MARXIS yg bukan KOMUNIS



Oleh : DINASTY (kemenakan-nya Lenin)

   "Seorang Marxis belum tentu Komunis, tidak mesti di tuduh PKI dan tidak perlu dicap Ateis"
                                         @Dinasty


     Di Negeri yang belum sepenuhnya mampu untuk lepas dari Hegemoni wacana yang cenderung memandang Negativ Gerakan Kiri, tentunya akan amat sering kita jumpai berbagai kerancuan dalam memaknai beberapa istilah seperti Marxisme ataupun Komunisme. Tak ayal kemudian sering terjadi tumpang tindih serta distorsi dalam penggunaan istilah-istilah tersebut. 

     Walau tembok kekuasaan Rezim Fasis Orde Baru telah runtuh semenjak tahun 98, tapi nampaknya wacana serta Hegemoni Orba  mesih terus hidup dan mengakar kuat di tengah Masyarakat kita. Buktinya, masih dapat kita temukan sisa-sisa wacana peninggalan Orba, seperti misalnya yang kemarin sempat hangat dibicarakan di tengah Publik kita yakni Isue kebangkitan PKI. 

     Beberapa oknum yang berupaya untuk mengangkat Isue Kebangkitan PKI, tak lain dan tak bukan lebih dimotivasi oleh Spirit untuk meraup simpati Masyarakat. Di tengah Masyarakat yang belum sepenuhnya Insaf dari Tradisi Orba, Isue Kebangkitan PKI cukup efektif untuk menggalang dukungan Massa, apalagi ketika isue ini diwacanakan pada Masa-Masa menjelang Pemilihan Presiden. 

     Tulisan singkat ini tentunya tidak ingin terlalu jauh berbicara mengenai isue Kebangkitan PKI, yang jauh-jauh hari sebelumnya telah mewarnai wacana perpolitikan pra Pilpres 2019. Namun Penulis tentunya ingin lebih Fokus Pada "Situasi Sosiologis-Kebahasaan" yang memicu lahirnya Stigmatisasi berlebih pada hal-hal yang berbau Ke-kiri-an. Seperti misalnya anggapan-anggapan yang cenderung menyamakan secara membabi buta,  antara Marxisme dengan Komunisme, ataupun antara Marxis dengan PKI. 


     Kita mulai Fokus pembahasan kali ini pada aspek kerancuan Bahasa yang terjadi di tengah Masyarakat. Hal ini tentu amat menarik, sebab terkadang kebanyakan dari orang-orang cenderung untuk menyamakan Marxisme dengan Komunisme. Sehingga segala sesuatu yang berbau Marxis akan dituduh sebagai bagian dari Komunis, PKI, Aidit. Lebih Cilakanya lagi, orang-orang yang berpaham Marxis akan dituduh sebagai Gerombolan Ateis, Golongan Kafir yang bengis nan Picik ! Sedang, antara Marxisme dan Komunisme terdapat beberapa perbedaan, yang tidak serta merta dapat di cocok-cocokkan begitu saja (Cocologi). Apalagi hanya karena didasarkan pada prasangka-prasangka tertentu. 

     Pembaca yang Budiman, jika kita berupaya untuk kembali menelaah Marxisme sebagai suatu Aliran Filsafat dan Gerakan Politik. Maka dapat dipahami bahwa Marxisme merupakan Suatu Arus Pemikiran yang bersumber dari Inspirator utamanya yakni 'KARL MARX'. Sebagaimana dalam proses Perkembangan Pemikiran satu ini, mengalami serangkaian proses percabangan dan Modifikasi. Baik itu Dikarenakan perubahan dan perbaikan pada bangunan 'Epistemologisnya' (Teoritis), maupun perkembangan pada Kerangka Praktik serta Penerapannya di Lapangan / 'Aksiologis' (Praxis).

Sejauh ini, aliran alias Cabang-cabang Pemikiran yang berafiliasi dengan Marxisme cukup bervarian. Diantaranya yaitu "Marxisme Ortodoks, Revisionisme / Sosialisme-Demokrat, Marxisme-Leninisme (Komunisme), Stalinisme, Maoisme, Marxisme-Hegelian, Marxisme-Spatial, Marxisme Analitis, Marxisme-Postmoderen, Post-Marxis, Mahzab Franfurt (Teori Kritis), Feminisme Marxis, dan sebagainya".
Keanekaragaman dari varian-varian Marxisme yang ada, bahkan ada pula yang telah meninggalkan Spirit Ekonomisme (Materialisme Historis) yang menjadi Ciri utama di era Marxisme Klasik. Hal ini dapat dijumpai pada Post-Marxis yang dikembangkan oleh para Intelektual Inggris dan Beberapa Kalangan Post-Strukturalis (Postmoderen). Dengan demikian, Perkara Marxisme bukanlah hal yang begitu mudahnya di Generalisir begitu saja. Apalagi tanpa disertai kapasitas pengetahuan yang memadai atasnya.

