Sopian Tamrin S.Pd, M.Pd
Staff pengajar Sosiologi UNM
Directur Eksekutif Corner Education
Sosiologi Kosmik : Paradigma Baru Sosiologi



“Tugas pembelajar bukan hanya memahami realitas melainkan melepaskan pemahaman yang menindas”.(Sopian Tamrin)

Latar Kegelisahan
Sebagai makhluk sosial yang berkesadaran tentu ada banyak bahan refleksi yang penting untuk dibincangkan saat ini. Salah satunya adalah paradigma pengetahuan. Hal ini menjadi kebutuhan mendasar dalam sejarah pengetahuan manusia. Akhir-akhir ini saya merasa gelisah dengan problem sosial yang semakin akut.

Reduksi makna sosial terus berlanjut dalam kehidupan masyarakat. Kemampuan ilmu sebagai instrument analisis tak mampu menjangkau keseluruhan makna. Bangunan pengetahuan antroposentris telah menjadikan manusia sebagai subjek tunggal dalam realitas. Mendapatkan titik terang subjektifitas dikotomis  saat desscartes memproklamirkan konsep cogitonya.

Sejarah perkembangan pengetahuan eropa adalah sejarah dikotomis saint dan diluar saint. Klaim kebenaran adalah pertengkaran otoritas gereja dan ilmu pengetahuan. Gereja dengan kekuatan teks kitab suci dan pengetahuan dengan kriterianya sanstifiknya. Kriteria kebenaran objektif, dan bebas nilai kemudian menjadi karaktristik ilmu pengetahuan yang berkembang di barat.
Wajah antroposentris mendapat pengkultusan paripurna dalam sosiologi saat auguste comte(1798) menetapkan titik kemajuan manusia pada tahap positif. Revolusi birokrasi prancis (1789) dianggap gagal karena mengadopsi bagian metafisis bahkan masih berafiliasi dengan tahap teologis. Bagi comte manusia modern adalah ia yang tidak menyerahkan masalahanya pada agama(gereja) namun ia yang menjawabnya dengan analisis positif.

Kritik tajam terhadap saints ditabuh seorang eksistensialis ateistik Nietzsche(1844). Menolak saints sebagai satu-satunya sumber kebenaran dan menutup ruang tradisi, agama dan kepercayaan sebagai sumber kebenarannya lainnya. Namun kita tidak bisa berharap banyak padanya karena pada akhirnya dia juga mendeklarasikan kematian Tuhan dan  menjadikan dirinya sebagai Ubermans; manusia bebas nan super.

Hemat penulis, paradigama baru adalah kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditawar lagi. Kondisi sosial terus berkembang dan tak bisa diatasi dengan cara pandang objketif, material, dan bebas nilai. Ilmu pengetahuan harus memiliki visi kemanusiaan yang bisa mendobrak rangka besi “bebas nilai”. Jika paradigma tersebut terus berlanjut maka penggerusan kemanusiaan berlanjut pula.

Corak dikotomis subjek – objek telah memisahkan kita dengan segala sesuatu. Bagi erich Fromm(1900) saint modern menciptakan penyakit mental akut yakni perasaan terasing terhadap sesama, Alam, dan Tuhan. (The Sane Society). Meminjam istilah Nasr, gemuruh kekerasan, keterpilahan, hegemoni, dan konflik yang mewarnai kehidupan global merupakan cerminan keterpilahan batin masing-masing penghuni dunia saat ini. (The Plight of Modern Man).

Paradigma dalam Sosiologi
Sosiologi amat populer memiliki tiga paradigma dalam menjelaskan realitas sosial. Pertama, Paradigma fakta dengan setrumnya ada pada pranata dan institusi yang melihat bahwa tindakan individu adalah manifestasi dari sebuah nilai dalam sistem sosial tertentu. Individu hanyalah bagian dari suatu bentuk organisme sosial yang senangtiasa berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Kedua, Paradigma Defenisi. Populer dalam analisis verstehen weber. Paradigma ini adalah reaksi dari paradigma pertama. Individu adalah subjek kreatif yang bisa mengambil tindakan rasional melaui proses interpretasi terhadap realitasnya. Sedangakan paradigma ketiga, melihat perilaku masyarakat sebagai proses mekanik yang berlangsung pada kekuatan stimulus respon (S=R).
Kehadiran ritzer dalam paradigma terpadu memberikan pemetaan mikro-subjektif, mikro objektif, makro subjektif dan makro objektif. Bagi saya, beliau tidak dalam merumuskan paradigma baru melainkan memberikan tempat bagi ketiga paradigma tersebut. Istilah terpadu tidak mengubah apa-apa namun melanggengkan tiga paradigma dengan memperjelas cakupan realitas masing-masing. 

Alternatif Paradigma Baru
Membaca teori bukan sekedar untuk mengetahui atau memahami asumsinya namun juga untuk memahami cara teori memahami realitas. Memahami realitas adalah jalan terbaik untuk menciptakan relasi terhadapnya. Sebagai makhluk berkesadaran itu ternyata belum cukup kita juga perlu mengintervensi realitas yang dianggap bermasalah guna mencapai tahap kebijaksanaan dalam menuntut ilmu.
Sebagai upaya belajar tentu penulis terus berikhtiar untuk memahami teori yang sudah ada. Keyakinan penulis juga menuntun untuk melihat lebih jauh masalah paradigma pengetahuan saat ini. Olehnya itu dengan keterbatasan informasi dan wawasan penulis perkenankan menyuguhkan paradigma baru dalam ilmu sosiologi yakni “Sosiologi Kosmik”.   
Paradigma ini menyusun beberapa Proposisi teoritik yang nantinya akan dijadikan sebagai asumsi dasar dalam perkembangannya. 1) Interpretasi, Setiap tindakan menunjukkan Interpretasi Kosmik. Penulis mengistilahkan dengan Post Interpretasi atau Post Verstehen(Post Heideggerian) Artinya Interpretasi individu terjadi tidak hanya pada satu tingkatan realitas namun selalu kompleks. Melibatkan Kreatifitas(Defenisi) dan Proses Mekanik Stimulus Respon(Perilaku) dan tentu pada pemahaman Individu dilingkupi oleh sistem sosial pada tataran Institusi dan Pranata(Fakta Sosial). Kekhasan dalam interpretasi kosmik adalah memasukkan Alam dan Tuhan pada Proses Interpretasi. 

2).Relasi, hubungan sosial adalah hubungan Kosmik. Artinya setiap Interaksi melibatkan kehadiran segala sesuatu secara eksistensial. Interkasi sosial selau terjadi pada ruang dan waktu yang mengisyaratkan sifat alam(Realisme). Sedangkan Tuhan Hadir dalam bentuk Sifatnya melalui relasi kasing sayang, adil, egaliter, serta tanpa eksploitasi. Subtansi relasi dalam Sosiologi Kosmik adalah Keseimbangan. Istilah ini banyak diinspirasi bacaan Kosmologi Whiliam Chitick. Sehingga bangunan pengetahuan ini tidak semata melihat relasi pada kepentingan ego Manusia(Antroposentrik) melainkan membangun konsep relasi manusia yang holistik (Antropokosmik).


Disampaikan pada Diskusi Sosiologi Kosmik di Sudut Pendidikan, 01 Desember 2017.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOOKLET "MARXISME VS WEBERIAN

George Simmel dan ciri khas teori sosiologinya oleh Dinasty

Sejarah Organisasi Mahasiswa dan Makna Dibalik Sumpah Mahasiswa