FENOMENA YANG TETAP EKSIS DI TENGAH WABAH COVID-19
Fenomena yang Tetap Eksis di Tengah wabah COVID-19
Oleh: Muh Ihzan
Lebaran tanpa pakaian baru ibarat
sayur tanpa garam. Kata ini lah yang mungkin menggambarkan sebagian orang di
bulan suci ini, khususnya bagi masyarakat Indonesia.
Selain berlomba lomba dalam
meningkatkan ibadah, masyarakat juga tidak ketinggalan dalam berlomba lomba
dalam membeli pakai baru untuk lebaran, bahkan mereka rela menggelontorkan uang
yang banyak demi membeli pakaian yang berkualitas tinggi agar terlihat gagah
dan cantik di Hari Raya nanti. Lebih parahnya lagi kadang ada yang membeli
pakaian sampai tiga pasang. Satu untuk di mesjid, satu untuk di rumah, dan satu
lagi dipakai saat berkunjung di rumah kerabat dan teman-teman mereka. Ini lah
tradisi tahunan yang selalu terjadi di kalangan masyarakat Indonesia.
Kalau kita melihat Ramadhan di
tahun-tahun sebelumnya mungkin hal tersebut sah-sah saja dilakukan. Tetapi, Ramadhan
tahun ini berbanding terbalik dengan Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya. Dimanah
di bulan Ramadhan tahun ini selain kita harus menahan diri dari hawa nafsu yang
dapat membatalkan puasa, kita juga harus melawan suatu virus yang telah
menyerang belahan bumi ini termasuk di Indonesia, yaitu covid-19.
Terhitung sejak awal kemunculan
virus ini pada awal bulan Desember 2019 di Wuhan, China. Berdasarkan data WHO
jumlah yang telah terjangkit virus ini adalah
4,8 Juta jiwa dan 318 ribu jiwa diantaranya telah meninggal dunia.
Sedangkan di Indonesia berdasarkan data dari Kemenkes RI jumlah yang terjangkit
adalah 18.010 jiwa dan 1.191 jiwa diantaranya telah meninggal dunia. Hal ini
tentu merupakan ancaman yang menakutkan bagi kita semua.
Menjelang berakhirnya bulan Ramadhan,
ancaman tersebut seakan-akan mereka abaikan begitu saja, mereka sepertinya
tidak bisa mengskip untuk sementara waktu tradisi yang telah mereka lakukan
setiap tahun. Terbukti banyak sekali pusat pembelanjaan yang menjadi ramai oleh
para pemburu baju lebaran. Mereka rela berdempet-dempetan supaya mereka dapat
mendapatkan baju idaman tanpa memikirkan resiko yang akan mereka hadapi.
Seakan-akan covid-19 di Indonesia tidak memiliki harga diri.
Melihat hal tersebut, pemerintah
seperti hanya menutup mata. Mereka lebih memilih membubarkan warga yang sedang
beribadah di mesjid dibanding membubarkan para kerumunan yang sedang memburu pakaian
lebaran. Yang dengan gampangnya mereka mengatakan tidak apa-apa berbelanja asal
sesuai dengan protokol kesehatan. Tapi bukti di lapangan tidak sesuai dengan
yang di ucapkan, Apakah berdesak desakan di bolehkan dalam protokol kesehatan?
Tentu saja tidak. seakan-akan PSBB yang di lakukan selama ini hanya sia-sia,
perjuangan yang dilakukan oleh tenaga medis tidak ada artinya, hingga muncullah
hastag "Indonesia Terserah" yang pertama kali kumandangkan oleh para
tenaga medis yang merasa tidak dihargai perjuangannya dan makin menjamur di
media sosial.
Pemerintah harus tegas dalam
menanggapi masalah ini, pemerintah harus memperketat kembali aturan selama PSBB
ini agar keadaan dapat kembali semula. Untuk sementara waktu pemerintah harus
melupakan kepentingan kapitalis semata, pemerintah
harus mementingkan keselamatan bersama. Sedangkan bagi masyarakat kita semua
harus sadar, kita harus mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan
pribadi, kita harus membantu mengurangi pekerjaan para tenaga medis dengan
#dirumahaja karna kalau kita terus berlarut-larut seperti ini, sampai kapan kita bisa terbebas dari teror
virus ini, sampai kapan kita harus merasakan suntuk di rumah, sampai kapan kita
harus merasakan rebahan yang berkepanjangan. Oleh karna itu kita harus sadar
dan saling mengingatkan supaya selain menang melawan hawa nafsu di bulan Suci
ini kita juga bisa menang melawan covid-19. Aamiin
Komentar
Posting Komentar