Dunia Yang Tertiktoknisasi


oleh : DINASTY (pegiat Filsafat di Athena Institute)


"Panser itu sudah hampir jatuh ke jurang, adakah jalan agar dia tak terjatuh?"

Era Postmoderen atau abad informasi yang kerap diistilahkan sebagai era industri lanjut merupakan suatu bentuk realitas baru,yang didalambya terdapat berbagai keunikan-keunikan sosial. Berbagai fenomena sosial-budaya yang telah melanda masyarakat di abad 21 sekarang ini, tak lain lahir sebagai proses perubahan-perubahan yang timbul dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai oleh umat manusia. Perkembangan­ mutakhir sains dan teknologi di abad 21 yang dijiwai oleh kapitalisme dan sekularitas telah berefek pada keadaan ambivalensi di tengah masyarakat kontemporer. Kemuncul­an dan perkembangan prodak inovasi budaya semacam smartphone yang ditunggangi oleh kapitalisme dengan segala manifestasinya telah mengubah dan membentuk suatu gejala berupa Androidsentris-Negat­iv (AV) yang dalam bentuk ekstremnya berupa lahirnya suatu generasi yang memiliki struktur anatomi tubuh kenundukan (generasi nunduk). Generasi nunduk selain sebagai gejala baru ternyata juga telah menjelma menjadi sebuah tren-kebiasaan atau kelumrahan dalam dunia yang telah terdigitalisasi.

Selain kemunculan tren nunduk pada generasi milenial, gejala mutakhir juga menunjukkan perubahan fatal pada generasi milenial dengan kemunculan aplikasi Tiktok. Gejala Tiktoknifikasi merupakan suatu gejala khas yabg berkembang pada masyarakat yang hidup di era industri lanjut dengan nafas onlinesitas dan semangat digitalisasi di dalam mekanisme kapitalisme global, telah mampu untuk memanipulasi atau merekayasa dunia dalam suatu bentuk khayal, sehingga apa yang dimaksudkan oleh Plato sebagai ide atau dunia ide, kini manusia semakin menjauhinya dan tenggelam dalam pantulan-pantulan hiperrealis.


#PRODUKSI DAN REPRODUKSI KESENANGAN : "AKU UPLOAD MAKA AKU ADA"
Suatu bentuk logika baru yang berkembang pada generasi milenial yang pada umumnya menghabiskan waktu mereka pada ruang-ruang maya (cyberspace) seperri Fecebook, Instagram, Whatsapp dan Line tak lain sebagai cikal bakal lahirnya paradigma upload. Kedirian atau eksistensi seseorang yang diwujudkan dalam bentuk akun atau kepemilikan akun pada media sosial, tentunya selain membuka ruang bagi saluran-saluran pengungkapan ekspresi diri juga telah menjadi suatu bentuk manipulasi realitas. Proses simulasi dan reinforcement telah memikat pengguna media sosial untuk secara terus menerus terjun ke dalam sebuah lembah yang tak menentu arah. Proses lahirnya suatu keadaan hiperrealitas (keadaan dimana relitas semu melampaui realitas asli) tentunya telah menjadi budaya bahkan realitas di dalam dunia yang ter-simulacra. Kesenan­gan begitu mudah untuk diproduksi bahkan direproduksi kembali lewat fitur-fitur simulasi yang membangkitkan libido. Kesempatan untuk menciptakan ekspresi dan berbagai instren reinforcement yang berupa like and comment telah memungkinkan aparat pembuat histori dan status ataupun pengguna vlog terus berputar dalam lingkaran libido atau hasrat ingit dilihat.

