Melampaui PostModernisme (Post-PostModern)
oleh Dinasty
Dalam ranah filsafat
dan ilmu sosial, mungkin kita sering mendengarkan istilah Post Modern atau
Post-Modernisme, suatu term yang menjadi istilah populer dikalangan filsuf dan
teoritisi sosial. Begitu populernya istilah yang satu ini sehingga setiap
cabang ilmu sosial berupaya menggunakan cara pandang yang satu ini guna
menafsirkan realitas objek kajiannya masing-masing. Saking ngetopnya hingga
muncul suatu epos baru yang menyatakan bahwa konon katanya kita telah memasuki
era Post-Industri, di tengah pabrik-pabrik yang masih berdirih kokoh didepan
mata.
Post Modernisme
pada awalnya merupakan suatu gerakan yang bermula dalam rana seni meliputi
lukisan, puisi, sastra dan sebagainya, disekitaran tahun 20-an. Namun dalam
perkembangannya terutama di era 70-an telah memasuki rana filsafat dan ilmu humaniora,
terutama di Perancis sebagai pusat bagi filsafat Postmodernisme. Tokoh-tokoh
seperti Deleuze, Foucault dan Derrida yang masing-masing tergolong dalam aliran
filsafat Post-Strukturalis. Pemikiran mereka bertumpuh pada asumsi kebenaran
yang relatif (kebenaran Acak). Terdapatnya pluralisme kebenaran hingga tidak
memungkinkan lagi ditemukannya kebenaran universal, merupakan ciri pandangan
Post Modernisme. Post Modernisme hadir dalam mengkritik metanarasi-metanarasi (narasi
besar) yang diemban dalam misi Modernisme. Modernisme diibaratkan sebagai suatu
rezim kebenaran yang membabi buta serta akan melindas tampa ampun
kebenaran-kebenaran yang lahir dari epistem non-sainstik.
Penekanannya pada
relativitas kebenaran sehingga upaya pencaharian pada kebenaran esensial
dianggapnya sebagai upaya membangkitkan rezim kebenaran. Oleh sebab itu
pemikiran Post Modernisme hampir sama dengan pandangan kaum Sofi di yunani era
Socrates. Golongan Sofi ini juga berupaya menegasi kebenaran mutlak, dengan
asumsi "Bahwa itu hanyalah perbuatan yang sia-sia". Disamping itu
Postmodernisme juga memiliki pandangan anti-realisme seperti pada Nihilisme
Nietzche sehingga Subtansi dari pemahaman relativis Postmodernisme lebih
Radikal lagi ! Postmodernisme banyak mengkritik narasi-narasi besar seperti
Marxisme, Kapitalisme dan sebagainya. Narasi besar dapat memungkinkan lahirnya
rezim kebenaran tertentu, yang kemudian berafiliasi dengan rezim politis.
Dengan itu fasisme ilmu pengetahuan akan membabat habis setiap yahudi-yahudi
pengetahuan yang mungkin dapat saja mengotori relung-relung ilmu pengetahuan.
Walaupun dengan
kritikan yang begitu pedas terhadap Modernisme, terdapat sejumlah kelemahan
asumsial mendasar dari Post Modernisme itu sendiri. Pertama bisa dilihat
mengenai konsep relativisme kebenaran yang ditawarkan misalnya. kebenaran
universal dari suatu narasi, kita ambil contoh dari pandangan Marxis. Marxisme
pada umumnya melihat bahwa fenomena sosial begitu besar dipengaruhi oleh aspek
basis struktur yang dalam hal ini ekonomi. Seorang Postmodernis akan
membantahkan dasar asumsial tersebut, dengan asumsi balik bahwa realitas begitu
plural. Jika realitas di tengah masyarakat begitu plural atau beragam maka
upaya untuk mendetermenistikkan suatu faktor kausal sebagai penyebab utama
suatu fenomena hanya akan menciptakan rezim kebenaran yang otoriter, padahal
secara sosiologis suatu fenomena tentu memiliki suatu faktor yang lebih
berpengaruh dari pada faktor yang lainnya. Watak anti deterministik dalam
Postmodernisme ini pula yang juga turut mengakibatkan lemahnya suatu gerakan
yang mereka bangun. Kita lihat misalnya dengan tidak efektifnya suatu gerakan
yang memakai banyak grand issue,
seperti gerakan-gerakan yang di satu sisi membela kaum perempuan dan di satu
sisi memperjuangkan hak-hak alam (gerakan lingkungan) sekaligus pula turut
andil dalam mengadvokasikan nasib kaum buruh. Konsekuensinya yaitu pada
sulitnya menghadirkan suatu gerakan yang besar dan frontal. Landasan epistemologis
yang mendasar serta mendalam juga turut akan mempengaruhi daya gerakan yang
berupa semangat/spirit dari gerakan tersebut. Semangat didukung oleh orientasi
gerakan yang jelas, dan jika realitas itu sendiri hanya dipandang secara nihil,
mana mungkin gerakan sosial dapat frontal dan membawa perubahan yang lebih
berarti.
