RAGAM PARADIGMA DALAM MEMAKNAI ULANG BENCANA.
RAGAM PARADIGMA DALAM MEMAKNAI ULANG BENCANA
Oleh : Akbar
Jauh sebelum dunia ini menjadi modern, awalnya bangsa Yunani dan bangsa lainnya memiliki pola pemikiran Mitosentris (Mitos) yang beranggapan bahwa semua kejadian di dunia ini dipengaruhi oleh para Dewa. Untuk itu, para Dewa harus dihormati, ditakuti dan disembah.
Misalnya saja kejadian alam seperti gerhana yang dianggap sebagai kegiatan dewa yang tertidur, gemuruh petir dan hujan dianggap karena kehendak dewa langit dan bencana-bencana alam lainnya selalu dimaknai sebagai kemarahan dan kemurkaan dewa terhadap manusia.
Kondisi Masyarakat demikian, sepertinya masih diamini oleh sebagian besar masyarakat kita bahwa Bencana Alam yang terjadi akhir-akhir ini tidak lain karena Kemurkaan atau Azab dari Tuhan yang diwujudkan dalam bentuk Bencana. Pola pikir atau cara pandang demikian, dapat kita sebut dengan Paradigma Teologi, dimana Manusia memposisikan Tuhan sebagai pusat Kekuatan dan kekuasaan sehingga manusia harus tunduk terhadapnya. Pandangan demikian menurut penulis sah-sah saja, sebab semua yang terjadi tentu atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.
Namun Paradigma ini, justru kerap kali disalahartikan masyarakat, sehingga menjadi alat untuk menghakimi atau melabeli masyarakat tertentu yang menjadi sasaran Bencana, mereka dicap sebagai golongan yang dimurka atas perintah tuhannya. Disisi lain, Paradigma Teologi Teosentris juga terkesan menyalahkan kehadiran tuhan sebab Bencana bencana selalu dianggap sebagai Takdir dan Ujian dari Tuhan.
Cara pandang melihat bencana dengan kacamatan Teologi Teosentris juga justru seolah-olah menafikkan keterlibatan Manusia sebagai penguasa bumi. Sebab secara logika dasar, Bencana juga berpotensi disebabkan oleh perilaku manusia. Lalu Bagaimana Memandang Bencana dari Kacamata Manusia ?
Paradigma Antroposentris
.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ada dua jenis Bencana, bencana yang secara Alamiah dan Bencana dengan campur tangan manusia. Pandangan yang melihat Bencana datang sebab perilaku manusia penulis sebut sebagai Paradigma Antroposentris yaitu memusatkan manusia sebagai musabab terjadinya Bencana, meskipun manusia tidak memiliki kehendak penuh terhadap sesuatu seperti yang dimiliki oleh Tuhan.
Dalam Konsep Kausalitas (Sebab Akibat), suatu bencana terjadi karena ada hubungan antara suatu kejadian (sebab) dan kejadian kedua (akibat) yang mana kejadian kedua dipahami sebagai konsekuensi dari kejadian pertama. Menurut penulis, jika menggunakan Konsep Kausalitas sebagai pisau analisis bencana, maka Tuhan memiliki andil tunggal dan manusia memiliki andil ganda. Andil tuhan yang tunggal adalah memposisikan tuhan sebagai wujud yang memiliki kemampuan mencipta sesuai kehendaknya sehingga disifati sebagai Pelaku bukan Sebab. Andil Ganda yang melekat pada diri manusia karena manusia dapat menjadi Aktor (Pemicu) dan Pencegah Hambatan terjadinya Bencana tergantung bagaiaman manusia menggunakan Perannya di Bumi ini.
Bencana Dalam Paradigma Sosial
Dalam Kacamata Teori Fungsional Struktural, Bencana dianggap sebagai satu kesatuan keseluruhan kehidupan alam semesta. Meskipun Bencana tidak menjadi objek makro dalam teori sosial, alam (lingkungan) berada pada posisi sebagai arena berkembangnya ilmu pengetahuan dan Lahirnya Budaya. Sehingga bagi penulis menjadi sesuatu yang menarik jika mengaitkan Kehadiran Alam dengan Perilaku Masyarakat.
Teori Fungsional Struktural versi penulis adalah melihat Dunia sebagai sebuah Sistem Kehidupan yang terdiri dari beragam elemen-elemen didalamnya yang kemudian bergerak secara dinamis (terus berubah). Elemen-elemen yang dimaksud penulis adalah Alam, masyarakat dan kehadiran tuhan. Tiap-tiap elemen ini masing-masing memiliki fungsi dan peran yang saling mempengaruhi dan bergantung satu sama lain menuju Balance Of Life (Keseimbangan Kehidupan) Alam semesta. Asumsi dasarnya adalah apabila salah satu elemen terganggu atau disfungsi (tidak menjalankan fungsi dan perannya dengan baik) maka akan mempengaruhi elemen-elemen yang lainnya.
Oleh karena itu, ketika terjadi Bencana maka asumsinya adalah ada salah satu atau beberapa elemen kehidupan semesta yang mengalami gangguan atau disfungsi secara struktural. Dalam konteks Fenomena Bencana Alam misalnya, karena manusia menebang pohon secara liar maka akan menggangu ekosisem atau penyerapan air hujan sehingga terjadi Tanah Longsor dan Banjir. Jika Socrates menganalogikan sistem sosial seperti tubuh manusia dimana tiap bagian organ tubuh yang ada masing-masing fungsional, maka penulis menganalogikan Alam Semesta ini sebagai Sistem Kehidupan, dimana untuk menciptakan bumi yang aman diperlukan Peran masing-masing elemen didalamnya (Alam, Manusia dan Tuhan).
Jika Teori Fungsional Struktural memandang Alam sebagai satu kesatuan dari kehidupan sosial dan tuhan, lalu bagaimana Konsep Bencana dalam Kacamata Teori Konflik ? Meminjam Konsep Teori Konflik yang diperkenalkan oleh Ralf Dahrendorf, seorang sosiolog, filsuf, ilmuwan politik sekaligus politikus liberal Jerman-Britania yang menjelaskan dan menganalisis pembagian kelas di masyarakat modern. Dalam buku Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma yang ditulis Prof Dr. IB Wirawan, konsep sentral teori konflik Dahrendorf berkaitan dengan Wewenang dan Posisi. Baginya, distribusi kekuasaan dan wewenang secara tidak merata menjadi faktor yang menentukan konflik sosial secara sistematis. Dahrendorf mengatakan bahwa kekuasaan dan otoritas merupakan sumber-sumber yang menakutkan karena mereka yang memegangnya memiliki kepentingan untuk mempertahankan status quo.
Jika konsep teori ini dikaitkan dengan Fenomena Bencana alam, maka konflik yang dihasilkan bukan lagi pada tataran konflik sosial tetapi konflik alam. Maksud penulis, dalam teori konflik, alam dijadikan sebagai komoditas yang dikuasai, dipunahkan dan diperjual belikan, alam menjadi nilai yang menguntungkan bagi manusia sebagai penguasa. Konflik yang terjadi tidak lagi antara manusia dan beberapa kelompok, lebih dari itu. Bumi menjadi arena pertarungan konflik antara manusia dan alam. Tindakan eksploitatif yang dilakukan oleh golongan manusia terhadap alam sama halnya tindakan manusia yang mengundang malapetaka bagi dirinya sendiri. Kondisi ini kemudian terus berlanjut sehingga sampai pada detik-detik Ledakan Bom Waktu itu. Pada waktu tertentu, alam marah dan memenangkan konflik dengan menelurkan Bencana Alam.
Pola konflik ini bagi penulis nampaknya akan terus berlanjut, sebab Golongan yang bertetangan akan terus eksis dengan wewenang, peran dan kekuasaannya masing-masing. Seperti Teori Fungsional Struktural yang selalu menuju pada keteraturan dan keseimbangan kehidupan, alam seakan menjadikan Bencananya sebagai petanda dan menegaskan bahwa dia juga hidup dan ingin mempertahankan kelangsungannya. Teori Konflik melihat alam berusaha menyeimbangkan kerancuan alam dengan melampiarkan murkanya terhadap manusia.
Belajar Dari Bencana
Secara geografis, Indonesia memijaki posisi yang rawan akan Bencana dimana pertemuan tiga lempeng besar dunia, Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Indonesia juga dilalui oleh dua jalur pegunungan besar dunia, pegunungan Sirkum Pasifik dan Mediteria oleh karena itu cukup banyak gunung yang aktif di Indonesia. Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada 3.814 bencana tahun 2019 dan 2.925 bencana terjadi tahun 2020. Meskipun jumlahnya menurun, bencana alam yang baru-baru ini terjadi sudah membuat Pemerintah Kewelahan. Dengan catatan panjang Bencana Alam yang terus menerus terjadi, nampaknya belum membangunkan kita sepenuhnya untuk sadar, bahwa Antisipasi Penanggulangan Bencana Indonesia jauh dari kata siap. Belum lagi baru-baru ini, BNPB mencatat sebanyak 197 bencana terjadi pada Januari 2021.
Tiap tahun dan tiap peristiwa bencana, kita selalu di perhadapkan dengan narasi yang selalu sama dan tidak berubah. Kita tidak mau belajar dalam hal manajemen bencana. Meskipun pemerintah sudah mendirikan BNPB sebagai lembaga yang bergerak dan terfokus pada Bencana dimana dalam Peraturan Kepala BNPB No 4 Tahun 2008 menjelaskan ada tiga tahap manajemen Bencana yaitu, tahap Pra Bencana, Tanggap Darurat dan Pasca Bencana. Meski demikian, aturan ini masih sebatas teks semata. Kita masih saja mengidam pola pikir kolot yang terkesan menunggu dan bertindak pada saat Tanggap Darurat dan pasca bencana. Penulis menilai Pemerintah tidak pernah serius dalam menyiapkan segala sesuatu pada tahap Pra Bencana, meskipun jumlah alokasi anggaran cukup besar.
Mengutip Kompas.Com, anggaran Mitigasi Bencana 2020 sebesar 4 Trilliun hingga 5 trilliun. Padahal pada tahap ini kita dapat menekan resiko akibat bencana jika mampu memanfaatkan anggaran tadi dengan optimal pada tahap Pra-Bencana. Dengan sekelumit kelambanan (ketidakcekatan) sikap kita dalam menghadapi bencana, sebenarnya kita tidak perlu terlalu jauh memikirkan bagaimana agar efektif dalam mencegah bencana alam, khususnya bencana akibat Perbuatan Manusia.
Yang Lebih Memilukan Dari Bencana Alam
Gempa Bumi yang mengguncang Mamuju dan Majene pada awal Januari 2021, menelan korban jiwa dan kerusakan materil yang tidak sedikit. Informasi terbaru BNPB, sebanyak 105 korban meninggal, 3 orang dinyatakan hilang, 6.489 luka-luka dan ribuan warga mengungsi. Beberapa hari yang lalu, penulis berkesempatan berkunjung ke titik bencana dan pengungsian. Selain jejeran bangunan dengan kondisi beragam, penulis juga menemukan pemandangan memilukan di Halaman Gedung Rumah Jabatan Bupati Majene.
Pemandangan memilukan itu adalah sekumpulan tumpukan donasi hasil dari empati masyarakat luas. Penumpukan itu dengan alasan masih menunggu pendataan dari pihak berwenang sebelum dibagikan dengan dalil agar tepat sasaran dan tidak double. Namun bagi menulis, ketertiban administrasi disituasi seperti ini sangat tidak tepat dan amat keliru. Selain karena situasi yang darurat dimana donasi itu (sembako dan kebutuhan lainnya) sudah sangat diperlukan oleh korban terdampak bencana, menunggu penyelesaian pendataan korban juga menjadi bukti ketidaksigapan Pemerintah setempat dalam tanggap dan setelah bencana. Bagi penulis penumpukan bantuan mengesampingkan sisi kemanusiaan pemerintah yang kemudian penulis sebut dengan Bencana Sosial. Sehingga hal yang lebih memilukan dari Bencana Alam adalah Bencana Sosial.
Menghidupkan Kembali Kearifan Lokal Ekologi
Bagi penulis tidak perlu belajar Manajemen Bencana dari negara-negara maju yang berlomba-lomba membangun menara tinggi anti bencana dan segala macamnya seperti yang dilakukan Jepang dan Belanda. Dengan keragaman suku dan kearifan lokal Indonesia, kita bisa dan semestinya belajar bagaimana memperlakukan alam sebagai kawan hidup.
Misalnya saja Suku Kajang yang terletak di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Suku Kajang sampai hari ini masih mempertahankan kearifan lokal dan nilai-nilai budaya yang mencintai alam. Mereka menganggap hutan selayaknya ibu sendiri karena itu alam sangat dihormati dan dilindungi. Warna hitam yang juga sangat identik dengan Suku Kajang, memiliki makna bagaimana memperlakukan lingkungan dan melestarikan hutan.
Masyarakat Suku Kajang memandang hutan sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga kelangsungannya. Untuk menjaga alam agar tetap lajang, Suku Kajang membuat aturan yang dituangkan dalam Hukum Adat yang disebut Pasang Ri Kajang. Hukum adat ini berisi larangan menebang pohon tanpa memiliki izin dari pemangku adat setempat dan untuk menebang pohon harus menggunakan kapak atau alat sederhana lainnya. Tiap pelanggar hukum adat akan dikenakan sanksi yang telah ditentukan oleh Ammatoa.
Paling tidak, bagaimana cara Suku Kajang dalam memperlakukan alam menjadi referensi dan paradigma terbaharukan yang sudah seharusnya kita gunakan agar bencana dan kerusakan alam bisa dihindari. Hemat penulis, sudah saatnya pendidikan nilai-nilai kearifan lokal kita terapkan baik dalam pengambilan keputusan pemerintah maupun juga dalam kehidupan sehari-hari. Namun yang dilakukan oleh pemerintah kita akhir-akhir ini berbanding terbalik dengan nilai-nilai kearifan lokal, alih-alih pemerintah mengakampayekan Konsep Pembangunan Ramah Lingkungan dan turut berkomitmen menciptakan Ekosistem Biru ala Jokowi, faktanya pemerintah justru melonggarkan segalanya terkhusus bagi perusahaan dan pemilik modal untuk menggoalkan kepentingannya, sehingga komitmen menjaga lingkungan hanyalah sebatas Narasi Konyol yang pada kenyataanya malah membabat habis alam.
Untuk menyalamatkan Indonesia, sudah seharusnya Konsep Pembangunan Ramah Lingkungan digalakkan dengan penuh kesadaran oleh pemerintah dan mendapatkan kontrol ketat oleh masyarakat publik.
Oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis hendak menyampaikan bahwa Bencana Alam tidak mesti selalu dianggap sebagai amarah tuhan semata, sebab bencana juga dapat datang akibat tangan manusia. Bencana harus dimaknai sebagai bentuk kebesaran tuhan, keinginan alam agar dijaga demi kelangsungan hidup semesta alam. Penulis berpandangan, untuk apa sibuk membangun kehidupan baru di planet lain, jika kita mampu memperbaiki dan mempertahankan bumi kita sendiri. Bukankah Allah sendiri telah menyatakan, suatu kaum tidak akan berubah kecuali mereka sendiri yang melakukan perubahan itu.
Keramahan akan dibalas dengan Keramahan, Alam dan Manusia Berdamailah.
Komentar
Posting Komentar