Lenyalnya narasi kebenaran atau realitas yang dihancurkan secara berkeping-keping oleh dunia simulasi, telah mengakibatkan hanyut dan tenggelamnya seseorang kedalam dunia fantasi yang tak terkira. Kecanduan­ sosmed seakan menjadi suatu tata nilai baru pada masyarakat cyber atau generasi milenial dengan gaya-sikap dan perilaku ketertundukannya pada smarthphone. Kini yang terjadi pada masyarakat ialah dunia yang terbalik, dimana yang mati seakan lebih hidup dari yang hidup dan yang hidup seakan lebih mati dari yang mati. Realitas hakiki yang penuh dengan individualitas, kecue­kan tanpa senyum dapat dimanipulasi dan didramatisasi sedemikian rupa melalui proses Tiktoknifikasi. Kesen­angan dan senyum kepalsuan seakan menjadi suatu realitas hakiki yang meraja lela di tengah masyarakat kontemporer. Generasi­ milenial hilang dalam kesemuan-kesenangan, ­maksudnya mereka dan atom-atom pembentuknya seakan hancur lebur dan hanyut dalam kepalsusan yang diciptakan sendiri. Mistifikasi yang melanda generasi milenial merupakan suatu jahilia nyata nan baru yang dipoles dalam dunia digital. Fetisisme yang berupa kecanduan massal tentunya berefek pada budaya (keadaan) palsu yang terus diproduksi. Jaring laba-laba ataupun orbit teratasnya merupakan metafora yang tepat untuk menggambarkan keadaan yang menimpa generasi milenial sekarang ini. Prinsip rasionalitas telah hancur dalam sebuah saluran-saluran libido pencitraan dan manipulasi kesenangan melalui Instagram, Tiktok dan Vlog. Derealitas yang semakin menjadi-jadi dan dibarengi oleh kebangkitan hiperrealitas merupakan gejala irasionalitas baru yang melanda generasi milenial, menjadikan mereka tak juga hanya sebagai generasi nunduk yang anatomi (biopower) tubuhnya telah terekspansi oleh kekaisaran, namun juga generasi munafik dan penuh dusta yang diwujudkan dalam postingan atau upload foto dan video serta status asketisme yang menggambarkan tingkat kesalehan yang sangat tinggi. Pemahaman Rene Descartes yakni "aku berpikir maka aku ada" kini tak berlaku lagi, yang ada dan berkembang kini ialah "aku upload maka aku ada".


#KETIADAAN DAN KEHAMPAAN
Menarik untuk diketahui bahwa generasi milenial yang terobsesi oleh trend sosial media berupa kesenangan yang ditawarkan, tentunya merupakan suatu bentuk panggung depan yang pada hakikatnya tak lebih dari nothing atau ketiadaan. Manipulasi­ realitas lewat dramatisasi dengan menggunakan inovasi kebidayaan mutakhir seperti oada aplikasi Tiktok, tentunya telah menutupi dunia real atau kebenaran lapangan berupa fakta empiris dengan postingan topeng. Hilangnya kedirian seseorang dan terobjektivikasi diri subjek menjadi objek tak ayal merupakan suatu upaya untuk menghilangkan kesadaran diri oleh kapitalisme global dalam jeratan candu terhadap tiktok. Seseorang tak perlu lagi memerhatikan tata aturan atau adat sopan santun yang ada pada masyarakat real, dengan keterbukaan dan saluran libido yang ada pada aplikasi tiktok dan kerabatnya memungkinkan libido terus melakukan proses eksternalisasi dalam ruang-ruang maya atau cyberspace yang terjadi kemudian ialah kekosongan makna budaya pada produksi budaya digital, kebudayaan tersebut telah kehilangan roh sejatinya yang bersumber dari unsur cipta, rasa dan karsa manusia dan kini telah menjadi hal yang sifatnya pamer, palsu dan libido. Kebudayaan digital yang di dalamnya terjadi simulcra tak oleh mekanisme kapitalisme global tak ayal merupakan suatu peradaban hasil dari manifestasi keirasionalitasan manusia.

Kebudayaan tak lagi sebagai alat atau instrumen untuk memungkinkan eksistensi manusia namun sebaliknya kebudayaan telah menjadi alat untuk mengdeeksistensikan manusia itu sendiri dalam lembah Tiktoknisasi atau dunia yang dimana senyuman dan kesenangan dapat dimanipulasi dan menyebabkan kecanduaan.

#KEUSANGAN : GENERASI PENANTI PRODUK TERBARU
Fenomena Tiktoknisasi yang tentunya telah termanifestasi kedalam suatu bentuk "penantian yang tak berujung". Gejala konsumerisme sebagai sebuah efek dari simulasi kesenangan yang berkembang pada masyarakat cyber dengan generasi milenialnya, kini telah menciptakan suatu keadaan permintaan akan prodak terbaru dari suatu perusahaan. Penantian­-penantian yang melanda generasi milenial merupakan suatu perwujudan perilaku asketis dari suatu tata keagamaan baru di era digital atau suatu tindakan konsumtif yang haus akan kesenangan narasi yang dibangun oleh perusahaan kapital. Stimulus perusahaan game online yang senantiasa memanjakan penggunanya dengan model-model wahana baru dari games yang diproduksinya, serta kemurah hatian para kapital pada perusahaan rumah makan cepat saji (fastfood) seperti McDonald dan Kentucky Fried Chicken maupun dalam bentuk mutakhirnya seperti pada Starbucks yang senantiasa memberikan pelayanan-pelayanan inovarian pada para pelanggan (consumer-group), tel­ah direspon oleh para generasi milenial dalam bentuk kecanduan atau konsumerisme massal.

