manusia. Namun apakah kegelisahan itu mesti pada
realitas material semata itu yang mungkin perlu kita diskusikan.
Hemat
saya, setidaknya manusia seyogyanya memiliki sifat reaktif yang khas terhadap
alamnya. Mengapa demikian?...yahh andaikata manusia hanya gelisah pada perihal
kondisi material tohh apa bedahnya dengan binatang... mungkin pada persoalan
seperti ini binatang jauh lebih aktif merespon keberadaannya dengan alamnya.
Manusia
dan binatang memang bersama dalam keberadaan namun apakah mereka juga sama
dalam segala hal termasuk cara bereaksi(eksistensi). Tentu anda tersinggung
kalau kami katakan sama. Setidaknya jika memang berbeda, berarti manusia harus memiliki
pola bereaksi melampaui hubungannya terhadap alamnya secara material.
Gerah
terhadap panas dan dingin itu hal yang biasa, ia hanya menyentuh sisi luaran
sifat material alam. Namun jika kita gerah terhadap kondisi sosial dan
intelektual manusia mungkin itu baru terbilang menarik. Sebenarnya bukan kami
tidak gerah dengan panasnya makassar saat ini namun kami lebih gerah dengan
kondisi generasi yang kehilangan kepekaan terhadap realitas yang seharusnya.
Berharap
hal ini bisa berubah dengan cepat bukan hal yang mudah, tentu dibutuhkan ruang
yang produktif dan konntinu dalam membangun diskursus untuk kalangan muda. Pemuda
hari ini memiliki kecenderungan hadir pada ruang publik yang konsumtif. Jadi
bukan sesuatu yang aneh jika anda menemukan mereka berjibaku di tempat-tempat
hiburan, kafe, warkop. Tak tanggung-tanggung mereka habiskan waktu sampai larut
malam dengan perbincangan ringan yang remeh-temeh.
Kehadiran
masyarakat khususnya pemuda di warkop atau kafe begitu bervariatif mulai dari
Lawatan Internet(Warnet) atau menikmati segelas kopi. Fenomena dan
kecenderungan ini setidaknya memberikan gambaran pada ruang mana kalangan muda
membetuk habitusnya. Bukan berarti setiap mereka nongkrong adalah sia-sia dan
salah. Namun kita berharap bisa membangun kebiasaan bincang pengetahuan mereka dari
sana. Mengajak untuk membangun diskurusus tanpa harus mencrabut habitusnya.
pemodelan ruang diskusi bagi kalangan muda dimana mereka bisa menyalurkan
ekspresi argumentatifnya secara terbuka.
Kecenderungan
membentuk komunitas bagi kalangan muda adalah point penting yang perlu kita pahami
sebagai modal sosial. Modal sosial tak akan bermakna tanpa mendapatkan ruangnya
(Ranah). Meminjam istilah Bordieu, Habitus x Modal sosial + ranah = Praktik.
Artinya, Pemodelan masyarakat sekiranya perlu memahami kecenderungan (Habitus)
mereka dan Modal sosial yang hidup ditengah masyarakat. Kemudian menerapkan pola
intervensi pada ruang (ranah) dalam memproduksi perilaku yang diinginkan
(praktik diskusi dan literasi).
Berdasarkan
hasil riset tingkat literasi masyarakat Indonesia yang dilaksanakan Central
Connecticut State University, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara
yang dinilai. Artinya itu sama dengan nomor dua dari paling bawah. Bagi anda
yang tidak gelisah dengan hal ini mungkin anda belum termasuk makhluk yang
punya kepekaan reaksi melampau kondisi material.
Hal
iniilah menjadi pembacaan kami dalam memodel ruang diskusi yang menarik di tengah
krisis diskusi dan budaya literasi. Kami menyebut ruang diskusi kami dengan Corner Education atau sudut Pendidikan. Corner Education dirancang sebagai Arena
sosial dalam membangun generasi gemar diskusi. Memilih warkop atau kafe sebagai
ranah sosial karena disana mereka gemar berkumpul.
Filosofi
Corner Education berkembang dari
diskusi intens beberapa teman-teman di kafe Corner Stop yang berada di sudut
jalan pendidikan. Mengangkat filosofi Corner
(Sudut) tentu menarik dalam kaitan model gerakan literasi. Sudut
digambarkan sebagai tempat menepi dari keadaan tertentu. Berawal pada Kegerahan
eksistensi yang melihat keringnya kebiasaan diskusi dan literasi. Olehya itu filosofi
sudut dapat lahirkan semangat diskusi dan melek literasi.
Tentu
kami tidak memaknai ini sekedar sudut jalan pendidikan di cafe corner Stop.
Kami berharap ada banyak kegiatan menepi seperti ini, filosofi sudut hanya
penggambaran dari semangat yang mesti dibangun dalam kebiasaan bereaksi atas
realitas hidup manusia. jika kemudian hari semua kafe dan warkop terbangun kebiasaan
yang sama maka itu jauh lebih baik. Wallahhu allam bissawab.
Direktur Eksekutif Corner Education
Sopian Tamrin, S.Pd.,M.Pd.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAssalamualaikum kak, mohon maaf sebelumnya, kalau boleh tahu ini alamat lengkapnya dimana ya?, saya tertarik untuk ikut langsung kak, ini nomor WA sy :081341983751
BalasHapusTerimakasih kak. Mohon di respon ya
Wassalam.