ORGANDA DAN PERBUDAKAN
ORGANDA DAN PERBUDAKAN
Oleh : Dinasty Dinra Pratama (Mahasiwa Ilmu Sosial FIS UNM
& Anggota Pecandu Aksara)
Mahasiswa dalam
proses pengembangan potensi yang dimilikinya, tentu memerlukan suatu wadah,
entah itu dalam bentuk Komunitas ataupun Organisasi.
Organisasi
Mahasiswa Daerah atau yang disingkat Organda, merupakan suatu Wadah bagi Mahasiswa
daerah atau dalam hal ini Mahasiswa Perantauan, guna mengembangkan potensi
pribadi serta tetap menjaga nilai-nilai budaya luhur yang mereka bawa dari desa
ke kota.
Dalam
perkembangannya terutama di Kota Makassar. Sering kita mendengar berbagai kabar
buruk mengenai Organda, mulai dari Tawuran, atau Konflik antar sesama Mahasiswa
daerah yang mengatas namakan Organda mereka masing-masing dan sampai pada
pemberitaan mengenai Program Kerja Suatu Organda yang memberatkan Kader mereka
sendiri.
Tentu ini sudah
bertentangan dengan semangat dalam Pasal 28 E ayat 3 “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat,
berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”
Yang dimaksudkan
pula pada hadirnya suatu Lembaga/Organisasi yang mampu menjadi wadah
pengembangan diri setiap anggotanya, bukan menjadi tempat eksploitasi
eksistensial.
Mengingat Organda
hari ini malah menjadi ruang-ruang yang menyediakan sarana Eksploitasi dan
dehumanisasi serta Alienasi pada setiap anggotanya.
Belakangan ini
ketika kita membuka info di grup Whatsapp maupun Facebook, paling tidak kita
akan mendapatkan info atau kabar miris mengenai peperangan, Konflik, serta
berbagai bentuk perbuatan eksploitatif yang mengatas namakan Organda.
Bukankah fenomena
tersebut telah menyiratkan kepada kita semua, mengenai Realitas kaderisasi
dalam Organda hari ini?!
Sistem kaderisasi
dalam Organda hari ini, hanya menawarkan bentuk yang dari dulu hanya itu-itu
saja. Dalam rekruitmen keanggotaan di setiap Organda, materi yang
disosialisasikan kepada para kadernya tidak lebih dari materi-materi umum
seperti Keorganisasian atau kesekretariatan tanpa inovasi materi baru seperti
Filsafat ataupun Teori Kritis yang mempercepat laju pikiran.
Mengapa para kader
Organda tidak diajarkan Filsafat? Apakah Ilmu yang satu ini terlalu berat bagi
mereka anggota baru untuk ditelaah dan dipahami? Apakah mereka disangka sampai
tidak memiliki akal hingga pembelajaran Filsafat di Negasikan dalam kehidupan
Lembaga semacam Organda, ataukah ada segolongan orang-orang yang takut akan
kebenaran, dan berupaya untuk membungkamnya? Tentu hal ini tetap menjadi
misteri sampai sekarang.
Di samping itu,
proses berjalannya Kaderisasi dalam suatu Organda, juga kebanyakan hanya berisi
tumpukan program kerja besar seperti event, seminar, perlombaan olahraga dan
sebagainya, yang siap dijalankan secara paksa oleh segenap Anggota baru.
Setiap hari
penggalangan dana, setiap hari kerjanya proposal kegiatan, setiap hari Rapat
dan di setiap detiknya pula bayang-bayang LPJ menjadi momok layaknya hantu yang
menakuti para kader Organda.
Tidak ada diskusi,
tak ada kajian Filsafat, tak ada budaya kritisisme, sedang yang ada hari ini di
dalam kuil-kuil organisasi mahasiswa yang memakai nama daerah, adalah kumpulan
budak-budak siap Pakai dan Siap untuk diperintah kapan saja dan dimana saja.
Organda yang hari
ini hanya datang dan menawarkan Rekruitmen keanggotaan baru, namun sejatinya
tak lain dan tak bukan untuk mencari para pekerja yang siap untuk bekerja di
dalam pabrik-pabrik organda itu sendiri.
Dengan proses yang
sedemikian menyesakkan itu, maka jangan heran ketika hari ini kita dapat
melihat realitas Organda yang hanya mampu untuk Tawuran, mengadu kekuatan fisik
dan membuat huru-hara di tengah-tengah kota, tanpa sedikitpun mampu menelurkan
kader yang kritis. Atau paling tidak, menghasilkan pemikir-pemikir hebat.