Perubahan-perubahan yang telah terjadi pada masyarakat maya atau cyber comunity tak lain sebagai suatu bentuk reproduksi gaya baru yang telah usang sebelumnya. Bagaikan suatu siklus yang senantiasa mendaur ulang makna dan tampilan, menjadikan generasi milenial berada pada kedangkalan dan bukan lagi pendalaman sebagaimana generasi-generasi emas sebelumnya seperti filsuf Plato, Ariatoteles dan para pelopor pencerahan salah satunya Rene Descartes. Kontemplas­i telah hilang seiring dengan berjalannya suatu proses akumulaai lewat citra produk. Fetisitas pada masyarakat adalah hal lumrah, kata jadul tak lagi digunakan untuk menjustifikasi suatu hal yang dianggap kuno dan telah lewat, malahan masa lampau dapat dimanipulasikan lewat media massa sehingga menjadi suatu budaya yang diidam-idamkan oleh para generasi mutakhir (pop culture). Keusangan suatu produk dapat digantikan dengan kebaharuan dan reproduksi kedangkalan. Tiktokni­fikasi dengan segala manifestasinya merupakan suatu bentuk irasionalitas nyata yang melanda generasi milenial, menghanyutk­annya ke dalam suatu topeng-topeng kesenangan yang penuh kepalsuan serta menundukkan mereka kedalam otoritas libido citra.


#MENGONTROL JUGGERNAUT AGAR TAK JATUH KEJURANG : SUATU PANDUAN TEORITIS
Fenomena tiktoknisasi dengan berbagai gejala yang ditimbulkannya selain merupakan efek dari keadaan pembiaran dan liberalisasi, dan kapitalisme global juga disebabkan oleh kurang cakapnya suatu masyarakat untuk menerima perubahan sosial budaya yang terjadi. Pengembangan pemahaman challenge and response diperlukan oleh suatu bangsa untuk menyediakan suatu pola adaptasi yang sifatnya teknis untuk menghadapai perubahan sosial budaya di era global. Rekonstruksi pada berbagai elemen masyarakat untuk menyesuaikan dengan realitas kontemporer dan mempertahankan eksistensinya merupakan suatu keharusan. Dalam pandangan salah satu tokoh sosiolog Amerika yang terkemuka yakni Talcott Parson, dimana ia memperkenalkan skema AGIL yang meliputi (A) Adaptation, dimana upaya sistem untuk menyesuaikan perubahan perubahan yang terjadi, (G) Goal, dimana setelah sistem melakukan pola adaptasi maka selanjutnya penentuan tujuan atau orientasi baru dari sistem, (I) Integration, dimana sistem yang telah memiliki orientasi, elemen elemen didalamnya diperkuat atau disatukan kembali,  (L) Latency merupakan proses pemantapan pola dimana sistem yang telah terbentuk dipertahankan eksistensinya lewat berjalannya proses sosial dan mekanisme pengawasan sosial. 

Proses penyesuaian pola adaptasi berupa pendidikan informal, nonformal dan formal yang memuat edukasi bermedia dan karakter bangsa serta aspek religius tentu merupakan langkah awal untuk menciptakan output generasi tangguh. Di samping itu rekonstruksi aspek disektor kontrolisasi pada penggunaan aplikasi dan sodoran aplikasi alternatif baru yang sifatnya edukasi merupakan faktor penguat untuk perbaikan tatanan sosial. 

Dengan metode rekonstruksi sosial dan dibarengi oleh keterlibatan semua elemen masyarakat dalam upaya untuk memperbaiki keadaan desosial dan dehumanisasi yang melanda generasi bangsa akibat dari gejala titoknisasi dapat diperbaiki. Keterlibatan dari berbagai pihak seperti keluarga, pemerintah, lembaga pendidikan dan masyarakat secara umumnya diharapkan menjadi upaya untuk mengarahkan penggunaan teknologi sebagai instrumen dan langkah kemajuan bangsa, tanpa terjerumus keadaan dehumanisasi dan desosial.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa