Post-Human & Manifiesto Sipakatau


Oleh : Dinasty (Pegiat Filsafat di Athena Institute & anggota Braindilog Sociology Indonesia)

“Post-Human dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, ketika manusia meninggalkan sifat Kemanusiaan yang dimilikinya ! Maka sejatinya Post-Human sudah terjadi pada saat itu juga"

Post-Human suatu istilah yang kini sedang populer baik itu dalam ranah kajian filsafat, ilmu sosial dan humaniora. Banyak yang berupaya memberi asumsi mendasar, defenisi dan kapan waktu dimulainya Post-Human, mulai dari Para Filsuf, Sosiolog, kaum cendekiawan serta para pengamat perkembangan teknologi mutakhir memiliki pendapat mereka masing-masing mengenai kapan dimulainya era Post-Human. Ada yang berupaya mengkaitkannya dengan aspek teknologi sehingga muncullah sejumlah asumsi-asumsi berupa proyek terminator hingga fiksi Frankestein, beberapa pemikir dalam kategori Postmodernisme seperti Paul Virillio mengaitkannya dengan aspek waktu dimana kita telah berada disuatu era yang mengalami kecepatan dan percepatan yang sedemikian cepatnya hingga kita tidak punya waktu sedikitpun untuk merenung atau berupaya menghayati apa yang telah kita lewati dan jalani, serta beberapa kalangan lainnya yang mengaitkan Post-Human dengan mahluk berupa Cyborg.

Terlepas dari berbagai asumsi tersebut, dalam hal ini penulis ingin melihat Post-Human dari cara pandang yang berbeda, dimana pada umumnya dilihat dengan menggunakan paradigma teknologi. Jika kita berupaya menelusuri makna sejati atau hakikat manusia, kita akan menemukan sejumlah pendapat filosofis dan teoritis mengenai hakikat manusia, kita ambil contoh perspektif Marxian dalam melihat eksistensi dari manusia dimana manusia dipandang sebagai suatu mahluk yang memiliki potensi kreatif. Potensi kreatif yang dimiliki oleh manusia ini menurut pemikiran Marxis yakni diimplementasikan dalam bentuk kerja, melakui kerja manusia berusaha mengobjektifkan idea atau inspirasi yang dimilikinya guna mengembangkan diri dan sosialnya. Hasil kerja manusia yang berupa kebudayaan seperti benda-benda material berguna dalam memenuhi kebutuhan pribadi atau sebagai instrumen penunjang dalam membangun masyarakat. Manusia dalam pandangan ini dipandang sebagai mahluk yang memiliki potensi untuk berkembang dan membangun peradaban yang manusiawi, namun letak paradoks dalam perspektif Marxian yakni potensi reifikasi atau relasi antara subjek pencipta dengan objek yang diciptakan untuk masuk kedalam kondisi timpang dimana terjadinya fetisisme yang memperbudak kreatifitas manusia. Marxisme umumnya mengkritik kapitalisme sebagai faktor penyebab dehumanisasi atau yang diistilahkan sebagai alienasi, namun dalam perkembangannya aliran-aliran Marxis yang terkategori Neo-Marxian berupaya menambah luas ruang lingkup alienasi seperti pada Mahzab Frankfurt (Teori Kritis) yang mengkritik budaya populer (pop culture) sebagai penyebab kesadaran palsu, Marxisme berorientasi spatial dengan tokohnya Henry Levebre yang berupaya menggeser faktor ekonomi atau basis struktur yang sebagaimana ini dipahami oleh kebanyakan kaum Marxis ke ruang yang memengaruhi kehidupan sosial. Pergeseran itu juga menandakan perluasan analisis Marxian yang mulai mengkaji aspek sosial selain ekonomi dan mengurangi derajat deterministik darinya. Namun tetap perspektif Marxian memiliki ketajaman dalam melihat proses dehumanisasi dalam masyarakat. Kita sebagai manusia yang membangun peradaban guna mencapai hajat hidup yang lebih baik malah mengalami kegagalan dalam memperadabkan manusia dan membawanya dalam lembah kematian eksistensial.

Berbeda dengan perspektif Marxian, aliran Weberian yang juga termasuk salah satu cara pandang sosiologis memandang proses manusia dalam kehidupan sosial senantiasa menuju pada tahapan rasionalitas. Sebagaimana Max Weber tokoh utama dalam aliran ini melihat perkembangan atau perubahan sosial senantiasa mebgalami fase-fase perubahan dari tahap tradisionalitas yang didominasi oleh pengetahuan non-rasional ke tahap modernitas dimana masyarakatnya dominan rasional secara pemikiran. Weber melihat birokrasi sebagai model masyarakat moderen dan menilai dunia moderen itu sendiri ibarat hidup didalam rantai besi. Modernitas sebagai buah dari perkembangan pengetahuan manusia malah berbalik arah menjadi jeruji-jeruji penjara yang mengurung manusia dalam suatu pola rutinitas dan formalitas yang menjenuhkan dan hampa akan rasa. Boleh dikata Modernitas dengan berbagai instrumennya seperti Birokrasi justru mendehumanisasi manusia dari potensi kemanusiaan yang dimilikinya, sistem administrasi yang begitu rumit dan kompleks tidak hanya sebatas instrumen untuk mengefisienkan kerja manusia tetapi juga dapat menjadikan pekerjaan begitu berbelit-belit sehingga harapan akan efesiensi kerja itu sendiri tidak tercapai. Belum lagi sistem birokrasi yang berkerangkan rasionalitas formal juga menuntut spesialisasi dan meminimalkan rasa kolektif dan altruisme, akibatnya manusia mengembangkan suatu kelompok tanpa rasa dan tanpa jiwa! Yang ada hanyalah robot-robot serta mayat hidup yang berjalan! Aliran Weberian yang menengok rasionalitas formal yang membelenggu manusia dan sosialnya kini juga telah mengalami perkembangan, mulai dari sistem Holocaust sebagai sisi ambigu dari modernitas sebagaimana yang dikenalkan oleh Sigmund Bauman, logika fastfood yang memasuki semua aspek sosial dari tesis McDonaldisasi oleh George Ritzer dan sampai kepada antitesis Gojeknisasi sebagai mana yang dihadirkan oleh Dinasty Dinra Pratama dalam upaya melihat pola Post-Fordisme di abad Digital. Tentu itu semua merupakan serangkaian pengembangan dan perluasan weberian yang bertitik tolak pada perkembangan rasionalitas manusia, dengan itu pandangan Weberian baik itu pada Weberian Klasik maupun pada Neo-Weberian sama-sama melihat bahwa dehumanisasi adalah konsekuensi yang muncul sebagai akibat perkembangan pemikiran manusia dari era tradisional ke moderen dengan hadirnya paradigma rasionalitas formal baik itu dalam bentuk birokrasi, Holocaust, McDonaldisasi ataupun Gojeknisasi, masing-masing memiliki potensi dehumanisasi pada manusia.

Dengan membandingkan dua pandangan dalam melihat manusia, dapat diketahui bahwa perspektif Marxian ataupun Weberian melihat perkembangannya manusia dalam kehidupan sosialnya senantiasa memiliki potensi dehumanisasi, yakni jika kaum Marxian melihat pada faktor kapitalisme beserta budaya pop (Mahzab Frankfurt) yang menyebabkan orang-orang senantiasa teralienasi sedang pada aliran Weberian menitik beratkan pada sistem rasionalitas formal sebagai buah perkembangan pengetahuan manusia di era moderen yang membelenggu ibarat rantai atau sangkar besi. Dengan itu Post-Human tidak hanya dianggap sebatas pada aspek teknologi namun lebih dalam dari itu yakni aspek human itu sendiri, dimana manusia meninggalkan sifat kemanusiaan yang ada di dalam dirinya dan merupakan karunia dari tuhan yang maha esa berupa tenggang rasa, empati, simpati, potensi untuk berkomunikasi, dan sebagainya oleh berbagai pengaruh seprti kapitalisme pada Marxian dan rasionalitas formal pada Weberian. Namun Penulis juga memiliki padangan lain dalam memahami kapan terjadinya keadaan Post-Human pada manusia dengan tidak memandangnya dari segi linearitas sejarah namun pada setiap waktu dan setiap detik, yakni bahwa post-human tidak sebatas hanya muncul di era digital atau Post-Modern dengan kemunculan spesies-spesies Cyborg ataupun lewat tekanan sistem kapitalisme dan rasionalitas formal, namun Post-Human dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, yakni ketika manusia meninggalkan potensi kemanusiaan yang dimilikinya, maka sejatinya Post-Human sudah terjadi pada saat itu juga.

