Tahukah Engkau Seorang Berdarah Yunani yang Bernama Epicurus, Ia Berfilsafat di Taman




Oleh: Dinasty Dinra Pratama

Kota sebagai suatu ekologi tempat pertemuan berbagai populasi dari berasal dari latar belakang yang berbeda, baik itu dari segi etnis, ras atau warna kulit, asal daerah yang berbeda bahkan sampai pada perbedaan kewarganegaraan. Pluralitas di dalam kota juga tentunya diimbangi oleh rutinitas pada kehidupan anggota masyarakatnya yang begitu padat. Sebagaimana yang diistilahkan oleh Emile Durkheim dalam Tipologi Solidaritas, dimana masyarakat kota dapat dikategorikan sebagai masyarakat dengan tipe Solidaritas Organik yang ditandai dengan spesialisasi kerja yang jelas, rasionalitas yang tinggi serta budaya individualitas pada anggota masyarakatnya. Dengan itu di dalam kehidupan sosial perkotaan ditandai dengan suatu pola teratur yang telah digariskan oleh lembaga-lembaga masyarakat yang sifatnya telah termodernisasi baik itu birokrasi, profesi kerja dan industrial.
Di kota juga nampak bagaimana pembangunan fisik berlangsung dengan begitu pesatnya, dalam pola keruangan ini begitu jelas bagaimana aspek pembangunan yang berpola betonisasi atau pembangunan pada ruang kota yang diwarnai oleh pembetonan jalan entah itu jalanan, gedung-gedung bahkan hati atau perasaan pun juga dapat kiranya tuk di beton. begitulah ruang-ruang kota yang telah terakumulasi oleh beton dan mengikis tanah, lumpur, rumput ilalang dan pepohonan. Pola pembangunan yang mainstream ini sudah menjadi ciri khas bagi pembagunan-pembangun­a di perkotaan, entah itu pada kota bertaraf metropolitan ataupun kota yang hanya bertaraf town seperti pada ibu kota kabupaten. Betonisasi seolah telah menjadi sebagai pardigma bagi pembangunan di perkotaan meski sebenarnya memiliki aspek positif dan negatif, namun upaya dalam kontrol terhadap lingkungan adalah salah satu cara bagi manusia moderen untuk mendominasi alam. alam atau lingkungan yang menurut pandangan modernitas mengalami keadaan yang tidak teratur, memerlukan pengarahan dari agen antro/manusia untuk mengontrol dan mengendalikannya. Logika antroposentris pada pembangunan kota juga telah berdampak pada terkikisnya ruang-ruang hijau. Pepohonan yang telah tumbuh selama puluhan tahun di lokasi tersebut bisa saja dianggap sebagai penghalang proses pembangunan tata ruang kota, sehingga lahirlah konsekuensi Holocaust. Pohon, bebatuan, rumput ilalang, dan sebagainya yang dianggap mengganggu indahnya pemandangan di taman dalam logika ruang kota, tentu akan di singkirkan ibarat pembantaian pada jutaan nyawa Yahudi oleh Jerman Nazi. Holocaust pada alam telah menjadi ciri khas utama pembangunan kota dan tidak memerhatikan prinsip keseimbangan antara kebutuhan manusia dan alam. Polusi bertaburan di udara, populasi pepohonan mengikis serta daerah resapan air alami kini telah ditimbun oleh larutan beton. Akhirnya kota kini tidak hanya dilanda oleh bencana alam sebagai bentuk protes alam pada manusia seperti banjir namun juga masalah Sosial dan Psikis sebagai proyeksi dari realitas ruang kota yang ambur aduk dan tidak tertata rapu sesuai dengan asas keseimbangan kosmik.

# TAMAN KOTA DI TENGAH RUTINITAS PERKOTAAN
Disamping berbagai gejala yang melanda pola pembanguan kota yang cenderung timpang dan tidak berdasar pada prinsip keseimbangan yan telah berbua pada berbagai masalah baik itu dari segi lingkungan seperti banjir, masalah kesehatan medis seperti gangguan pernapasan akibat polusi industri, sampai masalah psikis dan sosial berupa masalah kejiwaan dan angka kriminalitas yang tinggi akibat pola keruangan yang dipenuhi oleh beton-beton dan kekumuhan dan aksebilitas yang rendah. Kota sekiranya telah menghadirkan suatu pola baru untuk menangani permasalah dalam menekan masalah psikis dan rutinitas yang begitu membosankan di tengah hiruk pikuk kemacetan, taman kota hadir ibarat juru selamat bagi masyarakat kota, yang memberikan ruang-ruang terbuka yang hijau dan sarana olah raga bagi keluarga-keluarga dan penduduk di kota. Selain sebaga lokasi olahraga taman kota juga dapat menjadi arena yang memanjakan mata bagi segenap entitas sosial yang memasuki taman tersebut entah itu para jomblo yang sedang melakukan pencaharian eksistensial ataupun para oknum libidonic. Taman kota bukan hanya sekedar sarana hiburan bagi jasmaniah namun kini ibarat bioskop tempat terpajangnya berbagai prodak yang memuaskan libido-mata kaum pria. Bisa kita lihat bagaimana taman kota dengan pluralitas jenis kelamin didalamnya dan keterbukaannya telah berbuah pada bentuk sublimasi tindakan entah itu sebagai tempat pacaran oleh pasangan yang sedang dimabuk cinta ataupun tontongan gratis kuota bagi si pecandu bokep. Bukankah ini adalah suatu masalah baru ataukah pola produksi dan reproduksi tata nilai baru yang justru makin memperburuk aspek moralitas di perkotaan. Kota dengan lingkup kapitalisme malah menjadi suatu ruang yang menjadi ajang normalisasi bagi anggota masyarakat sehingga tak lagi memiliki kesadaran kelas tuk bertindak revolusioner. Logika di batasi dan di atur dengan konsep-konsep keruangan taman kota yang siap mengembalikan para produk sub-sistem kembali kerutinitas Makro Sistem. Dengan itu dapat disimpulkan eksistensi taman kota hari ini tak lebih dari pabrik-pabrik untuk mereproduksi kepatuhan dan polaritas permanen pada kehidupan kota.

# INOVASI PADA TAMAN KOTA : MENUJU TAMAN KOTA YANG EDUKATIF DAN REVOLUSIONER
Melihat realitas taman kota yang kini ibarat candu bagi masyarakat kota dengan polarisitasnya tentunya sangat memerlukan inovasi baru untuk memperbaharui pola taman kota yang membosankan dan tidak lagi sebagai lokasi proyeksi libido para pecandu bokep yang tak punya kuota. Taman kota mesti didekonstruksikan kembali, perlu inovasi-inovasi pembaharuan di ruang taman kota agar lebih revolusioner. Taman kota mesti menjadi ruang kreasi, seni dan penyaluran ekspresi. Dari ruang yang sebelumnya hanya sebatas sebagai lokasi normalisasi bagi kehidupan kota ke ruang-ruang revolusioner yang membawa perubahan dan memberi warna baru bagi masyarakat. Di taman mesti diberi ruang-ruang seni, ruang orasi dan ruang baca. Buku dan literasi harusnya menjadi ciri dari taman-taman hasil dekonstruksi, yang memberikan daya kritisisme dan radikalisasi dalam berpikir pada setiap pengunjung taman. Dan yang mesti diperhatikan pula bagaimana aspek etika taman dimana para pengunjung juga mesti menggunakan fungsi taman selayaknya bukan secara semau dan sesuka keinginan hati dan nafsu seperti pada pemanfaatan taman sebagai tempat pacaran. Dengan itu mesti diperketat penjagaan oleh aparat keamanan dan etika berbusana di dalam taman. 
Dari ruang kita membangun, dari ruang kita membawa perubahan dan dari ruang kita revolusi keadaan yang timpang dan penuh eksploitasi. Maka dari itu ruang-ruang taman perlu diubah arah dan logika di dalamnya yang hanya sekedar ajang normalisasi ke ajang revolusioner. Bukankah ruang juga mempengaruhi karakter manusia ?
Maka mulai dari sekarang mari kita kampanyekan taman-taman radikal dalam proses pembangunan tata ruang di kota.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa