EPISODE 2 : KITA MENYATU DALAM CERITA
EPISODE 2 : KITA MENYATU DALAM CERITA
(Ilustrasi dari : https://sugriwagambar.blogspot.com/2020/06/terbaru-11-gambar-pohon-beringin.html?m=1)
Oleh : Arisnawawi
Hilangnya tradisi pengiriman sesajen kepada dewa laut atau Panganroang salo dari masyarakat setempat, justru malah memperkeruh kekhawatiran Ajun. Bagaimana tidak, kondisi ini malah melahirkan tradisi atau kebiasaan baru yang lebih memperihatinkan. Tradisi itu beerkenaan dengan kebiasaan pembuangan sampah di sungai. Plastik-plastik yang dahulunya amat jarang didapatkan, kini hampir menutupi permukaan sungai.
Karena dalih efisiensi, masyarakat yang tinggal disekitaran sungai lazim melempar sampahnya begitu saja. Sampah disekitaran rumah, dianggap akan memperburuk estetika rumah. Atauakah, alasan kuatnya… “mungkin sungai tidak lagi ditakuti seperti sediakala? tidak lagi dianggap sakral dan keramat” cetus Ajun tiba-tiba berbicara sendiri. Keadaan ini diperparah oleh keberadaan peninggalan perkebunan tebu bekas Belanda yang sekarang beroperaasi dan dikelola oleh pihak swasta. Proses pengelolahan tebu menjadi gula tidak semanis pengelolaan limbahnya. Kotoran pabrik dibiarkan mengalir langsung ke sungai menuju ke laut.
Dari amukan batin Ajun, ia mencoba menerka-nerka kalau saja nenek moyangnya mendapatkan kesempatan hidup kembali di era sekarang. Pastilah mereka akan menjumpai sungainya menghitam, dan ditambah bau busuk yang cukup menyengat. “Barangkali para nenek akan mengalami puncak ketakutan yah. Dikiranya sungai ini sudah terkutuk. Atau mereka malah akan mengira dewanya telah dibunuh oleh dewa yang lain, atau dibunuh oleh manusia sendiri?. Atau para nenek akan sibuk mencari sesajen-sesajen yang tidak pernah kelihatan lagi?” Entahlah… gumamnya sambil menggeleng pelan.
“Kalau dewa dapat saling membunuh, pastilah ada dewa yang paling kuat yang tidak bisa mati. Dewa para dewa. Mungkinkah ini dewa Allah dalam Agama Islam?” ungkap Ajun kebingungan. Ajun sering melontarkan pertanyaan keberadaan dewa tunggal kepada gurunya saat belajar Pendidikan Agama di sekolah. Namun penjelasannya diaggap dan bersifat parsial serta kurang meyakinkan.
Ajun bahkan kerap kali mendapat timpalan sinis dari teman-temannya, “Tidak usah mempertanyakan Tuhan Jun. Kalau kita pertanyakan ada atau tidaknya Tuhan, berarti kita meragukan keberadaannya”
“Kata Ibuku” sambung Mawar “Kita akan disiksa jika sampai tidak mempercayai Tuhan dan akan dimasukkan ke dalam apinya yang saaangat panas” lanjut Mawar berupaya menirukan ibunya. “Kok kejam sekali Tuhan melarang kita mencari tahu keberadannya” tegas Ajun sambil menggeleng.
Fenomena-fenomena yang ada di lingkungan Ajun kerap kali membuatnya kebingungan. Kegalauannya akhirnya sedikit demi sedikit terobati, ketika Ajun bertemu dengan Jusman dari kampung sebelah yang kelak ia akui sebagai salah satu guru spritualnya. Jusman merupakan salah satu alumni pembelajar Filsafat dari Universitas terkemuka di pulau Jawa.
Yang membuat guru spritualnya menarik karena setiap pertanyaan Ajun tidak langsung dijawab seperti orang-orang pada umumnya. Ia kadang menjawab dengan pertanyaan balik, atau bahkan hanya memberi pengantar. Selebihnya ia membiarkan Ajun berpikir dan menarik kesimpulan sendiri. Bukan karena tidak mempunyai jawaban, melainkan Jusman selalu mengajak untuk sama-sama berpikir.
Pernah suatu kisah. Kala itu, Ajun sedang bertanya tentang pengatahuan ilmiah dan agama. Hal ini bermula ketika Ajun mengikuti salah satu pelajaran di sekolah, siswa-siswa tercengang melihat perkembangan teknologi mutakhir yang ditampilkan oleh grurunya dalam bentuk gambar-gambar. Pesatnya perkembangan teknologi ini diklaim atas sumbangsi pengatahuan ilmiah, bukan berasal dari agama. “Apakah yang lebih penting agama atau pengatahuan ilmiah menurutta Deng?” (sebutan “Deng” disematkan kepada orang yang lebih tua dan sekaligus panggilan sopan dalam kebudayaaa Bugis) tanya Ajun ketika bertemu dengan Jusman di bawah pohon mangga menjelang petang.
Bukan langsung menjawab, Jusman malahan menimpali pertanyaan balik “apa yang kita pahami dengan agama, dan apa yang kita pahami dengan pengatahuan ilmiah?” (sebutan “kita” sering disematkan kepada lawan bicara).
Ajun mulai menghimpun pemikiran untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun sebenarnya, upayanya ini tidak lain dari upaya menjawab pertanyaannya sendiri.
“agama adalah keyakinan deng dan pengatahuan ilmiah adalah pendapat tentang sesuatu” Seru Ajun sambil cengengesan. “Apa itu keyakinan dan apa itu pendapat menurutmu Jun?”. “Keyakinan adalah kepercayaan akan sesuatu dan pendapat adalah konsepsi terhadap sesuatu deng” keseriusan nampaknya mulai tercium dari Ajun.
“Apa itu kepercayaan dan apa itu konsepsi… dari mana kepercayaan bisa muncul dan dari mana konsepsi bisa muncul…” Tanya kembali Jusman yang semakin menyelami dan mengarahkan pemikiran Ajun.
Tanya jawab itu berjalan tanpa henti, ketika Ajun menjawab, seketika itu muncul lagi pertanyaan dari Jusman. Begitu seterusnya…
Hemat cerita, dialektika guru vs murid ini berlangsung sengit, hingga tiba-tiba mengantarkan Ajun pada sebuah kesimpulan yang jelas, setidaknya menurut Ajun.
“Pengatahuan ilmiah itu deng suatu konsep yang disertai pembuktikan empiris atau klarifikasi panca indra serta masuk akal (tahu + bukti empiris + rasional).
Misalkan deng, kita ingin mengatahui dengan menanam biji buah mangga, maka pohon apa yang tumbuh. Ketika kita menanamnya, dan beberapa tahun kemudian tumbuhlah pohon mangga. Tahulah kita bahwa, biji mangga yang ditanam bisa menjadi pohon mangga.
Pengatahuan ini disebut pengatahuan ilmiah, karena hal demikian rasional dan ada bukti empirisnya deng”
Jusman hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ajun. “Sedangakan keyakinan adalah suatu konsep tanpa harus mendapatkan pembuktian empiris melalui panca indra, tapi tetap masuk akal (tahu + tanpa bukti empiris + rasional). Misalkan deng, mengapa bisa dengan menanam biji mangga tumbuh pohon mangga?, mengapa bukan pohon durian? atau pohon nangka?. Ada dua kemungkinan jawaban bisa diperoleh menurut saya deng. Pertama karena kebetulan, namun teori ini sangat lemah karena dapat ditumbangkan oleh teori kebetulan itu sendiri. Kedua, biji mangga yang ditanam akan selalu tumbuh pohon mangga karena ada aturan atau hukum yang mengatur demikian. Hukum alam ini tidak kelihatan atau tidak empiris, tetapi akal mengatakan hukum ini ada dan bekerja deng. Seperti matahari yang setiap hari terbit dan terbenam. Ketika kita bertanya, siapa yang membuat hukum ini? tentu dibuat oleh yang maha pintar dan ini rasional deng. Disinilah keyakinan bekerja deng” jelas Ajun dengan hati-hati.
Jawaban Ajun disambut jempol tangan kanan oleh Jusman, sembari mengatakan “Setidaknya, untuk sementara apa yang barusan kita ungkapkan dapat dijadikan pegangan”.
Sebelum matahari terbenam di ufuk barat, Jusman bercerita tentang pentingnya agama dikawinkan dengan ilmu pengatahuan. Kali ini ia mengangkat pengalaman temannya, Ustad Robi. Jusman dan Ustad Robi merupakan teman satu angkatan sewaktu SMA. Namun tanpa disengaja ketika mereka lulus, mereka juga melanjutkan perguruan tinggi di tempat yang sama di Universitas terkemuka di Pulau Jawa. Meski sama-sama di Perguruan Tinggi tersebut, Robi memilih jurusan Dakwah Agama Islam yang kelak menjadikannya akrab disapa dengan sebutan Ustad Robi. Berkat kecakapannya dalam berdakwah, ia sangat disegani dan dikagumi oleh teman-temannya.
“Meski kami sama-sama keluaran dari sekolah yang sama dan melanjutkan pada perguruan tinggi yang sama pula, namun di tempat perantauan itu kami sebenarnya jarang bersama Jun. Hal tu karena saya di Jurusan Filsafat, dan Robi di Jurusan Dakwah. Kami betul-betul disibukkan dengan kegiatan kampus kami masing-masing” beber Jusman memberikan pengantar sebelum masuk pada core ceritanya.
Tidak berlarut-larut dalam menceritakan kisah persahabannya dengan Ustad Robi, Jusman kemudian memulai cerita bahwa temannya, “Ustad Robi itu salah satu teman saya yang tipikal orangnya cukup ambisius. Hal demikian mengantarkannya pada jiwa kompetitif yang sangat tinggi dibandingkan dengan teman-teman kami yang lain. Ia juga cukup menonjol dan disegani oleh teman-teman kuliahnya dan kabarnya oleh dosen-dosennya sekaligus di kampus”.
“Nah, disini mulanya Jun, pada suatu hari Ustad Robi diutus oleh Lembaga Dakwah Kampus untuk melakukan dakwah di daerah terpencil salah satu kampung di Kabupaten Bulukumba. Alasan pertama mengapa ia diutus karena Ustad Robi dianggap paling layak diantara teman-temannya yang lain secara pemahaman agama. Kedua, Robi sendiri berasal dari Kabupaten Bone yang sedikit banyak memiliki kebudayaan yang sama dengan masyarakat Bulukumba” terang dari Jusman.
“Ustad Robi yang ditemani oleh kedua sahabatnya membawa misi menyiarkan agama Islam disana secepat mungkin. Rombongan ini diketuai oleh Robi sendiri. Sesampai mereka di kampung itu, masyarakat menerima mereka dengan ramah layaknya tamu-tamu pada umumnya. Masyarakat setempat masih memegang tradisi nenek moyangnya, baik dalam menjamu tamu maupun dalam sistem kepercayaan. Rata-rata masyarakatnya menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Terdapat beberapa benda dan tempat yang sangat dikeramatkan. Salah satunya adalah pohon beringin besar beserta sumur beridiameter kurang lebih satu setengah meter. Kedua benda yang dikeramatkan itu saling berdekatan dalam satu area yang sama”.
Sambil mengangkat keningnya sedikit, Jusman melanjutkan bahwa “kepercayaan masyarakat dan pengkeramatan itu bermula saat masyarakat melihat pohon dan sumur itu berbeda dibandingkan pada pohon dan sumur pada umumnya Jun. Pohon beringin itu sangatlah besar. Karena sangat besarnya, kata Ustad Robi kalaupun 10 orang yang bergandengan tangan tidak cukup untuk mengelilingi batangnya. Selain batanganya besar, pohon tersebut juga terlihat begitu menakutkan karena akar-akarnya yang menggelantung di rantingnya sendiri. Pohon itu kemudian dipercaya sebagai tempat roh-roh nenek moyang mereka bersemayan. Karena roh-roh memilih tinggal di sana, sehingga pohonnya memiliki bentuk yang aneh”.
“Oh iya, masyarakat disana memahami, roh-roh orang yang sudah meninggal tetap ada disekeliling mereka. Sebagian masyarakat sering menjumpainya dalam mimpi. Tapi, roh-roh itu juga kerap memasuki tubuh seseorang untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Orang yang kemasukan roh itu, disebut kesurupan”
“Owh, terus bagaimana dengan sumurnya deng?” tanya Ajun
“Sedangkan sumur yang ada disebelahnya, tidak pernah mengalami kekeringan Jun. Airnya selalu ada, dan sumur ini satu-satunya sumur yang tidak pernah kering di kampung itu. Masyarakat mempercayai keberlimpahan air dari sumur tersebut disebabkan oleh bantuan roh nenek moyang yang senantiasa menuangkan air di dalam sumur itu. Jika memasuki musim kemarau, sumur inilah satu-satunya tempat mengambil air di kampung tersebut untuk keperluan rumah tangga, dan khusunya tempat ternak-ternak masyarakat melepas dahaga. Rata-rata pekerjaan masyarakat lokal disana adalah peternak dan petani Jun, samaji disini”.
“Pengkeramatan terhadap kedua benda itu Jun bermula disitu. Supaya keadaan ini masih bertahan, masyarakat berpikir untuk menyenangkan nenek moyangnya dengan pemberian sesajen agar roh nenek moyangnya tidak berpindah tempat dan senantiasa mencukupkan air di tempat itu Jun. Sebelumnya, dari cerita-cerita masyarakat terdahulu disana, sebelum pohon itu ada Jun sumurnya itu beberapa kali mengalami kekeringan saat memasuki puncak musim kemarau”
“Kalau mendengar sejarah di kampungmu, kan pemberian sesajen kepada dewa laut atau Panganroang Salo dahulunya karena masyarakat sangat takut dengan dewa laut, tapi di kampung sana justru masyarakat dilatarbelakangi oleh sikap penghargaan terhadap roh-roh nenek moyangnya” sambung Jusman mencoba membandingkan animisme dan dinamisme di kampung Ajun dan di kampung tujuan Ustad Robi.
Karena Ajun mengangguk-anggu dan kelihatannya merasa mengerti, Jusman melanjutkan “Masyarakat setempat meyakini berkat bantuan dari nenek moyang mereka yang bersemayam dalam pohon, kesejahteraan mereka meningkat. Hal ini diperkuat, adanya mimpi-mimpi satu dua orang melihat nenek moyangnya berkeliaran disekitar dan bahkan melihatnya tidur diatas pohon itu Jun sambil tersenyum sembringah”.
“Prilaku masyarakat yang sering membawa sesajen inilah dijumpai oleh Ustad Robi dan kedua sahabatnya. Karena kampung ini cukup luas, dan untuk proses pengislaman yang ekfektif dan cepat, Ustad Robi membagi tiga tempat untuk kelompoknya satu ke utara, dan satu ke selatan dan Ustad Robi sendiri mengambil di bagian barat. Kata Ustad Robi, ia sendiri mengambil area yang paling parah kemusyrikannya, yakni di tempat pohon dan sumur yang dikeramatkan itu Jun”.
“Seruan Ustad Robi masuk Islam tidak sulit untuk diterima masyarakat setempat. Karena sebagian ajaran agama yang dibawanya sangat bersesuaian dengan pemahaman dan keyakinan masyarakat setempat. Hanya saja praktek sesajen masih sangat sulit dihilangkan karena perilaku ini sudah membatin dalam masyarakat beratus-ratus tahun lamanya Jun. Karena kepintarannya dalam berdakwah, lima bulan kemudian sebagian besar masyarakat setempat mulai meninggalkan kepercayaan nenek moyangnya dan berbondong-bondong Memeluk Agama Islam”
“Wah, Ustad Robi hebat sekali” ujar Ajun dengan wajah terpesona
“Karena merasa jumlah masyarakat setempat sudah banyak memeluk agama Islam, maka satu-satunya misi yang belum dituntaskan Ustad Robi adalah menghilangkan secara keseluruhan praktek pemberian sesajen kepada pohon besar dan sumur itu Jun. Ternyata masih ada segelintir orang tetap bertahan dengan kepercayaan lokalnya itu Jun”.
“Pada suatu waktu, dalam ceramahnya yang membara-bara, Ustad Robi berniat mendirikan masjid tepat di tempat pohon besar itu. Kebetulan dalam masjid tersebut dihadiri seorang kontraktor yang dermawan, menawarkan jasanya untuk membantu. Selanjutnya mereka berkomunikasi dengan pemilik tanah dan mendapatkan lampu hijau. Namun mereka tidak mendiskusikannya dengan segelintir orang itu tadi Jun.
Menurut Ustad Robi, mereka dikhawatirkan akan dapat menghalangi niat baik dan kelancaran pembangunan masjid baru itu”.
“Pada awal pembangunan masjid, masyarakat bergembira karena selain akan mendapatkan rumah ibadah baru yang terbilang megah juga pembngunan mesjid itu didanai tulen oleh kontraktor dermawan.
