Pelayanan terakhir.
Pelayanan terakhir
Oleh : Magfirah Basri
“Kau tampak beda malam ini sayang”.
Lebam di wajahnya sudah sepenuhnya ditutupi oleh riasan tebalnya. Padahal beberapa jam lalu, masih segar bekas pukulan tangan suaminya itu
“Layani aku malam ini”. Reza berkata sambil memeluk perempuan yang dia cintai itu dari belakang. Meskipun tidak jarang dia memukulinya tanpa ampun.
Tidak ada jawaban. Hanya suara pisau mengenai talenan yang mengisi ruangan. Perempuan itu dari tadi memotong berbagai macam sayuran dan daging. Entah untuk apa semua itu, karena sekarang sudah pukul sebelas malam. Sudah terlalu larut untuk sebuah makan malam romantis.
“Kau tidak akan menjawabku?” Reza tetap menunggu meskipun permintaan awalnya di abaikan.
Perempuan itu menghentikan aktivitas memotongnya.
“Menjauh dariku sebelum ikut kupotong jari-jari busukmu itu”. Dia melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti.
“Rupanya pukulan yang tadi masih belum membuatmu sadar”. Kini Reza melepaskan pelukannya dan ikut berdiri di samping perempuan itu lalu dengan kasar menarik rambut hitam indahnya.
“Kau ingin melayaniku malam ini atau kau harus memakai riasan tebalmu setiap hari”. Dia mengatakannya dengan sedikit berbisik di samping telinga istrinya.
Sebelumnya, dia akan selalu mengaduh kesakitan dan meminta pengampunan sambil berlutut di depan suaminya. Tapi, ada yang berbeda malam ini. Dia hanya tetap diam sambil menatap dalam-dalam ke mata suaminya, seakan pisau tajam yang siap menusuk keluar dari matanya.
“Aku mencintaimu sayang. Ini akan menjadi malam terakhir aku melayanimu”. Tatapan matanya yang kuat tadi, kini berubah menjadi bergairah. Seakan dia akan bersenang-senang sepanjang malam.
Mendengar pengakuan istrinya, tentu saja membuat Reza luluh dan melepas rambut istrinya yang tadi dia tarik kemudian merapikannya kembali.
Tapi, sesuatu yang tidak pernah dia duga justru terjadi.
Saat dia menurunkan tangannya, perempuan itu dengan sigap menariknya dan meletakkan di atas talenan lalu memotongnya dengan pisau besar yang dari tadi tidak pernah ia lepas.
“Aaaaaaa ... Dasar perempuan Jalang”.
Teriakan dan kata umpatan refleks keluar dari mulut Reza. Tapi, itu belum cukup untuk mengekspresikan kesakitan yang dia alami sekarang.
Dia dengan cepat mencari apa saja yang ada di sekitarnya dengan sebelah tangannya yang masih utuh untuk memukul istrinya.
Tapi, keadaan sedang tidak berpihak kepadanya. Di sekitarnya tidak ada benda tumpul ataupun benda keras yang mampu menyakiti istrinya. Hanya ada seikat sayuran layu dan daging-daging yang sudah tercincang rapi.
Perempuan yang beberapa menit lalu masih cantik dengan riasan tebalnya kini berlumuran darah. Dia tiba-tiba berjongkok tepat di depan suaminya yang sudah terduduk lemas di lantai sedang menahan sakit sambil berbisik ke telinganya
.
“Bukannya tadi kau yang minta aku untuk melayanimu? Beginilah caraku melayani”
Lantai mahal yang terbuat dari keramik, sekarang sudah dipenuhi darah sang suami yang tidak berhenti mengalir.
Wajahnya sudah pucat karena darah mengalir dengan deras. Di sekitar tubuhnya sudah seperti air yang menggenang setelah hujan deras. Bedanya, di atas lantai ini bukan hanya air, melainkan darah segar yang masih mengalir deras.
“Apa maumu?” di sela-sela nyawa terakhirnya dia masih bisa bertanya dengan nada angkuh.
“Ini mauku. Melihatmu perlahan mati di depan mataku”. Kata perempuan itu sambil menyunggingkan senyuman penuh kemenangan.
“Kau bukan istriku.”. Kata Reza yang masih tidak percaya kalau istrinya yang selama ini dia kenal mampu memisahkan tangan dengan lengannya hanya dengan sekali hentakan pisau.
“Aku memang tidak pernah mengatakan bahwa aku ini istrimu. Sudah lama aku terperangkap dan hanya bisa melihat kau menyiksanya. Tapi, hari ini aku berhasil keluar. Berarti itu juga menjadi hari terakhirmu melihat wajah istrimu ini”.
“Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Aku ini mencintaimu. Tolong panggil ambulans” katanya dengan nada putus asa.
Dia sepertinya sudah memahami situasi. Dia ingat betul kalau istrinya pernah mengatakan memiliki orang lain di dalam dirinya. Tapi, dia tidak pernah benar-benar mempercayai hal itu. Hampir sepuluh tahun mereka hidup bersama, dan tidak jarang dia menganiaya istrinya. Tapi, kepribadian lain itu tidak pernah menampakkan diri. Meskipun rasa hati-hati selalu ada kalau sampai kepribadian itu mengambil alih.
“Kau pikir aku sebodoh istrimu? Aku tidak akan pernah memberi kesempatan bagi laki-laki sepertimu. Kau pantas untuk mati”.
“Tolong ... Siapa pun tolong aku.”. Dia tiba-tiba berteriak untuk meminta pertolongan. Hanya itu jalan satu-satunya yang ada di pikirannya untuk menyelamatkan nyawanya.
“Ha ha ha ha”. Bukannya menutup mulut Reza, perempuan itu malah tertawa dengan sangat kencang. Tawa yang cukup mengerikan. Bahkan Reza pun belum pernah mendengarnya.
“Sepertinya kau lupa siapa yang membangun tembok kedap suara di rumah ini Reza. Biar aku beri tahu. Kau sendiri yang membangunnya agar kau bisa bebas menyiksa istrimu tanpa terdengar oleh orang-orang jika dia berteriak meminta pertolongan”.
Tidak ada yang akan mampu menyelamatkannya. Malam ini dia sudah berakhir. Tidak ada lagi Reza sang suami yang selalu memukul istrinya tanpa ampun kalau sedang di puncak emosi. Sudah tidak ada juga Rika sang istri yang dia kenal lemah lembut dan menyayanginya meskipun selalu di hajar olehnya.
“Kau malam ini, tidak secerewet biasanya. Kenapa? Kau sedang putus asa?” Perempuan itu sekarang sedang melanjutkan aktivitas memotong sayuran di atas talenan yang di penuhi oleh darah Reza.
“Dasar perempuan gila”. Lagi-lagi hanya kata umpatan yang bisa dia keluarkan. Sudah tidak ada tenaga yang mampu menopang tubuhnya untuk menghajar perempuan itu.
“Kau bisa mengumpat sampai darahmu habis. Aku akan mengizinkannya. Anggap saja, itu hadiah dariku”.
Bukannya mengeluarkan semua kata kasar yang dia miliki, dia memilih untuk menangis. Rasa menyesal telah bercampur dengan sakit yang ada di tangannya. Malam ini dia menemukan kesialan setelah begitu lama hidup dengan istrinya. Lantai mahal dari rumah itu, sekarang sudah dipenuhi oleh darah segar.
AC yang menyala menyebarkan bau amis darah segar ke seluruh sudut ruangan. Perempuan itu menyukainya. Itu membuatnya semakin bersemangat. Mampu membangkitkan suasana hatinya.
Pemilik asli tubuh itu, tidak boleh mengambil alih kembali tubuhnya. Atau tidak dia akan hidup penuh rasa bersalah karena telah membunuh suaminya sendiri.
Dia tidak akan pernah sekejam itu kepada suaminya. Meskipun sering dia dipukuli habis-habisan. Dia akan segera luluh jika mendapat perlakuan istimewa sederhana lagi dari suaminya. Karena dia orang yang merindukan kasih sayang. Jadi, sedikit saja keistimewaan yang dia dapatkan, sudah mampu membuat cinta kepada suaminya menjadi lebih kuat.
Komentar
Posting Komentar