     Lalu bagaimana dengan Komunisme ? Komunisme sendiri tak lebih dari salah satu varian Marxisme yang dikembangkan oleh Vladmir Lenin, salah seorang tokoh Revolusi Oktober, 1917 di Rusia. Dari Revolusi ini pula, lahirlah Negara Marxis pertama di dunia yakni Uni Soviet. Maka dari itu Ideologi Komunisme sering dikaitkan dengan Uni soviet maupun Lenin. Adapun dalam pengistilahan lain, Komunisme kerap disebut sebagai ajaran "Marxisme-Leninisme". Terutama karena gagasan ini merupakan pengembangan dan pengaktualan lebih lanjut ide-ide Marx oleh Lenin dan rekan seperjuangannya,  guna mewujudkan Masyarakat tanpa Kelas.

Kemunculan Marxisme-Leninisme sebagai salah satu Aliran Pemikiran dalam Marxisme, tidak luput dari pertarungan Ideologis (Gagasan) serta Pertarungan Taktik Gerakan (Politik) antara berbagai Fraksi Marxis diawal abad ke 20. Sebagaimana yang kita ketahui, Pada saat itu Partai Sosial-Demokrat Jerman yang begitu diharapkan menerapkan secara Murni gagasan Karl Marx dibidang Politik. Justru dalam perkembangannya mengalami sikap yang Oportunistik dan Pragmatisme berlebih, sehingga dianggap telah kehilangan Roh dan Jiwa Marxisnya. Kubuh seperti Karl Kautsky, Bernstein, dan sebagainya cenderung untuk mengambil sikap Oportunis serta begitu lunak pada situasi atau Realitas. Karl Kautsky misalnya memiliki pandangan Evolutif dalam memahami Marxisme (Marxisme ortodoks), yang oleh beberapa kalangan dianggap telah menghilangkan nilai Humanis-Rqdikal dari ajaran Karl Marx. Karl Kautsky yang memiliki Kecenderungan Positivisme, hanya menjadikan Marxisme sebagai Ilmu yang diperoleh dibelakang Meja. Sekedar menjadikan Marxisme sebagai Ilmu Sains-Empirik milik para Intelektual menara gading. Sedangkan dari Pihak Bernstein yang berpandangan Reformatif (Revisionisme / Sosialisme-Demokrat) malah makin menjadikan SDP alias Partai Sosial-Demokrat Jerman makin Oportunistik serta berkecenderungan untuk menjilat kekuasaan. Karya-karya Lenin seperti "Negara dan Revolusi" banyak mengkritisi Karl Kautsky, Bernstein dan yang sejenis dengan mereka dengan sindiran-sindiran seperti 'Kaum-kaum Oportunis yang tidak konsisten dengan ajaran Marx. 

Atas dasar itu, serta dipengaruhi oleh Perpecahan ditubuh Partai Sosial-Demokrat Rusia, menjadi Latar belakang bagi perkembangan Pemikiran Marxisme-Leninisme. Yang kelak makin Radikal ketika terformalisasi dalam Ideologi Negara Uni Soviet, yakni Komunisme. Bentuk Radikalisme tersebut dapat dilihat dari  rasa antipati penganut Ideologi Komunisme terhadal Kekuasaan Politik diluar Pengaruh Uni Soviet, yang seakan-akan selalu dianggapnya  sebagai Kekuasaan Kaum Berjuasi. Adapun Puncak kejayaan Arus Pemikiran yang satu ini, bermula semenjak Revolusi Oktober di Rusia pada Tahun 1917 (Periode I) dan Pada dekade 60-an mencapai Puncak yang kegemilangan (Periode II), kemudian berakhir secara mengenaskan di awal dekade 90-an, yakni tepatnya tahun 1991 ketika Imperium Raksasa Uni Soviet Runtuh begitu saja. Komunisme tak lebih sebagai Formalisasi Pemikiran Marxisme-Leninisme dalam suatu Negara.

     Dari ulasan singkat tersebut, amat jelas perbedaan Marxisme dengan Komunisme yang dalam hal ini Marxisme-Leninisme. Marxisme mungkin bisa merujuk pada berbagai Aliran / cabang-cabang yang berafiliasi dengannya. Yang dimana Komunisme hanyalah salah satu Varian dari keanekaragaman Varian yang ada. Dengan demikian, amat Naif dan terkesan cenderung Over Generalisir menyamaratakan Semua Marxis sebagai Komunis apalagi PKI ! Justivikasi tersebut terbilang Kurang ajar dikarenakan Konsekuensi yang akan berdampak bagi lahirnya anggapan, bahwa orang Marxis itu tidak bertuhan alias ateis. Apakah benar demikian Adanya ? Bukankah Orang-Orang Seperti Tan Malaka, HJ. Misbach bahkan Ir. Soekarno masing-masing memiliki keyakinan dan mempercayai akan adanya Tuhan. Belum cukupkah Fakta tersebut menjadi pembantahan prasangka-prasangka yang senantiasa menyudutkan Orang Marxis ataupun Komunis selama ini, yang seolah olah ketika menganut Ideologi yang satu ini, maka sudah pasti orang tersebut ateis. Bukankah terkait keyakinan akan adamya Tuhan (Teisme) merupakan hal yang sifatnya intens, dan hanya dapat dirasakan Oleh Seseorang di dalam Kalbunya. Lalu mengapa justru kita mudah menuduh ateis pada mereka. Atau mungkin kita terlalu menganggap diri kita Suci 100 % sehingga dengan mudahnya kita menuduh orang yang berbeda dengan kita sebagai Kaum Kafir !

     Lebih Cilakanya lagi !!! Kerancuan Bahasa dan Cara pandang kita atas Marxisme maupun Komunisme juga turut melahirkan Justivikasi Negativ pada segala hal-hal yang berbau "Kiri". Istilah Kiri juga cenderung diasosiasikan dengan Komunisme. Padahal Kiri tidak selalu memululu terkait dengan Komunisme. 
Kiri tidak serta merta harus Marxis, PKI ataupun Uni Soviet dengan Blok Timurnya. Jika memang demikian, lalu bagaimana dengan Anarko, Para Kaum Anarkis, Libertarian-Sosialis, Blanquis, Sindikalis, dan sebagainya. Mau dibawah kemana mereka ??? Bukankah sifat Ideologi & Gerakannya juga mengarah dalam bentuk Perlawanan.
Kerancuan ini semakin menjadi jadi dengan anggapan yang menjust seluruh Elemen Perjuangan Kerakyatan, Serikat Buruh, Gerakan Kemahasiswaan, Aktivis lingkungan dan berbagai Elemen Perlawanan sebagai PKI ! Bahkan adapula karena Fanatisme Buta yang menggebuh-gebuh tidak mampu lagi untuk sekedar membedakan mana Wajah Karl Marx dan mana wajah Bakunin. Sungguh suatu hal yang amat jenaka yang terjadi di tengah Masyarakat kita hari ini. 

     Bukankah sejauh ini sudah nampak nyata bagi kita, bagaimana Permainan Cantik para Imperialis Moderen (Kaum Neo-liberal) dalam memainkan Wacana di tengah Masyarakat. Yang tak lain dan tak bukan, untuk mematikan semangat Perlawanan kita. Perlawanan untuk menentang Eksploitasi ! Hanya dengan bermodalkan Isue Kebangkitan PKI, maka Maayarakat kita cenderung memiliki sifat Marxis Phobia, yakni ketakutan berlebih atas segala hal yang berbau Kiri. Makanya ketika Isue PKI didengungkan oleh para Politisi Oportunis di Negeri ini, Masyarakat kita justru makin Irasional menyikapinya isue ini. Bahkan seringkali disertai dengan Nafsu yang menggebu-gebu. Apakah ini ciri Orang yang Beriman ???


     Terakhir Penulis ingin sampaikan suatu ungkapan dari salah satu Lirik Lagu Fajar Merah yaitu Kebenaran tak akan Pernah Mati..... Sekiranya dapat menjadi Kata-kata Agung yang berdesakan mencari Jalan ! Yang menjadi Spirit bagi kita untuk tetap mempertahankan Kebenaran walau harus melawan Raksasa Kezaliman. 

     Walau angkuh tembok Fasisme Orba telah Runtuh selama Dua Puluh tahun lebih dan kini kita telah memasuki Orde Reformasi, namun pada kenyataanya tidak begitu saja melenyapka Cultur yang pernah hidup di era Sebelumnya. Salah satunya seperti yang telah kita bahas barusan, ialah Cultur Kekolotan Berpikir yang mengira Marxisme harus melulu Komunis, PKI, Cina dan sebagainya. Maka sudah menjadi tanggung jawab kita bersama, segenap Elemen masyarakat yang selama ini termarginalkan oleh Kapitalisme dan Imperialisme Global (Neo Liberalisme) untuk bangkit dan Kembali memproduksi Cultur Baru (Cultur Kebahasaan) yang akan menjadi tandingan bagi Narasi-Narasi besar yang ada baik itu dari pihak Pemerintah maupun pihak Oposisi Oportunis. Dan Cultur atau Narasi tanding tersebut hanya akan tumbuh dan Berkembang jika seluruh Elemen Masyarakat bersatu dan bangkit melawan Penindasan.

MAHASISWA, RAKYAT MISKIN KOTA, BURUH TANI, MASYARAKAT ADAT, PARA SENIMAN, BUDAYAWAN, AKTIVIS LINGKUNGAN, KAUM PEREMPUAN YANG BERLAWAN, PEGIAT LITERASI, serta segenap Elemen masarakat yang selama ini termarginalkan oleh Imperialisme................ BERSATULAH !!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa