Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

BEDAH BUKU: "Orang Lain Adalah Neraka"

Gambar
Pada Malam Ahad, 29 September 2018, BEM FIS UNM bekerja sama dengan HIMA SOSIOLOGI FIS UNM dalam menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku yang berjudul “Orang Lain Adalah Neraka”. Kegiatan bedah buku ini dilaksanakan di Taman FIS dan diisi oleh dua pembicara, yaitu Kak Muhajir MA (Relawan Pojok Bunker & Paradigma Institute) dan Kak Dinasty Dindra Pratama (Rahim Sosiologi), serta Makmur sebagai Moderator. ORANG LAIN ADALAH NERAKA Sosiologi Eksistensialisme Jean Paul Sartre Eksistensialisme merupakan salah satu cabang besasr filsafat Barat yang saat ini hampir terlupakan oleh para filsuf dan kamu akademisi kontemporer. Perkembangan teori-teori sejak marxisme, neomarxisme, bahkan posmarxisme, sama sekali tak menyinggung konsep interaksi sosial filsafat eksistensionalisme. Padahal Sartre sebagai salah satu filsuf   penting eksistensialisme sebenarnya memiliki perspektif ontologis yang radikal mengenai konsep interaksi sosial. Konsep-konsep tentang etre en soi dan etre ...

PEDAS 2018

Gambar
Pada hari Jum’at, 21 September 2018 kemarin HIMA Sosiologi FIS UNM mengadakan salah satu prokernya, yaitu PEDAS 2018 yang bertemakan “Beranjak Bersama Dalam Membangun Kader yang Berkualitas PROLETAR (Progresif, Intelektual, Analitis, dan Rasional)” , PEDAS ini sendiri merupakan singkatan dari “Pelatihan Dasar Sosiologi 2018”. Pembukaan ini dilaksanakan di Gedung Flamboyan FIS ruangan BE 103 yang diawali oleh pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Feni Daniarti, pembacaan laporan oleh ketua panitia Muh Satria El Fitro, sepatah kata oleh Ketua Umum HIMA Sosiologi FIS UNM Arham dan PEDAS resmi dibuka oleh ketua prodi Sosiologi, yaitu bapak Idham Irwansyah Idrus, S.Sos., M.Pd. Pembukaan PEDAS 2018 kemarin juga dihadiri oleh Pengurus HIMA Sosiologi FIS UNM, Steering Comitee, Panitia PEDAS 2018, LK se-FIS UNM, dan yang pastinya para mahasiswa baru Sosiologi 2018, kawan-kawan PROLETAR sebagai peserta salah satu kegiatan penting ini. Pelatihan Dasar Mahasiswa ini adala...

Peradaban Manusia II

Gambar
Pemantik: Muhammad Khaidir Alwy Dalam doktrin ilmu pengetahuan yang diajarkan pada sekolah tentang manusia, tentu berbeda jika ditinjau dari paradigma/kacamata agama. Proses penciptaan beragam jenis makhluk hidup terjadi secara evolusi (waktu yang panjang) dan terbentuk secara alamiah. Proses evolusi manusia yang berasal dari kera yang hidup awalnya diatas pohon untuk berlindung dari binatang buas lainnya (bagi yang percaya teori Darwin) dan berkembang menjadi kera yang berjalan agak tegak, tegak, dan bahkan sampai pada membusungkan dada (sombong). Teori Darwin pun menjadi tanda tanya besar dikalangan ilmuan lainnya (lihat film Keruntuhan Atheisme). Manusia memulai peradaban dengan mantap ketika menemukan tulisan pertama kali di Sumeria (tulisan paku) dan di Mesir (tulisan hirolgaf) berkisar tahun 3000 SM. Disamping tulisan, berbarengan pula meningkatnya intelejensi pemikiran manusia untuk mengelola tanah dari yang sebelumnya hanya bertempat tinggal diatasnya tanpa perlakuan leb...

Peradaban Manusia I

Gambar
Pemantik : kanda Dinasti Diandra Pratama Peradaban merupakan hasil cipta manusia yang nilainya tinggi. Dalam konsep manusia maka peradaban ialah saling menghargai sesama manusia. Tanpa peradaban manusia menjadi buas kepada sesamanya dan lingkungannya (manusia menjadi serigala bagi sesamanya). Pencetak peradaban adalah manusia, manusia sendiri dipengaruhi oleh alam dan sosial. Apakah dengan faktor eksternal ini menjadikan manusia jadi pasif? Tentunya tidak karena manusia punya kedirian “keakuan” manusia berfikir dan menjadi muara keputusannya. Manusia bisa pula menjadi pasif manakala ia tidak menggunakan potensi dan akalnya. Dengan potensi akalnya itu pula manusia dapat berkembang pesat mengalahkan spesies makhluk hidup lain yang hidup di muka ini. Dalam buku Sapiens karya Yuval Noah Harari dijelaskan bahwa sejak revolusi kognitif pada abad 10.000 SM manusia memulai masa mula kejayaannya dan dipercepat dengan revolusi pertanian pada sekitar abad 3500 SM dan sampai pada revolusi ...

Memaknai Identitas dan Gerakan Mahasiswa

Gambar
Menjadi mahasiswa tidaklah sepenuhnya menjadi kebanggaan, sebagian lain adalah tantangan, menjadi mahasiswa adalah menjadi pelajar yang tinggi dalam hal ilmu, peran dan kemudian berakumulasi pada tingginya tanggung jawab yang diemban. Mahasiswa kerap pula digadang-gadang sebagai agen perubahan ( agent of social change ). Tentu saja bukan atribut tetapi makna. Gelar yang disandang mahasiswa ini membawa konsekuensi serius dalam kehidupan bermasyarakat. Menyoal kontribusi mahasiswa dalam masyarakat. Berorganisasi dapat disamaartikan dengan belajar mengasah kemampuan kepekaan terhadap sekitar dan meningkatkan kepedulian dengan sesama sebagai bagian dari masyarakat yang terintegritas. Jangan hanya terkekang oleh kegiatan akademis, sisihkanlah waktu untuk berorganisasi dan menetaslah. Salam perjuangan Salam pergerakan Salam mahasiswa!!! Pemantik: Kanda Muh Noer. Kampus UNM Gunung Sari, 1 September 2018.