Dengan meminjam
salah satu pandangan mengenai masyarakat dalam tradisi Marxian, di mana
Perspektif ini melihat bahwa, orang-orang atau dalam hal ini Kaum Proletar
dalam sistem Kapitalisme mengalami suatu kesadaran palsu (Uncusciosines) akibat
berbagai pengaruh, entah itu Budaya Pop ataupun model Pendidikan Formal yang
tidak menunjang bangkitnya nalar kritisisme.
Sama halnya dengan
Organda, juga menjadi tempat produksi dan reproduksi ketidaksadaran bagi kalangan
mahasiswa daerah dengan menghadirkan berbagai kesibukan lewat Progam-Program
Kerja yang sifatnya besar dan mengaburkan fungsi serta identitas
kemahasiswanya.
Yang menjadi
pertanyaan selanjutnya, siapakah yang diuntungkan dengan ini semua? Siapa yang
di untungkan lewat banyaknya suatu Proker yang begitu banyak dalam suatu
Organda ?
Bukan untuk
berprasangka buruk. Namun pada umumnya, pola perbudakan di dalam suatu Organda
tak lain hanya dinikmati oleh segelintir Oknum Politis atau Kaum Elit Organda
yang memainkan Logika penindasan, yakni Para “Senior Sesepuh.”
Suatu Proker
berupa event besar seperti Kegiatan yang mengundang para pejabat lokal, tentu
dapat menjadi ajang dalam membangun pola relasi yang hangat dan Romantis,
antara para petinggi Organda dengan Para Birokrat daerah, akibatnya apa yang
terjadi selanjutnya?
Tentunya dengan
keadaan yang sedemikian rupa adanya, hanya akan menjadikan organda sebagai
tempat lokalisasi bagi perbudakan. Tatkala nalar berpikir kritis itu mati oleh
kesibukan, akibat menumpuknya proker besar. Maka hari ini yang dapat kita lihat
secara bersama bahwa, kritisme sudah tidak ada lagi di kehidupan berlembaga,
termasuk dalam hal ini Organda.
Lalu yang menjadi
pertanyaan selanjutnya. Adakah solusi bagi Organda, mengingat Eksistensi
Organda hari ini bagaikan Candu bagi para Mahasiswa Daerah? Adakah jalan keluar
bagi semua Problematika yang memasung Organda?
Perluka Organda
dibubarkan saja, sehingga kita tidak mengenal lagi lembaga sarang perbudakan
tersebut? Atau perlukah kita memasuki Fase Post-Organda?
Jawaban dari
deretan pertanyaan di atas, itu semua kembali kepada pembaca masing-masing
dalam menyikapi hal ini.

Pada titik tertentu saya sepakat dengan uraian penulis. Namun, pada titik lainnya, saya kira kesan yang saya tangkap agak berlebihan dan bersifat jeneral. Ketidak sepakatan itu bertumpuh pada klaim penulis yang melihat keberadaan "organda" (saat ini) yang tidak mendorong kadernya untuk belajar filsafat dan berfikir kritis dengan hanya melihat beberapa kasus yang melibatkan Organda. Faktanya, masih ada organda bahkan mungkin masih banyak yang melakukan hal yang diharapakn oleh penulis -organda pergelut dlm penguatan keilmuan. Salah satu contohnya adalah organda yang saya tempati bergelut selama mengenyam pendidikan (mungkin tak mesti saya sebutkan dalam kolom komentar ini). Di sana, pola kaderisasi yang diterapkan sangat jauh dari kata perbudakan. Malahan pola pendekatan yang digunakan lebih bertumpuh pada nilai-nilai kekeluargaan. Tanpa menggunakan kekerasan dan paksaan. Kalaupun ada yang bertindak demikian, sudah pasti mereka akan dikecam habis-habisan. Penyusunan program kerjapun selalu didasarkan pada kepentingan masyarakat umum, bukan kepentiangan yang "bermuatan pilitis".
BalasHapusLanju. Di sana, kami juga punya panduan dalam menjalankan proses pangaderan yang muatannya bukan hanya materi penguatan keorganisasi seperti yang disampaiakan, tapi juga mencakup penguatan keilmuan yang di dalamnya ada muatan filsafat dll. Di mana pengaderan dilakukan secara bertahap, dari perekrutan, Latihan dasar hingga pelatihan2 lainnya -yg berhubungan dengan penguatan keilmuan.
Sebelum menagkhiri komentara, saya juga mau bilang, disana, kami diajarkan untuk tidak terjerumus dalam konflik antar organda.
Cukup dulu, ya.