Post-Truth: Bullshit yang Menaklukan Dunia
Post-Truth:
Bullshit yang Menaklukan Dunia
Oleh: Sutrisno Mountainer
Istilah post-truth menurut penjelasan Kamus
Oxford digunakan pertama kali tahun
1992.Istilah itu diungkapkan oleh Steve Tesich dalam mengungkapkan“The Watergate Syndrome” di majalah The
Nation ketika merefleksikan kasus Perang Teluk dan kasus Iran yang terjadi di periode tersebut.
Dalam artikel tersebut ia menuliskan bahwa kita,
sebagai manusia yang bebas, telah memutuskan bahwa kita ingin hidup di era
post-truth. Kalimat ini merupakan cerminan dari kegelisahan Tesich terhadap perilaku para politisi dan Pemerintah yang sengaja memainkan fakta dan data yang objektif atau bahkan tidak menggunakannya sama sekali
demi memanipulasi opini publik.
Menurut David
Patrikarakos, jurnalis berkebangsaan Inggris, era post-truth telah menciptakan
post-truth leader mulaidari Vladimir Putin hingga Donald Trump.Mereka menggunakan kelemahan masyarakat untuk dapa tmengenali kebenaran demi mencapai kekuasaan.
Di dalam post-truth terdapat bullshit dapat didefinisikan sebagai fenomena berita murni bohong
yang mudah disebarkan serta mudah didiskusikan. Hal-hal seperti ini sering kita jumpai dalam semesta sosial media yang sifatnya hanya untuk hiburan semata. Bullshit sendiri sudah mengakar ditengah masyarakat sebagai suatu bentuk hegemoni yang berpeluang membutakan masyarakat terhadap objektivitas fakta-fakta yang terjadi.
Pada abad ke-21 ini merupakan abad ketika rasionalitas dikalahkan oleh emosi, ketika keberagaman pendapat dihancurkan oleh nativisme dalami katan-ikatan kelompok, seperti dalam konteks beragama, beberapa golongan sulit untuk menerima kebenaran yang berasal dari golongan
lain. Ketika kebebasan sekarang sudah bergeser kepada kekuatan diktatoral. Praktek politik sudah menjadi pertarungan menang kalah,bukan lagi sebagai ruang adu gagasan.
Di era digital seperti ini bahkan
bullshit dijadikan sebagai komoditi dengan tujuan untuk menghasilkan uang dan anehnya penyebaran bullshit ini hanya memerlukan waktu yang singkat, namun membantah hal tersebut dibutuhkan waktu yang relatif lama. Kita tentu belum melupakan momen politik 2019 yang dipenuhi dengan berita hoax, ketika para pemeran dalam kontestasi tersebut berupaya untuk menggiring opini public dengan tujuan menunjukkan kebenaran dari masing-masing pihak yang membuat tenggelamnya fakta. Sehingga public lebih condong melihat opini dan melupakan fakta
yang terjadi.
Praktek bullshit menguasai dunia punya sejarah panjang. Pasca Perang Dunia I Hitler dengan bullshitnya mampu menguasai daratan Jerman.
Sebagian besar rakyat Jerman pada saat itu percaya dengan Hitler. Hitler sendiri mengakui bahwa ia menguasai Jerman dengan kebohongan dengan rumus kebenaran kebohongan
x 1000, artinya bahwa kebohongan yang terus menerus disampaikan berulang-ulang kali akan diterima sebagai kebenaran. Salah satu filsuf
yang menjadi fans Hitler adalah Heiddeger.
Suatu kelompok masyarakat akan mampu keluar dari pusaran post-truth apabila masyarakat memiliki kesadaran krtis dan tidak menelan mentah-mentah informasi yang diterima. Maka kesadaran kritis di dalam masyarakat harus dibangkitkan sebagai alat
yang disebut oleh Antonio Gramsci
sebagai Counter
Hegemony.
Komentar
Posting Komentar