Hujan Membawa Naskah Cinta
Oleh Dinasty
Seperti
biasanya, sebagai seorang mahasiswa yang sudah beberapa lama tidak mendapat
uang bulanan dari orang tua, kemungkinan besar akan mencari pelampiasan
dahaga. Dan seperti itu pulalah aku! Kesana kemari keluar di malam hari hanya
untuk mencari warung tegal dengan porsi jumbo. Setara untuk kelas-kelas
mahasiswa.
Namun sialnya di
malam ini, malah aku terjebak hujan. Ya, tentu di motor aku agak kesal dengan
cuaca, hujan lagi, hujan lagi! Mungkin
seperti itu yang terucap di benakku, tatkala butiran air hasil kondensasi
kembali menerpa tubuh serta jaket Dilan andalan. Untungnya tidak jauh dari TKP,
akhirnya target yang dari tadi-tadi aku cari sudah kutemukan. Ya, warung tegal
yang berjejer di Jl. Tamalate, Makassar, mungkin dapat dikata telah menjadi
penciri dari jalan ini.
Kupelankan
perlahan-lahan laju kendaraanku, hup! Dengan secepat kilat ku parkirkan si
Tiger di posisi nyamannya sendiri, dan kemudian kumelompat bagai katak ke
warung tegal tersebut. Kaget tiada terkira, ternyata yang punya warung Cewek!
Hehehe jiwa remajaku seketika memberontak untuk keluar dan meluap seketika aku
melihat eloknya bidadari penghuni warung dengan kalemnya bertanya kepadaku
"Mau pesan apa, Mas ?" Tapi mungkin Ego-Freudian yang ku punya pada
malam ini agak stabil dan sedang filsuf-filsufnya (Bijak) ! Hingga pemandangan
indah pun aku lewatkan, guna mencapai suatu tujuan awal yang dari tadinya aku
inginkan, yakni memuaskan dahaga dan rasa lapar.
Sembari aku menikmati
makanan, di dalam benak dan pikiranku tiba-tiba aku kepikiran akan makna hujan
di malam ini. Aku bertanya kepada diriku sendiri, kenapa aku mesti merasa kesal
tadi? Bukankah hujan adalah anugrah dari tuhan?
Sebelumnya dan
jauh-jauh hari aku sudah pernah belajar mengenai siklus hidrologi dan filsuf
pra Sokrates di Filosofia Institute. Saya teringat kata Senior saya di lembaga
tersebut yang akrab saya sapa dengan panggilan "Kanda Ma'ruf". Saat
menjelaskan salah satu Filsuf pendobrak kemandegan mitos di Yunani, yakni Tales.
Beliau kata bahwa Tales seorang yang memahami dan beranggapan bahwa dunia ini
asasnya adalah air. Jika pendapat Tales demikian benar adanya, maka mungkin
gedung-gedung tinggi tak akan berdirih kokoh di tengah kota, sebab air bersifat
cair dan larut. Tapi nanti sajalah kupikir, dalam benakku "Nikmati makanan
ini dulu saja, mumpung sedang enak-enaknya di lidah".
Selepas
menyantap sampai habis lalapan yang dibuat oleh bidadari penghuni warung,
tau-taunya hujan kembali berlanjut! Stop, saya menekan hasrat emosional di
dalam diriku. Sungguh tak bijak rasanya marah pada cuaca, bukankah cuaca adalah
proses alam dan dari segi agama yang aku anut, tentunya merupakan kehendak Tuhan.
Kalau begitu permenungan yang tadi tertunda kini kulanjutkan, guna menemukan
jawaban arif dalam menyikapi hujan yang kian membasahi ini.
Tadikan
pikiranku berhenti ke asas dunia menurut Tales yakni air! Aku bertanya lagi
kenapa buka tanah saja? Sebab tanah lebih jelas bentuknya. Kenapa bukan batu
saja, sebab tekstur batu lebih keras dari pada air. Mungkinkah si Tales ngawur
saat mengajukan pendapatnya?
Hujan pun kian
bergemuruh!
Kucoba
merenungkan kenapa mesti air. Akhirnya kutemukan suatu jawaban! Bukankah air
itu melarutkan, dan jika ia melarutkan maka pahitnya kopi dapat berpadu dengan
manisnya gula, membentuk suatu kisah kasih dari nikmatnya secangkir kopi.
Jika ia melarutkan, tentu rasa benci di dalam
kalbu beserta para iblis-iblis yang bersemayam di gua-gua relung ketaksadaran
dapat larut dalam suatu lagu alam (hujan) yang menyejukkan. Hujan mendamaikan
kalbu.
Selain
melarutkan, air pun punya fungsi untuk membantu proses pertumbuhan tanaman. Dan
kalau begitu adanya, maka dengan hujan kasih dan sayang yang menerpa hati maka
benih-benih harmoni kehidupan sudah semestinya tumbuh dalam diri tiap manusia
yang mengisi hidupnya dengan cinta.
Wah! Saya heran,
bukan pada airnya saja tapi kenapa saya sudah bisa jauh berpikir seperti itu.
Fungsi pelarutan dan proses pertumbuhan tentunya merupakan suatu hikmah yang
mesti menjadi pembelajaran bagi diri saya sendiri dan kita semua. Hujan yang
menerpaku pada malam ini, memiliki fungsi bagi berlangsungnya proses hidrologi
itu sendiri, yang pada nantinya juga akan memengaruhi kesejahteraan mahluk yang
ada di dalamnya. Dengan itu air sebagai asas dunia dapat ditafsirkan sebagai harmoni
yang menyelaraskan konflik dan pertikaian di dunia. Sehingga sudah semestinya
manusia juga bertindak harmonis dan arif terhadap diri sendiri, sesama dan lingkungan
jika mereka ingin menunjukkan makna kasih Tuhan kepada para malaikat.
Dengan kejadian
di malam ini, aku pun mengambil suatu hikmah yang tiada tara yakni,
"TUHAN
DENGAN CINTA KASIH-NYA KEPADA HAMBA-NYA, TELAH MEMBERI HUJAN DI DALAM DUNIA
INI."

Komentar
Posting Komentar