# Manifiesto Sipakatau Sebagai Antitesis Post-Human
Melihat realitas sekarang, dunia telah dilanda berbagai kerusakan mulai dari kerusakan moral dan akhlak sampai kepada kerusakan sosial yang ditandai dengan menjamurnya lokalisasi-lokalisasi. Tidak dipungkiri masyarakat abad 21 yang dimanjakan oleh teknologi kini malah menyembah teknologi sebagai tuhan baru, kita telah lihat secara saksama bagaimana Mobile Legend datang ibarat tsunami yang menyapu kesadaran manusia. Kita tak sadar akan orang lain di sekitar kita, tak sadar akan waktu, tak sadar akan istirahat dan sampai tak sadar akan diri sendiri, akhirnya kita larut dalam kebutaan dan kedunguan karena jasmani kita telah sedemikian rupa di isi oleh junk food - junk food berkolesterol dan berlemak tinggi dan kitapun tidur dalam kebobrokan akal. Setiap waktunya manusia-manusia di muka bumi mengalami Post-Human dengan disingkirkannya akal budi dalam berpikir dan menilai oleh intervensi wacana, sehingga kitapun menjadi agen yang turut mereproduksi kebencian, kita menjadi benalu! Bukan bagi negara, masyarakat ataupun orang lain, namun benalu bagi diri sendiri yang tidak mampu mendaya gunakan potensi jiwa dan raga yang kita miliki.

Melihat itu semua apakah kita hanya dapat tinggal diam? Apakah kita hanya dapat menyaksikan berbagai jahiliya modernitas terjadi begitu saja? Tentu pengetahuan akan menggiring kita pada jawaban “Tidak”! Manusia mesti dikembalikan pada esensi sejatinya yakni sebagai mahluk yang manusiawi, bukan mahluk yang hewaniah, akal manusia harus kembali diarahakan ke arah berpikir logis bukan menjadi ibarat benda mati, raga manusia mesti dikembalikan pada fungsinya untuk bergerak harmonis bukan pada gerak ekspoitatif serta masyarakat manusia meski diarahkan pada jalur pembanguan peradaban yang luhur bukan peradaban mayat hidup ataupun robot yang tak memiliki kesadarab dan perasaan, dengan itu guna melawan arus dehumanisasi yang makin hari makin membesar, kiranya perlu dicanangkan dan dijalankannya proyek "sipakatau". Sipakatau merupakan salah satu prinsip dasar manusia dalam kehidupannya dimana ia melakukan proses memanusiakan manusia, faktor-faktor yang menyebabkan dehumanisasi mesti ditanggulangi dengan semangat Sipakatau yang dimulai dari diri sendiri, sahabat dan masyarakat secara umum. Dengan itu upaya guna merelealisasikan tujuan dari sipakatau yakni menuju pada kehidupan yang harmonis maka diperlukan berbagai cara dan proses mulai dari pendidikan, pelatihan, regulasi hukum dan berbagai tindakan positif yang dijiwai oleh semangat Sipakatau sangat diharapkan hadir dan dilaksanakan ditengah masyarakat. Dengan memulai suatu langkah mulia dengan dituntun oleh agama, prinsip moral dan ilmu pengetahuan maka kiranya manifiesto Sipakatau bukan hanya sekedar wacana belaka namun menjadi angin semangat baru guna mengadakan suatu perubahan di masyarakat.

SEKIAN


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa