Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018

Feodalisme Intelektual Dikalangan Mahasiswa

Gambar
Oleh : Dinasty Dindra Pratama "Jika kita masih melabelkan seseorang sebagai penteori, maka seolah-olah kita telah mengafirmasi diri sebagai sang praktikus pencari data, bukankah itu adalah wujud kesombongan yang amat tinggi. Jika demikian, maka kita sendiri telah menciptakan Feodalisme Intelektual ". @celoteh_Dinasty Mahasiswa merupakan suatu identitas yang dilekatkan kepada mereka yang sedang menempuh pendidikan diperguruan tinggi. Mereka umumnya dikaitkan dengan ciri RAKUS yakni Rasional, Analitis, Kritis dan jargon-jargon lainnya yang dekat dengan daya intelektualitas yang tinggi. Dengan pengetahuan yang lebih dari pada masyarakat umumnya, kalangan mahasiswa dinobatkan sebagai agent of change . Mereka akan senantiasa reaktif pada segala bentuk penindasan dan tirani yang terjadi di muka bumi. Segala bentuk kekuasaan yang membelunggu baik itu fasisme, tirani, otoritarianisme dan termasuk feodalisme itu sendiri. Mereka mungkin mengaggap feodalisme sebaga...

Susu Beruang Masuk Kampus

Gambar
oleh Dinasty Dindra Pratama Kampus merupakan suatu ruang tempat berlangsungnya pendidikan. Di dalamnya berlangsung serangkaian proses pendidikan yang sifatnya formal dan memiliki tujuan yakni dalam rangka memanusiakan manusia. Sebagai salah satu ruang bagi pendidikan, kampus sudah semestinya lebih banyak menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang proses pendidikan, seperti perpustakaan, laboratorium serta gazebo-gazebo tempat untuk diskusi. Namun bagaimana jika kampus ternyata hanya diisi oleh stand-stand prodak komsumsi ? Kemarin pada tanggal 5 Desember 2018, ketika saya memasuki kampus tercinta yakni UNM Gunung Sari, seketika pandanganku beralih perhatian, dari indahnya rimbunan pepohonan ke suatu stand yang berdirih kokoh ditengah parkiran. Sebelumnya saya tak pernah habis pikir, tempat parkiran dapat diisi oleh stand produk. Dan kalau tidak salah tulisannya "Susu Beruang", produk minuman yang sering aku cicipi tak kala aku lemah gundah. Ya...

Migrasi Cinta adalah Wujud Mobilitas yang Paling Hakiki

oleh Dinasty Dindra Pratama Terkadang ketika kita membahas konsep berupa migrasi umumnya kita menggunakan paradigma materialis-sosiologi­s yang menjadi panduan mainstream dalam melihat fenomena tersebut. Secara mainstream kita mengkaitkan antara gejala migrasi dengan perpindahan seseorang dari suatu ruang geografis ke ruang geografis lainnya (aspek spatial). Namun mengapa kita tidak mencoba menggali makna filosofis terdalam dari suatu migrasi, apakah migrasi hanya selalu berkaitan dengan aspek keruangan atau ada aspek lain yang menjadi filosofi suatu migrasi?  Jika Migrasi diidentikkan dengan suatu gerakan atau perpindahan, mengapa kita tak mencoba menggeser paradigma migrasi dari paradigma perpindahan ruang (spatial) ke paradigma perpindahan hati (cinta) ! Migrasi cinta dimaksudkan sebagai perpindahan rasa cinta  Dari cinta yg sifatnya fatamorganis (aksidental-material­) Ke cinta yg abadi (esensialis) Dari suatu pengejaran tak berujung yg di iringi ole...

Revolisi 4.0

Gambar
(suasana kajian Bidang I dengan tema Revolusi 4.0 yang dibawakan oleh kak Aksan Ahmadi pada Jum'at, 30 November 2018 kemarin) Jenjang perubahan akhir-akhir ini sangat terasa getarannya. Pada tahun 2011 tepatnya kita memasuki babak revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 ini identik dengan penggunaan koneksi jaringan (internet) sebagai substansi dalam modernisasi. Salah satu bentuk kemajuan ini terlihat dari adu penciptaan robotik antara negara-negara belahan dunia Kelak ciptaan robotik akan menyerupai persis bentuk rupa manusia dan akan menciptakan sendiri identitas eksistensinya. Pembuatan robotik tahun lalu memggegerkan manusia pada umumnya. Telah diciptakan robot yang diberi nama Sophia pada19 april 2015. Diciptakan dan diproduksi di Hongkong. Pada tahun 2017 telah diberikan kewarganegaraan Arab Saudi. Sophia dilengkapi dengan sistem yang sangat canggih, dapat berdialog dengan manusia berbagai macam bahasa, memberikan respon dengan mimik rupa yang beragam layakn...

Radikalisme dibalik Segarnya Es Teler : Suatu Tinjauan Psikoanalisis

Gambar
oleh Dinasty Dinra Pratama Para penikmat kuliner khas Indonesia, pasti sudah tidak asing lagi dengan makan sekaligus minuman yang satu ini. Ya, inilah Es Teler santapan nikmat penyegar tenggorokan yang banyak berjejer di pinggir jalan raya. Suatu santapan yang berisikan berbagai bahan penikmat dan pemanja lidah, mulai dari manisnya gulah merah yang bercampur dengan dinginnya es batu, hitamnya cincau yang berduel dengan larutan buah-buahan yang ada dalam segelas Es Teler telah membentuk sautu dialektika dan orgasme kelezatan yang dirasakan oleh setiap lidah yang mencicipinya. Terlepas dari nikmatnya rasa yang terkandung didalam Es Teler, penulis dalam hal ini ingin melihat realitas dari Es Esteler dari sudut pandang yang berbeda. Suatu sudut pandang yang berusaha menyibak makna lain dari Es Teler yang sebelumnya mungkin tidak pernah disadari oleh kebanyakan orang. Menarik kiranya fenomena berupa kesegaran tenggorokan yang diperoleh melalui proses menyantap Es Teler dilihat d...