Manusia Itu Apa?


MANUSIA ITU APA?
Oleh Dinasty Dindra Pratama

 "Manusia mahluk unik! Manusia kenal esensi penciptaan maka harmoni yang dia idamkan, manusia tak kenal esensi eksploitasi yang ia jalankan".

Mungkin sebelumnya kita sudah sering mendengar kata ini, yakni Manusia! Mungkin ada banyak spekukasi, defenisi dan pengertian yang diberi untuk satu kata ini, mulai dari penjelasan mengenai suatu mahluk yang yang tergolong dalam dalam Genus Homo seperti pada pandangan kaum Biologis-Darwinian ataupun suatu mahluk yang mengalami proses eksistensial yang berkesadaran dalam rana Sartreanisme atau Filsafat Eksistensialisme, atau mungkin penggambaran suatu entitas hidup yang banyak dipengaruhi oleh dorongan Sex (ID) seperti dalam rana Psikoanalisis-Freudian.
Terlepas dari semua pengertian tersebut yang banyak dilandasi oleh asumsi Filosofis, Biologis dan Psikologis, manusia sebagai suatu entitas hidup yang ada serta melakukan proses peng-Ada-an di muka bumi ini melalui produksi serta Reproduksi kebudayaan, tentunya tidak serta merta hadir tanpa alasan yang jelas.
Dalam kajian-kajian Filsafat terutama dalam rana Filsafat Harmonisasi Eksistensi atau keberadaan manusia di dunia dipahami sebagai suatu kehadiran yang memiliki makna tersendiri. Filsafat Harmonisasi berusaha menyingkap makna atau esensi mendasar keberadaan manusia guna membangun relasi harmonis ditengah-tengah peradaban yang konon katanya sekarang ini telah measuki fase pasca modernitas (Post-modern). Melalui pengenalan akan potensi diri dari Manusia, kita sebagai seorang pengejar Maknawiah (Filsuf) dapat memahami apa yang menjadi komponen penting dalam diri manusia sebagai bagian dari hakikat penciptaannya di dunia.
Mungkin sebagian besar dari kita terkadang pernah merenungkan dan berusaha melakukan pengabstraksian dengan membayangkan unsur-unsur kemanusiaan dari manusia. Mulai dari potensi manusia untuk mengada (potensi eksistensial) yakni melalui jalan Berpikir dan sampai kepada Potensi manusia untuk berinteraksi dengan manusia lainnya (potensi Sosial). Manusia sebagai mahluk yang memiliki potensi dasar yang dalam kajian Antropologi di istilahkan dalam Tiga potensi alamiah manusia yakni Potensi atau Daya Cipta, Rasa dan Karsa memiliki peranan vital bagi terbentuknya suatu kebudayaan sebagai wujud pengoptimalan fungsi daya tersebut.
Lewat pengenalan Potensial diri Manusia yang sifatnya universal meliputi Potensi Cipta atau kemampuan Akal-Budi manusia untuk mengolah segala Input pengetahuan yang diperoleh daru alam Eksternal untuk selanjutnya di Proses agar menjadi produk Pikiran telah membawa kita pada suatu pengertian bahwa manusia bereksistensi di alam dunia lewat berpikir. Kemampuan berpikir manusia yang terus berkembang adalah salah satu aspek yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya berupa Hewan dan Tumbuhan, mengingat kebanyakan dua mahluk yang sudah disebutkan tadi lebih banyak mebgandalkan Naluri (Insting). Optimalisasi peranan Akal-Pikiran dalam sejarah peradaban manusia berkembamlng pesat di Eropa ketika era pencerahan (Aufklarung) tepatnya yakni sewaktu Rene Descartes seorang filsuf berkebangsaan Inggris, mendiktum "Co Gito Er Go de Sum" yang menandai bangkitnya akal pikiran sebagai suatu epistem utama dalam upaya pencaharian kebenaran, setelah berabad-abad lamanya dikurung oleh pemikiran dogma gereja (Eropa era The Dark of age). Optimalisasi potensi daya Cipta ini sangat penting sekali kiranya sebagai upaya manusia untuk menjawab ketakutan-ketakutan yang membelenggunya akan realitas alam yang acak dan tak berketeraturan. Dengan kemampuan berpikir manusia memproduksi selain produk pengetahuan juga produk kebudayaan material. Telah dilihat bagaimana dunia Moderen yang telah berlangsung mulai sekitar abad 17 M sampai sekarang ini, menjadi saksi bagaimana potensi akal atau Cipta manusia telah di fungsikan. Bagaimana ketakutan dijawab atau direspon dengan proyek Gilgamesh sehingga kini rasa ketakutan akan kematian bisa di atasi lewat resep-resep dokter yang bernafaskan sainstifik dan ber etika kan Ilmiah. Potensi berikutnya yakni Potensi Rasa telah mendorong manusia pada lahirnya jiwa Estetik, yang menghargai Keindahan sebagai suatu wujud proyeksi Perasaan yang bersumber dari Hati/Sanubari.
Rasa yang dituangkan dalam bentuk kebudayaan telah menampilkan corak perbedaan Kultur budaya pada tiap komunitas (etnis) di dunia. Bagaimana aspek estetik yang sifatnya kadang berbeda dari satu masyarakat dengan 2 masyarakat lainnya, memperlihatkan bagaimana pemahaman akan Estetika tubuh terhadap wanita masing-masing berbeda. Antara dunia Eropa misalnya dengan beberapa etnik di Afrika melihat kecantikan berbeda dimana masyarakat eropa pada umumnya lebih melihat unsur keindahan wanita pada lekuk tubuh yang ramping ibarat gitar spanyol. Sedang masyarakat di Afrika mungkin saja melihat kecantikan wanita pada tebalnya tubuh seseorang tersebut (Gemuk). Hal ini menandakan bahwa sejatinya potensi Rasa yang dimiliki oleh manusia tidak serta merta harus bersumber dari Hati sanubarinya, bisa saja estetika juga dapat bersumber dari suatu bentuk kebudayaan yang telah terobjektivikasi dan terwariskan dari setiap generasi. Namun yang paling penting tuk dipahami bahwa cikal bakal kelahiran Estetika atau Konsep keindahan tak bisa dilepaskan dari Hati sebagai bagian dari diri manusia yang memiliki potensi tuk merasa, merasa indahnya sesuatu hal, merasa baik dan buruknya sesuatu.
Potensi yang terakhir yakni potensi Karsa atau dorongan diri tuk berbuat, merupakan bagian dari potensi manusia yang memiliki andil besar sebab melalui potensi ini dua potensi sebelumnya yakni Potensi Cipta dan Poten Rasa dapat terimplementasikan secara kongkret baik itu dalam wujud tindakan ataupun kebudayaan material. Potensi Karsa bisa saja di gerakkan oleh dorongan Internal dalam diri seperti dorongan Libido Sex yang dalam Term Psikoanalisis-Freudian masuk dalam kategori ID, dimana unsur ketidak sadaran inilah yang banyak menggerakkan prilaku manusia menurut mainstream tersebut. Manusia yang mengalami proses konflik didalam jiwanya entah itu dari Hutan Rimba raya ID ataupun tekanan panser-panser takeshi berupa super ego akan berbuah pada melemahnya daya Ego untuk mensublimasi ataupun melakukan mekanisme perthanan ego. Hal ini dapat berbuah pada gejala penyakit kejiwaan pada manusia jika dibiarkan terus menerus larut dalam kedua badai terjang dari dua dorongan tersebut. Dorongan ID berupa Sex misalnya, jika tidak di proyeksikan dalam tindakan yang Konstruktivis seperti Pernikahan dalam Suatu keluarga, tentunya akan membawa individu tersebut pada diri yang bermasalah secara psikis sekaligus merugikan sosial kemasyarakatannya dalam bentuk tindakan yang menyimpang. Selain faktor internal berupa naluri seperti term Libido dalam Psikoanalisis, faktor eksternal seperti yang digambarkan tadi yakni Super Ego juga mengambil andil dalam memengaruhi jalannya fungsi dari potensi Karsa manusia. Manusia dengan realitas eksternal diluar dirinya berupa seperangkat aturan-aturan atau norma sosial yang terlembaga dalam suatu bentuk Hukum Formal seperti Undang-undang, juga sangat mempengaruhi gerak dari pola karsa manusia. Misalnya saja bagaimana tindakan manusia yang terwujud dalam disiplinitas di dunia militer sebagai buah dari aturan kedisiplinan yang ketat diterapkan didalamnya, ataukah bagaimana prilaku hidup mandiri, hemat dan giat bekerja oleh sebagian pemeluk agama protestan akibat dari pebgamalan etika hidup Calvinisme didalam kehidupan sehari-hari meraka. Itulah contoh bagaimana realitas eksternal yang ada diluar diri manusia begitu besar mempengaruhi pola karsa dari manusia itu sendiri, eksistensi hukum formal, moralitas publik serta etika-etika dari suatu sekte tertentu juga mempengaruhi prilaku seorang manusia.
Dari ketiga potensi teesebut yang masing-masing saling berkesinambungan menjadi ciri kemanusiaan dan eksistensi dari mahluk yang bernama manusia itu sendiri. Bagaimana suatu entitas manusia mendaya gunakan potensi tersebut tentu tidak serta merta membawa manusia pada pembentukan suatu peradaban yang tentram. Tercatat dalam sejarah dunia bagaimana dengan kemampuan manusia untuk mendayagunakan Rasio serta IPTEK telah membawa malapetaka berupa Perang Dunia 1 & 2. Telah disaksikan bagaimana manusia telah menghasilkan Holocaust-Birokratik guna menggenosida manusia lainnya yang dianggap "Yang lain" dalam suatu sistem. Austwitch dan Gulaq-Gulaq kerja paksa di Jerman dan Rusia hadir ibarat momok yang begitu menakutkan bagi para rumput liar yang masih bercokol di taman, tinggal menunggu mesin pemotong rumput untuk melalap habisnya. Dan bahkan sampai sekarang model Holocaust tersebut tetap berlangsung dalam kemasan yang lebih halus dan menggairahkan, baik itu dalam bentuk Mcdonaldisasi seperti penerapan mekanisme Rasionalitas Formal dalam rumah makan cepat saji (Fastfood) sampai kepada Tiktoknisasi yang menghadirkan kegirangan dan jogetan sebagai suatu bentuk kecanduan massal pada generasi milenial.
Berbagai gejala tersebut tentunya membuat kita seketiak diam seribu kata, dan mulai mempertanyakan kembali makna keberadaan manusia didunia ini! Apakah dengan potensi kemanusiaan itu sudah mampu dengan sendirinya menuntun manusia menuju peradaban yang harmonis? Atau sebaliknya, malah menggiring kita menuju suatu jurang kejatuhan sang panser besar yang begitu congkak!
Dari itu pengenalan esensi manusia mebawa kita pada suatu pemahaman Logis, bahwa eksistensi manusia didunia setelah pengenalan potensi diri juga perlunya pengenalan akan suatu Eksistensi yang Maha diatas segalanya. Suatu Eksistensi yang berdiri sendiri tanpa perlu suatu pendukung Ekstensi lainnya, suatu Eksistensi yang hadir sebelum Eksistensi-Eksistensi lainnya, Suatu Eksistensi yang ada dimanapun mespikum keberadaannya terkadang tidak di ketahui oleh manusia. Beberapa kalangan ada yang mengistilahkan Eksistensi ini sebagai sang Kausal Prima seperti pada kalangan Filosof dan Tuhan oleh kalangam Teolog. Dengan pemahaman akan diri yang dalam dan benar akan potensi Eksistensial, Potensi Sosial, Potensi dasad berula Cipta,Rasa dan Karsa ataupaun potensi Filosofis yang berusaha menggali makna akan hakikat realitas tentu jika disimpulkan akan membawa kita pada pengenalan Eksistensi tersebut. Pengenalan Eksistensi tersebut membawa kita pada bentuj tindakan aksioliologi didunia yang dipenuhi oleh rasa tanggung jawab. Dengan tuntunan Agama yang dibawakan oleh Nabi/Rasul, kira sudah semestinya menghiasi segala tindakan dengan amal ibadah dan kesadaran untuk beebuat baik, bukan hanya baik secara material (perbuatan) namun juga baik secara Immateria (Rohani), sebab kita sadar bahwa sudah menjadi hakikat penciptaan Raga dan jiwa manusia di arahkan pada hal yang baik.
Dengan pengenalan yang komplit ini diharapkan setiap orang yang menempu jalan hidul filsuf agar kiranya dituntun oleh cahaya Agama sebagai mana pengetahuan ini menyinari manusia yang membutuhkan pencerahan guna tak tersesat dalam rimba raya filsafat. Agama yang sumber pengetahuannya berasal dari Tuhan akan menggiring kita jika diimplementasikan secara benar dan sungguh-sungguh kedalam suatu kehidupan yang harmonis, suatu peradaban yang madani dimana dalamnya terhalanginya perbuatan keji dan gelap oleh pancaran cahaya yang menyinari hati setiap insan. Perbaikan Struktural yang dibarengi oleh peningkatan mutu manusia yang bersumber dan berpedoman pada pembangunan utuh diharapkan dapat menjadi langkah guna mewujudkan masyarakat yang Harmonis tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa