KONFLIK BERSAUDARA ANTARA ISRAEL DAN PALESTINA, ORANG TUANYA KEMANA?

KONFLIK BERSAUDARA ANTARA ISRAEL DAN              PALESTINA, ORANG TUANYA KEMANA? 
                               Oleh : Zakaria Ibrahim


Konflik bersifat inheren dalam perjalanan kehidupan manusia. Kemunculannya selalu dipicu oleh adanya perbedaan. Oleh karenanya, dalam menyelesaikan konflik kita harus lebih mencari persamaan, dan menyampingkan perbedaan. 


"Mereka yang bukan saudaramu dalam seiman, adalah saudaramu dalam sekemanusiaan" demikian ungkapan Ali bin Abi Thalib. Sehingga tidak ada alasan untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain atas dasar perbedaan. Sebab sejatinya kita memiliki kesamaan. 


Membela Palestina dan mengolok-olok Israel, atau sebaliknya tetap tidak dibenarkan. Menang dalam konflik akan melahirkan keangkuhan. Sebaliknya, pihak yang kalah akan melahirkan dendam. 


Selama ini, penyelesaikan persoalan hanya pada sampai ranting masalah. Kita perlu menyelam sampai pada akarnya. Sebab, konflik sosial sebagai reproduksi masyarakat tidak hadir begitu saja. Ia adalah kulminasi dari lingkungan dan watak manusia. 


Menurut Durkheim, lingkungan eksternal sangat mempengaruhi individu. Arttinya, jika lingkungan sosial mengajarkan seseorang pada kebencian terhadap kelompok lain maka ia akan tumbuh menjadi sosok pembenci. Mengajarkan anak-anak cinta Palestina dan benci Israel adalah doktrin yang tidak tepat. 


Ajarkanlah membenci kekerasan dan mencinta pada kebaikan.
Sebab kekerasan bisa bersumber dari mana saja, termasuk dari Palestina Dan kebaikan juga bisa datang dari mana saja, termasuk dari Israel. Sebab menurut Aguste Comte masyarakat itu dinamis. Artinya, Israel bisa nampak jahat sekarang namun sewaktu-waktu ia dapat berubah, begitupun dengan Palestina. 


Israel dan Palestina merupakan dua bersaudara yang tinggal serumah (sewilayah). Mereka berdua sedang memperebutkan tanah warisan dari orangtuanya (penjajah). Sebab sebagai bangsa, kedua-duanya adalah bangsa yang pernah terjajah dan terusir.


Konflik Palestina dan Israel tidak pernah akan selesai jika mereka tidak diakurkan oleh orangtua (bekas penjajah) dan keluarga-keluarganya (negara-negara dunia). Hak dan kewajiban mereka berdua harus diatur oleh keluarganya. Negara-negara dunia harus menjadi mediator untuk memberhentikan konflik kekerasan, agar mereka berdua tidak tenggelam dalam kebinasaan 


Suatu bangsa terjajah tidak akan pernah menyerah sebelum mereka mencapai kemerdekaannya. Kita telah belajar dari sejarah penjajahan di dunia, khususnya Indonesia, dimana rakyat selalu melawan terhadap tindakan-tindakan penjajahan dan perampasan. 


Sebagai bangsa Palestina tidak mungkin hilang. Mereka terlanjur ada sebagai bangsa dan pasti akan selalu ada. Tidak ada bangsa yang bisa dihilangkan melalui peperangan bahkan geneosida sekalipun. Sebagaimana kaum Yahudi yang pernah dibantai habis-habisan oleh Nazi Jerman. Namun sebagai bangsa mereka tidak hilang, dan tetap ada. 


Salah satu cara mendamaikan mereka adalah memberikan kemerdekaan atas wilayah mereka masing-masing sesuai dengan yang diakui oleh orangtua dan keluarga-keluarganya, dalam hal ini negara-negara di dunia (PBB). Jika bangsa penjajah tetap menolak, maka selama itu konflik akan berlangsung. 


Seharusnya bangsa-bangsa yang pernah terjajah bersatu melepaskan Palestina, dan bangsa lain yang terjajah dari penjajahan. Mengapa? Karena mereka sama-sama pernah mengalami pahitnya keterjajahan. Mereka sama dalam kesejarahan yang tidak menguntungkan. 


Tidak ada bangsa yang merasa bangga dengan keterjajahan mereka. Justru keterlepasan mereka sebagai bangsa terjajah selalu diperingati sebagai hari kebahagiaan, hari kemerdekaan. Termasuk Indonesia, Israel dan negara yang pernah terjajah lainnya. 


Tapi, naasnya justru Israel sebagai bangsa yang pernah terjajah tidak merasakan dan melupakan kesamaan nasib demikian. Justru mereka bangkit menjadi Negara penjajah, pembunuh dan pembantai. Sebagai seorang manusia, Israel sedang dalam masa kegelapan hati yang membutuhkan perawatan. Sebab sikap kesombongan dan keangkuhan tidak baik bagi tubuh dan kehidupan. 


Untuk mendamaikan dua saudara yang bertikai ini, kita membutuhkan peran akomodasi. Khususnya akomodasi yang melibatkan peran pihak ketiga, seperti mediasi, arbitrase. Konflik bersaudara ini membutuhkan intervensi dari orangtua dan keluarga, dalam hal ini negara-negara dunia. Konflik ini semakin rumit jika keluarga-keluarganya (negara-negara dunia) mengambil keuntungan dari pertikaian bersaudara ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa