IBUISME AGAMA : Eksistensi Kaum Perempuan di tengah arus Fundamentalisme Agama
Oleh : DINASTY
Sekiranya tulisan singkat ini saya awali dengan dua pertanyaan mendasar, yakni :
Apa hanya dikarenakan peran Nabi diemban oleh kaum Lelaki, maka kita menganggap Hina Kaum Perempuan ?!
Apa hanya dikarenakan kita memiliki segumpal Daging Lebih pada ditubuh yang disebut "Penis", maka kita beranggapan bahwa kita lebih superior dari pada Perempuan ?!!!
Kedua Pertanyaan tersebut kiranya menjadi Refleksi bagi kita semua, guna kembali menengok Indikator Gender yang selama ini kita gunakan dalam menilai Kualitas antara Laki-Laki dan Perempuan. Cilakanya kebanyakan dari kita menilai Lawan Jenis kita berdasarkan Kategori Anatomi-Biologis.
Kategori atau Cara Pandang Anatomis-Biologis merupakan Cara Pandang atas Peran Sosial Manusia yang didasarkan pada Jenis Kelamin yang dimiliki. Cara Pandang ini amat bias Gender, yakni cenderung Menempatkan Mereka yang tidak memiliki Penis (Perempuan), harus terkungkung di Wilayah Domestik semata. Namun yang menjadi problem, Apakah mungkin Organ Fisik secara Mutlak mempengaruhi Kualitas Peran sosial seseorang ? Tentu amat naif menempatkan posisi Kaum Perempuan dibawah kaum Laki-laki hanya karena mereka tak memiliki Penis !!!
Cara pandang yang begitu bias Gender ini, tak lain dan tak bukan merupakan Manifestasi dari Budaya Patriarki. Patriarkisme merupakan Sistem Kebudayaan yang menempatkan Kaum Perempuan dibawah kekuasaan Kaum Laki-laki. Sistem ini menjadikan Perempuan hanya sekedar sebagai Objek Seksual yang kedudukannya tak lebih dari benda-benda koleksi bagi kaum Pria. Dengan kata lain, tubuh Perempuan oleh Sistem Patriarki sekedar di OBJEKTIVIKASI menjadi alat Pemuas Hasrat bejat kaum Lelaki.
Sistem Patriarki yang berlaku pada suatu Masyarakat, cenderung hanya menempatkan kaum Perempuan hanya pada Sektor Domestik (Dapur). Ya.... kurang lebih boleh untuk dikata, di dalam suatu Masyarakat yang menganut Sistem Patriarki, Perempuan hanya menempati Tiga sektor utama, dan tak lebih dari itu. Ketiga Sektor ini sering diistilahkan dengan istilah 3 Ur, yakni Sumur, Dapur dan Kasur. Anggapan yang demikian ini, justru merupakan suatu bentuk Degradasi Peradaban umat Manusia.
Kok bisa !!! Sebagai Manusia yang berpikir dan merasa, kita tentunya akan memahami kedudukan kita yang setara tanpa memedakan Ras / warna Kulit, Bangsa maupun Jenis Kelamin. Dalam bahasa Teologinya, "Kita semua sama dihadapan Tuhan, sebagai Hamba yang menghamba Kepada Nya". Namun aneh bin Cilakanya Sistem Patriarki, justru mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan Segumpal Daging (Penis & Payudara) yg melekat pada tubuh kita. Seolah ada Nilai Lebih dari Daging tersebut yang membuat Mereka Para Kaum Pria seolah-olah memiliki Legitimasi atau Alasan Pembenaran untuk mengeksploitasi Tubuh dan Jiwa Kaum Perempuan.
Kini di abad 21, Sistem Patriarki mengadakan suatu Konspirasi jahat dengan Sistem Kapitalisme ! Kapitalisme sebagaimana yang kita ketaui, merupakan Sistem yang menuntut Manusia untuk menghamba Pada Uang (Kapital). Jika sebelumnya Gerak Perempuan dibatasi hanya pada Ruang Domestik atau Rumah tangga, namun kini Ruang Publik telah terbuka lebar bagi mereka. Perempuan telah diberi hak untuk berkarir pada bidangnya masing-masing.
Namun kiranya kebebasan yang diberikan oleh sistem Patriarki-Moderen bukannya tanpa syarat.
Kehadiran Perempuan di Ruang Publik, justru menjadi boomerang tersendiri bagi mereka. Ruang Publik yang seharusnya menjadi Zona Emansipasi bagi kaum Perempuan, Guna memperoleh Hak Kesetaraan Gender dengan Kaum Laki-laki. justru malah menjadi Zona Eksploitasi yang paling nyata bagi mereka !
Oleh Sistem Patriarki yang diboncengi Sistem Kapitalisme, Perempuan hanya dijadikan ya.... sekedar sebagai Objek-Objek Seksual belaka. Tubuh mereka dijadikan sebatas alat untuk meraup keuntungan oleh Industri. Industrialisasi / Kapitalisasi Tubuh Perempuan tak lain merupakan bentuk Penindasan gaya baru yang diterapkan oleh Sistem Patriarki di era Moderen.
Kolaborasi antara Sistem Patriarki dan Sistem Kapitalisme, telah melahirkan gaya Ekploitasi baru terhadao Perempuan.
Kapitalisasi pada tubuh Perempuan yang berlangsung di Ruang Publik seperti misalnya Iklan Suatu Prodak Barang yang sekaligus menjual Lekukan tubuh Perempuan, tidak hanya sekedar menjadikan mereka sebagai Objek Pemuas Hasrat belaka guna meraup sebanyak banyaknya keuntungan bagi Pihak Industri. Namun juga hal ini amat mempengaruhi kesadaran Emansipasipatoris atau Kesadaran untuk memoerjuangkan Hak-hak mereka yang telah dirampas. Kapitalisasi pada tubuh perempuan, tidak hanya menjadikan kaum Laki-laki berpikiran Porno, tapi turut pula menjadikan Kaum Perempuan mendewakan Simbol-simbol kecantikan yang ditawarkan oleh Kapitalisme-Patriarki
Hal ini terutama Dikarenakan Simbol-Simbol "Kecantikan" yang ditanamkan oleh Kapitalisme dan Patriarkisme Moderen, seperti misalnya anggapan bahwa cantik itu harus Putih, Langsing, Bermata sipit, dst, menjadikan mereka turut mendewakan hal-hal tersebut yang sejatinya hanya sekedar Konstruksi Kapitalisme. Dan sebagai muara akhirnya maka terjadilah peningkatan Konsumsi Perempuan pada Prodak Kecantikan seperti Kosmetik, dsb. Dalam Hal ini bukannya mereka makin sadar diri akan Eksploitasi dan keterjajahan yang sedang dialami, justru malah membuat mereka makin menjadi Pribadi yang boros, seboros borosnya. Membanjirnya Prodak-Prodak Kecantilam Wanita (Kosmetik) dipasaran tak lain merupakan bentuk Invasi Kapitalisme-Patriarkisme atas dunia mentalitas dari Kaum Perempuan.
Belum lagi Beban kerja yang diberikan bagi mereka disektor Domestik untuk mengurusi anak, dapur dan hal-hal lain menyangkut Rumah tangga, makin menjadikan mereka Para kaum Perempuan layaknya "Lumpen Proletariat" yakni Hamba dari Para Hamba. Sungguh situasi yang amat Miris dan amat menyedihkan.
Dengan demikian Terbukanya Ruang Publik untuk akses Kaum Perempuan tidak serta merta menjadikan mereka lepas dari Eksploitasi. Sistem Patriarki senantiasa mengalami Perubahan dan Perkembangan serta Evolusi terus menerus, guna tetap melenggengkan Eksploitasi. Dengan mengikuti Basis Struktur Ekonominya yakni Kapitalisme yang mendewakan Uang, maka Patriarkisme yang mendewakan Phallus turut mengalami Mutasi Genetik pada mekanisme Eksploitasi / Penindasannya atas Kaum Perempuan.
Ekspansi dari Sistem Kapitalisme abad 21 yang kita kenal dengan istilah Neo-Liberalisme, telah membawa serangakaian Perubahan-Perubahan mendasar pada Corak sistem Patriarki Moderen. Salah satu Corak Perubahan tersebut yakni Munculnya Gejala "Fundamentalisme Keagamaan"
Gejala ini (Fundamentalisme Agama) bukan hanya menggejala pada wilayah Keyakinan saja, seperti munculnnya Sikap Fanatisme buta atas Agama. Namun juga berlangsung pada wilayah Gender atau Relasi antara Laki-Laki dan Perempuan. Lebih Cilakanya lagi Gejala Fundamentalime Agama, terutama berkembang pesat dikalangan Milenial belakangan ini, Makin membenamkan kaum Perempuan pada pada Taklid Buta akan Perannya yang melulu diharuskan pada Ruang Domestik / Rumah tangga. Dengan anggapan bahwa yang demikian itu adalah ajaran Moral Agama, yang bersumber dari yang Kudus atau yang Suci. Sehingga mutlak harus diterima. Penolakan atas hal tersebut, akan menimbukkan Dosa bagi diri seseorang.
Fundamentalisme Agama yang merupakan anak Haram dari Globalisasi, sebab ia tak lain merupakan Paradoks dalam diri Globalisasi itu sendiri. Kiranya Globalisasi sebagau suatu situasi sosial yang cenderung mengarah pada Penyatuan Masyarakat Dunia yang sebelumnya terpecah-Pecah, selain dipengaruhi oleh Perkembangan Teknologi (Komunikasi & Transportasi) namun juga amat dipengaruhi oleh Perkembangan dari Sistem Kapitalisme yang Ber-Ekspansi keberbagai Belahan dunia, untuk memperluas jalur Eksploitasinya lewat Penanaman Modal Pada Negara-Negara dunia ketiga (Investasi). Dengab demikiam Globalisasi sekaligus menciptakan Ketergantungan Ekonomi pada Negara Berkembang dan turut melahirkan Gejala Fundamentalisme Agama. Yang disebutkan terakhir lebih didasarkan atas kecenderungan Gerakan Sektarian (Agama, Suku, Ras, dan sebagainya) untuk menpertahankan Identitas Primordial dengan cara memandang Budaya ataupun Entitas lain secara Negativ (Etnosentrisme).
Dengan Kata lain Kapitalisme dalam Bentuk Ekspansionisnya yakni Globalisasi, telah berbuah pada lahirnya Sikap Fundamentalisme Agama yang mendadari diri pada Fanatisme Buta atas Ajaran yang dianut serta sekedar memahami Agama secara Tekstual.
Fanatisme ini tak lain dari upaya untuk mempertahankan Identitas Pemeluk Agama tertentu, dari Arus Globalisasi yang menghanyutkan tiap-tiap Identitas Lokal. Cilakanya disini ! Upaya untuk mempertahankan Identitas tersebut tidak dibarengi dengan suatu upaya Pendalaman Ilmu Agama yang benar ! Maka yang muncul nantinya ialah Sikap Fanatisme Buta dari Kaum Agamis di Abad 21 terutama pada Milenial-milenial urban, yang sekedar hanya ingin mempertahankan Eksistensi (Identitas) Agama dari pada memperdalam Esensi (Ilmu) agama. Kenyataan ini amat marak, terutama dikalangan Milenial-Milenial Perkotaan yang hidup dalam Cultur Urban, dengan corak kehidupan sosial yang Individualis, Minimalis dan Hedonis. Agama oleh mereka dijadikan hanya sekedar Perhiasan untuk memperkuat indetitas Personal atau identitas Ke-aku-an. Dan Ilmu Agama sekedar diperoleh secara Praktis lewat HP dari pada berguru pada Ahlinya secara langsung.
Akibat selanjutnya dari Gejala Fundamentalisme Agama ini, dalam Rana Sosial-Politik telah berkontribusi bagi kelahiran Gerakan Ekstremis seperti Terorisme dan pada Rana Gender ia melahirkan Gejala "Ibuisme Agama".
Apa itu Ibuisme Agama ?! Ibuisme Agama adalah bentuk Kontrol baru dari Patriarki atas Diri Perempuan dengan menggunakan Tameng Agama. Agama dalam Hal ini justru menjadi sekedar Alasan Pembenaran oleh Rezim Patriarkis, untuk menjajah Tubuh perempuan. Toh.... siapa juga yang akan melawan jika yang dilawan ini berwajah Agama. Dilawan takutnya Dosa nantinya !!
Makanya jangan heran ketika menyaksikan Perempuan-Perempuan Milenial yang terpapar Fundamentalisme Agama, justru menjadi salah satu golongan Kontra-Revolusioner yang menahan laju Gerakan Kaum Perempuan yang menuntut akan adanya Emansipasi Sosial.
Oleh Mereka (Kalangan Fundamentalis) Feminisme di Pandang hanya sekedar sebagai Prodak Pemikiran Barat yang Kufur sebab merupakan Buatan Orang Kafir, serta harus dilawan. Logika Negasi yang demikian, yang hanya memandang segala sesuatu secara Oposisi-Biner (Hitam-Putih) seperti Timur-Barat, Islam-Bukan Islam dan sebagaianya, malahan justru menjadi penyebab kemandegan bagi lahirnya suatu kesadaran Emansipasi dikalangan Kaum Perempuan.
Walau Gejala Fundamentalisme Agama yang berlaku dalam Lingkup Orgabnisasi / Gerakan masih memungkinkan Perempuan untuk bekerja di Sektor Publik, namun kiranya Kaum Perempuan belum sepenuhnya dapat terlepas dari beban kerja Ganda. Disatu sisi mereka harus berkarir di luar Rumah, namun di sisi lain mereka harus kembali ke Rumah untuk mengurus tanggung jawab Dapur. Ya.... jadi Beda-beda tipislah dengan pola penindasan yang dialami pada kasus Perempuan Liberal, yang juga memungkinkan Perempuan bekerja pada sektor Publik namun tetap mengalami Peran Ganda.
Demikian lah Ibuisme-Agama memerangkap Perempuan dalam Logika Patriarki, mereka sekedar memahami diri mereka sebagai Pekerja Domestik semata.
Alih-alih meneriakkan dan menyerukan Keadilan Gender, mereka para Pemabuk surga ini justru dengan lantang dan amat Percaya diri mendukung Poligami atas kaumnya. Mungkin dengan dalih pembenaran Karena ajaran Agama.
Ibuisme Agama yang telah menggantikan Ibuisme Negara yang sebelumnya cukup mendominasi dimasa Orde Baru. Namun Subtansinya tetap sama, yakni sekedar memandang peran Perempuan hanya sebatas pada aspek 'Ke-Ibu an'. Dengannya Perempuan lagi-lagi hanya dibatasi pada ruang Domestik (Rumah Tangga). Selain itu, Fashion kaum Perempuan distandarisasikan secara berlebih sehingga Prodak-prodak Agamis amat laku dipasaran. Seolah-olah dengan memakai Atribut tersebut Jaminan Surga sudah dapat dipastikan. Disamping itupulah, muncul cibiran-cibiran yang mudah menganggap dan Menuduh Kafir kelangan mereka yang berbeda dari secara Penampilan (Fashion). Sungguh suatu kebobrokan yang amat nyata !
Demikianlah ketimpangan Gender yang disebabkan oleh Sistem Patriarki dan Sistem Kapitalisme, yang kini telah menjelma dalam bentuk "Ibuisme Agama". Agama yang semestinya menjadi Medium Pembebasan bagi Kaum Perempuan secara Khusus dan Umat Manusia Pada umumnya, kini harus dijadikan tameng pembenaran bagi para kaum Kapitalis & Patriarkat.
Jika kita berupaya untuk kembali memahami Esensi Agama yang sejati, terutama Islam. Maka akan sangat jelas Islam merupakan Agama dengan Ajaran yang sangat menentang Keras Penindasan, Termasuk dalam hal ini Penindasan (Eksploitasi) atas Kaum Perempuan. "Tauhid" sebagai Spirit utama dari Islam, yang menghendaki Penghambaan Hamba (Ciptaan), Kepada Yang Esa (Pencipta). Manusia, Hewan, Tumbuhan, Pegunungan, Lautan, Batu termasuk dalam hal ini Perempuan adalah Hamba-Hamba Tuhan yang hendaknya meng-Hamba kepada-NYA. Alangkah korang ajarnya ketika Hamba justru memperhambakan Hamba-Hamba Lainnya. Dan Sistem Patriarki yang kini bertameng dibalik wajah Agama, justru menjadikan Kaum Perempuan makin tertindas, terkeksploitasi dan aniaya. Patriarki dengan demikian merupakan Kezaliman terhadap Hamba-hamba Tuhan.
Sudah semestinya kita kembali memahami Esensi Agama, apakah Agama yang kita yakini justru mengarahkan kita pada Tindakan Ekploitasi terhadap sesama ataukah menuntun kita pada tindakan Harmonis. Yakni tindakan Manusiawi yang memungkinkan Peradaban terus lestari. Maka dari itu, atas segala bentuk Eksploitasi Patriarkisme dan Kapitalisme terhadap Manusia maka hanya ada satu kata, LAWAN !!!!
"HIDUP KAUM PEREMPUAN YANG BERLAWAN"

Komentar
Posting Komentar