Sekelumit pertanyaan soal eksistensi Perempuan , Kultur, dan Toleransi

Sekelumit pertanyaan soal eksistensi Perempuan , Kultur, dan Toleransi
                     Oleh : Rini Ajeng Dhya Pertiwi


Menjadi seorang perempuan tidaklah mudah kawan.
Kau harus dibenturkan pilihan, ingin menjadi merdeka? atau ingin menjadi budak patriarki seterusnya?
Semua pilihan itu tidak lain dan tidak bukan akibat ulah Kultur yang merajalela. Kultur itu sendiri merupakan budaya atau aturan-aturan yang dibuat oleh masyarakat yang biasanya mengatur gerak masyarakat, yang diwariskan secara turun temurun. Yang jika dilanggar akan mendapatkan sanksi yang biasanya ada yang bersifat tertulis ada pula yang bersifat lisan atau biasa disebut sanksi moral.


Selain dari itu Konstruksi sosial masayarakat yang candu dengan dogma-dogma patriarki semakin membuat perempuan kini kongkalingkong untuk mendapatkan kemerdekaannya.


Katanya kemerdekaan ialah hak semua insan?
Lantas bagaimana dengan para puan yang masih terjerat oleh penjara kultur baik lisan maupun tulisan?
Hantu-hantu konstruksi budaya itu semakin hari semakin membuat perempuan kehilangan kendali untuk berjuang. Tidak hanya itu, lucunya kultur juga membuat perempuan kehilangan hak kebebasan untuk menjalankan hidupnya.
Dan bagaimana dengan kalimat “maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan?”
Tapi pada realitanya justru kultur lah yang menjajah kita sendiri, kultur itu sendiri yang kadang tidak sesuai dengan perkemanusiaan dan perikeadilan. Bahkan kultur sendiri yang kadang merenggut masa kebebasan hingga masa depan seseorang terkhusus perempuan.
Lalu bagaimana dengan kemanusiaan yang dimaksud?
Apakah kemanusiaan hanya sebatas mempertahankan, menyelamatkan, dan mengasihi seseorang yang terkena musibah saja? Apakah kemanusiaan tidak berlaku pada orang yang melawan pada kultur?
Sedikit menjelaskan tentang kemanusiaan menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia) mengatakan bahwa kemanusiaan ialah sifrat-sifat manusia yang menentang perbuatan terkutuk. Dan hal ini menurut saya sikap-sikap yang selalu menggunjing, menghujat setiap perilaku dan penampilan seseorang apalagi seorang perempuan merupakan sikap yang sangat terkutuk dalam kebebebasan menjalani hidup yang dianut oleh setiap orang. Apalagi dilandasi dengan alasasn tidak sesuai dengan kultur. Sangat tidak rasional!!!
Mengapa kultur sejahat itu?
Mengapa perempuan harus terikat dengan aturan yang keluar dari mulut manusia yang tidak mementingkan dampak kedepannya bagi kebebasan perempuan?
Apakah kultur mengajarkan kita bahwa perempuan Harus tunduk pada laki-laki? Apakah kultur mengharuskan perempuan harus bersifat lembut? Apakah perempuan harus tenang? Apakah perempuan yang baik itu harus menjaga jarak dengan laki-laki sekalipun hal itu tidak akan menimbulkan syahwat bagi mereka? Apakah perempuan tidak boleh bersuara lantang? Apakah perkataan buruk hanya lazim diucapkan oleh laki-laki?
Lantas bagaimana dengan perempuan yang pada dasarnya sukar untuk diam? Bagaimana dengan perempuan yang hyperaktif? Bagaimana dengan perempuan yang memiliki sifat yang berbeda dengan perempuan lainnya? Apakah perempuan seperti itu akan diasingkan dari lingkunngan masayrakat karena tidak sesuai dengan kultur yang berlaku?
Bagaimana dengan perempuan yang selalu berkata kasar? Apakah perempuan itu pantas di cap sebagai perempuan hina dan tidak tahu malu? Lantas apa bedanya dengan laki-laki yang seperti itu? Kenapa jika laki-laki yang berkata kasar hanya dibiarkan bahkan dianggap lumrah?
Apakah kultur sekejam itu?
Bukankah tuhan menciptakan kita dalam sebaik-baiknya bentuk? Lantas apa gunanya toleransi hadir jika kultur masih membatasi setiap kebebasan perempuan? Bukankah toleransi hadir untuk menetralisir segala konflik yang terjadi karena perebedaan?


Toleransi di negara multicultural ini masih sepenuhnya belum maksimal. Kultur membuat hak-hak manusia jadi terbatas, alhasil kebebasan masih sepenuhnya belum terimplementasikan dengan baik. Walhasil masih banyak perempuan yang harus menanggung sanksi moral akibat dari kultur yang kerap kali mereka langgar. Dan membuat laki-laki seolah-olah puas mengatur bahkan menghujat perempuan yang sikap dan sifatnya tidak sejalan dengan kultur yang berlaku.


Jika hal tersebut masih berlaku, lantas buat apa toleransi itu hadir? Apakah toleransi hanya sebatas memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk memeluk keyakinan dan agamanya masing-masing tanpa ada intervensi? Apakah toleransi hanya sebatas untuk agama saja?
Bahkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mengatakan bahwa toleransi secara istilah berarti menghargai, membolehkan,membiarkan pendidiran pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya yang lain atau yang bertentangan dengan pendirinya sendiri. Disini dapat kita lihat bagaimana toleransi membiarkan kebiasaan dan kelakuan manusia agar dapat menjalankan hidup dengan tenang tanpa harus merugikan orang lain.


Menjadi merdeka ialah hak semua insan, bukan hanya untuk laki-laki atau sekelompok oknum yang lain. Tuhan menciptakan manusia dengan keunikan masing-masing sudah sepantasnya kita menerima setiap perbedaan itu. Dengan memanfaatkan keberagamaan yang ada akan muncul peluang untuk mensejahterakan dunia yang tidak karuan ini.


Yah kita berbeda, tidak ada hak untuk kalian menghakimi satu sama lain yang tidak sejalan dengan kultur bahkan pemikiran individu mu sendiri.


Teruntuk perempuan yang berlawan tetaplah jadi dirimu sendiri, yang apa adanya dan merdeka.

Girl Support Girl masih sangat dibutuhkan, tidak jarang diantara kita saling berkonflik sesama perempuan , padahal sesama perempuan kita harus saling menguatkan bukan saling menjatuhkan. Apalagi sampai mengaamiinkan kultur yang sangat meresahakan.


HIDUP PEREMPUAN YANG MELAWAN!!!
PANJANG UMUR PEREMPUAN YANG MEMPERJUANGKAN HAK-HAK NYA UNTUK MERDEKA!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa