ANDAIKAN CORONA BISA DI SKIP SAAT BULAN PUASA
ANDAIKAN CORONA BISA DI SKIP SAAT BULAN PUASA
Oleh: Makmur
Virus corona
telah merebak kemana-mana. Ia telah hampir menyebar ke hampir seluruh penjuru Indonesia.
Ia berpindah bagai burung yang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. ia kemudian menyusup keberbagai aspek kehidupan masyarakat.
mulai dari aspek ekonomi, sosial, politik, kesehatan, dan agama.
Ia menjadi masalah manusia di berbagai sektor. Ia menjadi momok yang menakutkan.
Ia menjadi penyebab kecemasan kolektif dan individual.
Semua kalangan merasakan dampak merebaknya
virus ini. Siapun itu! Apapun latar belakang kelas sosial, agama
dan sukunya. Semua merasakan. Meskipun perlu diakui,
ada ketidak samaan derajat dampak dan kesiapan dalam menghadapi virus
ini diantara mereka. Tap itoh, poinnya semuanya merasakan.
Kini corona
bersamaan dengan datangnya bulan puasa. Dimana di bulan ini biasanya menjadi bulan yang
banyak diisi dengana cara berkumpul dan berkerumun .Mulai dari tarwih berjamaah di
masjid, buka puasa bersama pacar atau teman, nonton balapan liar setelah sholat subuh,
main domino di siang hari, sampai jalan-jalan dan berkumpul di dermga di sore
hari. Tapi sekarang dengan adanya corona semuanya jadi sirna. Semuanya dilarang dan dibatasi.
Hilangnya semua aktivitas itu disebabkan oleh adanya himbauan dan larangan dari pemerintah untuk membatasi jarak dan meniadakan kegiatan
yang sifatnya berkerumun. Menurut pemerintah upaya ini merupakan upaya preventif yang
dilakukan untuk mencegah penularan virus corona.
Kemudian respon terhadap kebijakan dan pembatasan ini cukup beragam. Ada
yang mengikut dan menurut, ada pula yang menolak dan melawan. Ada yang
menerima sebagian tapi menolak yang lainnya. Variasi sikap inilah yang
mewarnai kehidupan kita akhir-akhir ini. Variasi sikap ini menunjukkan adanya perbedaan dalam kesadaran,
cara berfikir dan pandangan hidup dalam masyarakat.
Menurut Auguste Comte
dalam Johnson (1988), untuk mengerti sebuah kenyataan sosial, maka pahamilah bagaimana epistimologi atau cara berfikir dan cara memandang dunia
yang ada dalam masyarakat, baik yang sifatnya dominan maupun yang altrernatif.
Dengan analisa ini kita dapat memahami bahwa ada perbedaan cara memandang dunia dalam masyarakat.
Perbedaan pandangan dunia itu dapat terlihat jelas dan kontras dalam kebijakan pelarangan sholat berjamaah
di masjid yang belakangan ini menjadi polemik. Sebagian masyarakat sepakat dengan pelarangan ini karna mereka melihat dan memahami masalah ini secara empiris dan objektif berlandaskan paparan dan anjuran dari dokter atau pihak terkait
yang memilki kapasitas. Sementara sebagian lainnya melawan pelarangan ini dengan dalih bahwa ditiadakannya sholat berjamaah
di masjid menandakan adanya kelunturan terhadap keimanan dan kepercayaan terhadap Tuhan. Beberapa dari mereka juga berdalih bahwa
virus corona tidak masuk ketempat yang sifatnya suci. Dengan berbagai alasan itu, tercermin sebuah pandangan dunia
yang menganggap bahwa segala sesuatu yang terjadi di
dunia ini dikendalikan dan diatur oleh suatu wujud diluar manusia yang sifatnya ilahiah. serta manusia hanya menerima dan pasrah atas segala takdir
yang telah dan akan diberikan.
Kesadaran dan cara pandang
yang terakhir ini disebut oleh Marx, sebagai kesadaran palsu. Sebuah kesadaran yang
bertolak belakang dengan kondisi materil atau kondisi nyata yang
dihadapi dalam kehidupan (Johnson; 1988). Keterpisahan ini berdampak pada keterasingan seseorang dengan kehidupannya
yang rill dan upaya-upayanya yang nyata untuk mengubah keadaan. Kesadaran ini juga,
cepat ata lambat akan menjadi katalisator peningkatan penyebaran virus corona
kemana-mana.
Maka dari itu kemudian,
perlu kiranya untuk mengubah kesadaran seperti ini. Perlu dilakukan kontruksi kesadaran
yang baru agar hal ini tidak terus menjadi polemik. Pendekatan dengan cara mengubah keasadaran dan cara berfikir masyarakat lebih baik ketimbang dengan melakukan upaya
yang sifatnya paksaan melalui aparat Kepolian atau TNI. Upaya paksaan hanya akan menimbulkan konflik dan meningkatkan ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Serta upaya ini sebenarnya tidak menyelasaikan akar dari persoalan,
yaitu kesadaran masyarakat. Pendekatan untuk mengubah kesadaran merupakan tanggung jawab dari semua lembaga dan intitusi-institusi sosial terkait,
terkhusus intitusi keagamaan dan juga kepemudaan.
RUJUKAN

Komentar
Posting Komentar