SOSIALISME BELUMLAH MATI
SOSIALISME BELUMLAH MATI
Oleh: Dinasty (Pejalan anarki)
‘’Komunisme mungkin saja sudah mati, Para Intelektual
Liberal & Kaum Fundamentalis Keagamaan boleh saja merayakan kematian
Komunisme. Namun ada satu hal yg mereka mesti ketahui, Sosialisme belumlah mati‘’
@DINASTY
Ketika kita mulai membicarakan
istilah-istilah seperti Sosialisme,
Komunisme dan Kiri, sontak akan banyak menuai perdebatan dari berbagai
kalangan. Biasanya istilah tersebut
dikaitkan dengan sesuatu hal yang sifatnya negatif, penuh kekerasan dan pertumpahan
darah, apalagi jika ditambah dengan situasi Sosial Politik ditanah air
akhir-akhir ini. Meningkatnya isue kebangkitan PKI yang dikaitkan dengan
rencana pembahasan RUU HIP oleh pemerintah, makin menjadikan masyarakat kita begitu
Phobia atas segala hal yang berbau Kiri dan Sosialis. Dan tanpa berpikir panjang,
setiap orang bahkan perkumpulan (Komunitas) yang berhaluan Kiri dan Sosialis
atau bahkan sekedar menggunakan jargon-jargon perlawanan, akan dengan segera
dicap sebagai Antek PKI!
Ketidak jernihan Masyarakat (Publik)
kita dalam menyikapi berbagai istilah-istilah yang sifatnya Progresif seperti
Kiri dan Sosialis, tak bisa luput dari pengalaman sejarah tahun 65 yang dikemas
dalam suatu bentuk Narasi Politik oleh Rezim Orde Baru untuk menciptakan
ketakutan ditengah Masyarakat. Dan sialnya Narasi usang tersebut terus hidup
dan bertahta dihati dan alam bawah sadar Masyarakat kita sampai hari ini.
Narasi tersebut terus senantiasa direproduksi ulang dan dikemas dalam bentuk
baru oleh berbagai kekuatan Elite Politik, terutama untuk menggalang simpati
Masyarakat menjelang Pemilu.
Namun terlepas dari kerancuhan cara
berpikir Masyarakat kita mengenai berbagai istilah seperti Kiri ataupun
Sosialis, nampaknya juga muncul beberapa kalangan akademis dan intelektual
(Termasuk mereka yang sekedar ikut-ikutan) untuk menjatuhkan citra Sosialisme
serta merayakan kemenangan Kapitalisme. Biasanya mereka menggunakan berbagai
dalih-dalih yang tersekesan Retoris dengan paduan teori-teori mutakhir, agar
terkesan Ilmiah. Beberapa kalangan ini, umumnya berdalih bahwa Sosialisme telah
tamat riwatnya terutama semenjak keruntuhan Imperium Komunisme yang selama ini
menjadi kiblat utama bagi Sosialisme, yaitu Uni Soviet pada tahun 1991. Mereka
juga sering berdalih bahwa Corak Produksi (Mode
Of Production) Kapitalisme sifatnya lebih Rasional dari pada Sosialisme
yang lebih terkesan Utopis. Beberapa
kalangan ini yang lebih tepatnya disebut sebagai intelektual Liberal dengan
berbagai Narasi yang mereka Propagandakan, hanya akan memperlemah semangat
perlawanan dalam melawan ketidak adilan sekaligus makin memantapkan
dominasi/Status Quo dari Kapitalisme, baik dari aspek Sosial Ekonomi (Mode of Production) ataupun dari aspek
Ideologis (Culture).
Namun yang menjadi problem kita sekarang, yaitu
bagaimana cara untuk membuktikan bahwa asumsi-asumsi yang mereka bangun
mengandung suatu kekeliruan? Apakah hanya dengan mecibir mereka sebagai
kalangan intelektual Berjouis atau memaki-maki mereka sebagai kaum Libertarian
yang buta EKOPOL!!? Tentu dalam hal ini kita memerlukan kecemerlangan dalam
proses berpikir serta ketajaman analisis untuk membongkar kecacatan nalar
(Logika Fallacy) yang terkandung dalam Narasi yang mereka bangun. Kita
memerlukan Neraca Kebenaran yang dapat digunakan sebagai tolak ukur dalam
menilai berbagai asumsi yang mereka bangun. Disamping itu, kita juga perlu
menengok dasar Paradigmatik (Epistemologis) yang mereka gunakan dalam melihat
Fenomena Kapitalisme, sebab pandangan seseorang atas Kapitalisme juga sangat
dipengaruhi oleh landasan Paradigma yang ia anut. Tanpa kedua teknik tersebut,
akan sangat sulit bagi kita untuk membongkar kekeliruan wacana yang dibangun
oleh para Intelektual Liberal. Alih-alih mengkritisi mereka secara secara ilmiah,
mungkin saja kita bisa terjebak dan menjadi pengikut setia Narasi mereka.
Nah, untuk
memudahkan kita dalam menguraikan dan menguliti Narasi para Intelektual Liberal
maka alangkah lebih baiknya kita kembali untuk menengok sejumlah asumsi-asumsi
yang mereka bangun untuk membenarkan anggapan bahwa Sosialisme telah is Dead dan Kapitalisme merupakan sistem yang tak
tertandingi sepanjang masa!
Jika kita cermati secara saksama
berbagai asumsi,pendapat ataupun Narasi yang merayakan kemenangan Kapitalisme
atas Sosialisme tidak luput dari 3 (Tiga) Argumentasi mendasar yang dijadikan
landasan pembenaran. Masing-masing dari ketiga Argumentasi tersebut yaitu
Pertama (1) Anggapan bahwa Kapitalisme telah menjadi pemenang Perang Dingin,
yang ditandai dengan Kemenangan AS dan Blok Barat dan Kekalahan dari Pihak Uni
Soviet dan Blok Timur; Kedua (2) Anggapan bahwa Kapitalisme dari segi Model
Produksi sifatnya lebih Ekslusif dengan daya jangkauan kesegala bidang
kehidupan; Dan Ketiga (3) Anggapan yang menyamaratakan antara Sosialisme dengan
Komunisme, sehingga kejatuhan Rezim Komunis juga berarti kejatuhan Sosialisme.
Ketiga asumsi tersebut menjadi senjata jitu baik itu kalangan Intelektual
Liberal ataupun kaum Fundamentalis keagamaan tertentu untuk membungkam
lawan-lawan mereka.
Kita mulai pada landasan argumen Pertama
(1) yang mengaggap Sosialisme telah
berakhir seiring kemenangan Blok Barat pada perang Dingin. Perlu untuk
diketahui bahwa Perang dingin yang berlangsung dari tahun 1947 sampai 1991 merupakan pertarungan Politik yang sarat akan
kepentingan dua negara adidaya pada saat itu, yakni Amerika Serikat dan Uni
Soviet. Konflik yang menyertai dua negara adidaya ini tidak sepenuhnya murni
didasarkan oleh dorongan ideologis, namun lebih terutama didasarkan oleh
kepentingan untuk meluaskan pengaruh dan intervensi kepentingan Politik yang
sifatnya jauh lebih pragmatis. Kita misalnya dapat melihat dari pertarungan
kedua kubu diberbagai bidang seperti pada bidang militer maupun pada bidang
teknologi dan ilmu pengetahuan, yang
masing-masing dijadikan sebagai simbol kebanggaan dan rivalitas. Kemudian yang
perlu kita cermati, apakah tepat menarik kesimpulan bahwa Sosialisme mengalami
kekalahan mutlak akibat jatuhnya Rezim-Rezim Politik yang berhaluan Komunis.
Pertanyaanya! Apakah hanya Uni Soviet dan Blok Timur saja yang dapat dianggap
sebagai representasi satu-satunya bagi gerakan Sosialis? Kemudian, apakah
kekalahan dalam pertarungan Politik dapat menjadi dalih bahwa Kapitalisme lebih
unggul dari pada Sosialisme atau Komunisme? Ketidak mampuan sebagian orang
dalam menelaah hal ini, menjadikan mereka terperangkap pada anggapan keliru
yang mengira bahwa Sosialisme merupakan bentuk perlawanan ataupun Ideologi yang
telah usang dan tidak layak lagi dipakai. Jadi singkatnya, kita dapat menemukan
letak kekeliruan landasan pembenaran pertama ini, yang digunakan oleh sebagian
besar kalangan untuk menyerang Sosialisme.
Kemudian kita
coba menengok argumentasi Kedua (2) yang
menganggap Kapitalisme merupakan corak produksi (Mode of Production) yang tidak tertandingi sama sekali, dengan
daya jangkauan/dominasi disegala bidang kehidupan. Sebelumnya Kapitalisme
sebagai corak produksi yang dimaksudkan disini yaitu Kapitalisme dilihat
sebagai suatu sistem Ekonomi, penekanan ini penting terutama untuk membedakan
Kapitalisme jika ditinjau dari segi Ideologi atau Budaya. Kemudian anggapan
dari kalangan Intelektual Liberal yang begitu mengagungkan Kapitalisme sebagai
suatu Sistem Ekonomi yang merupakan suatu bentuk corak produksi yang paling
rasional, tidak luput dari landasan Epistemologis atau Paradigma yang mereka
gunakan. Perlu untuk dicermati secara saksama, orang-orang yang beranggapan
demikian menggunakan landasan Epistemologis atau Paradigma yang cenderung
memandang dunia secara apa adanya (Das
Sein.) Sebagaimana yang kita ketahui, beberapa aliran Filsafat yang
berupaya memahami Fenomena Kapitalisme memiliki cara pandang berbeda dalam
menyikapi sistem yang satu ini. Misalnya pada Paradigma Positivisme yang banyak
terpengaruhi pemikiran Aguste Comte (1789-1857) yang pada bagian aspek metodologis,
banyak menyerap dari ilmu alam. Konsekuensinya, kenyataan Faktual atau dalam
hal ini realitas sosial dipandang sebagai sesuatu proses yang sifatnya alamiah,
termasuk dalam hal ini Kapitalisme. Menurut pandangan ini Kapitalisme merupakan
suatu perkembangan Objektiv dari Masyarakat moderen yang tidak terhindarkan.
Beberapa Paradigma lain yang juga dapat dijadikan sebagai alat legitimasi bagi
Kapitalisme yaitu aliran Weberian yang melihat Kapitalisme sebagai perkembangan
lebih lanjut dari Rasionalitas Masyarakat moderen yang sifatnya membelenggu
setiap orang yang akar kemunculannya bisa ditelusuri sampai pada gerakan Protestanisme.
Max Weber (1864-1920) yang cenderung menyamakan antara Rasionalitas dengan
Kapitalisme. Weber mengisitilahkan Rasionalitas Masyarakat moderen sebagai
sangkar besi yang tak memungkinkan orang-orang untuk keluar darinya.
Sederhananya kedua Paradigma tersebut, baik Positivisme ataupun Weberian
sama-sama memandang Kapitalisme sebagai hal yang sifatnya alamiah, tak
terhindarkan dan menjadi muara bagi masa depan Masyarakat moderen. Namun coba
kita tengok Paradigma atau cara pandang lain yang memungkinakan kita untuk
sedikit melihat berbagai kekurangan dalam tubuh kapitalisme sebagai Sistem
Ekonomi, yakni dengan menggunakan Paradigma Marxisme yang bertumpuh pada cara
pandang Materialisme Dialektika &
Materialisme Historis. Marxisme yang banyak terilhami oleh Filsuf asal
Jerman yakni Karl Marx, menjadikan cara pandang Materialisme Dialektika
Historis (MDH) dalam melihat dan mengubah Masyarakat. Materialisme Dialektika
Historis ini juga sering disebut dengan istilah Ekonomi Politik (Ekopol) yang
melihat Masyarakat terbagi atas dua kelompok besar yang masing-masing terdiri
atas Kelas Berjouis dan Kelas Proletas. Kedua Kelas tersebut saling bertikai
(Konflik) sebagai akibat corak produksi Kapitalisme. Kapitalisme yang berdasar
pada prinsip kepemilikan modal atau alat-alat produksi secara Privat, mendorong
laju produksi barang dan jasa melalui tenaga Kelas Pekerja. Kaum Buruh/Proletar
yang bekerja pada pabrik-pabrik industri diorganisir sedemikian rupa untuk
memproduksi barang dam jasa (Produk) yang kemudian Nilai dari hasil keuntungan
produksi tersebut dialokasikan kepada pihak Berjouis sebagai pemilik modal,
sedangkan sisanya dialokasikan pada kaum Buruh dengan jumlah yang rendah. Dalam
hal ini, Nilai lebih yang dihasilkan oleh kaum Buruh justru banyak beralih
ketangan kaum Pemodal. Pola Kapitalisme yang demikian, yang terus menerus
mengeksploitasi tenaga Kaum Buruh melalui Privatisasi alat-alat produksi untuk
menghasilkan keuntungan bagi Kaum Berjouis, justru menimbulkan konflik diantara
kedua kelas terus terjadi dalam sistem Kapitalisme, yang dalam prediksi Marx
akan dimenangkan Kaum Buruh/Proletar yang kemudian mendirikan Masyarakat
Komunis.
Kemudian disisi
lain, untuk membangun siklus modal dan keuntungan yang terus berlanjut,
Kapitalisme mendorong lahirnya Pasar bagi barang dan jasa (Produk). Uang
menjadi alat pertukaran yang memiliki nilai bagi Masyarakat. Hal ini bukannya
tanpa masalah, alokasi kekayaan yang tidak sepenuhnya merata dalam Sistem
Kapitalisme akan berefek pada lahirnya gejala Over Production, yang dimana produksi barang begitu banyak, namun
hanya sedikit orang yang dapat memperoleh (Mengkonsumsi) barang tersebut,
sebagai akibat minimnya pendapatan yang diperoleh oleh Masyarakat. Dalam
beberapa hal juga, sistem Kapitalisme cukup rapuh menghadapi guncangan krisis
baik dalam bentuk gejala Over Production, Inflasi moneter bahkan sampai pada
krisis yang menyangkut hal Politik dan Kesehatan. Kapitalisme seketika dapat
menjelma menjadi Fasisme Negara tatkala suatu Masyarakat terkena Resesi.
Mekanisme pertahanan diri atau antibodi dari kapitalisme sendiri memungkinkan
terjadinya tindakan kekerasan, otoritarianisme bahkan Peperangan, demi upaya
untuk mempertahankan berlangsungnya sistem tersebut. Dari uraian mengenai Kapitalisme sebagai corak
produksi, dapat diketahui bahwa sistem Ekonomi yang satu ini mengandung kontradiksi di dalam dirinya sendiri. Sehingga
cukup naif anggapan beberapa kalangan yang mengatakan kalau sistem yang satu
ini baik-baik saja, justru sebaliknya sistem ini memiliki potensi Eksploitasi
bukan hanya pada Manusia bahkan pada lingkungan. Kerusakan-kerusakan lingkungan
yang terjadi saat ini juga tak luput dari Ekspansi Kapitalisme-Indusrial untuk
meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Dengan ini penggunaan Paradigma dalam
melihat Kapitalisme akan sangat mempengaruhi penilaian seseorang terhadap
Kapitalisme itu sendiri. Jika paradigma yang ia gunakan bersifat pasif, maka ia
akan memuja Kapitalisme sebagai suatu sistem yang maha agung. Namun jika
paradigma yang digunakan sifatnya Progresif, maka bukan hanya ia dapat
mengungkapkan kelemahan sistem yang satu ini, namun juga dapat mengancam
keberadaannya.
Kemudian kita
melangkah pada uraian singkat atas landasan argumen yang Ketiga (3) yakni
anggapan yang menyamaratakan antara Sosialisme dengan Komunisme. Sebenarnya
terkait penjelasan ini penulis telah jauh-jauh hari mengkritisi kecenderungan
over generalisasi beberapa kalangan yang
menyamaratakan secara membabi buta antara Komunisme dengan Sosialisme, misalnya bisa dilihat ditulisan penulis
sebelumnya yang berjudul ‘’MARXIS yg
bukan KOMUNIS’’ yang dimuat dihalaman https://himasosiologifisunmakassar.blogspot.com/2020/04/marxis-yg-bukan-komunis.html. Namun agar
lebih jelas lagi penulis merasa perlu mengulas lagi secara singkat perbedaan
antara Komunisme dengan Sosialisme.
Kurang lebihnya seperti ini, Sosialisme sifatnya jauh lebih luas dari Komunisme, seorang Komunis
sudah pasti Sosialis, tapi seorang Sosialis belum tentu Komunis. Maksudnya
lingkup Sosialisme lebih luas dari pada Komunisme, ada banyak jenis Sosialisme
diantaranya yaitu Sosialisme-Anarkisme,
Sosialisme-Demokratik, Sosialisme-Bolivarian, Sosialisme-Marhaenisme ajaran
Bung Karno, Sosialisme Lingkungan (Eko-Sosialism), Sosialisme-Islam dan lain
sebagainya. Komunisme hanyalah salah satu jenis Sosialisme yang terinspirasi
dari pemikiran Karl Marx dan Frederick Engels yang kemudian dikembangkan oleh
Vladmir Lenin, sehingga Komunisme juga sering diistilahkan sebagai ajaran
filsafat Marxisme-Leninisme. Jadi anggapan yang mencoba mencari alasan
pembenaran agar sekiranya Sosialisme dikatakan telah tamat seiring dengan
runtuhnya Uni Soviet merupakan suatu sikap yang kekanak-kanakan. Buktinya
sampai hari ini, Sosialisme terus menggelorakan semangat perjuangan melawan
ketidak adilan dan eksploitasi dalam berbagai bentuk dan warna gerakan. Hanya
orang yang berpikir picik dan malas membaca buku, yang sekedar menyamaratakan
Sosialisme dengan Komunisme untuk membenarkan anggapan bahwa Sosialisme telah
mati.
Dari berbagai uraian dan sanggahan dari masing-masing
argumentasi yang dijadikan alasan pembenaran untuk menjatuhkan bahkan
menyalahkan Sosialisme sebagai produk pemikiran kafir, thogut dan sudah usang,
maka melalui sikap kritis dan analisis yang mendalam untuk menyikapi berbagai
anggapan tersebut kita dapat menemukan letak kekeliruan dan kerancuhan dari
Narasi yang coba untuk mereka bangun. Pada titik ini kita sangat membutuhkan
apa yang disebut sebagai Neraca kebenaran yang tepat dalam memahami Kapitalisme
sebagai suatu sistem Ekonomi yang sejatinya tidak baik-baik saja, serta
Landasan Paradigma yang progresif seperti Marxisme untuk membangun kesadaran perlawanan
atas Kapitalisme. Neraca kebenaran yang tepat akan memungkinkan kita untuk
menilai sistem mana mengalami kecacatan dan bagaimana hendaknya kita membangun sistem
yang lebih baik. Kemudian analisis Marxis yang bertumpuh pada cara pandang
Ekonomi Politik akan sangat membantu kita dalam membaca struktur sosial yang
timpang, dan bagaimana cara kita untuk membangun gerakan sosial yang progresif
guna membawa perubahan yang lebih baik di tengah Masyarakat.
Seiring dengan perkembangan dan perubahan jaman dari
waktu kewaktu, kita juga dihadapkan pada situasi dimana Kapitalisme mengalami
rangkaian perubahan-perubahan dan perkembangan yang lebih mutakhir. Di abad 21
kita dapat mengamati perkembangan lebih lanjut dari Kapitalisme yang berupaya
untuk beradaptasi dengan kondisi Sosial-kemasyarakatan yang telah mengalami
proses Revolusi 4.0. Revolusi ini menghadirkan perubahan pola Sosial, Budaya,
ekonomi bahkan Politik yang mengandalkan jaringan Digital sebagai media
penghubung. Akibatnya bermunculan berbagai perubahan pada cara pandang, Live
Style, Fashion dengan hadirnya Komunitas Digital yang bernama Masyarakat Cyber.
Kapitalisme yang senantiasa beradaptasi pada segala kondisi dan keadaan, juga
mengikuti perubahan pola yang terjadi di Masyarakat. Kini kita mengenal istilah
Kapitalisme Digital yang menjadi ciri dari corak produksi Masyarakat di abad
21. Kapitalisme Digital memiliki keunikan tersendiri, mengingat jenis
Kapitalisme yang satu ini makin menyamarkan Kontradiksi kelas yang sebelumnya
berlangsung di era Kapitalisme Industrial di abad 20. Pada Kapitalisme Digital,
kita akan sulit lagi membedakan antara Kelas Berjouis dengan Kelas Proletar,
sebab batas diantara diantara keduanya telah memudar dalam suatu larutan
Simulacra. Kemudian pada Kapitalisme Digital, model eksploitasi yang dikembangkan tidak lagi
begitu Represif sebagaimana pada Kapitalisme Industrial, akibatnya masyarakat
cenderung mengaggap masa dimana ia berada saat ini adalah masa yang baik-baik
saja, penuh kedamaian dan kemudahan. Atas beberapa hal tersebut, hendaklah
menjadikan kaum Kiri baik itu Sosialis, Marxis, Anarkis bahkan Feminis untuk
lebih kritis lagi dalam menyikapi berbagai perubahan terjadi pada Kapitalisme.
Hendaklah mereka membuka diri, dengan berupaya untuk mencari ‘’Titik
Temu’’ antara pemahaman yang selama ini mereka anut dengan berbagai
aliran filsafat/pemikiran yang bermunculan, dengan prinsip selama aliran
pemikiran tersebut dapat membantu dalam membaca realitas sosial yang sedang
terjadi saat ini, tanpa harus kehilangan spirit Progresifitas dan Emansipatoris
sebagaimana yang mereka miliki sebelunya. Saat ini ada banyak bermunculan
gerakan sosial seperti Islam-Progresif,
Ekofeminisme, Postmodernisme dan lain sebagainya yang masing-masing
memberikan angin baru bagi gerakan kiri. Saat ini Sosialisme ataupun Marxisme
kini dapat bertemu dengan berbagai unsur-unsur, sehingga kecenderungan dogmatis
dapat dikurangi.
Melalui berbagai upaya tersebut, baik perbaikan yang
dilakukan pada tataran Epistemologis maupun Aksiologis akan sangat memberi
nilai positif bagi kemajuan gerakan kiri itu sendiri, terutama dalam rangka melenyapkan
penindasan dan ketidak adilan di bawah sistem Kapitalisme. Menuju era NEO-SOSIALISME.

Komentar
Posting Komentar