MASYARAKAT BERESIKO, COVID-19 dalam Analisis Sosiologis
Mayarakat Beresiko
Covid-19 dalam Analisis Sosiologis
Oleh: Zainal Arifin
Modernitas adalah kultur berisiko. Ini bukan berarti bahwa
kehidupan sosial kini lebih berbahaya daripada dahulu. Bagi kebanyakan orang,
itu bukan masalah. Konsep resiko menjadi masalah mendasar baik dalam cara
menempatkan aktor biasa maupun aktor yang berkemampuan spesiais-teknis dalam
organisasi kehidupan sosial. Modernitas mengurangi risiko menyeluruh bidang dan
gaya hidup tertentu, tetapi pada waktu bersamaan memperkenalkan parameter risiko
baru yang sebagian besar atau seluruhnya tidak dikenal di era sebelumnya. (
Giddens, 2011 : 561)
Virus Corona atau COVID-19 telah menjadi bagian gosip yang cukup
luas atau obrolan oleh masyarakat global. Dalam skema masyarakat informasi,
penyebaran virus corona tak berbanding lurus atau tidak setara dengan informasi
yang telah meluas di setiap setapak rumah-rumah warga. Pandangan ini sangat
subjektif, namun penyebaran ketakutan tentu menjadi perhatian khusus untuk
dikaji.
Malthus, atau salah satu tokoh mengemukakan tentang teori
kependudukan. Menurutnya, jumlah kepadatan penduduk tidak sebanding dengan
produksi pangan yang dihasilkan. Meskipun teori malthus terbantahakan oleh
riset deret pangan yang melonjak di eropa ketimbang jumlah manusia, namun analisis
dalam situasi tertentu dapat menjadi sebuah misteri. Teori kependudukan ala
maltus diselesaikan dengan dua cara yaitu menekan angka kelahiran dan
meningkatkan angka kematian.
Analisis malthus untuk dua cara tersebut seperti menekan angka
kelahiran yaitu program KB, dan praktik Aborsi. Untuk meningkatkan angka
kematian seperti perang, genoside, serta penyebaran epidemik. Jika menelaah mengenai virus COVID-19
tersebut, bisa saja atau anggaplah sebuah konspirasi untuk meningkatkan angka
kematian penduduk dunia yang membludak. Atau bisa saja virus tersebut bagian
atau efek masyarakat yang berisiko yang tidak dikenal diera sebelumnya.
Sudut pandang yang lain, Jared Diamond dalam “guns, germs, and steel “menjelaskan evolusi kuman yang tak kunjung
henti. Mikroba juga bagian dari seleksi
alam. Apa yang dikenal sebagai penyakit atau wabah merupakan bagian dari
seleksi alam yang telah berlangsung sejak agrikultur tersebut. Peristiwa yang
serupa juga terjadi saat revolusi hijau diera soeharto, bagaimana menciptakan
produksi pangan yang sebesar-besarnya dan dibaliknya ada tabir pertarungan
antar pestisida dan hama yang terus berevolusi.
Bahasan mengenai virus corona menjadi perhatian tersendiri dalam
konteks masyarakat dan ketatanegaraan. Tentang bagaimana negara menanggulangi
virus tersebut, misi penyelamatan warga negara agar tidak menganggu ketahanan
nasional yang terus berlangsung. Jika
menggunakan analisis parson fungsional struktural, negara disubjekkan sebagai
sebuah sistem . Bagi parson , fungsionalisme struktural ini akan dimulai dengan
empat fungsi penting untuk semua sistem tindakan, yang terkenal dengan skema
AGIL. AGIL dalam suatu fungsi merupakan kumpulan kegiatan yang ditujukan kearah
pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Dalam penjabarannya yakni
adaptation, goal attaintment, integration, dan latency. Secara bersama-sama,
keempat imperatif fungsional ini dikenal sebagai skema AGIL. Agar tetap
bertahan (Survive), suatu sistem harus memiliki empat fungsi tersebut. Artinya,
baik negara dan segala perangkat didalamnya mesti menjadi tameng dari situasi
eksternal yang terus menyerang. Mesti demikian situasi eksternal tersebut tak
berhenti merusak tatanan didalam negara, fungsi AGIL akan pula menjadi penawar
bagi situasi tersebut. Kira-kira seperti itu.
Pada bagian yang lain, mengkaji covid-19 tidaklah adil melihatnya
sebagai gejala alam atau senjata biologis semata. Para penganut teori
konspirasi sangat senang melihat hal tersebut. Namun jika ingin secara bijaksana,
persoalan bumi manusianya juga menjadi perhatian yang penting. Para penganut
postmo, atau katakanlah salah satunya
penganut neo-marxian, melihat efek wabah ini terhadap kelas dalam
masyarakat. Postmo dalam hal ini melihat dunia secara permukaan semata.
Teman-teman yang budiman sangat perlu mengkritisi tulisan ini. Mcdonalisasi
adalah salah satu skema the new world order. Cepat saji menjadi perhatian umum
tentang bagaimana pola produksi dilakukan dalam negara tersebut. segala bahan
baku didatangkan dan diproduksi dalam negara itu, yang membedakannya hanya
brand atau penamaan terhadap komoditasnya. Skema ini dikenal dengan istilah”
fordisme” yang bertujuan untuk mengurangi ongkos produksi. Apa yang tak dilihat
dari salah satu ilustrasi diatas ialah ada perang kelas didalamnya, perang
terhadap tenaga kerja yang dihisap oleh jam kerja dan upah yang ia dapatkan.
Meskipun postmo dalam melihat cepat saji dalam bentuk yang lebih luas seperti
efek dari cepat saji terhadap kenaikan berat badan yang drastis (obesitas)
sampai perilaku malas masyarakat modern.
Lantas apa kaitannya dengan covid-19?
Dalam Khasanah Konflik, para akademisi penganut
dahrendorf dapat melihatnya sebagai konflik yang menciptakan sebuah konsensus.
Namun apa yang terjadi malah sebaliknya. Pertentangan tetaplah pertentangan.
Pada beberapa kasus tertentu, konflik ala dahrendorf mungkin relevan dengan
analisisnya.
Menyikapi seperti apa yang dikatakan marx sebagai
konflik sebuah pertentangan kelas yang terjadi dalam periodik sistem sosial
yang cukup panjang, konflik adalah suatu hal yang niscaya dalam masyarakat.
Bagi marx, tidak seperti lewis coser yang memandang konsekuensi konflik mengarah peningkatan, adaptasi dan
penyesuaian baik dalam hubungan sosial yang spesifik maupun pada kelompk secara
keseluruhan. Menurut marx, konsekuensi konflik merupakan dari
proses dialektika, atau sebuah hukum yang dialektis yang telah dikembangkan
dari hegel hingga feurbach. Proses dialektika menurutnya adalah suatu benturan
dalam masyarakat yang akan terus berkembang, tidak statis mupun spiral, atau
dalam sebutan lain sebagai perubahan sosial dinamis.
Jika melihat kembali peristiwa “Covid 19” dan
“Masyarakat” ditemukannya beberapa kasus atau sebutlah sebuah konsekuensi dari
krisis ekonomi beberapa bulan terakhir ini. Melalui teori konflik adalah sebuah
pertentangan yang akut. Ia tak selesai dengan jalur konsensus yang
meneyenangkan kedua belah pihak. Ia tak juga selesai melalui pola konflik yang
menciptakan penyesuaian baik oleh kedua belah pihak. Sebuah perusahaan mungkin
merasa rugi jika merumahkan para pekerjanya, namun disisi yang lain terdapat
sebuah dilema akan menyebarnya virus tersebut jika proses kerja tetap
terlaksana. Konsekuensinya sederhana, PHK. Setiap PHK tentu hanya menyenangi
satu pihak semata. Jika menganalisis secara ekopol atau ekonomi politik,
peristiwa ini merupakan bagian agenda terhadap para pekerja yang tak ingin
dibayar tunjangan hari raya dan sebagainya. Entahlah.
Dalam teori alienasi marx pada masa industrial awal
abad 19, menceritakan proses perubahan masyarakat agraris ke industrial.
Beberapa lahan tempat bermain marx pada masa kecil dahulu sebagai tempat
bermain yang sangat asri dan indah. Kini telah menjadi sebuah pabrik garmen. Ia
melihat bagaimana masyarakat pada masanya
yang dulu bertani subsisten atau dengan kata lain bertani sesuai
kebutuhannya dan para petani yang mengekspor kebutuhan pangan diberbagai
wilayah. Setelah pengambilan lahan oleh para majikan dan membangun sebuah
pabrik, yang terjadi adalah para petani tersebut kehilangan sumber mata
pencaharian utamanya. Mereka kemudian berbondong masuk kepabrik, bekerja dengan
paruh waktu 19 jam kerja tak mengenal usia untuk memproduksi sebuah komoditas
yang tak dapat ia akses. Proses inilah yang dikatakan marx sebagai proses
alienasi yaitu keterpisahan individu dari proses produksinya.
Alienasi bagi marx tidak hanya dilihat sebagai
individu yang bekerja dipabrik saja. Proses alienasi dapat menjadi konsepsi
tertentu oleh masyarakat yang teralihkan oleh dunia. Pada masyarakat perkotaan,
umumnya disebut sebagai masyarakat marginal atau masyarakat yang tersisihkan
oleh kerasnya kehidupan dan kekalahan mereka terhadapa hukum kompetisi
kapitalisme. Lebih lanjut menggunakan analisis konflik oleh massimo de angelis
lewat enclosure nya. Apa yang ditawarkan oleh enclosure tidak jauh berbeda
dengan alienasi. Enclosure muncul sebagai buah perkembangan masyarakat konflik
dengan persoalan yang beragam. Jika alienasi merupakan terpisahnya individu
dari proses produksinya, encloure menambahkannya sebagai keterpisahan individu
dari sarana penghidupannya.
Teori Enclosure oleh Massimo De Angelis
Karena sistem sosial berdasarkan motif profit mempunyai karakter akumulasi
yang takterbatas,sehingga pada perkembangannya enclosure selalu dimodifikasi
dalam bentukbentuk yang lain pada seluruh aspek kehidupan manusia. Secara umum
enclosures awal diklasifikasikan menjadi tiga yaitu dimensi waktu (time),
dimensi ruang (space) dan dimensi manusia (human). Masing-masing dimensi
tersebut memiliki strategi yang berbeda-beda.
DIMENSI
|
OBJEK
|
STRATEGI
|
Waktu
|
1.
Hari Libur Publik
2.
Waktu Kerja
3.
Disiplin Kerja
|
1.
Negara menentukan hari libur publik
2.
Permintaan pasar, tuan dan
buruh, Negara
3.
Tuan dan buruh, Negara
|
Ruang
|
1.
Tanah Umum
2.
Tanah Pribadi
|
1.
Penggusuran Paksa
2.
Pajak
|
Human
|
1.
Body
2.
Ilmu Pengetahuan
|
1.
Penjara dan perbudakan
2.
Pemecahan ilmu pengetahuan
dan pembagian kerja
|
Tabel diatas
menunjukkan kepada kita bahwa enclosures secara umum diklasifikasikan menjadi
tiga yaitu mencakup dimensi, waktu, ruang dan manusia, masing-masing dimensi
terdapat objek yang di-enclosures dengan strategi yang berbeda-beda. (
TIM Pengelola Short Course : 2012).
Seperti yang diuraikan diatas, taksonomi enclosure
berdasarkan strateginya. Masyarakat modern akan mendapati proses keterpisahan
tersebut. Jika konflik masa lalu yang kental melalui perebutan ruang atau
lahan, atau pertentangan antara tuan feodal dan petani atau rakyat, kini lebih
bervariasi berdasarkan kompleksitas masyarakat. Apa yang dialami oleh pekerja tidak
hanya sekedar konflik perebutan ruang bertahan hidup semata (survive terhadap
kehidupanya), melalui taksonomi enclosure nyatanya, persoalan dalam pekerja pun
bervariasi. Ia tentu akan dihantui hilangnya kontrol terhadap tubuh untuk
mencari kerjaan yang lain untuk menyambung hidup. Ia kehilangan waktu atau
kesempatan untuk lebih berleluasa berinteraksi ke masyarakatnya hingga variasi
masalah lainnya. Efek ini tak dapat sepenuhnya disalahkan terhadap hadirnya
sebuah wabah dalam rentan waktu per- 1 abad terakhir, melain persoalan bumi
manusia didalamnya yang carut-marut. Ada sisi lain persoalan manusia yang mesti
benar-benar untuk dikaji.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan pekerja
informal? Sebutlah pekerja jasa. Dan siapa yang diuntungkan terhadap peristiwa
ini?
Sumber bacaan
George Ritzer, Teori Sosiologi Klasik-Modern
Ekopol Resist
Jared Diamond, Guns, Germs, and Steel (bedil, kuman,
dan baja)
Mansour Fakih, Bebas dari Neoliberalisme

Komentar
Posting Komentar