Ketika dilakukan penebangan pohon sampai pada pembangunan masjid di atasnya, tidak terjadi sesuatupun sebagaimana yang dikhawatirkan oleh sebagian masyarakat akan kemarahan roh-roh nenek moyang disana. Hal itu meneguhkan hati mereka bahwa kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang mereka adalah kepercayaan yang keliru. Sumur yang terdapat disamping mesjid itu juga menjadi tempat pengambilan air wudhu. Satu tahun pasca pembangunan masjid ini tidak ditemukan sesuatu yang mengganjal”
“Hingga suatu masa, ketika masuk bulan Mei artinya memasuki musim kemarau kedua pasca pembangunan mesjid itu. Ketika ternak-ternak masyarakat membutuhkan air minum, namun sumurnya mengalami penyurutan air yang cukup drastis. Memasuki puncak musim kemarau tahun itu, sumurnya tiba-tiba mengering. Kekurangan air ini membuat masyarakat begitu khawatir memikirkan nasib ternak-ternaknya. Segelintir masyarakat yang belum masuk Agama Islam selalu menghubungkan peristiwa ini dengan kemarahan roh-roh nenek moyang mereka”
“Dua bulan berikutnya, Masjid yang kokoh dibangun 17 bulan yang lalu itu mengalami keretakan pada dinding-dindingnya. Peristiwa itu malah menambah keyakinan para masyarakat bahwa roh-roh nenek moyangnya telah menghukum mereka atas perbuatannya sebelumnya”
“Hemat cerita, masyarakat berbondong-bondong kembali ke kepercayaan sebelumnya. Agama Islam ramai-ramai ditinggalkan oleh masyarakat setempat. Justru Agama Islam memberikan kesan yang sangat buruk terhadap masyarakat saat itu dan mungkin hingga hari ini.
Sumpah serampah justru terdengar dari mulut-mulut mereka saat menyaksikan ternak-ternak mereka satu persatu tergeletak di tanah kekurangan air. Alhasil, masyarakat terpaksa mengambil air ke sungai dengan menempuh perjalanan motor kisaran 1-2 jam”
“Apa yang bisa kita petik dari pengalaman teman saya ini Ajun?” Tanya Jusman.
“Barangkali kondisi masyarakat itu sudah ditakdirkan oleh Tuhan demikian deng” jawab Ajun dengan nada kurang meyakinkan.
Coba perhatikan dengan saksama Jun “Pertama, teman saya terelalu terburu-buru menyiarkan ajaran Agama Islam. Nabi saja butuh hingga kurang lebih 10 tahun di Mekah, dan kurang lebih 10 tahun di Madinah dalam menyiarkan agama. Itupun Nabi juga tidak sampai memberangus semua agama yang ada, melainkan berupaya hidup rukun dengannya. Serta Nabi juga tidak merusak tempat Ibadah penyembahan agama lain.
Selama Nabi tidak diganggu, beliau tidak mengganggu Jun. Kalaupun diganggu, bliau belum tentu juga mengganggu. Andaikan agama disebarkan dengan pengrusakan secara demikian, kita tidak akan melihat bekas-bekas peradaban Mesir, Persia, Romawi, dan lain-lain di tempat yang pernah dikuasai Islam Jun”.
“Kedua, Ustad Robi hanya datang dengan kemampuan pengatahuan agama tanpa ditopang pengatahuan umum yang mumpuni. Bahwa secara ilmu pengatahuan dan berbagai hasil riset, ketika musim hujan pohon menyimpan persediaan air di akar-akarnya sehingga air tidak langsung mengalir begitu saja menuju ke tempat yang rendah. Terlebih pohonnya sejenis pohon beringin”
“Ketiga, pembangunan masjid dilakukan di atas pohon yang baru saja ditebang. Alhasil batang dan akar-akar pohon itu pasti cepat atau lambat akan lapuk. Ketika ia lapuk permukaan tanah akan turun atau bergeser atau bahkan sampai berlubang. Bergesernya tanah ini menyebabkan pondasi bangunan juga ikut goyang, dan ketika podasinya goyang dinding-dinding akan retak-retak” terang Jusman sedikit menggurui.
Terkahir, Jusman menutup ceritanya dengan mengatakan “itulah pentingnya mengetahui banyak hal, belajar tentang agama, belajar tentang ilmu alam, ilmu sosial, ilmu humaniora, teknologi dan sebagainya. Jika ingin menentukan langkah yang cukup besar, jangan sungkan meminta pandangan dari berbagai pihak. Ustad Robi, hanya satu diantara orang-orang yang berdakwah namun tidak diimbangi oleh pengatahuan umum yang mumpuni. Kata Albert Einstein, agama tanpa ilmu adalah buta dan ilmu tanpa agama adalah lumpuh”
“Apakah Ustad Robi salah dalam hal ini deng Jusman?”
Bersambung….
Komentar
Posting Komentar