Selain itu
dengan maraknya istilah Postmodernisme yang memasuki seluruh ruang-ruang
keilmuan, mulai dari sosiologi sampai kepada ilmu alam (sains) juga dikenal
suatu pengistilahan baru yakni Post-Industri. Era Post-Industri dimaksudkan
sebagai tahapan dimana masyarakat telah memasuki fase perubahan yang begitu
amat radikal. Dari yang sebelumnya bermode Kapitalistik-Production ke Non
Kapitalistik-Production, bisa saja itu Komputerisasi atau mungkin juga digitalisasi
sebagaimana wacana revolusi 4.0 yang marak belakangan ini. Dalam hal ini Epos
Post-Industrial yang cenderung dikaitkan sebagai telur atau buah dari pemahan
Postmodernisme itu sendiri, juga amat jenaka dan keliru. Mengapa tidak? Kita
lihat saja dari arti katanya, dimana Post
yang diartikan sebagai Pasca/setelah, sedang Industrial yang diartikan sebagai fenomena ekonomi yang berbasiskan
teknologi mekanik dalam mekanisme kerjanya. Justru dihadirkan layaknya suatu
fase baru yang telah menggantikan era industrial.
Bagaimana mungkin ini benar
adanya?
Justru fenomena
industrial tetap berlanjut sampai sekarang. Fenomena yang berupa digitalisasi
dan komputerisasi adalah fenomena tambahan dan sekaligus buah dari mekanisme
industrial. Proses digitalisasi yang memanfaatkan jaringan wifi dan online tidak
akan mungkin hadir, jika tidak ada pabrik yang memproduksi smartphone. Proses komputerisasi dengan segala olah datanya tidak
mungkin akan berhasil, jika tidak ada pabrik-pabrik yang memproduksi komputer.
Dan pabrik ini sendiri merupakan bagian dari gejala industrialisasi yang
kerjanya pada produksi. Jika benar era kita telah mengalami suatu perubahan
radikal ke Post-Industri, tentu sudah pasti tidak ada lagi pabrik-pabrik yang
memproduksi bahan kebutuhan sehari-hari. Mungkin saja yang ada hanyalah android-android
atau smartphone yang siap untuk
mereproduksi informasi dan wacana, tanpa perlu melakukan kerja produksi.
Postmodernisme juga secara tidak
langsung agak naif ketika mengkritik narasi besar, karena sejatinya narasi
pluralisme kebenaran yang ditawarkannya juga malah menjadi suatu narasi besar
baru. Pluralisme kebenaran malah hadir bagai suatu rezim kebenaran baru, yang
akan menggenosida tiap pengetahuan modernisme. Bukankah itu sudah menjadi
kebiasaan para tiran yang menawarkan kebebasan, namun pada akhirnya juga akan
menindas.
# PASCA-POSTMODERNISME
Meninjau
beberapa kelemahan menadasar dari asumsi dari Post-Modernisme, maka timbullah
suatu pertanyaan baru. Apakah kita harus tetap mengembangkan Post-Modernisme
atau berupaya melampaui rezim kebenaran tersebut? Dalam perkembangan mutakhir
beberapa kritikus yang berupaya mengkritik pemikiran yang satu ini. Misalnya yang
memandang Post-Modernisme hanyalah bentuk luapan ekspresi kekecewaan dari para
aktivis 1968. Post-Modernisme dapat menjadi obat penenang bagi rasa
keterputusasaan para aktivis ‘68, obat penenang tersebut nantinya akan
menggiring mereka pada tidur lelap dari relativisme. Oleh sebab itu maka tren
pemikiran ini hanya bersifat temporal, hadir secara kontekstual sesuai dengan
keadaan dunia yang sedang dilanda keputusasaan para aktivis 68 dan air mata
Marxis-Leninisme akibat kehancuran imperium raksasa Uni Soviet yang
masing-masing merupakan bagian dari modernitas. Temporalitas tersebut tentu
dapat berakhir jika psikis sosio-intelektualnya juga berakhir. Mesti ada suatu
pola pemikiran baru yang melampaui kedangkalan paradigma Postmoderen.
Post-Modernisme
yang berkembang pada tahun 1970-an mulai mengendor secara minat, mengingat
relitas hari ini yakni "Globalisasi", telah menjadi pola baru yang
merupakan kelanjutan dari modernitas itu sendiri. Mengingat epos berupa era
Post-Industri tidak pernah benar-benar mutlak ada di kehidupan, sebab dunia
abad 21 juga masih tetap melanjutkan tren modernitas, dengan pabrik-pabrik yang
masih tetap beroperasi. Lebih moderat jika kita mengistilahkan jaman kita
sebagai era industri lanjut (Late
Industrial) yang dimana pola industri yang berciri reproduksi dengan mengandalkan
sistem Digital. Namun masih tetap berdampingan dengan pola industri klasik yang
sifatnya berproduksi.
Selain itu perlu
pula pergeseran paradigma atau cara pandang dalam berpikir. Yang sebelumnya
hanya sekedar bergulat dalam suatu parade sirkus yang begitu melenakan, keseriusan
pembangunan kerangka berpikir yang komprehensif dan lebih terbuka. Orde
pemikiran yang baru ini dinamakan Pasca-Postmoderen (Post-PostModernisme), yang
sekaligus merupakan lanjutan dari pemikiran modernisme itu sendiri. Pasca-Postmodernisme
berupaya mengembangkan pemikiran modernisme klasik yang sebelumnya terbilang
amat kaku dan tertutup mengenai asumsi mendasar akan kebenaran. Contoh yang
baik dapat dilihat dari upaya Jurgen Hubermas yang berusaha memutasi logika
materialisme-historis yang selama ini menjadi belenggu kemandegan beberapa
kalangan Marxis klasik. Habermas menggeser pandangan mendasar Marxian yang
sebelumnya bergelut pada "kerja" sebagai fokus utama kajian/analisis,
serta kerja sebagai sifat utama dari manusia. Pergeseran dari fokus pada aspek
kerja ke aspek "komunikasi", adalah upaya Hubermas untuk menambah
luas jangkauan pola eksploitasi.
Komunikasi
merupakan salah satu sifat khas manusia, yang dimana dengan komunikasilah
manusia dapat saling bertukar informasi, pengetahuan, dan sebagainya, guna
membangun sosial dan kebudayaannya. Pergeseran ini pula juga berdampak pada
reorientasi Marxis yang sebelumnya pada cita-cita mewujudkan masyarakat Komunis
yang dimana tidak ada lagi penindasan pada pola kerja, ke cita-cita mewujudkan
keadaan masyarakat komunikatif yang dimana tidak adalagi penghalang-penghalang
komunikasi interaktif. Mungkin karena hal itupulah yang menyebabkan Habermas
sering dituding sebagai intelektual Marxis-Borjouis. Terlepas dari berbagai
tudingan tersebut, upaya Hubermas dapat diberi jempol. Dengan upayanya
menggeser pandangan eksploitasi dari kerja ke komunikasi, telah memungkinkan
tradisi Marxian untuk lebih terbuka dalam melihat problem-problem lain yang
turut berpengaruh. Dan Hubermas masih optimis dalam melihat proyek pencerahan
yang masih terus dalam perkembangan dan perbaikan, beda halnya dengan para kaum
Post-Modernisme yang putus asa ditengah jalan dan memilih kedangkalan gerakan.
Selain Habermas,
Alex Callinicos dan Slavoj zizek adalah contoh baik pemikiran Pasca-Postmodern.
Alex Callinicos yang sebagaimana sudah diutarakan sebelumnya, menganggap Post-Modernisme
hanyalah bentuk luapan rasa kekecewaan aktivis ‘68 dan tidak lama lagi akan
ditinggalkan. Post-Modernisme ibarat sautu pawai/parade/rombongan sirkus yang
lewat dijalan raya. Tidak lama rombongan itu juga akan lewat dan kemudian kita
akan menyebrang ke seberang jalan. Begitulah tren Post-Modernisme yang bermula
pada dekade 70-an dengan tokoh-tokoh Perancisnya seperti Derrida, Deleuze dan
Foucault (Post-Strukturalis), kini dapat saja ditinggalkan. Sedikit berbeda
dengan Calinocos, Slavoj Zizek seorang filsuf Marxis asal Slovenia berupaya
mendaurulang pemahaman marxian yang mengalami kemandegan gerakan oleh para Post
Marxis. Tokoh utama Post Marxis seperti Laclau dan Mouffe hanya menjadikan
gerakan Marxis mandeg dan tumpul, yang dimana gerakan buru dikotori oleh
masuknya gerakan lingkungan dan perempuan. Gerakan-gerakan tersebut anti pada
narasi besar, beda halnya yang didengungkan oleh marxis kelasik yang melihat
kaum proletar sebagai penggerak perubahan. Zizek adalah contoh baik dalam hal
ini, ia berupaya meredefenisi subjek berkesadaran di abad 21. Upayanya dalam
mengelaborasi tradisi Marxisme dengan Lacanian memungkinkan kesadaran kelas
dapat tetap muncul di era Industri-Lanjut seperti sekarang ini. Zizek boleh
dikata tokoh Pasca-Postmodernisme sekaligus Pasca Post-Marxis.
Dengan menengok
beberapa pemikiran yang berusaha mendobrak kebuntuan Post-Modernisme, adalah
upaya yang berani mengingat tren yang satu ini telah menjadi narasi besar yang
turut mendominasi dunia intelektual dari dekade 70-an sampai sekarang. Namun
Pasca-Postmodernisme harus tetap digiatkan dan dikembangkan, bukan hanya
sekedar sebagai antitesis dari pemahaman postmodernisme namun juga dapat
memberi sumbangsi solutif bagi masyarakat di abad 21. Dengan itu rasa
keputusasaan kini dijawab secara lantang dengan semangat optimisme dalam
menghadapi tantangan sekarang dan kedepannya lewat pengembangan pemikiran
Pasca-Postmodern.
Komentar
Posting Komentar